NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Eyang

Istri Pilihan Eyang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

​Malam semakin larut, namun gemerlap dunia malam di pusat ibu kota justru semakin menggila. Sebuah kelab malam eksklusif bernuansa remang-remang menjadi pelarian Kelvin malam ini. Di sudut area VIP yang jauh dari lantai dansa, sang CEO duduk sendirian. Jas mahalnya sudah tergeletak asal di sofa kulit, sementara dasinya sudah ditarik longgar.

​Di atas meja kaca di hadapannya, beberapa botol minuman beralkohol berkadar tinggi sudah tandas. Kelvin menuangkan kembali cairan pekat itu ke dalam gelasnya lalu meneggaknya dalam satu kali tegukan kasar. Dadanya masih bergemuruh hebat. Bayangan tatapan tenang—yang kini terasa seperti ejekan—dari mata Denada terus berputar di kepalanya, berbaur dengan rasa kecewa atas pengkhianatan Catalina.

​"Sialan!" umpat Kelvin, suaranya tertelan oleh dentuman musik remix yang memekakkan telinga.

​Melihat seorang pria tampan, bertubuh atletis, dan mengenakan jam tangan mewah duduk sendirian di area VIP, beberapa wanita berpakaian minim yang sedari tadi mengawasinya mulai bergerak. Dua orang wanita dengan riasan tebal dan aroma parfum yang menyengat berjalan meliuk, lalu tanpa permisi duduk di kedua sisi sofa Kelvin.

​"Hei, Tampan... kenapa minum sendirian di tempat sepi begini? Mau ditemani?" bisik salah satu wanita berambut pirang, tangannya yang berkuku merah panjang mulai berani meraba dada tegap Kelvin dengan manja.

​Wanita satunya lagi mendekatkan wajahnya, tersenyum menggoda sembari menuangkan minuman baru ke gelas Kelvin. "Kamu kelihatan stres banget malam ini. Kita bisa bantu kamu buat lupain semua masalah kamu, lho..."

​Sentuhan dan aroma parfum mereka yang menusuk hidung seketika menyalut sumbu amarah Kelvin yang memang sudah berada di ubun-ubun. Kilatan matanya mendadak berubah menjadi sangat kejam dan mematikan.

​"Singkirkan tangan kotor kalian dari tubuhku," desis Kelvin. Suaranya rendah, namun begitu dingin dan sarat akan ancaman hingga membuat kedua wanita itu seketika membeku.

​"Ah, jangan galak-galak dong, Sayang—"

​"PERGI!" bentak Kelvin keras, matanya melotot tajam menembus netra kedua wanita itu. Ia menyentakkan dadanya kasar, membuat tangan wanita pirang itu terhempas. "Sebelum aku panggil sekuriti untuk menyeret kalian keluar dari gedung ini secara tidak terhormat, enyah dari hadapanku! Sekarang!"

​Aura intimidasi Kelvin yang luar biasa kejam dan tanpa ampun membuat kedua wanita penggoda itu ketakutan setengah mati. Wajah mereka mendadak pucat. Tanpa babat alas lagi, mereka segera bangkit dan berlari tunggang-langgang meninggalkan area VIP, tidak berani menoleh lagi pada sang iblis berwajah dewa tersebut.

​Kelvin kembali mendengus, lalu menyandarkan kepalanya yang mulai terasa berputar hebat akibat pengaruh alkohol yang terlalu banyak. Tak lama kemudian, kesadarannya perlahan menipis hingga ia terkulai tidak berdaya di atas sofa VIP.

​Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Di kamar utama kediaman Alexander, suasana begitu sunyi. Nada belum tidur. Ia sudah mengganti kebaya pengantinnya dengan piyama satin hitam yang elegan. Ia sedang duduk di tepi ranjang berukuran king size sembari membaca sebuah jurnal medis di tabletnya, tampak sama sekali tidak peduli bahwa suaminya belum pulang di malam pertama mereka.

​Drrt... Drrt...

​Ponsel di atas nakas bergetar, memecah keheningan. Nada melirik layar, menampilkan nomor yang tidak dikenal. Dengan gerakan tenang, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

​"Halo, selamat malam," sapa Nada, suaranya terdengar sangat jernih dan segar, sama sekali tidak menunjukkan kantuk.

​"Selamat... maaf, selamat malam, Nyonya Alexander," suara di seberang telepon terdengar sangat panik dan ragu-ragu. "Saya Raka, asisten pribadi Tuan Kelvin."

​"Ah, iya, Raka. Ada apa?"

​"Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Nyonya. Tapi... Tuan Kelvin saat ini berada di kelab malam dalam kondisi mabuk berat. Beliau sudah tidak sadarkan diri di sofa VIP. Saya tidak berani membawanya pulang ke rumah utama sendirian karena jika Eyang atau Ibu Siska tahu Tuan Kelvin mabuk-mabukan di malam pernikahan, ini akan menjadi masalah besar," jelas Raka panjang lebar dengan nada memohon. "Apakah... apakah Anda bersedia ikut saya untuk menjemput Tuan Kelvin sekarang? Mobil dan sopir sudah saya siapkan di depan gerbang rumah."

​Mendengar laporan dari Raka, sebuah kilatan penuh arti kembali melintas di sepasang mata indah Nada. Sudut bibirnya perlahan melengkung tipis, membentuk senyuman misterius yang sarat akan kemenangan. Mangsanya ternyata tumbang lebih cepat dari yang ia perkirakan.

​"Baik, Raka. Berikan saya waktu lima menit untuk bersiap. Saya akan turun sekarang," jawab Nada dengan nada suara yang dibuat seolah-olah ia adalah istri yang sangat khawatir dan penurut.

​"Baik, Nyonya! Terima kasih banyak atas pengertiannya," ucap Raka lega sebelum menutup telepon.

​Nada perlahan menurunkan ponselnya. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju lemari untuk mengambil sebuah jubah panjang hitam untuk menutupi piyamanya. Sembari mengikat tali jubahnya di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan pandangan yang tajam dan dingin.

​"Baru beberapa jam ditinggal, kamu sudah sekacau ini, Kelvin?" bisik Nada pada keheningan malam. "Sangat menyedihkan. Bersiaplah, karena istrimu ini akan segera datang untuk menyelamatkanmu."

​Suasana kelab malam di pukul setengah tiga pagi sudah mulai lengang, namun sisa-sisa bising musik masih berdenyut di dinding-dindingnya. Didampingi Raka yang berjalan dengan langkah terburu-buru, Nada melangkah memasuki area VIP. Jubah hitam panjang yang membalut piyama satinnya tampak berayun anggun, menciptakan kontras yang mencolok dengan pakaian minim orang-orang di sekitar tempat itu.

​Begitu sampai di sofa VIP, netra teduh Nada langsung menangkap sosok Kelvin. Sang CEO Alexander Group kini tampak begitu ringkih. Kemeja putihnya kusut, rambutnya berantakan, dan wajah tampannya memerah karena pengaruh alkohol dosis tinggi.

​Melihat pemandangan kacau itu, Nada tidak panik ataupun marah. Sebaliknya, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis yang sarat akan arti. Ia melangkah mendekat, lalu berjongkok di samping sofa, menatap wajah suaminya dari jarak dekat.

​"Lihatlah suamiku ini..." bisik Nada lirih, suaranya begitu lembut namun menyimpan nada kepuasan yang tersembunyi. "Di malam pertama kita, dia sudah harus merepotkan istrinya sendiri."

​Nada mengulurkan tangannya, berniat membantu memapah tubuh tegap Kelvin. Namun, begitu telapak tangan Nada menyentuh bahunya, Kelvin yang setengah sadar mendadak membuka matanya. Manik mata hitam yang biasanya tajam itu kini tampak sayu dan dipenuhi kabut alkohol.

​"Lepas..." desis Kelvin serak, berusaha menyentakkan bahunya untuk menolak bantuan Nada. "Jangan sentuh aku... wanita asing... pergi..."

​Nada tidak menyerah. Sebagai seorang dokter, ia sudah terbiasa menghadapi pasien yang mengamuk atau tidak kooperatif. Ia justru mencengkeram lengan Kelvin dengan genggaman yang tak terduga kuatnya untuk ukuran seorang wanita. Nada mendekatkan wajahnya ke telinga Kelvin, membisikkan kata-kata dengan nada yang begitu tenang namun menuntut kepatuhan.

​"Diamlah, Mas Kelvin. Ini aku, istrimu. Jika kau terus menolak, aku akan membiarkan Raka menelepon Eyang Arka agar beliau menjemputmu ke sini," ancam Nada dengan suara yang teramat manis.

​Mendengar nama Eyang disebut, alam bawah sadar Kelvin yang masih bekerja mendadak ciut. Tubuhnya yang tadi menegang perlahan-lahan meluluh, kehilangan sisa-sisa kekuatannya. Pria itu akhirnya pasrah, membiarkan kepalanya terkulai lemah di bahu ramping Nada.

​"Raka, bantu aku memapahnya," perintah Nada tegas pada asisten pribadi yang sedari tadi menonton dengan takjub.

​"Baik, Nyonya. Tapi... apakah kita langsung pulang ke rumah utama?" tanya Raka ragu saat mereka mulai memapah tubuh berat Kelvin keluar dari kelab.

​Nada menggeleng pelan. "Tidak. Jika kita pulang ke rumah dengan keadaannya yang sekacau ini, seluruh kediaman Alexander akan gempar sebelum fajar. Bawa kami ke hotel bintang lima terdekat dari sini. Pesan kamar suite atas namamu."

​Raka tertegun sejenak, namun segera mengangguk patuh. Logika berpikir dokter desa ini ternyata sangat taktis dan cerdas di bawah tekanan.

​Tiga puluh menit kemudian, mereka telah berada di dalam kamar presidential suite sebuah hotel mewah. Setelah Raka berpamitan dan menutup pintu, Nada langsung memapah Kelvin menuju ranjang. Namun, belum sempat tubuh besar itu berbaring, Kelvin mendadak mencengkeram dadanya sendiri dengan wajah yang sangat pucat. Rahangnya mengetat, menahan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya.

​"Ugh..." Kelvin melenguh pendek, tangannya memberi isyarat tidak keruan.

​Sebagai dokter, Nada langsung tanggap. Tanpa memedulikan piyama satinnya yang mahal atau aroma alkohol yang menyengat, ia segera merangkul pinggang Kelvin dan membimbing pria itu dengan cepat menuju kamar mandi berlantai marmer.

​Begitu sampai di depan wastafel dan kloset, Kelvin langsung berlutut dan menumpahkan seluruh isi perutnya. "Huekk!"

​Suara muntahan yang kasar menggema di dalam kamar mandi yang mewah itu. Kelvin mencengkeram pinggiran porselen dengan erat, urat-urat di leher dan dahinya menonjol, menunjukkan betapa tersiksanya dia malam itu. Sang CEO yang biasanya selalu tampil sempurna dan angkuh, kini tampak begitu tidak berdaya di lantai kamar mandi.

​Nada tidak menunjukkan ekspresi jijik sedikit pun. Dengan gerakan yang sangat telaten dan cekatan, ia berlutut di samping Kelvin. Tangan halusnya yang hangat mulai bergerak mengusap-usap punggung lebar Kelvin dengan gerakan memutar yang lembut, membantu melancarkan jalan napas suaminya.

​"Keluarkan saja semuanya, Mas. Jangan ditahan," ucap Nada lembut, suaranya berubah menjadi sangat keibuan dan menenangkan, persis seperti saat ia menenangkan pasien-pasiennya di desa.

​"Huekk! Uhuk... ugh..." Kelvin kembali muntah, tubuhnya bergetar hebat. Setiap kali Kelvin mengerang kesakitan, tangan Nada dengan setia terus mengusap punggungnya, memberikan kehangatan yang entah mengapa perlahan-lahan menembus kesadaran Kelvin yang samar.

​Setelah beberapa menit yang menyiksa, Kelvin akhirnya berhenti. Tubuhnya lemas total, bersandar pada dinding marmer dengan napas yang terengah-engah. Nada mengambil beberapa lembar tisu basah dan handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat. Dengan sangat lembut, ia menyeka sisa-sisa muntahan di sudut bibir Kelvin, lalu mengusap wajah tampan pria itu agar terasa lebih segar.

​"Minum ini dulu untuk membasuh mulutmu," ujar Nada sembari menyodorkan segelas air putih hangat yang sempat ia siapkan.

​Kelvin menerima gelas itu dengan tangan yang gemetar. Setelah berkumur dan meminumnya sedikit, ia menatap Nada dengan pandangan yang sangat rumit. Di tengah rasa pening yang luar biasa, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana wanita desa yang ia cap 'haus harta' ini justru sedang mengurusnya dengan begitu tulus tanpa mengeluh sedikit pun.

​"Kenapa... kau lakukan ini?" tanya Kelvin dengan suara parau yang nyaris habis.

​Nada tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman teduh yang sulit diartikan. "Sudah, jangan banyak bicara dulu. Mari kembali ke ranjang."

​Dengan sisa tenaga yang ada, Nada membantu Kelvin berdiri dan menuntunnya kembali ke kasur empuk berukuran besar. Ia membantu melepaskan sepatu Kelvin dan melonggarkan kancing kemejanya agar pria itu bisa bernapas dengan lebih lega. Setelah memastikan Kelvin berbaring dengan nyaman, Nada menarik selimut tebal hingga sebatas dada suaminya.

​Semalaman penuh, Nada tidak tidur. Sebagai seorang dokter yang berdedikasi, ia merawat Kelvin dengan sangat detail. Setiap satu jam sekali, ia mengganti kompresan air hangat di dahi Kelvin untuk meredakan demam akibat alkohol, memeriksa denyut nadinya melalui pergelangan tangan, dan memastikan posisi tidur Kelvin tidak menyumbat jalan napasnya.

​Di bawah temaram lampu kamar hotel, Nada duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah tertidur Kelvin yang kini sudah tampak lebih tenang. Jari-jari Nada mengetuk dagunya perlahan, sementara sepasang matanya kembali memancarkan kilatan misterius yang dingin. Ia telah berhasil menjadi satu-satunya orang yang memegang kelemahan sang CEO di malam pertama mereka, dan permainan ini baru saja dimulai.

1
Nasya
hadeh kelvin masi aja ingat mantan
Nasya
masa lalu yang tragis
falea sezi
klo abis ne lu jutek 😒 gue timpuk lu empin
Nasya
Wkwkwk kelvin sampai pangling lihat nada, selamat buat pengantin baru
falea sezi
nah loo😕 denada celaka demi lu kevin😒
falea sezi
lanjut klo kevin g bucin q tendang ya🤣🤣 lanjut banyak thor tak kirim kembang sekebon🤣
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi🤣
falea sezi
klo uda anu2 tp lu masih berat ma katalina siap2 di buang sama nada lu kevin🤭
falea sezi
wah apakah unboxing😒
falea sezi
😒 di kasih berlian kyak nada milih jalang kayak catalina🤣 siap siap gigit jari lu klo nada uda bales dendam dan pergi jauh🤣
falea sezi
q ksih hadiah lagi seruu liat kisah bales dendam. gini asal gk kemakan permainan sendiri aja🤣
falea sezi
lanjut banyakk q kasih hadiah banyakk ya🤣🤣
falea sezi
bner jalang Catalina dan kevin lu emank goblok🤣
falea sezi
fashion thor bukan feshen🤭
zra
balas dendam jdi cinta?atau nanti ada yang lebih baik dari kelvin
zra
pasti nanti catalina menyesal wkwk,thor jangan buat kevin kembali dengan cathalina
zra
bagus
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor✍️👈☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!