Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Hukuman
"Hai, Om Rara." Rayyan menyapa setelah pria itu membuka pintu unitnya dengan wajah datar. "Kata Mama kita harus berbuat baik, apapun itu, sekalipun cuma terseyum, Om."
"Kamu ngapain ke sini, bocah?" Tanya Gatra bosan lalu pandangannya turun pada tangan Rayyan. "Apa itu?"
"Kue, Om. Ini buatan Mama yang paling enak banget."
"Saya ngga bisa nerima pemberian dari orang asing." Tolaknya tanpa pikir panjang, membuat Rayyan melunturkan senyumannya. Tapi jangan harap ia akan menyerah.
"Orang asing? Ya udah, kita kenalan lagi. Nama aku Ray–"
"Udah-udah, jangan memperkenalkan diri lagi. Saya tahu nama kamu!" Gatra menghembuskan nafas kasar sambil berusaha untuk bersabar serta menyakini Hakim belum sempat mengabari pada tentang ketidak sukaannya pada anak-anak pada orang tua Rayyan. "Tapi saya ngga bisa terima karna... saya alergi susu."
"Kok bisa sama? Tahu ngga, Om? Mama tadi bilang sengaja bikin kue pakai santan soalnya takut ada yang alergi susu." Jelas Rayyan dengan semangat membuat Gatra menyesali kebohongannya, tapi tidak masalah karna masih banyak stok alasan lain yang akan Gatra gunakan sama halnya dengan dirinya yang selalu menolak perjodohan yang di lakukan ibunya. "Jadi terima aja, Om. Ngga baik nolak pemberian orang."
"Masalahnya ngga akan ada yang makan, saya tinggal sendirian di sini, saya juga mau pergi jadi mendingan kamu bawa kuenya pulang aja."
"Pergi kemana, Om? Jangan bilang mau kencan sama pacarnya ya?" Tebak Rayyan tidak benar karna sekali lagi Gatra hanya mencari alasan agar tidak menerima pemberian bocah di depannya.
"Bukan urusanmu! Udah mendingan kamu pergi dari sini!" Gatra habis kesabaran karna kegigihan Rayyan. Padahal keponakannya saja ketakutan melihatnya lalu mereka tak akan mengajaknya bicara atau mereka pasti mengekori ibunya setiap melihat kedatanganya.
Tapi Rayyan beda maka Gatra juga tak akan menyerah, kalah dari orang lain apa lagi anak kecil tak ada di dalam kamus hidupnya. Mereka kalau di baikin malah akan semakin ngelunjak dan membuat kehidupannya terganggu setidaknya itu yang di alaminya ketika kedua keponakannya tidak takut padanya.
"Malah bengong." Rayyan tertawa lalu tiba-tiba saja tawanya hilang karna menangkap dari balik tubuh Gatra, lebih tepatnya di sofa apartemen pria dewasa itu, terdapat banyak sekali makanan. "Om, bilang aja kalau Om kenyang jadi ngga bisa nerima kue buatan Mamaku bukannya malah bohong."
"Siapa juga yang bohong? Jangan sok tahu deh bocah! Mendingan sana-sana kamu kembali ke unitmu lagi, jangan ganggu saya karna saya ngga suka anak-anak!"
"Persis kayak yang di bilang Tante Hapisa."
"Jadi kamu udah tahu? Saya rasa Nayra pasti ngelarang, tapi kenapa masih datang..."
"Dengan Pak Gatra?" Tanya seseorang membuat perhatian mereka teralih. Tak jauh dari mereka terdapat seorang pria dengan seragam layanan pesanan makanannya online.
"Iya, saya sendiri. Oh, itu makanan yang saya pesan? Tunggu sebentar saya ambil uang di dalam dulu." Gatra langsung meninggalkan pria itu menuju kamarnya untuk mengambil dompet tanpa sadar kalau Rayyan mengikutinya lalu duduk di sofa. Setelahnya Gatra membayar makanan yang di pesannya dan membiarkan pengantar makanan itu pergi sementara ia menatap sekitarnya dengan heran. "Bocah tadi–"
"Om juga suka banyak komik ini! Wah mana lengkap semua seri nya lagi." Kata seseorang dari dalam unit membuat Gatra buru-buru membalikkan tubuhnya. Terlihat Rayyan sedang berdiri di depan lemari TV yang terdapat banyak koleksi bacaan termasuk komik. "Apa yang kamu lakukan di sini? Siapa yang nyuruh kamu masuk?"
Menyadari kemarahan dari nada suara Gatra membuat nyali Rayyan langsung menciut. Dari awal awal bertemu pria itu memang terlihat tidak menyukainya, Rayyan sebagai anak SMP tentu menyadarinya.
Tapi bedanya beberapa menit serta pertemuan mereka sebelumnya Gatra tidak terlihat benar-benar marah. Pria dewasa itu hanya mencari alasan yang tidak terlihat menyeramkan hingga membuat Rayyan suka sekali menjahilinya balik.
"Saya ini orang asing, kamu tidak mengenal saya yang bisa aja langsung menculik kamu!" Gatra tidak main-main, tapi tak juga merealisasikannya karna nyatanya dirinya bukan seorang penjahat.
"Om... jangan–"
"Karna kamu sudah masuk ke dalam unit apartemen saya maka jangan harap bisa keluar lagi!" Sela Gatra cepat tanpa memutuskan pandangan dari Rayyan yang tumben-tumbennya tidak menanggapinya, tapi baguslah, Gatra akan membuat anak itu kapok dan tidak berani berbuat sesuka hatinya lagi. "Sekarang kamu berdiri di samping TV, kedua tangan di letakkan di telinga terus kakinya diangkat satu!"
"Rayyan mau pulang terus janji ngga akan ganggu lagi, Om."
"Saya ngga percaya sama kamu!" Tegas Gatra sambil mendekati sofa dan mendudukinya. Pandangannya langsung menyorot Rayyan yang masih berdiri di tempat yang sama dengan tajam. "Lakuin apa yang saya perintahkan atau saya jual kamu?"
"Om, jangan bikin–"
"Lakuin sekarang juga!" Tegasnya tak bisa di bantah, membuat Rayyan melakukannya dengan takut. "Tunggu sampai saya selesai makan maka saya akan menghubungi orang yang akan beli kamu. Kira-kira saya bisa untung berapa ya?"