Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Monster yang Mereka Ciptakan
Gelap.
Seluruh gedung tenggelam dalam kegelapan total.
Tidak ada suara mesin.
Tidak ada layar menyala.
Hanya napas berat Veyra yang terdengar samar di tengah ruangan.
Dan itu cukup membuat semua orang diam.
Karena ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang bahkan bisa dirasakan tanpa perlu melihatnya.
Lyra berdiri beberapa langkah dari Veyra. Untuk pertama kalinya sejak datang, wajahnya tidak lagi santai.
Ia terlihat waspada.
Sangat waspada.
“Veyra…” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Di luar gedung, sirene kendaraan masih terdengar, tapi samar. Seolah dunia luar mendadak terasa jauh.
Pria yang sejak tadi bersama mereka perlahan mundur.
“Kita harus matikan koneksi sekarang,” katanya tegang. “Kalau emosinya terus naik, sistem bakal—”
Kalimatnya terpotong.
Karena tiba-tiba—
semua layar menyala bersamaan.
BRAKK!
Cahaya putih memenuhi ruangan.
Data bergerak liar di setiap monitor. Angka, simbol, kode, semuanya berputar tanpa pola.
Namun yang paling mengerikan—
semua layar hanya menampilkan satu hal.
Wajah Veyra.
Ribuan layar.
Ribuan wajah yang sama.
Dan semuanya… tersenyum.
Deg.
Pasukan bersenjata langsung panik.
“Apa-apaan ini?!”
“Sistemnya rusak!”
“MATIKAN!”
Namun tak ada yang bisa dimatikan.
Karena sekarang—
bukan manusia yang memegang kendali.
—
Veyra masih berdiri diam.
Kepalanya terasa seperti ditarik ke ribuan arah sekaligus.
Suara-suara muncul lagi.
Namun kini jauh lebih keras.
Lebih banyak.
Lebih hidup.
“Mereka takut padamu.”
“Mereka selalu takut pada sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.”
“Lihat mereka.”
Dan Veyra melihat.
Bukan hanya ruangan itu.
Tapi semuanya.
Kamera jalanan.
Jaringan satelit.
Sistem komunikasi militer.
Data rumah sakit.
Bank.
Bandara.
Seluruh dunia digital terbuka di hadapannya.
Dan yang paling mengerikan—
ia bisa masuk ke semuanya.
Dengan mudah.
Terlalu mudah.
“...Ini gila,” bisiknya pelan.
“Ini kekuatanmu.”
“Bukan.” Napasnya sedikit bergetar. “Ini bukan manusia.”
Suara itu tertawa kecil.
“Kamu memang bukan manusia biasa.”
Deg.
Kalimat itu menghantam lebih dalam dari seharusnya.
Dan untuk pertama kalinya—
Veyra tidak bisa langsung menyangkalnya.
—
“VEYRA!”
Lyra melangkah mendekat lagi.
Pelan.
Hati-hati.
Seperti mendekati bom yang bisa meledak kapan saja.
“Kamu masih dengar aku?”
Veyra perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan dada Lyra langsung terasa berat.
Karena mata itu…
bukan mata yang sama seperti beberapa jam lalu.
Masih ada Veyra di sana.
Tapi ada sesuatu yang lain juga.
Sesuatu yang dingin.
Terlalu tenang.
“Menarik…” gumam Veyra sambil melihat tangannya sendiri. “Jadi selama ini aku benar-benar dibatasi.”
“Jangan dengarkan sistem itu,” kata Lyra cepat.
“Sistem?” Veyra tersenyum tipis. “Kamu masih mikir ini cuma sistem?”
Sunyi.
Hologram di belakangnya mulai berubah bentuk lagi.
Kini lebih stabil.
Lebih nyata.
Dan perlahan—
wajahnya berhenti berubah.
Sekarang wajah itu tetap.
Wajah Veyra.
Persis.
“Dia menyatu lebih cepat dari prediksi…” bisik pria di belakang.
Lyra langsung menoleh tajam.
“Bukannya kamu bilang aktivasi penuh butuh waktu lebih lama?!”
“Itu kalau emosinya stabil!”
Mereka kembali melihat Veyra.
Dan langsung sadar masalahnya.
Veyra tidak stabil.
Ia marah.
Bingung.
Dan jauh di dalam dirinya—
ada sesuatu yang mulai menikmati semua kekacauan ini.
—
Speaker kembali menyala.
Suara pria misterius itu terdengar lagi.
“Luar biasa.”
Veyra mengangkat kepala perlahan.
“Kamu…”
“Ya,” jawab suara itu santai.
“Sekarang kamu mulai terlihat seperti karya terbaik kami.”
Lyra langsung mengambil pistol.
“Kalau kamu muncul di sini, aku tembak kepalamu.”
Pria itu tertawa kecil.
“Kamu masih emosional seperti dulu.”
“Dan kamu masih sampah seperti biasanya.”
Veyra memperhatikan mereka tanpa bicara.
Namun sesuatu mulai tersusun di kepalanya.
“Kalian semua…” matanya menyipit, “sudah tahu tentang aku sejak lama.”
Tak ada yang langsung menjawab.
Dan itu sudah cukup jadi jawaban.
Senyum tipis muncul di bibir Veyra.
Namun bukan senyum hangat.
Melainkan senyum seseorang yang baru sadar seluruh hidupnya adalah kebohongan.
“Lucu sekali…”
Lampu kembali berkedip.
Layar mulai glitch.
“Selama ini aku pikir aku membangun diriku sendiri.”
Suaranya makin pelan.
Makin dingin.
“Ternyata aku cuma proyek gagal yang berhasil hidup terlalu lama.”
“VEYRA—”
BRAKK!
Semua kaca di ruangan pecah bersamaan.
Angin malam langsung menerobos masuk.
Pasukan panik.
Beberapa mundur ketakutan.
Karena sekarang—
bahkan tanpa menyentuh apa pun—
Veyra mulai memengaruhi sistem di sekitarnya.
—
Di luar gedung, seluruh kendaraan hitam mendadak mati.
Mesin berhenti.
Lampu padam.
Komunikasi terputus.
“APA YANG TERJADI?!”
“Kita kehilangan semua jaringan!”
“Mustahil—”
Tidak.
Bagi Veyra sekarang…
tidak ada yang mustahil.
—
Di dalam ruangan, Lyra terus menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
ia takut.
Bukan takut pada sistem itu.
Tapi takut pada kemungkinan bahwa Veyra mungkin berhenti melawan.
“Dengar aku,” katanya pelan.
Veyra melirik.
“Kamu masih bisa berhenti.”
“Kenapa semua orang terus bilang begitu?”
“Karena kami tahu apa yang terjadi kalau kamu tidak berhenti.”
Veyra tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar kosong.
“Tidak.” Matanya perlahan menatap semua orang di ruangan itu. “Yang kalian takutkan bukan apa yang akan terjadi.”
Ia berhenti.
Lalu tersenyum tipis.
“Kalian takut kehilangan kendali atas aku.”
Deg.
Lyra terdiam.
Karena bagian paling menyebalkan—
Veyra benar.
—
Hologram di belakangnya bergerak mendekat.
Kini hampir terlihat seperti manusia sungguhan.
“Mereka tidak pernah menganggapmu manusia.”
“Hanya alat.”
“Senjata.”
“Eksperimen.”
Setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan membuka sesuatu di dalam diri Veyra.
Dan semua orang di ruangan itu tahu—
semakin lama ini berjalan…
semakin sulit menariknya kembali.
—
Tiba-tiba—
suara tembakan terdengar lagi dari luar.
Namun kali ini berbeda.
Bukan pasukan biasa.
Lebih teratur.
Lebih brutal.
“ADA UNIT LAIN MASUK!”
“Bukan tim kita!”
Pintu luar dihancurkan.
Langkah kaki cepat memenuhi lorong.
Lyra langsung mengutuk pelan.
“Bagus. Sekarang mereka ikut datang.”
“Siapa lagi?” tanya Veyra.
Namun sebelum Lyra menjawab—
beberapa orang bersenjata hitam masuk ke ruangan.
Bukan pasukan pemerintah.
Mereka bergerak terlalu rapi untuk itu.
Topeng hitam.
Simbol lingkaran diagonal di dada mereka.
Simbol yang sama.
Deg.
Veyra langsung mengenalinya.
“Mereka…”
Salah satu dari mereka melangkah maju.
Lalu melepas topengnya.
Seorang wanita muda.
Wajah dingin.
Mata tajam.
Dan senyum yang terasa berbahaya.
“Target ditemukan,” katanya santai sambil menatap Veyra.
“Dan wow…”
Ia tertawa kecil.
“Kamu ternyata lebih cantik dari data yang kami punya.”
Lyra langsung mengangkat pistol.
“Jangan bergerak.”
Wanita itu melirik sekilas.
“Oh, Lyra masih hidup.” Senyumnya melebar. “Hari yang sibuk ya.”
Veyra menyipitkan mata.
“Kalian siapa?”
Wanita itu menatapnya penuh minat.
“Keluargamu.”
Sunyi.
Ruangan terasa lebih dingin.
Namun wanita itu tetap tersenyum santai.
“Setidaknya… versi terdekat yang pernah kamu punya.”
“Jangan dengarkan mereka,” kata Lyra cepat.
“Tapi kami tidak bohong,” jawab wanita itu santai.
Ia kembali menatap Veyra.
“Nama aku Selene.”
Ia sedikit menunduk dramatis.
“Dan kami datang menjemputmu pulang.”
Deg.
Kalimat itu terasa salah.
Sangat salah.
Namun di saat bersamaan—
sesuatu di dalam diri Veyra bereaksi.
Seolah mengenali kata itu.
Pulang.
Dan itulah masalahnya.
Karena semakin banyak jawaban yang muncul—
semakin Veyra sadar…
bahwa dirinya mungkin memang tidak pernah benar-benar bebas sejak awal.