NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Studio WTBS malam itu seperti lautan cahaya. Lampu sorot bergerak membelah kabut tipis dari mesin asap, layar LED memantulkan kilau keemasan yang membuat seluruh ruangan tampak seperti panggung penghargaan bergengsi. Riuh sorak penonton menyambut pembawa acara yang melangkah ke tengah panggung dengan senyum percaya diri.

"Selamat malam!" serunya. "Episode kedua dimulai. Malam ini enam peserta akan tampil, dan di akhir acara hanya empat yang lolos ke minggu depan. Seperti biasa, delapan puluh persen ditentukan oleh suara penonton lewat aplikasi resmi WTBS, dan dua puluh persen dari empat juri legenda yang hadir khusus malam ini."

Sorotan kamera mengarah ke meja juri. Monica Loraine mengangkat jemari memberi salam, Ezekiel Stone duduk menyilangkan tangan dengan tatapan tajam, Professor Harold merapikan kacamata, sementara Sienna Cruz melambai energik ke penonton. Mereka membawa wibawa, juga pedang-kata-kata yang bisa membangun karier atau merobohkannya.

Di belakang panggung, Thalia menarik napas panjang. Gaun hitam sederhana membalut tubuhnya, rambutnya disanggul rendah, wajahnya hanya diberi riasan yang menonjolkan mata. Zea-yang mendapat izin khusus sebagai pendamping-berbisik di telinganya, "Thal, Kau siap?"

"Harus siap," jawab Thalia. "Kalau tidak, untuk apa aku berdiri di sini."

Gelombang suara penonton bergerak seperti arus. Di layar ponsel para kru, angka vote sudah menari perang fans terjadi bahkan sebelum nada pertama dinyanyikan. Tagar #TeamTiffany dan #TeamThalia saling mengejar di daftar trending. Ada juga #AyanaComeback, #DavidLive, #SaveZoey, dan #AnnaOpera. Para manajer media sosial acara berlarian kecil, koordinator panggung mondar-mandir sambil menekan headset.

Nama pertama dipanggil. Zoey melangkah ke panggung dengan gaun biru satin yang memeluk tubuhnya. Musik jazz mengalun, pianis memulai progresi harmoni lembut. Suara Zoey masuk seperti uap teh hangat: halus, terukur, penuh vibrato kecil yang menggelitik telinga.

Beberapa detik pertama, penonton terpikat. Namun seiring lagu berjalan, ada sesuatu yang tidak meledak. Zoey terlalu aman; ia merangkai nada-nada dengan indah, tetapi tidak membiarkannya terbakar. Saat nada penutup mereda, tepuk tangan sopan menyebar, tidak meriah, tidak pula dingin.

"Indah," kata Monica, mencondongkan tubuh. "Sangat indah. Namun malam ini aku mencari nyala yang membakar panggung. Kau menyajikan keanggunan, tapi aku belum menemukan bara itu."

Ezekiel mengangkat alis. "Kalau ini pertunjukan lounge hotel bintang lima, kau menang telak. Tapi ini kompetisi. Aku butuh risiko."

Zoey tersenyum menahan gugup. "Terima kasih atas masukannya."

Vote bergerak pelan untuknya. Di dunia maya, komentar mengalir: suaranya bagus, tapi... aman. Kata itu berulang-ulang.

Anna tampil setelahnya, bagai patung marmer yang bernyanyi. Gaun putih dengan payet menetes seperti cahaya bulan. Ia membuka mulut, dan aria klasik meluncur keluar seperti panah yang menancap tepat di sasaran. Ruang studio berubah sunyi; tekniknya sempurna, napas panjangnya nyaris tak terdengar. Professor Harold bangkit memberi tepuk tangan sebelum lagu selesai.

"Teknik kelas dunia," puji sang profesor, suaranya bergetar. "Dengan latihan yang benar, kau bisa memimpin panggung opera manapun."

Sienna menatap Anna lama-lama, lalu berkata pelan, "Aku menyukaimu, tapi malam ini aku ingin percaya kau juga bisa menyanyikan hidup yang kita jalani sekarang. Industri ini kejam; ia menuntut untuk menjadi relevan."

Anna mengangguk. "Aku mengerti."

Vote-nya bergerak cepat sesaat, lalu melandai. Kubu klasik memujanya, kubu pop menganggapnya terlalu jauh dari telinga masa kini. Komentar-komentar pedas tidak bisa dihindari: cantik, megah, dan... kuno.

David mengangkat gitar ke panggung. Ia tidak secanggih Anna, tidak seluwes Zoey, namun tiap kata-kata lagunya terasa seperti surat yang ditulis dengan tangan. Lagu balada ciptaannya mengalir jernih, suaranya bergetar di tempat yang tepat. Pada bait terakhir, ia memejamkan mata, seolah berbicara kepada seseorang yang sangat dirindukan.

"Nama keluargamu besar," kata Monica. "Tapi malam ini, kau berdiri sebagai dirimu sendiri."

Ezekiel hanya meneguk air, menatap David lama-lama, lalu mengangguk sekali. "Kau menang karena jujur. Jangan kehilangan itu."

Vote meroket. Banner "DAVID" bergoyang di antara kerumunan. Di luar studio, fans-nya menari, mengangkat ponsel untuk memastikan tombol vote ditekan berkali-kali.

Ayana berjalan ke tengah panggung dengan gaun merah darah yang tampak seperti nyala api. Ia pernah tenggelam oleh fitnah; malam ini ia bernyanyi seolah menguliti luka sendiri dan memamerkan daging mentahnya tanpa takut. Nada-nada tinggi ditembusnya dengan tenaga yang tidak hanya berasal dari tenggorokan, tetapi dari dada yang pernah dipatahkan.

"Energi panggungmu menyambar," puji Sienna. "Kau menuntut perhatian, dan kita semua memberikannya."

"Sedikit berlebihan di bagian bridge," komentar Ezekiel, jujur seperti biasa. "Tapi aku lebih memilih berlebihan daripada suam-suam kuku."

Vote untuk Ayana melompat #AyanaComeback merayap naik.

Saat panggilan "Tiffany" menggema, studio seolah pecah. Ia melangkah seperti ratu: gaun perak, senyum terukur, tatapan yang pandai menemukan kamera. Lagu pop modern dengan hook kuat, koreografi ringan yang tidak merusak fokus vokal. Ia menatap juri pada momen tepat, menatap penonton pada momen berikutnya, menatap lensa seolah menatap hati jutaan orang di rumah.

"Kau tahu bagaimana mengendalikan panggung," ujar Monica. "Itu bakat, juga ilmu."

Professor Harold menggeleng sambil tersenyum. "Ada hal-hal yang tidak bisa diajarkan: karisma adalah salah satunya."

Vote-nya meledak. #Tiffany TheStar bertahan di puncak trending.

Thalia berdiri di belakang tirai panggung, merasakan denyut darah di nadi.. "Aku akan bernyanyi."

Ia melangkah ke panggung seperti orang yang datang mengambil sesuatu yang memang miliknya. Musik balada modern masuk, sederhana, tanpa hiasan. Bait pertama ia jaga tetap rendah-suara seperti bisik, seperti cerita yang diceritakan di tepi tempat tidur pada jam dua pagi ketika dunia diam. Pada reff, ia mengangkat nada, bukan untuk pamer, melainkan untuk membiarkan kalimat-kalimat itu memecah dadanya sendiri. Tidak ada koreografi, hanya tangan yang kadang menggantung, kadang mengepal-gerak kecil yang jujur.

Sorak yang memecah sesaat sebelum nada terakhir rampung membuatnya tersenyum tipis. Tepuk tangan menggelora; beberapa orang berdiri tanpa sadar. Ezekiel mencondongkan tubuh ke mikrofon, menatap Thalia lama-lama, seperti menilai sesuatu yang baru ditemukannya.

"Kau membuat panggung ini terasa kecil," katanya akhirnya. "Karena kau menyanyi dari tempat yang jauh lebih besar."

Monica menarik napas, seolah baru saja menahan isak. "Kau tidak pernah meminta kita percaya. Kau hanya bernyanyi, dan itu cukup."

Sienna menatap layar vote yang bergetar di meja juri, lalu tersenyum. "Lihat reaksi mereka. Tak ada yang lebih jujur dari itu."

Di dunia maya, perang berubah haluan. Tagar

baru menyalip: #ThaliaLive dan

#Thalia Bikin Merinding.

Backstage berubah menjadi dermaga tempat kapal-kapal emosi bersandar. Zoey duduk meremas ujung gaunnya, Anna menatap lantai dengan mata basah. David menepuk bahu Zoey pelan; Ayana menghapus maskara yang mulai luntur dengan tisu; Tiffany menatap layar ponsel manajernya, memastikan jarum vote tetap memihaknya. Thalia duduk di kursi rias, meletakkan tangan di pangkuan, mengatur napas seperti atlet setelah garis finish.

"Bagaimana rasanya?" tanya Zea, tidak mampu menahan senyum.

"Seperti melepaskan beban yang lama," jawab Thalia.

Pengumuman dimulai saat lampu panggung meredup. Keenam peserta berdiri sejajar, tangan terjalin atau menggenggam ujung busana. Pembawa acara mengangkat amplop hitam-permainan sederhana yang selalu membuat jantung penonton terikat dalam benang tak terlihat.

"Ini hasil penggabungan vote online sebesar delapan puluh persen dan penilaian juri sebesar dua puluh persen," ucapnya. "Empat nama akan lolos, dua harus mengakhiri perjalanan malam ini."

Nama pertama disebut, dan tidak ada kejutan. "Tiffany Evelyn."

Sorak dan kembang kertas kecil ditembakkan dari sisi panggung. Tiffany menunduk, lalu mengangkat tangan, menyalami Zoey dan Anna satu per satu sebelum melangkah mundur selangkah, memberi ruang bagi nama berikutnya.

"David."

Pekikan lega terdengar. David mengusap wajahnya, tertawa kecil, lalu memeluk Ayana cepat dan canggung. Vote real-time di layar penonton rumah menampilkan lonjakannya dari menit-menit terakhir performa balada.

"Nama ketiga..." MC menahan jeda, dan kamera mencari Ayana. "Ayana."

Gadis itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Sienna berdiri ikut bertepuk tangan, Ezekiel mengangguk tipis. Ayana, dengan mata basah, membungkuk ke penonton lalu meraih tangan Thalia.

Tinggal satu kursi tersisa. Studio, untuk beberapa detik, terasa seperti gereja kecil tempat semua orang menahan doa.

"Dan peserta terakhir yang lolos ke minggu depan adalah..." jeda kembali melar, jantung yang sejak tadi memukul kini menahan napasnya sendiri, "Thalia Anderson."

Seseorang berteriak terlalu keras; penonton di belakang memukul-mukul lightstick ke udara.

Thalia terpaku sepersekian detik, lalu menekuk badan dalam salam panjang. Ketika ia berdiri, Zea melompat-lompat di belakang panggung.

Itu berarti, dua nama yang tidak disebut... harus mengakhiri perjalanan.

Zoey menelan ludah, menarik napas panjang, lalu tersenyum. "Terima kasih atas panggung ini," katanya ke mikrofon, suaranya bergetar. "Aku akan kembali, mungkin bukan di sini, tapi di tempat yang menemukan nyalaku."

Anna memeluk Zoey erat, air mata turun tanpa ia izinkan. "Aku juga berterima kasih," ucapnya lirih. "Jika musik klasik tidak menemukan tempatnya di sini, mungkin aku yang harus membawa panggungku sendiri."

Penonton berdiri memberi tepuk tangan-bukan sorakan kemenangan, melainkan penghormatan pada mereka yang kalah tanpa kehilangan martabat. Monica menyeka sudut mata, Professor Harold menunduk hormat ke arah Anna dari jauh.

Kamera bergerak mencari reaksi masing-masing finalis. Tiffany mengatur napasnya, menjaga senyum yang tetap cantik di foto manapun. David memeluk gitar seolah benda itu satu-satunya jangkar yang ia punya. Ayana menatap lampu-lampu panggung, lalu menatap ke kamera seolah berkata, "Aku belum selesai." Thalia menunduk sekali lagi, bibirnya mengucap terima kasih tanpa suara.

Di luar studio, malam menelan kerumunan yang masih berisik. Di ponsel, angka-angka trending menyesuaikan diri: #WTBSTop4, #Tiffany Vs Thalia, #AyanaComeback, #DavidBalada.

Ketika lampu panggung padam satu per satu, kru melepaskan napas panjang. Juri berdiri, menyalami satu sama lain sebelum meninggalkan meja. Di lorong belakang, manajer-manajer acara menghitung ulang angka, memastikan tidak ada kesalahan. Pada akhirnya, angka hanyalah angka, tetapi malam ini mereka tampak sesuai: empat orang maju, dua orang pamit.

Thalia berjalan perlahan menuju ruang ganti. Zea menahannya sepersekian detik.

"Minggu depan lebih berat," kata Zea. "Perang fans makin liar."

"Biarkan saja," jawab Thalia tenang. "Aku akan bernyanyi lagi."

Di ujung lorong, Tiffany berdiri menunggu seorang manajer mengambilkan minumnya. Mereka berpapasan. Sejenak, dunia sunyi.

"Kau bagus malam ini," kata Tiffany, suaranya netral.

"Kau juga," balas Thalia.

Tidak ada pelukan manis, tidak ada tatapan saling benci yang berlebihan. Yang ada hanya pengakuan samar bahwa di antara semua riuh perang daring, mereka berdua tahu: pada akhirnya, yang tersisa di panggung adalah suara.

Di kursi penonton yang mulai kosong, seseorang mengetik komentar terakhir malam itu:

"Pertarungan sebenarnya baru dimulai." Entah ia pendukung siapa, entah ia hanya penonton, tapi kalimat itu terasa benar. Pagi nanti, gosip akan kembali; sorenya, latihan; malamnya, strategi; dan minggu depan, panggung lagi. Orang-orang akan terus berbicara, menilai, memuja, membenci.

Di luar gedung, angin malam mengangkat sisa-sisa confetti, mengantar mereka melayang seperti bintang patah. Malam menutup Episode 2 dengan janji: besok, perang akan lebih keras. Dan seseorang akan tetap berdiri.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!