Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Pagi di Los Angeles terasa jauh lebih menyesakkan daripada biasanya. Matahari yang bersinar terang seolah mencoba menelanjangi rahasia yang disembunyikan Elowen di balik pakaiannya. Di area parkir kampus yang mulai dipadati mahasiswa, sebuah mobil sedan perak yang sangat ia kenali sudah terparkir manis.
Jeff Feel-Lizzie berdiri di samping mobilnya, tampak rapi dengan kemeja flanel kotak-kotak yang memberikan kesan pria rumahan yang hangat. Namun, saat Elowen turun dari mobilnya, sorot mata Jeff tidak langsung tertuju pada senyum kekasihnya, melainkan pada gaun dress panjang dengan kerah tinggi yang mencekik leher Elowen.
"El," sapa Jeff, melangkah mendekat. Ia meraih tangan Elowen, namun matanya masih menyipit, menatap kerah baju itu dengan dahi berkerut. "Ini sudah hampir 28 derajat. Kenapa kau memakai baju setertutup ini lagi? Kau tampak... sesak."
Elowen merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan lapisan concealer tebal di bawah kerah kain itu mulai sedikit lembap karena keringat dingin. Ia harus memutar otak cepat sebelum Jeff meraih kerah itu untuk memeriksanya.
"Aku alergi cuaca, Jeff," ucap Elowen cepat, suaranya sedikit serak. "Sepertinya debu di perpustakaan kemarin membuat leherku memerah dan gatal sekali. Aku takut jika kau melihatnya, kau bisa tertular atau setidaknya merasa risi. Ini sangat menjijikan untuk dilihat."
Jeff, dengan segala kebaikan hatinya yang terkadang terasa naif, langsung melembut. Tatapan curiganya berubah menjadi rasa cemas yang tulus. "Benarkah? Sudah pakai salep? Harusnya kau tidak perlu masuk kelas jika merasa tidak nyaman, El."
"Aku tidak apa-apa, Jeff. Hanya sedikit gatal," dusta Elowen lagi, merasakan lidahnya kelu karena terus-menerus menumpuk kebohongan.
Mereka berjalan beriringan menuju gedung Fakultas Psikologi. Jeff merangkul pundaknya, sebuah gestur posesif yang biasanya membuat Elowen merasa aman, namun kini terasa seperti beban yang menghimpit paru-parunya. Setiap sentuhan Jeff adalah pengingat akan pengkhianatan-nya.
Di dalam kelas, dosen sedang menjelaskan teori tentang perilaku obsesif. Elowen tidak bisa fokus. Setiap kali ia mencoba mencatat, bayangan Ezzra di depan gerbang mansion semalam, bagaimana pria itu menggendong Apolo, dan bagaimana ia berbohong pada ibunya bahwa ia dan Jeff sudah putus, terus menghantuinya.
Ruangan itu terasa semakin sempit. Ia merasa kerah bajunya benar-benar mencekiknya sekarang.
"Jeff, aku ke toilet sebentar. Perutku tidak enak," bisik Elowen.
Jeff mengangguk, memberinya tatapan "cepat kembali" yang manis. Elowen segera keluar, melangkah cepat menuju toilet di ujung koridor yang biasanya sepi di jam kuliah seperti ini.
Sampai di dalam, ia langsung menuju wastafel. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba mengusir bayangan-bayangan gila dari kepalanya. Ia menatap pantulannya di cermin—seorang gadis yang terjebak di antara dua pria, dua dunia, dan satu rahasia besar.
Saat ia memutar tubuh untuk keluar dari toilet, pintu tiba-tiba didorong dari luar dan sebuah tangan kekar menariknya masuk kembali. Dalam satu gerakan cepat, tubuhnya diputar dan disudutkan ke dinding marmer yang dingin.
Belum sempat ia berteriak, sebuah bibir yang sangat familiar membungkam mulutnya. Ciuman itu kasar, penuh kerinduan, dan membawa aroma maskulin yang langsung menghancurkan pertahanan Elowen.
"Kau gila, Ezzra?! Ini di kampus!!" desis Elowen setelah berhasil melepaskan tautan mereka, meskipun napasnya tersengal.
Ezzra Velasquez berdiri di depannya, mengenakan jaket kulit hitam yang membuatnya tampak sangat kontras dengan lingkungan kampus yang tenang. Ia tersenyum miring, ibu jarinya bergerak menghapus sisa saliva di sudut bibir Elowen dengan gerakan yang sangat intim.
"Berarti kalau di luar kampus boleh, Baby?" tanya Ezzra tanpa rasa bersalah sedikit pun. Matanya yang gelap menatap Elowen seolah ingin menelannya bulat-bulat.
"Tidak boleh! Menyingkir, Ezzra. Jeff ada di kelas sebelah, dia bisa keluar kapan saja," Elowen mencoba mendorong dada bidang pria itu, namun Ezzra justru mengunci kedua tangannya di atas kepala, menekannya ke dinding.
Ezzra tidak membalas dengan kata-kata. Ia kembali mencium Elowen, kali ini lebih dalam dan posesif, seolah sedang menandai kembali wilayah kekuasaannya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, ia menjauhkan wajahnya hanya beberapa inci, membiarkan napas panas mereka beradu.
"Jangan biarkan Jeff menyentuh bibir ini," bisik Ezzra, suaranya terdengar frustrasi dan parau. "Kumohon... jangan dia. Aku bisa gila karena cemburu, El."
Deg.
Elowen tertegun. Melihat sisi rapuh dari seorang berandal seperti Ezzra adalah sesuatu yang tidak pernah ia duga. "Jangan lupa, Ezzra... dia kekasihku," ucap Elowen, mencoba mengingatkan dirinya sendiri lebih daripada mengingatkan Ezzra.
Ezzra tertawa kecil, tawa yang terdengar getir. "Aku juga kekasihmu. Jadi kau harus adil padaku, El."
"Kekasih? Sejak kapan kita berpacaran?" tanya Elowen dengan kening berkerut.
"Sejak malam kita bersama di penthouse," jawab Ezzra mantap. Ia melepaskan tangan Elowen, namun tangannya beralih mengusap kerah tinggi baju Elowen. "Dan jangan lupa, kita melakukannya di apartemenku. Aku punya... jejakmu yang tertinggal di sana. Dan aku punya memori yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh concealer ini."
Elowen menatapnya tajam. "Kau mengancam ku, Velasquez?"
"Tidak, Sayang," Ezzra menarik Elowen ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elowen, menghirup aroma parfumnya dalam-dalam. "Aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku hanya mengingatkanmu bahwa kau sudah terikat denganku. Aku merindukanmu... sangat merindukanmu hingga aku tidak bisa tidur semalam."
Elowen merasakan benteng di hatinya perlahan retak. Pelukan Ezzra terasa begitu nyata, begitu protektif, meskipun ia tahu ini salah. Ia merasa seperti seorang kriminal yang menikmati pelariannya.
"Kau benar-benar gila, Velasquez," gumam Elowen, tangannya perlahan naik dan meremas jaket kulit Ezzra.
"Aku memang gila karena kamu. Dan aku tidak keberatan jika seluruh dunia tahu itu," sahut Ezzra.
Elowen melirik jam di tangannya. Ia sudah terlalu lama di luar. "Baiklah... kekasihmu izin kembali ke kelas sekarang. Lepaskan aku."
Ezzra melepaskan pelukannya, namun ia merentangkan tangannya lebar-lebar, meminta satu pelukan perpisahan lagi. Elowen hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib pria ini. Ia maju satu langkah, membiarkan Ezzra memeluknya erat sejenak sebelum pria itu berbisik, "Hati-hati, Baby. Jangan sampai dia mencium bau parfum ku di bajumu."
Elowen mengangguk kaku, merapikan rambut dan pakaiannya dengan terburu-buru. Saat ia keluar dari toilet, ia tidak menoleh lagi, namun ia tahu Ezzra masih berdiri di sana, menatap punggungnya dengan senyum kemenangan.
Di koridor, Elowen menarik napas panjang. Ia harus kembali menjadi "Elowen yang sempurna" untuk Jeff, sementara di dalam dirinya, api yang dinyalakan Ezzra sedang membakar segala aturan yang pernah ia buat. Ia baru saja mengakui Ezzra sebagai kekasihnya, dan itu artinya, kehancuran besar sedang menunggunya.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...