Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08.
...~•Happy Reading•~...
"Rafa, ini hanya usul kami, tapi belum bicara dengan Juan. Kalau kau bersedia rapikan ruangan itu dan mau tidur di situ, alangkah baiknya kau bicara dengan Juan lebih dulu."
"Berikan pengertian padanya, supaya dia tidak protes dan tidak mau kau pindah ke situ." Papa Juano memberikan penjelasan kepada Rafael, karena melihat respon dan kedekatan putranya dengan Rafael.
"Kalau dia mau kau tetap tidur bersamanya, ikuti saja dulu. Nanti sambil jalan berikan pengertian, nanti lama-lama dia mengerti." Mama Juano melanjutkan, karena baru pernah melihat putranya begitu dekat dengan seseorang di luar keluarganya.
"Iya, Pak, Bu. Nanti besok saya lihat ruangan dan bicara dengan Juan. Terima kasih buat semuanya." Ucap Rafael sambil menunduk sopan dan hormat kepada kedua orang tua Juano yang sedang menatapnya.
Papa dan Mama Juano bernafas lega, Rafael bisa terima baik usul mereka. Dalam hati mereka berharap Rafael punya kegiatan positif untuk mengisi waktu, sambil menunggu kepastian dokumennya.
"Kita bicara ini dulu, besok kita lanjutkan setelah Rafa lihat ruangannya." Papa Juano merasa cukup baik dengan respon Rafael.
"Iya. Rafa tolong lihat Juan, jangan sampai matanya nyalang lihat layar televisi, tapi pikirannya terus ke sini." Ucap Mama Juano sambil tersenyum, ingat putranya.
Papa Juano dan Rafael ikut tersenyum. Rafael berdiri lalu berjalan ke ruangan nonton. "Juan nonton apa?" Rafael terkejut melihat acara berita malam di layar televisi.
"Eh, Kak Rafa sudah selesai? Juan gak nonton TV, lagi mikir mau kalahkan Kak Rafa." Juan berkata sambil mendekati Rafael dan menarik tangannya ke kamar.
"Saya bakalan kalah." Ucap Rafael sambil tersenyum dalam hati, mendengar alasan ngeles Juano.
Di dalam kamar utama, Mama dan Papa Juano duduk di atas tempat tidur. "Pa, membayangkan Rafa mau bekerja, jadi ingat semangat kita saat Laras mau bekerja." Mama Juano jadi ingat Laras mau masuk kerja.
"Iya, seperti anak sendiri mau bekerja. Cuma perasaannya sangat berbeda. Waktu Laras, kita sangat bangga, karna diterima kerja di perusahaan besar dan langsung diberi jabatan bagus."
"Kalau Rafa, walau senang, ada sedikit rasa sedih. Dia harus memulai dari nol. Semoga dia kuat menerima dan jalani. Harga dirinya sebagai sarjana tidak terusik oleh kelakuan para karyawan yang kadang memandang rendah orang karena jabatan."
"Iya, Pak. Semoga dia kuat. Kasihan. Habis kehilangan dan harus terima perlakuan buruk." Mama Juano menarik nafas kuat. "Sudahlah, aku gak mau pikirkan. Bikin sedih." Mama Juano menggerakan tangan menghalau, seakan sedang mengusir rasa sedih di hatinya.
"Gak usah pikirkan itu. Pikirkan saja, mau beli satu atau dua potong pakaian buat dia masuk kerja. Hari Senin aku mau ajak dia masuk kerja, semoga bisa sekalian kerja."
"Iya, Pak. Tolong lihat pakaian Papa yang sudah gak mau dipakai lagi, biar buat dia ganti-ganti di rumah. Jangan cuma yang ada dicuci, kering terus dipakai." Mama Juano melanjutkan, sebab melihat Rafael mencuci pakaian yang dipakai. Setelah kering, dipakai lagi setelah mandi.
~••
Ke esokan hari ; Rafael dibantu Juan membersihkan ruangan di lantai atas. "Kak Rafa yakin mau tidur di sini?"
"Yakin. Nanti kalau sudah bersih, pasti nyaman. Awas kalau minta tidur di sini, ya." Rafael menggerakan tangan seakan mengancam, agar Juano tidak protes dan memintanya tidur lagi di kamarnya.
"Ah, ini kan cuma buat tidur. Kak Rafa sudah janji, tetap main di kamar Juan." Juan mengelak menyembunyikan rasa senangnya. Dia senang, karena dengan membersihkan ruangan, Rafael akan tinggal lama di rumahnya.
"Juaaan..." Tiba-tiba terdengar suara Laras memanggil dari bawah, karena tidak menemukan Juan di lantai bawah.
"Iya, Kak. Juan ada di atas." Teriak Juano tanpa turun.
"Kau bikin apa di situ? Kau cuci pakaian?" Laras balik teriak.
"Juan, turun bicara dengan kakakmu. Itu lihat, kepala tetangga bermunculan dengar suaramu." Bisik Rafael, karena ada tetangga yang sedang menjemur pakaian melongokkan kepala.
"Isss, Kak Laras sangat malas naik ke sini. Padahal Juan mau Kak Laras naik untuk bantu kita." Protes Juano.
"Sana, turun. Ini sudah selesai. Saya mau lihat-lihat di sini." Rafael mendorong bahu Juano untuk turun.
Juano langsung berlari turun, mendengar panggilan kakaknya lagi. "Iya, Kak. Ada apa?" Tanya Juano setelah berdiri di depan kakaknya.
"Kau bikin apa di atas?"
"Cuma temani Kak Rafa, Kak."
"Kau terus mengekor seperti bebek. Mama Papa ke mana? Mengapa sangat sepi?"
"Mama Papa bilang mau keluar. Juan gak tahu ke mana, Kak." Juano mengatakan yang dikatakan Mamanya.
"Lalu Rafa bikin apa di atas?" Laras heran, sebab Rafael sangat lama di atas dan tidak ikut turun bersama Juano.
"Kak Laras tanya saja. Juan mau naik lagi lihat jemuran." Ucap Juano. Dia mau kakaknya bicara dengan Rafael. Jadi dia tidak cerita Rafael mau pindah kamar, nanti kakaknya marah. Padahal Mama Papanya belum pulang untuk melerai dan menjelaskan.
"Kau selalu membelanya. Sana naik." Dorong Laras, karena tidak mau naik menemui Rafael.
"Gak jadi naik, Kak. Itu Papa sudah pulang." Juano jadi girang mendengar suara pagar didorong. Dia segera berlari keluar untuk melihat orang tuanya.
"Juan, panggil Kak Rafa untuk bantu turunin ini." Papa Juano menunjuk kasur lipat yang ada di mobil.
"Ok, Papa." Juano makin girang. Dia kembali berlari naik tangga untuk memanggil Rafael.
Tidak lama kemudian, Papa Juano dan Rafael sibuk mengangkat barang yang dibeli untuk keperluan kamar baru Rafael. Sedangkan Mama Juano ke dapur bicara dengan Bibi untuk menyiapkan minuman dan cemilan.
Laras mengikuti Mamanya ke dapur, sebab melihat kesibukan Papanya dan Rafael, juga Juano. "Mama, kenapa pada sibuk di atas?"
"Rafa lagi bersihin gudang buat tempat tidurnya..."
"Jadi dia mau tinggal lama di sini?" Laras memotong penjelasan Mamanya.
"Lama atau tidak, tergantung hasil penyelidikan polisi yang tangani pencurian di kereta." Mamanya menjelaskan pelan. "Jadi Papamu usul, lebih baik biarkan Rafa tidur di atas sambil menunggu." Laras kaget sampai tidak bisa berkata.
"Kasihan dia sempit-sempitan tidur di kamar Juan. Apa lagi tidur di atas karpet tipis. Biarkan saja Rafa di atas..." Mamanya jelaskan lagi, tanpa mengatakan Rafael akan bekerja di kantor Papanya.
"Mama Papa gak ajak bicara aku sebelum putuskan?"
"Ajak bicara apa? Bukannya kau sudah tahu Rafa akan tinggal di sini selama belum ada info ditemukan atau tidak dokumennya yang dicuri itu? Ini cuma pindah ruangan."
"Ya, sudah. Papa Mama lebih utamakan maunya Juan."
"Laras, duduk di situ." Mamanya menunjuk ruang makan dengan nada tegas.
"Sekarang Mama yang mau ajak bicara. Apa yang membuat kau keberatan Rafa tinggal di sini?" Mamanya bicara pelan dan serius saat Laras duduk di depannya.
"Tidak keberatan." Jawaban singkat Laras membuat Mamanya tercengang.
"Laras, kau bilang tidak keberatan, tapi sikapmu bertolak belakang." Mamanya jadi emosi.
...~•••~...
...~•○♡○•~...