NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 arjuna sakit

Amira melangkah mendekat Arjuna. Tubuhnya terasa sakit semua, namun rasa itu tidak ada apa-apanya dibandingkan melihat kondisi anaknya. Dadanya sesak, napasnya terasa berat, tetapi langkahnya tidak berhenti.

Amira menggendong Arjuna. Tubuh anak usia tujuh tahun itu begitu ringan, terlalu ringan untuk ukuran anak seusianya. Jelas dia kurang makan. Tulang-tulang kecilnya terasa di pelukan, membuat hati Amira semakin teriris. Matanya sayu, hampir tak terbuka. “Tenang, sekarang mamah akan selalu menjaga kamu.”

Kemudian Amira menggendong Arjuna ke pundaknya, menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Sebenarnya masih terasa nyeri, namun mulai hari ini Amira berjanji akan menjaga anak-anaknya. Tidak akan pernah lagi diserahkan pada orang lain, apa pun alasannya.

Amira melangkah meninggalkan rumah yang telah melukai dirinya, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, tetapi justru menjadi sumber luka.

Delapan tahun berumah tangga berakhir dengan nestapa.

Suami berkhianat, menuduh dirinya selingkuh, dan mengabaikan anak kandungnya sendiri.

Semakin diingat, semakin membuat hati Amira dipenuhi amarah dan kekecewaan. Semua pengorbanannya terasa sia-sia.

Adzan magrib berkumandang, suaranya menggema di antara rumah-rumah. Orang-orang yang tadi berkumpul perlahan bubar, kembali ke kehidupan masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa.

Rudi, Arum, dan Ambar pun masuk ke rumah dengan wajah kesal. Citra diri sebagai keluarga terhormat kini hancur berantakan.

Amira terus melangkah menyusuri gang sempit, langkahnya cepat meski tubuhnya lelah. Hingga akhirnya dia sampai di jalan besar yang lebih terbuka, namun terasa begitu sepi.

“Juna… kamu lapar, Nak?” tanya Amira dengan suara pelan.

Tak ada jawaban.

“Juna… Juna…”

Kembali tidak ada jawaban.

Di depan jalan ada pos ronda. Amira mempercepat langkahnya sambil menggendong Arjuna dan menyeret koper. Napasnya terengah, tetapi dia tidak peduli. Setelah sampai di pos ronda, Amira duduk dan membaringkan Arjuna dengan hati-hati.

Muka Arjuna tampak pucat, bibirnya bergetar, tubuhnya lemah seperti tak bertenaga.

Amira menyentuh dahi Arjuna.

“Astaga, kenapa panas sekali?”

Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik. Udara semakin dingin, membuat keadaan semakin sulit. Amira panik sekaligus bingung.

Baru saja pulang dari luar negeri, diceraikan oleh suami, dan dianiaya tanpa belas kasihan, sekarang anaknya sakit parah. Seolah penderitaan datang bertubi-tubi tanpa memberi jeda.

“Juna… Juna… Juna…” bibir Amira bergetar, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Dingin, Mamah… Mamah dingin…”

“Juna… Juna… bertahan, Nak.” Air mata Amira jatuh membasahi pipinya.

“Ya Tuhan, tolong aku.”

Amira benar-benar putus asa. Badannya juga terasa sakit semua, seolah tidak ada satu bagian pun yang baik-baik saja.

Jalan besar tampak sunyi. Memang jika malam tiba, jarang ada yang lewat di sana. Hanya suara hujan dan angin yang menemani.

Amira benar-benar frustrasi.

“Amira, kenapa dengan Juna?”

Amira menoleh ke arah sumber suara. Yuni mendekati Amira setelah memarkirkan motor matiknya dengan tergesa-gesa.

“Maaf aku tadi ngambil motor dulu dari rumah, eh kamu malah tidak ada”

Amira tiak menanggapi permintaan maaf yuni dengan wajah panik berseru

“Yun… Juna… Yun…”

Yuni melihat Amira sekilas, lalu segera berlutut di samping Arjuna.

“Astaga, Amira, ayo bawa ke klinik, Mir.”

“Ayo, Yun…”

Tanpa banyak bicara, Yuni membawa koper Amira dan menaruhnya di bagian depan motor. Amira menggendong Arjuna dengan hati-hati.

“Mamah dingin, Mah…” bibir Arjuna terus gemetar.

Yuni menyalakan motor dan melaju dengan cepat. Hujan rintik-rintik terus turun, angin dingin menerpa wajah mereka.

Hati Amira gundah gulana, penuh kecemasan yang tak tertahankan.

“Bertahan, Nak… bertahan,” gumam Amira sambil memeluk Arjuna dengan erat, seolah pelukannya bisa menghangatkan tubuh anaknya.

Perjalanan kurang lebih lima belas menit, namun bagi Amira terasa seperti lima belas jam. Setiap detik begitu berharga, setiap detik terasa menegangkan.

Jalanan yang dilalui tidak mulus, banyak lubang dan kendaraan besar seperti truk pembawa batu yang melintas. Yuni tidak bisa memacu motor terlalu kencang, meski situasi mendesak.

Akhirnya mereka sampai di sebuah klinik.

Amira bisa bernapas lega, meski kecemasan masih membayangi.

Dia berlari menggendong Arjuna menuju IGD.

“Tolong… tolong… tolong anak saya!” Amira gugup, air matanya terus mengalir.

“Letakkan anaknya di kasur, Bu,” ujar perawat sambil menunjuk sebuah brankar.

Amira membaringkan Arjuna. Beberapa perawat segera mendorong brankar ke ruang perawatan dengan sigap.

Tak lama kemudian, seorang wanita muda berkacamata dengan jas putih datang membawa stetoskop.

Dengan teliti, dia memeriksa Arjuna, memeriksa tekanan darah, serta menyoroti matanya.

“Beri cairan infus,” ucap dokter tegas.

Perawat bergerak cepat memasang infus.

“Ambil sampel darah.”

Amira hanya bisa melihat dengan hati perih. Selama tiga tahun menjadi TKI, dia meninggalkan anaknya demi melunasi utang keluarga suami. Namun setelah itu, anaknya justru tidak terurus dan kini jatuh sakit.

Setelah diberi cairan infus dan obat-obatan, wajah Arjuna yang pucat perlahan mulai tampak lebih segar, meski masih lemah.

Dokter kemudian mendekati Amira.

“Ibu, kenapa anak Ibu dibiarkan kurang gizi? Sepertinya dia sudah tidak makan berhari-hari. Kalau belum siap jadi ibu, jangan berani melahirkan anak, Bu. Untung saja datang tepat waktu, kalau tidak…”

Hati Amira semakin tersayat. Dia tidak mampu menjawab.

Kemarahan terhadap Rudi dan keluarganya semakin membesar. Mereka benar-benar tidak berperikemanusiaan, membiarkan Arjuna kelaparan.

“Maaf, Bu, teman saya baru pulang dari luar negeri. Selama ini bapaknya yang merawat anak ini,” Yuni menjelaskan karena Amira hanya terdiam.

“Oh, begitu. Makanya, Bu, kalau bekerja ke luar negeri harus dipertimbangkan matang. Lebih baik penghasilan sedikit daripada anak tidak terurus,” ucap dokter sambil menghela napas.

“Anak Ibu kekurangan asupan makanan. Lambungnya sudah luka. Sekarang dia tifus dan harus dirawat di sini.”

“Apakah anak saya bisa selamat, Bu?” tanya Amira dengan suara gemetar.

“Tentu saja bisa, asal Ibu merawatnya dengan baik.”

Amira merasa sedikit lega. “Terima kasih, Dok.”

Dia kemudian teringat ucapan Rudi tentang TBC.

“Bu, apakah anak saya kena TBC?”

“Sepertinya tidak. Anak Ibu kurus karena kurang makan, bukan karena TBC. Tapi untuk memastikan, nanti bisa diperiksa lebih lanjut.”

Amira merasa lega sekaligus marah. Ternyata selama ini dia dibohongi.

“Terima kasih banyak, Dok.”

Dokter tersenyum. “Banyak-banyak berdoa, Bu. Sekarang ke administrasi dulu.”

Amira menoleh ke Yuni.

“Pergilah, biar Juna aku jaga.”

Amira menggenggam tangan Yuni dengan haru. Kebaikan seperti ini tidak akan pernah dia lupakan.

Amira kemudian berjalan menuju ruang administrasi. Air matanya kembali jatuh.

Di luar, di tempat yang sepi, dia akhirnya menangis sejadi-jadinya.

Arjuna sakit karena kelaparan. Dewi entah bagaimana nasibnya.

Penyesalan memenuhi hati Amira.

Seandainya dia tidak pergi, mungkin semua tidak akan terjadi.

Setelah puas menangis, Amira mengusap air matanya dan kembali ke dalam klinik, menuju ruang administrasi dengan langkah yang lebih berat, tetapi penuh tekad.

Sampai di ruang administrasi, Amira duduk dengan gugup. Tangannya saling menggenggam, jantungnya berdebar tidak menentu.

“Bu, mana kartu BPJS-nya?” tanya perawat.

Amira terdiam.

“Mana, Bu?” tanya petugas. “Banyak yang mau daftar, Bu.”

“Enggak bawa, Bu?”

“KTP Ibu mana?”

Amira mengeluarkan KTP-nya dan menyerahkannya pada petugas.

Dengan cekatan, jari petugas mengetik di komputer.

“Ibu tidak terdaftar di BPJS, kenapa?”

“Saya baru pulang jadi TKI, Bu.”

“Ibu bawa kartu keluarga?”

Amira mengerutkan dahinya, kemudian menggelengkan kepala.

“Fotonya ada?”

Amira mengeluarkan ponselnya. Tiga tahun lalu dia menyimpan kartu keluarga sebagai persyaratan menjadi TKI.

Amira membuka galeri ponselnya, mencari foto kartu keluarga itu dengan cepat. Setelah ketemu, lalu diberikan ke petugas.

Dengan cekatan, petugas itu mengecek data tersebut.

“Yang terdaftar hanya Rudi dan Ambar, sedangkan anak Ibu, Arjuna, tidak ada.”

“Kenapa tidak ada?” tanya Amira.

“Ya, tanya saja sama suami Ibu. Mungkin Ibu dan anak Ibu tidak didaftarkan.”

Hati Amira semakin sakit. Bahkan untuk hal sepele saja Rudi tidak mengurus.

Benar-benar tidak ada kepedulian terhadap anaknya sendiri.

“Karena tidak terdaftar di BPJS, berarti Ibu harus bayar. Biayanya kurang lebih lima juta, Bu, perawatan selama tiga sampai empat hari.”

Amira tertegun. Tiga tahun menjadi TKI, gajinya masuk ke rekening Rudi, dan sekarang Amira hanya mempunyai beberapa lembar uang dolar, tak sampai empat puluh dolar.

“Bagaimana, Bu?” tanya petugas.

1
sunaryati jarum
Anjani kalau tidak dipanggil Dewi tidak datang, jadi tidak ada yang tahu keberadaannya
Anonim
Gemes ih sama dewi pengen nyuel 🤣
nunik rahyuni
waduuuh dewi kamu bikin masalah untuk anjani...bisa bisa di tangkap sama damkar di tuduh meresahkan warga.kya aq jg klo ketemu ular bisa parno berminggu minggu..jangan di ulangi suruh anjani sembunyi lg. keluar di saat tertentu saja
sunaryati jarum
Hewan ditolong akhirnya balas budi
Test Baru
kak autothor udah 2 hari kok belum up lagi sih 🙏🙏🙏
falea sezi
ular gaib kah
falea sezi
amira ini tolol liat anak mu menderita buat TKW semua gaji Jagan di kasih suami🤣 iya klo suamimu setia
nunik rahyuni
hah untung cs sama anjani....klo g mana mau anjani membantu🤣🤣🤣dan kenapa dewi jd penakut biasanya suka kelahi
sunaryati jarum
Ular Dewi yang beraksi
nunik rahyuni
thor deei manggilnya kok ganti2..dlu mamah td kok jd bunda mana yg betul
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
nunik rahyuni
mereka yg celaka ato mereka yg di celakai .
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔
nunik rahyuni: iya..klo tidurnya terganggu kan langsung jd sumala🤣🤣🤣
total 2 replies
nunik rahyuni
waduh...mau ngapain mereka....anjani muncul lah
mama
syg up ny cm sekali sehari😄
sunaryati jarum
Malik kamu salah, kau sekarang tidak bisa menyentuh Niko.Jika kau menargetkan Amira kau salah cari lawan.Dino sudah jadi pantauan dan pengawasan Niko.
sunaryati jarum
Wah mungkin Mery suka sama Udin
sunaryati jarum
Lanjut , semoga penghasilan kamu makin banyak Udin
nunik rahyuni
thor dewi mana...kangen nyaaaa q sm bocah ni..
nunik rahyuni
dilanjuut....bnyak lho kisah udin ini di dunia nyata...anak dr pejuang yg di lupakan..mudah2 an mereka mendapat nasib yg beruntung jd g mengharspkan negara
Anonim
Lanjut lagi up nya thor seru
sukensri hardiati
ruko ukuran 2x3 m ...?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!