NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Jangan Sentuh Milikku.

Dirangga Wiratama keluar dari gedung kantornya dengan wajah mengeras menahan marah.

“Bagaimana mungkin bocah itu bertingkah manja di depan wanita seperti Liora…,” desisnya penuh amarah.

Tinjunya mengepal erat.

“Aku tidak akan tinggal diam.”

Di dalam mobil, Liora mengelus lembut rambut Adrian.

“Bagaimana perasaanmu setelah bertemu ayahmu?”

Adrian menunduk pelan.

“Aku… masih takut.”

Liora memandanginya serius.

“Kau harus mulai menghadapi ketakutanmu, Adrian.”

Ia meraih tangan Adrian.

“Tunjukkan padanya kalau kau tidak sendirian lagi.”

“Aku bersamamu.”

Adrian mengangguk kecil.

“Iya… Liora…”

Liora tersenyum tipis.

“Aku akan menjagamu.”

Adrian menguap kecil.

“Kita bisa pulang? Aku mengantuk…”

“Tentu.”

Mobil melaju, namun Liora tiba-tiba berkata,

“Aku ingin membeli sesuatu untukmu.”

Adrian tersenyum ringan.

“Boleh…”

Mereka berhenti di depan sebuah toko.

“Adrian, tunggu di mobil. Jangan ke mana pun.”

“Baik…”

Liora masuk. Adrian tertidur di kursinya.

Beberapa menit kemudian…

Seseorang membuka pintu mobil pelan.

Dan dalam sekejap, Adrian lenyap.

Liora keluar dengan sebuah kotak kecil di tangan.

“Dia pasti suka…”

Namun saat membuka pintu mobil—

Kosong.

“Adrian?”

Keheningan.

Wajahnya berubah.

“Adrian?!”

Aura gelap menguar dari tubuhnya.

“Berani sekali…”

Suaranya merendah, penuh ancaman.

“Kalian sentuh milikku? Akan kubantai kalian.”

Jam Adrian berbunyi. Pelacaknya aktif.

Lokasi menunjukkan sebuah rumah kosong.

Di rumah itu…

“Bangunkan dia.”

Air dingin disiramkan.

Adrian terbangun kaget, tangan terikat.

“Kalian siapa?! Lepaskan aku!”

Suara berat muncul dari kegelapan.

“Sudah bangun, bocah tak berguna?”

Tubuh Adrian melemas.

“Ayah…”

Dirangga tersenyum keji.

“Bagus ya… hidup nyaman dengan wanita kaya?”

Adrian berusaha tegar.

“Dia… melindungiku.”

Plak!

Dirangga menamparnya keras.

“Kau tidak layak!”

Ia mengacungkan pistol.

“Sekarang, mati kau.”

Dor.

Tapi tiba-tiba

Liora berdiri di depan Adrian.

Peluru menembus bahunya.

“LIORA!”

Adrian menjerit.

Liora tetap tegak.

“Tenang… aku di sini.”

Ia menatap Dirangga dengan dingin.

“Kau berani menyentuh milikku?”

Dengan cepat ia mencekik leher Dirangga.

“Kenapa kau ingin membunuh anakmu sendiri?”

Dirangga megap-megap.

“A-aku membencinya… istriku mati…”

Liora tertawa sinis.

“Karena alasan sepicik itu?”

Tatapannya membeku.

“Kau bukan ayah. Kau monster.”

Ia melempar tubuh Dirangga ke lantai.

“Kerja sama kita selesai. Dan kau akan membayar semuanya.”

“John.”

“Ya, Nona.”

“Bawa dia. Siksa sampai remuk. Jangan beri ampun.”

“Baik.”

“Buang anak buahnya ke rawa, biarkan buaya yang mengurus.”

“Siap.”

Adrian menatap Liora cemas.

“Kau… terluka…”

“Bukan apa-apa.”

Ia melepas ikatan Adrian.

“Duduk. Aku selesai sebentar lagi.”

Di mansion, Liora menggendong Adrian ke kamar dan membaringkannya.

Adrian menatap luka di bahunya.

“Biarkan aku merawatnya.”

Liora terdiam, lalu mengangguk.

Adrian membuka jasnya perlahan.

Peluru masih bersarang.

Ia mengeluarkannya dengan hati-hati.

“Maaf kalau sakit…”

Liora tersenyum.

“Aku tidak apa-apa.”

Adrian berkata lirih,

“Kalau bukan karena aku, kau tidak akan terluka…”

Liora menggeleng.

“Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

“Kaulah yang melembutkan hatiku.”

“Apakah kau menyesal menolongku?” tanya Adrian.

“Tidak.”

“Aku hanya takut kehilanganmu,” ucap Liora lirih.

Adrian memeluknya erat.

“Aku takut kau pergi…”

“Aku tidak akan pergi.”

Liora menatap Adrian.

“Kalau begitu… bagaimana kalau kita menikah?”

Adrian membeku.

“Apa…?”

“Kita menikah. Kita hidup bersama.”

“Aku… aku penakut…”

“Bagaimana aku bisa jadi suamimu?”

Liora mengangkat dagunya, menatap lembut.

“Aku akan menemanimu sembuh.”

“Setelah menikah, kita jalani semuanya bersama.”

Di luar sana…

Sebuah permainan baru dimulai.

Dan siapa pun yang menyentuh milik Liora…

Akhirnya hanya akan menghadapi satu hal:

Kehancuran.

Setelah Liora mengusulkan pernikahan…

Keheningan memenuhi ruangan.

Adrian memegangi dada, napasnya tak beraturan.

“Liora… aku tidak yakin aku cukup kuat.”

Liora duduk di sampingnya, mengusap pipinya.

“Adrian, kekuatan bukan soal otot atau keberanian.”

Ia menatap mata pria itu dalam-dalam.

“Kekuatan itu… ketika seseorang memilih bertahan, meski takut.”

Adrian menggigit bibir.

“Aku selalu lari… dari ayah… dari hidupku…”

“Sekarang kau tidak sendiri,” jawab Liora lembut.

“Tugasmu hanya satu. Tetaplah di sisiku.”

“Biar aku yang menghadapi dunia.”

Adrian menunduk, matanya berair.

“Jika… jika aku menerimanya… apa kau yakin tidak akan menyesal?”

Liora tersenyum kecil.

“Adrian. Aku sudah memilihmu.”

“Satu peluru pun tidak membuatku menyesal. Apalagi menikah denganmu.”

Adrian menutup mata, menahan tangis.

Ia meraih tangan Liora dan mencium punggung tangan itu.

“Kalau begitu… aku ingin belajar menjadi kuat.”

Liora mengusap rambutnya.

“Dan aku akan mengajarkanmu.”

Beberapa jam setelah kejadian itu…

John kembali membawa laporan.

“Nona, Dirangga sudah kami bawa. Ia akan diinterogasi malam ini.”

Liora mengangguk tanpa ekspresi.

“Pastikan ia merasakan semua keputusasaannya kembali padanya.”

“Siap.”

Adrian memandang Liora takut-takut.

“Apa… apa kau harus melakukannya?”

Liora menoleh.

“Dia mencoba membunuhmu.”

Nada suaranya dingin.

“Jika aku membiarkannya hidup tenang, besok ia akan menembakmu lagi.”

Adrian menunduk.

“Aku hanya… tidak ingin kau semakin terluka karena aku…”

Liora mendekatinya, menangkup wajahnya.

“Aku sudah terluka jauh sebelum bertemu kamu.”

“Kamu hanya membuat lukaku punya arti.”

Kata-katanya membuat Adrian terdiam.

Malam itu…

Liora duduk di sisi ranjang Adrian.

Ia memperhatikan pria itu yang sudah tertidur, namun wajahnya tampak gelisah.

Tangannya secara refleks meraih lengan Liora, seolah takut ditinggalkan.

Liora menatapnya lekat-lekat.

“Dengan atau tanpa rasa takutmu… aku tetap memilihmu.”

Ia membelai kepala Adrian dan berbisik,

“Dan siapa pun yang merebutmu dariku… akan merasakan neraka.”

Di luar jendela, angin malam berembus.

Ketegangan baru saja dimulai.

Dan nama Liora kini menjadi peringatan:

Jangan sentuh miliknya.

Karena balasannya…

Adalah kehancuran total.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!