Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang Rapuh
Sore itu, Kayla menghabiskan waktunya di dapur lebih lama dari biasanya. Ia bergerak lincah di antara kompor dan meja kerja, menciptakan aroma yang begitu lezat dan menggugah selera hingga memenuhi seluruh ruangan kecil apartemen mereka.
Hari ini ia memasak sup krim jagung kesukaan Adrian, lengkap dengan ayam panggang bumbu rempah yang matang sempurna. Bahkan saat pulang tadi, ia sempat mampir sebentar ke toko kue untuk membeli hidangan penutup kecil yang manis.
Hal-hal sederhana. Namun keberadaannya cukup membuat suasana rumah terasa jauh lebih hidup, lebih hangat, dan lebih berasa seperti tempat pulang.
Kayla sesekali berhenti mengaduk masakannya, lalu mengecek jam di layar ponselnya.
Pukul enam lewat lima belas menit.
Biasanya, pada jam segini Adrian masih belum memberi kabar apa pun. Masih sibuk, masih jauh, dan masih belum memikirkannya.
Namun hari ini berbeda. Ada harapan kecil yang bersinar redup namun teguh di dalam dadanya. Karena pagi tadi, tepat sebelum berangkat kerja, pria itu sempat berjanji akan pulang lebih awal.
Dan bodohnya… satu kalimat sederhana saja itu sudah cukup membuat Kayla kembali berharap terlalu banyak. Kembali membayangkan kebersamaan yang mungkin bisa mereka rajut kembali malam ini.
Di kantor, Adrian sedang sibuk membereskan dokumen-dokumennya dan mematikan laptop. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu lamanya, ia benar-benar berniat dan bertekad untuk pulang lebih awal. Ia bahkan sudah menolak ajakan lembur dari rekan-rekannya.
Bianca yang kebetulan lewat dan melihat pemandangan itu, sampai berhenti dan menatapnya dengan ekspresi sangat heran.
“Tumben banget, Pak. Ini hari apa kok mau pulang cepet?”
Adrian memasukkan beberapa berkas penting ke dalam tas kerjanya dengan santai. “Ada urusan penting di rumah.”
Bianca menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja kerja Adrian, menyilangkan tangan di dada sambil menyipitkan mata menggoda.
“Urusan… atau istri? Bedanya nggak jauh kan?”
Adrian mengangkat sebelah alisnya. “Emangnya ada bedanya?”
Bianca tertawa kecil, namun senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. Ada nada tidak suka yang samar terselip di sana.
“Aku kira kamu udah betah banget di kantor ini. Sampai lupa jalan pulang,” ucapnya bernada sindiran halus.
“Kenapa emangnya? Aku bebas dong mau pulang jam berapa.”
“Nggak biasanya kamu buru-buru gini aja. Ada yang nungguin ya?”
Adrian tidak menjawab lagi. Ia merapikan barang-barang terakhirnya. Namun tepat saat ia hendak berdiri dan berjalan keluar, ponsel di meja kerjanya berdering nyaring. Sebuah pesan masuk dari nomor klien besar dan penting.
Hanya dengan membaca dua baris kalimat itu, ekspresi wajah Adrian langsung berubah drastis.
Rapat malam ini dimajukan. Harus hadir.
Sial.
Bianca memperhatikan perubahan raut wajah pria itu. Dari yang tadinya santai dan sedikit bersemangat, berubah menjadi tegang dan kesal.
“Kenapa? Ada masalah?”
Adrian mengusap wajahnya kasar, menahan rasa frustrasi yang tiba-tiba meledak. “Ada rapat mendadak. Harus ada sekarang.”
Dan entah kenapa… di detik itu, hal pertama yang muncul di pikirannya bukanlah urusan pekerjaan atau nasib proyek besar itu.
Melainkan wajah Kayla. Bayangan wanita itu yang pasti sedang bersiap, pasti sedang menunggu, dan pasti sedang berharap.
Pukul tujuh malam.
Kayla masih duduk diam di ruang tamu, sesekali melirik ke arah pintu depan yang tertutup rapat.
Makanan di meja makan sudah siap tersaji sejak tadi, ditutup rapat agar tetap hangat. Bahkan lilin-lilin kecil hiasan di atas meja itu sudah dinyalakan, menciptakan cahaya remang yang romantis dan hangat.
Suasana apartemen terasa begitu nyaman malam ini. Terlalu hangat untuk ditinggalkan sendirian dalam kebisuan.
Hingga akhirnya ponsel di tangannya bergetar halus.
Jantung Kayla langsung berdegup kencang penuh harap. Namun begitu ia membaca isi pesan singkat di layar itu, senyum tipis yang sempat terukir di bibirnya perlahan menghilang lagi.
[Kay, maaf banget. Aku telat pulang. Ada rapat mendadak yang nggak bisa ditinggal.]
Lagi.
Alasan yang sama. Kejadian yang sama. Rasa kecewa yang sama.
Kayla menatap layar ponselnya cukup lama, sampai cahayanya mati sendiri. Lalu perlahan ia mengetik balasan dengan jari yang terasa berat.
[Oh… iya. Nggak apa-apa. Hati-hati ya.]
Hanya itu. Tidak ada protes. Tidak ada amarah. Tidak ada pertanyaan mengapa selalu begini.
Namun justru jawaban singkat, dingin, dan pasrah itulah yang membuat Adrian — yang sedang membacanya dari kantor — semakin merasa bersalah dan tidak tenang.
Jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam saat Adrian akhirnya benar-benar melangkah masuk ke dalam apartemennya.
Begitu pintu dibuka, suasana sunyi dan sepi langsung menyambutnya. Lampu ruang tamu masih menyala redup persis seperti malam-malam sebelumnya.
Dan di sana, di sofa panjang itu, Kayla tertidur lagi. Persis seperti beberapa malam sebelumnya.
Bedanya… malam ini meja makan di sudut ruangan itu tertata rapi dan lengkap. Ada piring, ada gelas, ada makanan yang sudah dingin, dan ada lilin kecil yang nyalanya sudah hampir habis meleleh.
Langkah Adrian perlahan melambat. Dadanya terasa berat seolah dihimpit benda besar.
Karena untuk kedua kalinya… ia kembali mengecewakan wanita yang sama. Untuk kedua kalinya ia membiarkan harapan wanita itu runtuh sia-sia.
Pria itu mendekat pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara. Tatapannya jatuh lekat-lekat pada wajah Kayla yang terlihat sangat lelah bahkan dalam tidurnya. Ada buku yang terbuka tergeletak di sampingnya. Dan ponsel masih berada dalam genggaman tangan kecilnya.
Seolah wanita itu benar-benar menunggu sampai tak kuat lagi menahan kantuk dan akhirnya tertidur.
Adrian duduk perlahan di tepi sofa, tepat di samping tubuh istrinya. Lalu tanpa sadar, tangannya terulur dan mengusap lembut rambut panjang Kayla yang terurai.
Gerakan sederhana. Sentuhan ringan yang sudah lama tidak ia lakukan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu… Adrian benar-benar merasa takut. Takut kehilangan sesuatu yang berharga yang mungkin sudah lama ia abaikan.
Kayla terbangun pelan karena rasa hangat dari sentuhan itu. Matanya masih sedikit buram dan kabur saat membukanya, sebelum akhirnya fokus menatap wajah suaminya yang ada begitu dekat.
“Kamu pulang…” suaranya terdengar sangat pelan, parau, dan lemah.
“Iya. Aku pulang,” jawab Adrian pelan.
Kayla buru-buru duduk, memperbaiki posisinya dan menyadarkan dirinya. “Maaf ya… aku ketiduran lagi. Niatnya mau nungguin kamu.”
Adrian menatapnya beberapa detik dengan tatapan sulit dimengerti. Lalu berkata pelan, hampir berbisik.
“Harusnya kamu nggak usah nunggu. Kan aku bilang kalau telat, tidur aja duluan.”
Kalimat itu lagi. Nasihat yang sama. Namun kali ini Kayla hanya tersenyum kecil. Senyum yang begitu tipis dan menyakitkan.
“Nggak apa-apa kok,” jawabnya.
Padahal jelas-jelas ada apa-apa. Jelas-jelas ada luka baru yang menganga. Dan Adrian bisa melihatnya sekarang. Bisa merasakannya.
“Aku angetin makanannya sebentar ya? Masih ada kok,” ucap Kayla sambil berniat berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Namun sebelum kakinya melangkah, Adrian tiba-tiba meraih dan menarik pergelangan tangannya pelan namun cukup kuat untuk menahannya.
Kayla langsung menoleh kaget. Matanya membelalak sedikit.
Untuk beberapa detik yang terasa panjang… mereka hanya saling menatap dalam diam. Jarak wajah mereka begitu dekat.
Sudah lama sekali Adrian tidak menyentuhnya lebih dulu seperti ini. Sudah lama tidak ada sentuhan yang meminta perhatian.
“Maaf,” ucap Adrian pelan. Hanya satu kata. Namun diucapkan dengan rasa bersalah yang begitu besar dan tulus.
Dan satu kata itu… hampir membuat Kayla menangis di tempat. Hampir membuat pertahanannya runtuh seketika.
Karena akhirnya… pria itu sadar. Sadar bahwa dirinya terluka. Sadar bahwa ia menyakiti wanita ini berulang kali.
Kayla menggigit bibir bawahnya pelan, menahan getaran di bibirnya, lalu menggeleng kecil. “Nggak apa-apa. Aku ngerti kok.”
Namun suara itu terdengar begitu rapuh. Begitu mudah hancur.
Adrian menatap mata istrinya cukup lama. Menyelami sorot mata yang dulu begitu bersinar, namun kini tampak redup dan lelah.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar melihat kenyataan pahit itu, wanita cantik di depannya sedang perlahan patah, perlahan mati rasa, dan perlahan berhenti berharap.
Dan dialah penyebabnya.
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡