Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pernyataan Perang di Bawah Langit Bali
Malam di Nusa Dua begitu mempesona. Meja makan kayu jati itu tertata rapi di atas dek pribadi yang menjorok ke arah pantai, dihiasi lilin-lilin kecil yang menari ditiup angin laut. Jika siapa pun melihat dari jauh, mereka pasti akan menyangka ini adalah jamuan makan malam keluarga kecil yang bahagia.
Zianna adalah bintang utamanya. Bocah itu terus berceloteh, sesekali menyuapi Aiswa, lalu sedetik kemudian bermanja pada Devan.
"Tante Guru, cobain ini deh, enak banget! Tadi Papa yang pesenin khusus buat Tante," ujar Zianna sambil menyodorkan sepotong wagyu beef dengan wajah polos.
Devan hanya memperhatikan dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari bibirnya. Sesekali Zianna dengan sengaja menggandeng tangan Aiswa dan Devan bersamaan di atas meja, seolah sedang menyatukan dua kutub yang berbeda.
Devan tampak sangat menikmati momen itu, sementara Aiswa? Ia hanya bisa tersenyum kaku sambil menahan dongkol.
Ini anak kecil modusnya halus banget, ya Tuhan. Aku merasa seperti domba yang sedang digiring ke kandang serigala pelan-pelan, batin Aiswa sambil mengunyah daging mahal yang rasanya mendadak hambar karena grogi.
Setelah piring-piring dibersihkan, Devan memberi kode pada Mbak Suci.
"Suci, bawa Zianna ke kamar. Dia sudah waktunya istirahat."
"Tapi Papa, Zia masih mau sama Tante Guru..." rengek Zianna.
"Besok kita main lagi, Sayang. Tante Guru tidak akan lari ke mana-mana," ucap Devan dengan penekanan pada kata 'tidak akan lari' yang membuat kuduk Aiswa meremang.
Begitu Zianna dan Suci menghilang di balik pintu kaca, suasana mendadak sunyi. Hanya suara deburan ombak yang terdengar. Aiswa buru-buru bangkit, ingin segera mengakhiri sesi siksaan batin ini.
"Pak Devan, terima kasih makan malamnya. Saya rasa saya harus balik ke kamar untuk persiapan seminar besok.."
Sret!
Belum sempat Aiswa melangkah, Devan menarik kursi Aiswa dengan satu gerakan cepat, membuat kursi itu bergeser dan kini Aiswa duduk tepat berhadapan dengan Devan dalam jarak yang sangat intim.
"Aww!" Aiswa memekik kaget, tangannya refleks memegangi dada.
"Bapak apa-apaan sih?! Jantung saya hampir copot!"
Devan tidak menjawab. Pria itu justru memajukan tubuhnya, menatap Aiswa dengan netra tajam yang seolah bisa menembus pikiran. Perlahan, tangan Devan terangkat. Aiswa mematung, nyaris berhenti bernapas. Jempol pria itu dengan sangat lembut merapikan sisa rambut yang menutupi wajah Aiswa.
Aduuh, alarm bahaya! Ini bapak satu anak mulai bertingkah nggak jelas. Kabur, Ai! Sebelum lo beneran dimakan di sini! jerit batin Aiswa panik.
"Aiswa..." panggil Devan. Suaranya rendah, serak, dan sangat lembut berbeda 180 derajat dari suara dingin yang biasa ia dengar.
"I... iya, Pak?" sahut Aiswa dengan kewaspadaan tingkat tinggi, badannya ditarik menjauh sejauh mungkin.
"Apa kamu pernah mendengar istilah jatuh cinta pada pandangan pertama?"
Aiswa melongo.
"Hah?"
Nih orang kesambet setan pantai apa gimana?
"Iya, saya pernah dengar. Tapi itu cuma di novel-novel, Pak," jawab Aiswa asal.
Devan tersenyum. Sialnya, senyum itu sangat mempesona hingga membuat pertahanan Aiswa goyah sesaat. Tapi ia segera beristighfar dalam hati.
Ingat Aditya, Ai! Ingat pacar lo yang sabar itu!
"Itu terjadi pada saya," ucap Devan jujur, matanya tak lepas dari bibir Aiswa.
"Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kamu."
Aiswa tertegun. Ia tidak menyangka pria seangkuh Devan akan sefrontal ini. Pesona pria matang memang berbeda, tapi Aiswa tidak mau kalah.
"Tapi saya nggak suka Bapak!" tegas Aiswa telak.
Devan justru tertawa kecil, seolah penolakan Aiswa hanyalah hiburan baginya.
"Aku tahu. Tapi bukan berarti tidak akan pernah, kan?"
"Saya sudah punya pacar, Pak! Tolong diingat, P-A-C-A-R!" Aiswa menekankan setiap hurufnya.
Devan kembali tersenyum miring, sebuah senyum sinis yang mengintimidasi.
"Saya tahu. Masih pacar, kan?" sindirnya.
"Bahkan kalaupun kamu sudah bersuami, Saya bisa melakukan apa pun supaya kamu jadi milik Saya."
Mata Aiswa membulat sempurna. Ia hendak protes, tapi Devan tiba-tiba memajukan wajahnya hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Aiswa. Hembusan napas hangatnya membuat Aiswa merinding sekujur tubuh.
"Apa pun yang Saya inginkan, harus Saya dapatkan. Termasuk... kamu, Aiswa."
Aiswa merasa seperti tersengat listrik. Ia segera mendorong dada Devan dengan sekuat tenaga dan berdiri dengan wajah memerah karena marah sekaligus takut.
"Bapak gila ya?! Masih muda tapi sudah halu! Jangan harap saya bakal putus sama pacar saya hanya karena Bapak kaya!" ketus Aiswa.
"Mending Bapak tidur, deh. Kayaknya Bapak kurang istirahat jadi mimpinya kebablasan!"
Tanpa menunggu jawaban, Aiswa langsung lari terbirit-birit meninggalkan balkon tersebut.
Fix, itu orang pasien RSJ kabur yang nyamar jadi CEO! Sumpah, serem banget! gerutunya sepanjang jalan menuju kamar.
Sementara itu di balkon, Devan masih duduk tenang. Ia menyesap sisa minumannya sambil menatap punggung Aiswa yang menjauh. Alih-alih marah karena didorong, ia justru merasa semakin tertantang. Belum pernah ada wanita yang berani mengatainya gila di depan wajahnya.
"Kamu akan segera menjadi milik Saya, Aiswa," desisnya pelan dengan tatapan gelap yang mengerikan.
"Segera."