Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Siang itu di salah satu hotel berbintang tiga di kota Cipanas, di salah satu kamar yang cukup megah, lelaki tua berusia 57 tahun keluar dari kamar mandi setelah membersihkan seluruh badannya.
Setelah beres aktivitas nya lelaki tua itu pun langsung berjalan ke arah meja dan menelepon resepsionis untuk di bawakan sarapan pagi nya.
Tak lama kemudian pintu kamar hotel dengan nomor 19 itu terbuka, dan sosok pelayan muda membawa nampan sarapan permintaan dari penghuni kamar lelaki tua yang masih gagah di usia yang terbilang sudah menua.
"Terima kasih." lelaki tua berkata seraya memberikan tips pada pelayan yang cukup menarik perhatian nya akan kecantikan dari pelayan hotel tersebut.
" Sama sama Tuan. Apakah ada sesuatu yang masih di butuhkan oleh Tuan." Pelayan itu tersenyum menyenangkan pelanggan itu mayoritas utama bagi pelayan hotel yang berada di wilayah provinsi Jawa Barat.
" Cukup molek dan menggairahkan gadis ini, ingin rasa nya di terkam saat ini juga, namun rencana yang sedang di pasang saat ini oleh gadis itu lebih penting dari pada mengurusi nafsu yang kini meledak." Ucap hati lelaki tua itu.
" Tidak ada untuk kali ini, namun seandainya nanti atau ke depannya, andai ada pertemuan dengan klien klienku, apakah aku bisa meminta nomor pribadi kamu, atau kah langsung menghubungi nomor hotel ini." Lelaki tua mulai melakukan siasat licik nya untuk mengelabuhi pelayan hotel ini dan masuk dalam jebakan nya.
Pelayan tersenyum manis, di hadapannya lelaki tua meminta nomor pribadi nya itu sudah menunjukkan dan memberikan keterangan bahwa lelaki tua di hadapannya pecinta bunga yang baru mekar, toh tak ada masalah baginya untuk di manfaatkan untuk menunjang ekonomi keluarganya.
Lelaki tua ia tak menyadari bahwa gadis dengan profesi sebagai pelayan hotel itu lebih licik darinya, ia bahkan kelicikan nya seperti seekor rubah.
" Tuan anda bisa langsung menghubungi resepsionis, untuk urusan perhotelan ini, namun bila tidak ada yang di mengerti, Tuan bisa langsung menelepon saya." Gadis itu menerangkan lalu mengeluarkan ponsel android yang cukup mahal harganya.
" Ohk begitu ya. Kalau begitu mohon bantuan nya." Jawab lelaki tua itu lalu memasukkan nomor ponsel pelayan tersebut.
Setelah saling menukar nomor telepon dan memasukan ke kontak ponsel, dan saling memberikan tanda melalui kiriman pesan wasttap, pelayan itu yang memperkenalkan dirinya bernama Dewi langsung kembali ke bawah melanjutkan tugas lainnya di hotel yang telah hampir 4 bulan ia bekerja.
Sementara lelaki tua langsung menyantap makanan yang di hidangkan oleh pelayan hotel tempat ia menginap, tak butuh lama untuk menghabiskan sarapan itu, ia pun langsung mengirim pesan wasttap pada seseorang yang berada di sebrang telepon.
" Bagaimana? Apakah target sudah masuk dalam jebakan yang sudah terpasang." Pesan wasttap pun di kirim tak lama sudah centang biru tanda sudah di baca.
" Sudah! Posisi target kini sedang duduk di kursi, aku sedang menyiapkan segala sesuatunya dulu, setelah semuanya masuk dalam perangkap aku akan menghubungimu secepatnya."
Balasan pun di terima oleh lelaki tua ia tersenyum licik di bibirnya, lalu mengirim pesan pada orang kepercayaan untuk segera berangkat dan berjaga jaga di sekeliling tempat yang sudah di beritahu waktu malam itu.
Siasat apa yang sedang di jalankan oleh lelaki tua itu dan siapa target nya, mereka tidak tahu dan hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya.
Lelaki tua membatin dalam dirinya, sesaat ada keraguan besar menyelimuti nya, walaupun sudah hal lumrah dan kebiasaan nya mengakhiri atau pun membuat orang cacat yang sudah berani menyinggung nya, namun kali ini target yang menjadi incaran nya, seorang bocah berusia belasan tahun yang tak memiliki kekuatan dari materi, namun Kakek dan neneknya orang yang paling di segani dan di hormati di tingkat kecamatan dan yang sedang berkecamuk saat ini di pikiran lelaki tua itu, sang Kakek yang menjadi target bocah itu baru seminggu meninggal dunia.
Rencana itu sebelumnya sudah di persiapkan dari satu bulan ke belakang, namun waktu itu masih sangat ragu ragu oleh lelaki tua, tapi nasib baik berpihak padanya, seminggu yang lalu yang menjadi pikiran ketakutan dalam diri lelaki tua itu, orang yang di takutkan nya kembali menghadap sang ilahi, jadi ia pun mulai merencanakan dan menjalankan rencananya untuk menyingkirkan pemuda berusia belasan tahun yang mengetahui aib dirinya.
Di tempat lain dan masih waktu yang sama. Seorang pemuda yang baru lulus sekolah SMP terduduk di kursi yang begitu empuk, pemuda itu tak lain Danil Dwi Cahya, ia menunggu gadis cantik berkulit sawo matang yang masuk kedalam kamar vila mewah itu.
Danil teringat dalam ucapan yang tak kasat mata dan berdengung di kedua telinga, ada sesuatu yang besar di hadapannya, ia harus bisa memilah dan memilih agar selamat dari masalah besar yang akan menimpa dirinya.
Danil berdiri dari kursi empuk yang di duduki nya, melihat seorang gadis yang sangat ia kagumi dan membuat darahnya naik turun melenggak-lenggok berjalan kearah nya.
Senyuman manis dengan dada membusung ke depan, di sertai tatapan manja membuat nya Danil mematung, namun tak bisa di pungkiri bahwa warisan yang ada di bawah celana nya menggeliat bangun dengan sendirinya setelah melihat sesuatu yang indah di depan mata.
" Niel." Ucapan nya manja terdengar nyaring di telinga nya, membuat nafsunya mendidih ingin menerkam mangsa di hadapannya.
Sudah tak ada malu bagi gadis yang Danil tahu ia adalah sahabat nya itu. Ia menunjukkan kemolekan dan keseksian tubuhnya di hadapan yang bukan muhrimnya, baju tipis di sertai sinar cahaya dari lampu ruangan itu, samar samar terlihat seluruh tubuh telanjangnya.
Kaki terasa ngilu untuk melanjutkan langkahnya, bibir bergetar dengan di sertai geretak giginya, darah mengalir tak beraturan, semerbak di dadak akibat sesak yang ia rasakan mendengar teriakan nyaring dari Danil.
" Aku tahu apa yang akan kau lakukan padaku! Tapi aku tidak tahu rencana apa yang kau lakukan padaku untuk menjebak diriku?
" Akui aku sesaat terlena dengan pandangan di depan mataku ini, nafsuku mengalahkan kewarasan ku saat itu, namun harus kau tahu Ceceu Intan Nuraeni, aku Danil Dwi Cahya bukan seorang pemuda yang polos yang bisa kau kelabui untuk masuk dalam lingkaran setan, lebih baik kau jujur padaku dan apa yang terjadi saat ini."
Danil berjalan ke arah Ceceu yang sedang mematung diam, air matanya mulai membasahi pipinya, kemolekan keseksian dan kegairahan yang di tunjukkan oleh nya untuk memikat pemuda di hadapannya, kini menjadi kebencian, kemarahan dan kekecewaan yang di rasakan oleh Danil.
Ceceu langsung ambruk duduk dengan rasa yang prustasi saat ini. Ia harus bagaimana menjelaskan pada pemuda yang tengah mengisi hari harinya, membawa kebahagiaan selalu ceria bersenda gurau menghilangkan kesedihan yang menimpa dirinya malam tragis yang tak pernah ia lupakan, malam itu menjadi malam neraka baginya.
Kejadian empat bulan yang lalu menjadikan malam malam yang ia hadapi seperti berada di bawah neraka jahanam dan ketelanjuran serta dorongan paksa akan kebutuhan menjadi malam malam yang di lewati bersama bandot tua itu di lakukan dengan bersatunya keringat dosa di antara mereka berdua.
" Sadarlah Ceu. Dan bangkit lah, curahkan isi hatimu padaku, mudah mudahan aku bisa menyelesaikan masalah yang sedang menimpa dirimu." Teriak Danil memberi semangat pada gadis yang terduduk lunglai tak berdaya meratapi kesalahan besar nya itu.
Bersambung.