Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Berfungsi
"Jelek!"
Ella mengerutkan keningnya mendengar ucapan Bobby. Lagi- lagi pria itu menyampaikan pendapat Dominic tentang bukunya.
"Lagi?" Dan untuk kesekian kalinya lima bab yang dia kirimkan di tolak.
"Aku sarankan kau buat lebih bagus, Nona."
Ella mendengus. "Begini saja, katakan padaku plot seperti apa yang dia mau? Lalu kalau menurut dia jelek, kenapa memilihku menulis untuknya? Kenapa tidak memilih penulis terkenal yang sudah pasti bagus?"
"Oh, salah, karena dia ingin tulisan erotis. Jadi tidak mungkin dia mencari penulis terkenal. Karena jelas tidak bisa di ancam sepertiku yang lemah." Ella menjawab pertanyaannya sendiri menunjukkan itu sebagai ejekan.
Bobby mengeraskan rahangnya lalu meraih kerah baju Ella. "Jangan bicara sembarangan, atau—"
"Atau apa? Kalian akan membunuhku? Bunuh saja! Lagi pula sudah satu minggu aku disini aku bahkan tak melihat 100 juta yang dia janjikan." Satu minggu yang terasa panjang. Sudah sekitar 25 bab yang dia berikan namun Dominic tetap menolak. Jika di tukar dengan 100 juta perbab bukankah harusnya dia sudah benar-benar kaya?
"Kalian membual dan hanya ingin menculikku, memerah otakku untuk membuat buku, lalu kalian ambil keuntungan sendiri, kan?"
"Bicara sembarangan lagi, kau!"
Mata Ella menatap penuh keberanian meski nyatanya tubuhnya gemetar ketakutan. Dia takut, tapi jelas dia tak bisa terus diam. Dia harus segera pulang. Tidak mungkin seumur hidupnya dia terjebak di istana menyeramkan ini. Beberapa kali dia bahkan seperti mendengar suara tembakan di tengah malam, entah itu hanya mimpi atau nyata, tapi itu jelas membuatnya tertekan.
"Aku ingin bertemu Mr, D," ucapnya masih dengan tatapan tajam.
"Kau kira kau pantas!" Bobby menghempaskan kerah Ella membuat tubuh kecilnya terhunyung hampir terjatuh andai tidak berpegangan pada tepi meja.
"Lalu apa mau kalian? Terus menahanku seperti ini? Lalu sampai kapan aku akan menemukan bab memuaskan yang dia maksud, aku bahkan tak tahu tulisan seperti apa yang dia inginkan."
Bobby menghela nafasnya. "Baik, akan aku beritahu Tuan."
Ella mengangguk. Itu bagus, setidaknya dia harus membuat riset dahulu seperti apa Mr, D itu, agar tulisannya bisa di terima.
....
Ella benar-benar bertemu dengan Dominic, meski seperti sebelumnya pria itu tak menampakkan wajahnya dan tetap tersembunyi di bawah kegelapan.
Sebelum masuk Ella melihat beberapa wanita di ruangan sebelah, entah sedang apa mereka, atau akan apa. Yang membuat Ella bertanya- tanya semua wanita itu mengenakan pakaian kurang bahan. Dress sebatas paha dengan tipis yang sangat menerawang.
Ella melihat dirinya yang juga mengenakan dress yang di sediakan di lemarinya. Namun dia tetap mengenakan celana training untuk menutupi kakinya sebab dia yang merasa risi jika kaki pendeknya terlihat. Padahal dress yang dia kenakan memiliki panjang hingga bawah lutut, cukup sopan dan tertutup, tetap saja lebih nyaman mengenakan celana panjang.
"Apa yang mau kau tanyakan?" Suara itu nampak berat dan tegas, untuk sesaat Ella bahkan merasa merinding.
"Begini, Tuan..." Ella membenarkan posisi kaca matanya, dan matanya berkedip beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya remang yang terlihat, juga berusaha fokus untuk melihat pria di depannya.
"Aku ingin tahu alasanmu menolak semua novelku, dan berkata itu tidak memuaskan— maksudku, memuaskan seperti apa yang kau mau? Kenapa setiap kali aku merasa sudah membuatnya dengan bagus tapi kau bilang itu jelek." Ella kembali menatap pada Dominic. "Jadi, sebenarnya yang seperti apa yang kau inginkan?"
Hening beberapa saat membuat Ella semakin tegang. Tatapannya jatuh pada sebuah pistol di meja tepat di depannya. Tangannya yang memegang balpen dan siap mencatat pun bergetar saking takutnya dia.
"Sesuatu yang memuaskan ..." Dominic mencondongkan tubuhnya. "Gairahku," lanjutnya.
Mata Ella terbelalak. Dia tahu semua pembaca bukunya pasti menginginkan hal itu, tapi untuk sekelas pria di depannya, kenapa harus menggunakan bacaan erotis demi memuaskan gairahnya.
Mata Ella masih membulat lalu berkedip beberapa kali. "Aku tahu, kau tidak memiliki pacar, karena itu memilih melakukannya sendiri?" Ella menggerakkan tangannya membentuk bulatan lalu bergerak naik turun.
Dahi Dominic sampai mengerut saat melihat apa yang Ella lakukan, hingga dia mengerti gerakan apa itu.
"Benar, kan? On ani?" tanya Ella dengan terus terang.
Dominic menatap Ella yang masih menggerakkan tangannya naik turun, lalu menelan ludahnya kasar. Bisa- bisanya dia membayangkan tangan kecil itu bergerak di miliknya, naik turun dengan lembut, lalu—
Sial! Perasaan apa ini?
"Aku tidak kekurangan wanita," elaknya.
Ella menghentikan gerakannya lalu mengerucutkan bibirnya. Benar, dia melihat para wanita di ruangan sebelah, mungkin mereka adalah wanitanya.
"Lalu apa?" tanya Ella dengan bingung.
"Mereka tidak berguna untukku."
"Mereka yang tidak berguna atau kau yang tidak berfungsi—" Ella menghentikan gumamannya saat merasa dia keceplosan bicara. "Maaf Tuan, bukan maksudku..." Lagi pula bagaimana dia tidak berpikir begitu, kalau para wanita yang terlihat cantik dan seksi dianggap tidak berguna. Hanya pria yang itu—nya tidak berfungsi yang tidak akan tergoda. Jelas sekali lelaki normal akan langsung menerjang seperti kucing yang di beri ikan asin.
Wajah Ella sudah pucat, saat takut ucapannya barusan menyinggung Dominic. Matanya bahkan sesekali melihat pada pistol takut dalam hitungan detik benda itu berpindah ke arah kepalanya.
Namun setelah beberapa detik menunggu pistol masih tersimpan disana tanpa bergeser sedikitpun hingga dia kembali mendengar suara Dominic.
"Anggap saja begitu." Suaranya nampak menahan amarah, dengan desisan yang tajam.
Namun tak ada waktu untuk takut sebab Ella justru terkejut. "Apa?" Dia tak percaya.
Tubuh pria di depannya nampak atletis, dengan bahu lebar meski di lihat dari cahaya remang seperti sekarang dia bisa melihat perawakan Dominic yang gagah dan seperti pria sejati. Tapi bagaimana bisa pria ini justru tidak mampu. Dan dia mengakuinya?
"Ka—kalau begitu seharusnya kau cari dokter, Tuan. Bukan penulis erotis sepertiku." Suara Ella mencicit di akhir, dia benar-benar takut menyinggung orang ini.
"Kamu pikir aku tidak melakukannya?"
"Haruskah aku katakan kalau aku mulai bergairah saat membaca bukumu?"
Ella semakin terkejut. Sungguh? Karena itukah dia memberi hadiah yang banyak?
Memang ada yang seperti itu?
"Tapi sayang setiap aku membaca akhirnya, dia kembali tak bertenaga."
Ella melipat bibirnya dengan wajah kasihan sekaligus ingin tertawa.
"Baiklah, Tuan, aku mengerti. Aku akan buat yang lebih bagus yang akan membuatmu, bergairah!" Ella menaikan tangannya ke atas. Sekarang dia tahu apa yang harus dia lakukan, setidaknya.
Ella berdiri, lalu menunduk hormat. "Terimakasih atas waktumu, Tuan." Ella keluar dari kamar remang tersebut menyisakan Dominic yang masih termenung.
"Tuan, apa tidak masalah mengatakan itu padanya?" Bobby menatap khawatir pada kepergian Ella. Ella baru saja tahu kelemahannya.
Dominic menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang sejak tadi dia duduki. "Kau hanya perlu mengawasinya. Jika dia membocorkannya, bunuh saja!"
Bobby mengangguk patuh. "Baik Tuan."
"Sekarang panggil mereka kemari!" Mereka yang di maksud tentu saja para wanita. Dominic masih terngiang gerakan tangan Ella tadi, saat tangan kecilnya bergerak naik turun seolah dia benar-benar memegang sebuah pilar.
Haruskah dia mencobanya?
...
Haruskan ini berakhir di lempar lagi😔 gak laku kayaknya disini...
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..