NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan

Gedung museum yang megah itu tampak membeku di bawah cahaya rembulan yang pucat. Suasana yang biasanya dipenuhi decak kagum para pengunjung, kini hanya menyisakan keheningan yang mencekam.

Di lorong utama, langkah kaki yang sangat pelan terdengar bergesekan dengan lantai marmer. Suara itu begitu halus, nyaris tenggelam oleh detak jam besar di sudut ruangan.

Sesosok wanita tua dengan jubah beludru hitam berjalan menyusuri lorong itu.

Nyonya Besar Ashford—nenek Aurora.

Wajahnya yang dipenuhi garis usia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, melewati deretan patung-patung marmer yang seolah sedang mengawasinya dalam gelap.

Dia berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Kantor cucunya sendiri. Dengan gerakan yang sangat terlatih, tangan tuanya yang berhiaskan cincin zamrud memutar kunci cadangan.

Klik.

Pintu terbuka.

Nyonya Ashford masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu jalan dari balik jendela. Ia tidak menyalakan lampu, bergerak dalam kegelapan seolah sudah sangat hafal dengan setiap sudut ruangan itu.

Ia berhenti di depan meja besar milik Aurora.

Sepasang matanya tertuju pada stempel resmi Direktur Museum. Nyonya Ashford mengulurkan tangannya yang gemetar, namun gerakannya terasa pasti. Dia menarik sebuah laci meja yang tidak terkunci sepenuhnya. Tangannya merogoh ke dalam, mencari sesuatu di tumpukan berkas pribadi Aurora yang seharusnya rahasia.

Tiba-tiba, dia berhenti.

Kepalanya menoleh sedikit ke arah pintu, seolah mendengar sesuatu di kejauhan. Di bawah cahaya rembulan, sorot matanya tampak berkilat dingin—sebuah tatapan yang terasa sangat asing bagi sosok seorang nenek.

......................

Sementara itu, di Mansion Valehart, Aurora duduk meringkuk di balik meja besar di ruang baca pribadinya.

Hanya lampu meja kecil yang menerangi tumpukan dokumen hukum yang berantakan.

Mata Aurora terasa panas.

Dia sudah membaca baris kalimat yang sama berkali-kali. Perutnya perih, protes kecil yang sudah dia abaikan sejak beberapa jam lalu.

Museum terpaksa ditutup sementara karena skandal ini, dan Aurora merasa dunianya sedang runtuh perlahan.

Dia tidak punya waktu untuk lapar. Jika dia berhenti sekarang, maka nama Ashford hanya akan tinggal sejarah.

Aurora mengembuskan napas panjang—sebuah helaan napas yang penuh dengan rasa sesak dan lelah yang luar biasa.

Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka memecah konsentrasinya. Lucien berdiri di sana, menatap istrinya yang tampak kecil di balik tumpukan kertas itu.

"Aku tidak tahu kalau kau sedang mencoba menghafal seluruh isi undang-undang dalam semalam," suara Lucien mengalun dingin, sarat dengan nada sindiran.

"Atau kau berencana mati kelaparan agar pamanmu merasa bersalah?"

Aurora memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.

"Kumohon... aku sedang tidak punya tenaga untuk sarkasmemu. Aku stres. Aku hanya ingin menyelesaikan ini."

Lucien melangkah maju, menutup naskah hukum Aurora dengan gerakan yang tidak bisa dibantah.

"Kau tidak akan menyelesaikan apa pun dengan otak yang sudah berhenti berfungsi. Turun ke bawah sekarang. Makan malam sudah dingin."

"Aku bukan anak kecil. Aku akan turun setelah bab ini seles—"

"Aku tidak bertanya kapan kau akan selesai."

"Lucien! Aku bilang aku masih sib—"

Belum sempat Aurora menyelesaikan protesnya, dunia seolah berputar. Dalam satu gerakan cepat, Lucien merangsek maju. Sebelum Aurora bisa bereaksi, sepasang lengan kuat itu sudah menyelinap di bawah perutnya.

Hup!

Lucien mengangkat tubuh Aurora dan menyampirkannya di bahu kokohnya—persis seperti sedang memanggul sekarung beras.

"Lucien Valehart! Turunkan aku! Apa-apaan ini?!" Aurora berteriak panik, kakinya menendang-nendang udara dengan sia-sia.

Tubuhnya yang mungil benar-benar tenggelam dalam dominasi fisik Lucien.

"Kau terlalu berisik untuk ukuran orang yang belum makan," ucap Lucien tenang, sama sekali tidak terganggu dengan pemberontakan istrinya.

"Lepaskan! Ini memalukan, Lucien!" Aurora memukul-mukul punggung Lucien, namun rasanya seperti memukul tembok beton.

Beberapa pelayan yang kebetulan lewat langsung menunduk dalam, mencoba menahan senyum saat melihat Tuan mereka yang dingin sedang memanggul Nyonya mereka yang sedang murka di atas bahunya.

"Lucien, demi Tuhan! Rambutku berantakan!" seru Aurora lagi, wajahnya sudah memerah sempurna antara marah dan malu.

"Akan kuperbaiki setelah kau menghabiskan supmu," jawab Lucien pendek, tetap melangkah mantap menuju ruang makan.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!