"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Suasana di ruang makan kediaman utama keluarga Nugraha malam itu terasa mencekam, meski meja panjang dari kayu jati itu dipenuhi oleh hidangan kelas atas.
Cahaya lampu gantung kristal yang mewah seolah tak mampu menghangatkan kedinginan yang memancar dari setiap sudut ruangan.
Arvin duduk di kursi utama, wajahnya mengeras seperti batu karang. Di sebelah kanannya, Mama Rosa tersenyum lebar, tampak sangat puas dengan skenario yang ia susun.
Dan di hadapan mereka, duduk Nadia dengan gaun sutra berwarna sampanye yang elegan, menatap Arvin dengan binar mata yang penuh klaim kepemilikan.
Zoya duduk di sebelah kiri Arvin. Ia mengenakan gamis berwarna cokelat muda dengan cadar senada. Sejak mereka tiba di rumah ini, Zoya merasa seperti penyusup di wilayah yang tak menginginkannya.
Terutama setelah insiden foto misterius semalam yang membuat Arvin mendiamkannya sepanjang perjalanan pulang dan pagi harinya.
"Wah, Nadia, kamu masih ingat ya kalau Arvin sangat suka Steak Tartare dengan sedikit bumbu truffle ini?" suara Mama Rosa memecah keheningan yang kaku.
Nadia tertawa kecil, suara yang terdengar sangat merdu namun menyayat hati Zoya. "Tentu saja, Tante. Dulu di London, kami sering menghabiskan akhir pekan hanya untuk mencari restoran yang punya rasa truffle paling otentik. Arvin itu sangat pemilih, dia tidak suka sesuatu yang... biasa saja."
Nadia melirik Zoya sekilas, sebuah lirikan yang sarat akan penghinaan. "Oh, maaf. Zoya mungkin tidak mengerti apa itu truffle. Di kampusmu tidak diajarkan tentang selera kuliner kelas atas, kan?"
Zoya hanya menunduk, jemarinya meremas kain gamisnya di bawah meja. "Saya tahu itu jenis jamur mahal, Nona. Tapi bagi saya, makanan terbaik adalah yang dimasak dengan ketulusan, bukan hanya sekadar harga."
"Tulus? Lucu sekali," sahut Nadia sinis. "Arvin, kamu ingat tidak saat kita terjebak hujan di Paris? Kita makan di pinggir jalan tapi rasanya jauh lebih berkelas karena kita punya koneksi jiwa yang sama. Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari wanita yang 'tertutup' dan penuh rahasia, kan?"
Zoya menahan napas. Ia melirik Arvin, berharap suaminya akan mengeluarkan kata-kata tajam seperti semalam di mobil untuk membelanya.
Namun, Arvin tetap diam. Pria itu terus memotong daging di piringnya dengan gerakan mekanis, matanya tertuju pada makanan, seolah-olah ia sedang berada di dunia lain.
Konflik semakin memanas saat Mama Rosa mulai mengeluarkan album foto lama ke atas meja makan.
"Lihat ini, Nadia. Foto kalian saat peresmian cabang di Singapura. Kalian terlihat seperti pasangan paling serasi di dunia bisnis," ucap Mama Rosa tanpa memedulikan perasaan menantunya yang sah di sana.
Nadia mendekat ke arah Arvin, sengaja bahunya bersentuhan dengan bahu Arvin saat mereka melihat foto itu. "Ah, ini saat Arvin memberikan kalung itu padaku, kan? Kamu masih menyimpannya, Vin?"
Arvin hanya berdehem singkat. Tidak mengiyakan, tapi juga tidak membantah.
"Sayang sekali ya," Nadia kembali menatap Zoya, "Arvin yang dulu begitu ekspresif dan penuh gairah, sekarang harus terkunci dalam rumah tangga yang... yah, seperti kuburan. Arvin itu butuh matahari, bukan bayangan yang tertutup kain hitam."
Zoya merasa matanya mulai memanas. Ia menoleh ke arah Arvin, suaranya bergetar pelan. "Tuan... apakah Anda merasa hidup dengan saya seperti di dalam kuburan?"
Hening.
Arvin meletakkan garpu dan pisaunya. Denting logam yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring di ruangan itu. Ia mendongak, menatap Zoya datar, lalu beralih menatap Nadia. Namun, bibirnya tetap terkatup rapat.
Pikiran Arvin sebenarnya sedang kacau. Foto Zoya dan Liam terus berputar di kepalanya. Ia ingin membela Zoya, tapi egonya yang terluka oleh kecurigaan perselingkuhan itu menahannya.
Ia ingin mengusir Nadia, tapi ia tahu ibunya sedang dalam kondisi kesehatan yang menurun jika ia membangkang. Diam menjadi satu-satunya pelarian Arvin, namun bagi Zoya, diam itu adalah sebuah pengkhianatan.
"Arvin tidak perlu menjawab, Zoya," sela Mama Rosa dengan nada dingin. "Tindakan seseorang lebih bermakna daripada kata-kata. Lihat bagaimana Arvin diam, itu tandanya dia merindukan masa-masa indahnya bersama Nadia."
Nadia tersenyum penuh kemenangan. "Pria tidak akan bahagia dengan wanita yang tidak bisa ia pamerkan dengan bangga, Tante. Arvin berhak mendapatkan yang terbaik, bukan sekadar obat saat ia jatuh."
Zoya bangkit dari kursinya. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan hinaan yang dilemparkan secara bertubi-tubi.
"Maaf, Mama. Saya merasa kurang sehat. Saya izin ke belakang sebentar," ucap Zoya dengan suara serak.
Ia berjalan cepat menuju teras belakang, menjauh dari meja makan yang terasa seperti medan eksekusi.
Begitu sampai di luar, di bawah remang cahaya bulan, Zoya menangis tanpa suara di balik cadarnya. Rasa sakit karena dihina Nadia tidak seberapa dibandingkan rasa sakit melihat Arvin yang membiarkannya dihina.
"Mengapa kau diam, Tuan? Apakah benar aku hanya bayangan yang menghambat mataharimu ?" batin Zoya pedih.
Tak lama kemudian, ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Zoya segera menghapus air matanya, berharap itu Arvin yang datang untuk meminta maaf. Namun, saat ia berbalik, yang berdiri di sana adalah Nadia, memegang gelas wine dengan tatapan iblis.
"Menangis? Itu satu-satunya yang bisa kau lakukan?" Nadia tertawa mengejek. "Kau lihat tadi? Arvin tidak sepatah kata pun membelamu. Karena di dalam hatinya, dia setuju denganku. Kau itu beban bagi kariernya, beban bagi citranya. Dan yang paling penting... dia tahu kau punya pria lain di kampus."
Zoya tersentak. "Apa maksudmu?"
"Foto di taman itu... itu hanya permulaan, Zoya," bisik Nadia tepat di telinga Zoya. "Aku akan memastikan Arvin membencimu sampai dia sendiri yang melemparmu keluar dari rumah ini. Kembalilah ke duniamu yang kumuh, dan biarkan Arvin kembali ke pelukanku."
"Tuan Arvin tidak serendah itu untuk memercayai fitnah Anda!" balas Zoya tegas.
"Benarkah? Lalu kenapa dia diam saja saat aku menghinamu tadi? Karena dia ragu padamu, Zoya. Dan keraguan adalah awal dari kehancuran."
Zoya kembali ke meja makan untuk berpamitan pulang. Arvin sudah berdiri di sana, siap untuk pergi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, Arvin tetap membisu. Suasana di dalam mobil begitu mencekam hingga suara napas pun terasa berat. Begitu sampai di penthouse, Arvin langsung melangkah menuju ruang kerjanya.
"Tuan!" panggil Zoya, menghentikan langkah Arvin di anak tangga.
Arvin berhenti, namun tidak berbalik.
"Kenapa kau diam saja tadi? Kenapa kau membiarkan Nona Nadia menginjak-injak harga diri istrimu?" tanya Zoya dengan nada menuntut yang penuh luka.
Arvin berbalik perlahan. Matanya yang dingin menatap Zoya tajam. "Harga diri yang mana, Zoya? Harga diri yang kau jaga saat kau berdua bersama pria itu di kampus? Kau menuntut pembelaan dariku, sementara kau sendiri memberiku alasan untuk meragukanmu?"
Zoya tertegun. "Jadi karena foto itu... Kau membiarkanku dipermalukan?"
"Aku tidak suka dikhianati, Zoya. Dan diamku tadi adalah cara agar aku tidak meledak dan menghancurkanmu di depan ibuku," jawab Arvin dingin.
"Itu fitnah, Tuan! Liam hanya teman..."
"Cukup!" bentak Arvin. "Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun malam ini. Masuk ke kamarmu."
Arvin berjalan pergi, meninggalkan Zoya yang berdiri gemetar di ruang tengah yang luas. Zoya menyadari satu hal yang menyakitkan malam itu.
Di meja makan tadi, Arvin bukan hanya sedang menghormati ibunya atau merindukan masa lalunya. Arvin sedang menghukum Zoya dengan cara yang paling kejam, dengan membiarkan orang lain melukainya.
Perang dingin ini bukan lagi tentang masa lalu Nadia, tapi tentang kepercayaan yang mulai runtuh. Dan di balik cadarnya, Zoya menyadari bahwa mencintai pria seperti Arvin adalah tentang bersiap untuk terluka oleh diam yang mematikan.
...----------------...
To Be Continue ....