NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: CAHAYA YANG MEMELUK KEGELAPAN

Angin kosmik menderu kencang, menusuk hingga ke tulang sumsum, namun Myrrha tidak peduli. Ia terus terbang, membelah udara yang semakin tipis dan dingin, menuju pusat dari segala malapetaka. Di bawah sana, di kejauhan, ia bisa melihat sosok-sosok saudaranya yang berdiri mematung di balkon istana, menatapnya dengan air mata dan keputusasaan. Namun ia tidak menoleh ke belakang. Melihat wajah mereka hanya akan melemahkan tekadnya, dan ia tidak punya waktu untuk keraguan.

Di hadapannya, Nihilum menjulang tinggi seperti tembok dunia yang gelap. Massa hitam pekat itu tampak hidup, bergerak-gerak tidak beraturan, mengeluarkan aura penghapus yang begitu kuat sehingga ruang di sekitarnya terdistorsi dan berputar kencang.

Myrrha bisa merasakannya. Jarak beberapa meter saja sudah cukup membuat sayapnya terasa berat, membuat cahayanya meredup perlahan. Makhluk itu tidak hanya ingin menghancurkan tubuhnya, tapi ingin menghapus fakta bahwa ia pernah ada di dunia ini.

“Mendekatlah…” bisik sebuah suara di dalam kepalanya, suara yang datar dan mengerikan. “Kau hanyalah seberkas cahaya kecil yang akan padam.”

Myrrha memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia ingat kata-katanya sendiri di hadapan para Seraph. Kasih sayang bukan hanya tentang menyelamatkan, kadang ia tentang melepaskan.

Dan kini, waktunya telah tiba untuk melepaskan segalanya.

Ia membuka matanya kembali. Tidak ada rasa takut di sana. Yang ada hanyalah ketenangan yang luar biasa, sebuah penerimaan yang mutlak.

Nihilum merespons kehadirannya. Bagian depan tubuhnya membuka, membentuk sebuah mulut raksasa atau lorong tanpa dasar yang hitam legam. Dari sana, sebuah tarikan kuat muncul, seperti pusaran air raksasa yang mencoba menyeret Myrrha masuk, mencoba menelannya hidup-hidup sebelum ia sempat melakukan apa pun.

“LENYAPLAH!” raung suara itu di pikirannya.

Namun Myrrha tidak lari. Ia justru mempercepat terbangnya. Ia tidak mengangkat pedang, tidak melemparkan mantra serangan.

Ia hanya… membuka kedua tangannya lebar-lebar.

Seolah-olah ia bukan sedang menghadapi iblis penelan dunia, melainkan sedang menyambut seorang sahabat lama yang tersesat.

“Jika kau adalah ketiadaan…” bisik Myrrha, suaranya bergema dengan kekuatan cahaya murni, menembus deru angin dan gemuruh kegelapan. “Maka biarkan aku menjadi makna.”

Seketika itu juga, cahaya mulai memancar dari tubuhnya.

Awalnya hanya samar, seperti lampu yang baru dinyalakan. Namun dalam hitungan detik, intensitasnya meningkat berkali-kali lipat, melampaui bintang mana pun, melampaui matahari mana pun yang pernah ada di alam semesta ini. Tubuh Myrrha bersinar terang benderang, memancarkan warna emas yang begitu murni, begitu hangat, dan begitu… hidup.

Cahaya itu bukan cahaya yang membakar atau menyilaukan. Itu adalah cahaya kehidupan, cahaya kasih sayang, cahaya penerima yang tanpa syarat.

Dan cahaya itu menyebar dengan kecepatan yang menakjubkan, menyelimuti tubuh raksasa Nihilum.

Untuk pertama kalinya sejak makhluk itu turun, sesuatu yang berbeda terjadi.

Nihilum berhenti bergerak.

Massa hitam pekat itu seketika membeku di udara, seolah tersentak oleh apa yang sedang menimpanya. Aura penghapusnya tiba-tiba terhenti. Tarikan kuatnya lenyap digantikan oleh sebuah keseimbangan yang aneh.

Cahaya dan Kegelapan bertemu.

Bukan sebagai musuh yang saling memusnahkan. Bukan sebagai api dan air yang saling mematikan.

Melainkan sebagai dua sisi dari satu koin yang sama. Sebagai pasangan yang saling melengkapi.

Myrrha tidak menyerang Nihilum. Ia memeluknya. Ia membiarkan cahayanya meresap ke dalam setiap pori-pori kegelapan itu, mengisi kekosongan yang ada di sana dengan keberadaan dirinya sendiri. Ia memberikan makna pada sesuatu yang tidak memiliki bentuk. Ia memberikan tujuan pada sesuatu yang hanya ingin menghancurkan.

“Apa… ini?” suara Nihilum terdengar bingung, kehilangan keangkuhannya. Untuk pertama kalinya, makhluk purba itu merasakan sesuatu yang asing: sentuhan.

“Kau tidak perlu menelan segalanya untuk menjadi utuh,” bisik Myrrha lembut, meski tubuhnya kini mulai transparan, mulai melebur menjadi energi murni. “Karena kau sudah utuh… sama seperti kami.”

Ledakan besar terjadi.

Namun tidak ada suara ledakan yang memekakkan telinga. Tidak ada pecahan kaca atau reruntuhan bangunan. Ledakan itu hening total, namun getarannya terasa hingga ke kedalaman terdalam dari setiap jiwa yang ada di Elarion.

Sebuah gelombang cahaya emas meledak keluar dari titik pertemuan itu, menyapu langit, menyapu istana, menyapu dunia di bawah sana. Di mana pun cahaya itu menyentuh, warna ungu dan biru langit kembali muncul. Awan-awan yang hilang perlahan terbentuk kembali. Retakan di langit mulai menyatu, ditarik oleh kekuatan ikat yang luar biasa kuat.

Nihilum meraung, namun kali ini bukan raungan marah. Itu adalah raungan kebingungan, raungan perubahan. Tubuh hitamnya mulai menyusut, mulai terikat, mulai ditarik kembali ke dalam celah yang kini semakin kecil.

Myrrha melihat itu semua dengan senyum di wajahnya. Tubuhnya kini hampir sepenuhnya lenyap, berubah menjadi miliaran partikel cahaya yang menyusun kembali puzzle realitas yang hancur.

Ia melihat ke arah Istana Celestia, di mana ia tahu saudaranya-saudaranya sedang menangis.

“Jangan bersedih…” pikirnya, mengirimkan pesan itu lewat hati, bukan lewat suara. “Aku tidak pergi. Aku hanya… berubah bentuk.”

Partikel terakhir dari tubuh fisiknya menghilang, menyatu sepenuhnya dengan ledakan cahaya itu.

Celah di langit akhirnya tertutup rapat. Sempurna. Seolah-olah tidak pernah ada retakan sama sekali.

Kegelapan raksasa itu lenyap, tersegel kembali ke dalam dimensi asalnya oleh kekuatan cinta yang tak terhingga.

Langit Elarion kembali tenang. Kembali indah. Kembali utuh.

Namun di angkasa yang luas itu, kini hanya menyisakan kebisuan. Dan sebuah perasaan hampa yang besar, karena satu cahaya yang paling hangat telah padam untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!