Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan di jalan
"Kita pulang sekarang, Dai. Maaf bikin kamu nggak nyaman di sini. Mereka emang gitu, memandang segalanya dengan uang, tapi aku bukan salah satu dari mereka. Aku cuma butuh kamu, buatku yang lain nggak penting." Bersamaan dengan itu, Kilau menggandeng tangan Dai dan berjalan ke luar rumah mewah milik keluarganya.
Disaksikan kedua orang tuanya serta Arang, Kilau membuat mereka semua terdiam bagai terkena sihir ketika perempuan pemimpin MahaTech itu naik ke motor sport Dai dengan gemulai.
"Astaga! Apa itu tadi? Kenapa Kilau bisa jadi seliar itu, pah?" mamanya Kilau, Violet sampai memegangi dadanya karena siyok.
"Harus ya Kilau minta maaf sama begajulan itu setelah mencemari mataku dengan adegan tak senonoh yang mereka lakukan tadi? Dia bahkan berani menantang ku, om. Dia tadi bilang kalau aku kayak.. Boti! Kurang ajar!" Kali ini Arang ikutan emosi tingkat tinggi. Ya iyalah.. Sebagai calon suami yang terverifikasi halal dari orang tua Kilau langsung, dia aja nggak pernah sekedar pegang tangan. Lah tadi itu apa? Cipokan man, kampret nggak tuh jadi Arang?
"Cari tau siapa lelaki tadi pah, aku tidak bisa membiarkan putri ku ikutan jadi anak punk nantinya." mamanya Kilau sudah berpikir anaknya akan mengecat rambut jadi pink dan oren cerah, sambil naik motor modif yang ada ranting pohon sepohon pohonnya di motor tersebut.
Heh! Tapi kan Badai bawanya motor sport tadi. Yang harganya juga nggak murah, dan itu keren banget. Apa sih mereka ini, suka kendaraan beroda yang ada atapnya? Bajaj mau bajaj?
Di jalan, Kilau diam. Dai diam. Yang berisik cuma tetangga yang iri sama pencapaian kita! Oke bukan, yang berisik hanya deru knalpot custom pada motor Dai seperti mengucapkan 'misi kang, punten a', amit sedoyo mawon si ganteng mau lewat' pada seluruh pengguna jalan.
"Lo mau langsung pulang?" tanya Dai akhirnya.
"Masih jam segini, lo abis ini mau kemana?" giliran Kilau yang bertanya. Itu juga sambil menyandarkan kepalanya di punggung Dai.
"Ke bengkel. Tuker baju, sayang banget kalau pakaian mahal ini sampai kotor. Gue harus jual kompresor buat ganti, itu juga gue yakin nggak cukup." Terdengar Dai terkekeh meski ada helaan nafas juga yang mengiringi.
"Itu buat lo, Dai. Mau lo jadiin lap atau lo buang juga terserah aja. Nggak akan gue minta lagi apalagi minta lo buat ganti." Tak ada jawaban, sepertinya Dai sedang fokus nyetang atau sedang memikirkan hal lain. Hanya dia yang tahu.
"Dai.. Maaf ya, lo marah ya? Orang tua gue sama Arang emang udah keterlaluan. Tapi tenang aja, gue nggak akan minta lo buat ketemu sama mereka lagi, gue--"
"Gue nggak pernah setengah-setengah dalam melakukan apapun, Ki. Nggak usah maju mundur nggak enak gitu sama gue hanya karena omongan ortu lo sama si boti arang tepung serbaguna itu. Lo udah bawa gue ke drama percintaan lo, dan gue bakal bantu lo sampai tujuan lo tercapai." Dai mengusap jemari tangan Kilau yang memeluk perutnya, nyetang dengan satu tangan bukan hal baru bagi Dai, jadi dia tampak santai saat Kilau malah memegang tangan Dai tak ingin tangan itu pindah lagi ke setang.
"Lo mau gue gimana?" tanya Dai.
"Tetep jadi pacar gue." jawab Kilau cepat.
"Oke. Lo lupa ngasih title 'pura-pura' di belakang kata 'pacar' tadi, Ki." Dai ini nggak peka apa gimana ya?
"Iya.. Pacar pura-pura, maksud gue." Kilau bicara sambil menarik tangannya dari genggaman Dai, dia berpegangan pada pinggang Dai kali ini, hanya memegangi ujung kemeja yang jas nya sudah dipakai Kilau.
Dai biarkan saja apapun yang ingin Kilau lakukan padanya, yang penting nggak jatuh dari motornya aja, dia bukan nggak peka.. Justru terlalu peka untuk mengartikan gestur yang diperlihatkan Kilau padanya. Kilau nggak suka dia menambahkan kata 'pacar pura-pura' sebagai status mereka. Dua tahun pacaran dengan gadis itu dulu membuat Dai sangat paham perubahan ekspresi dan tingkah laku yang tiba-tiba Kilau tunjukkan.
"Lo mau ke bengkel dulu? Nanti pulangnya gue anterin." tawar Dai sudah mengarahkan motornya ke jalur menuju rumah dan bengkelnya.
"Nggak. Gue capek, anterin gue ke apartemen aja." dingin plus ketus. Dai hanya mengangguk tanpa menjawab dengan perkataan. Dan motornya harus dia putar balik ke kawasan apartemen elit tempat Kilau tinggal.
"Kenapa sih lo langsung iya-iya aja gitu. Lo tuh nyebelin tau nggak!" keluh Kilau sewot.
Tak menjawab. Dai memilih menepikan motornya. Kilau bingung dan wajahnya tetap ditekuk tanda kesal melanda hatinya.
"Lo kenapa gue tanya?" Dai turun dari motor lalu membuka helmnya. Membiarkan rambutnya berkibar tertiup angin.
Kilau tetap cemberut. Dia nggak mau turun dari motor, perempuan itu bahkan terlihat melipat kedua tangannya di dada. Dai mengalihkan pandangannya ke jalanan, dia menghempaskan nafas kasar.
"Lo marah karena gue bilang kita cuma pacar pura-pura? Bukannya lo sendiri yang ngasih status kayak gitu buat hubungan kita?"
"Nggak usah ge'er. Gue bukan gadis remaja yang suka baper, lagian gue nggak marah."
"Baper itu nggak kenal usia. Nenek-nenek gue bilang cantik mirip Syahrini juga bisa salting brutal. Terus lo kenapa kayak gini? Kalau lo nggak bilang alasan lo ngambek, gue bakal cium lo secara membabi buta."
"Dasar mesum." Kilau memukul dada Dai, nggak keras dan Dai juga nggak menghindar.
"Baru bilang mau nyium lo aja lo bilang gue mesum, terus apa kabar lo yang tadi ngokop bibir gue nggak pake permisi, Ki? Cabul nggak sih yang kayak gitu?" Dai mendekatkan wajahnya ke arah Kilau. Di sana Kilau bisa melihat dengan jelas bagaimana seorang Badai bisa makin tampan ketika sedang menggodanya seperti ini.
Oh no! Nggak boleh, godaan sang mantan yang berubah jadi pacar pura-pura nya nggak boleh bikin Kilau jadi bego kayak gini. Di sini Kilau lah yang harus memegang kendali. Bukan malah sebaliknya. Tapi ya gimana, pesona mantan yang udah dia beli sepuluh juta tunai emang sedahsyat itu.
"Apa sih, nggak jelas banget!Buruan anter gue ke apartemen, Dai. Kalau lo nggak mau biar gue telepon supir gue aja." Kilau mengalihkan pembicaraan.
"Lihat gue, Ki." perintah Dai sambil memegang kedua tangan Kilau. Kilau menurut meski dengan dengusan kasar.
"Lo mau kita beneran pacaran? Waktu lo pergi dulu, kita nggak ada kata putus kalo lo lupa." Ahaaaay... Meleyot hati Jubaidah Mak!
"Nggak. Gue mau fokus sama karir gue tanpa mau terlibat dalam hubungan roman picisan kayak pacar-pacaran. Ingat ya Dai, gue minta tolong sama lo karena gue tahu lo bisa gue andelin buat gagalin rencana gila orang tua gue. Dan mungkin dulu di antara kita nggak ada kata putus tapi selama lima tahun kita nggak pernah komunikasi. Di dalam agama kita, nggak bertegur sapa selama tiga hari aja hukumnya dosa, apalagi lima tahun?"
"Gue yang tanggung dosanya. Lo bagian yang enak-enak aja. Gimana?"
Kampret nggak tuh si Badai. Terlihat sekali keahliannya dalam merayu, membuat orang salting, dan bikin baper emang diturunkan langsung dari guru besarnya Cu Pat Kai.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚