NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08

Suasana ruang rapat itu dipenuhi ketegangan yang nyaris tak terlihat, tetapi terasa jelas bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Suara presentasi bergema pelan, diselingi dengan penjelasan angka-angka dan strategi bisnis yang disusun dengan presisi.

Di ujung meja panjang, Cameron duduk dengan punggung tegak, wajahnya tenang tanpa menunjukkan emosi berlebih. Tatapannya fokus pada layar di depan, sesekali memberikan komentar singkat yang langsung mengarah pada inti masalah. Kehadirannya cukup untuk membuat seluruh ruangan menjaga ritme dan kehati-hatian.

Rapat itu berjalan lebih lama dari yang dijadwalkan. Hingga akhirnya, pintu diketuk pelan dari luar. Asistennya masuk dengan langkah hati-hati, membawa tablet di tangannya. Ia sedikit menunduk sebelum berbicara. “Maaf mengganggu, Sir. Ada tamu yang ingin bertemu Anda.”

Kening Cameron mengernyit tipis. Ia tidak suka gangguan saat bekerja, apalagi saat rapat penting seperti ini. “Siapa?” tanyanya singkat.

Abraham terlihat ragu sejenak. “Beliau tidak menyebutkan nama, tetapi mengatakan bahwa Anda pasti ingin menemuinya.”

Jawaban itu membuat Cameron terdiam sesaat, mempertimbangkan. Namun ia tidak menunjukkan ketertarikan berlebih.

“Minta dia menunggu di ruanganku,” katanya akhirnya. “Aku akan pergi menemuinya setelah ini selesai.”

“Baik Sir.”

Abraham segera keluar, dan rapat pun kembali berlanjut seolah tidak pernah terputus.

Beberapa saat kemudian, rapat akhirnya berakhir. Para peserta mulai berdiri dan meninggalkan ruangan satu per satu, meninggalkan Cameron yang masih duduk sejenak, merapikan pikirannya sebelum beranjak.

Ia berdiri, meraih jasnya, lalu berjalan keluar menuju ruang kerjanya. Namun begitu pintu terbuka, langkahnya mendadak terhenti.

Seorang wanita berdiri di sana. Cantik, dengan penampilan yang begitu terawat dan modis. Gaunnya elegan, rambutnya tertata sempurna, dan senyum di wajahnya langsung melebar begitu melihat Cameron.

“Cameo!”

Suara itu terdengar ringan, penuh kehangatan yang berbeda dari dunia yang biasa ia jalani.

Sebelum Cameron sempat bereaksi, wanita itu sudah melangkah cepat dan memeluknya erat.

“Aku merindukanmu,” bisiknya manja, menyandarkan wajahnya di dada Cameron.

Untuk beberapa detik, Cameron terdiam. Namun kemudian, ekspresinya melunak. “Regina,” ucapnya pelan.

Senyum tipis muncul di wajahnya, sesuatu yang jarang terlihat oleh orang lain. Cameron membalas pelukan itu dengan ringan sebelum perlahan melepaskannya.

“Kapan kau kembali?” tanyanya.

“Baru pagi tadi,” jawab Regina sambil tersenyum. “Dan aku langsung ke sini. Aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk bertemu denganmu.”

Cameron menggeleng kecil, seolah tidak sepenuhnya setuju dengan spontanitas itu, tetapi tidak benar-benar menolaknya.

“Kau seharusnya memberi tahu dulu.”

“Jika begitu, maka kunjunganku ini tidak akan terasa spesial,” balas Regina dengan nada ringan.

Cameron tidak menjawab, hanya menghela napas pelan sebelum akhirnya memberi isyarat ke arah sofa.

“Duduklah.”

Regina menurut dengan anggun, sementara Cameron memanggil asistennya melalui interkom.

“Siapkan minuman favorit Regina.”

“Baik, Sir.”

Beberapa saat kemudian, minuman itu datang, dan suasana di ruangan itu berubah menjadi lebih santai. Mereka berbincang, saling bertukar cerita singkat, meski sebagian besar lebih banyak diisi oleh Regina yang berbicara dengan antusias.

Cameron mendengarkan, sesekali menanggapi. Namun tetap dengan cara khasnya yang tenang, terukur, dan tidak berlebihan.

Waktu berlalu cukup cepat. Hingga akhirnya, Cameron melirik jam di pergelangan tangannya.

“Aku harus menghadiri pertemuan lain,” katanya.

Senyum Regina langsung memudar, digantikan ekspresi cemberut yang jelas terlihat. “Tapi kau baru saja bertemu denganku,” protesnya pelan.

Cameron menatapnya tanpa perubahan ekspresi. “Kau tahu bagaimana pekerjaanku.”

Regina mengembuskan napas pelan, lalu bersandar di sofa dengan sedikit kesal. Namun ia tidak benar-benar marah.

Ia sudah terbiasa.

Pria di hadapannya bukanlah pria biasa. Cameron Rutherford adalah ahli waris keluarga besar dengan tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan. Dan jika ia ingin tetap berada di sisi pria itu, ia harus menerima semua bagian pekerjaan dan tanggung jawab pria itu.

“Baiklah,” katanya akhirnya, mencoba tersenyum lagi. “Aku tidak akan mengganggumu.”

Cameron mengangguk singkat. “Aku akan menemuimu lagi nanti,” tambahnya.

Regina berdiri, merapikan pakaiannya. “Tidak usah. Aku akan pergi berbelanja saja. Sudah lama aku tidak memanjakan diri.”

Cameron tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya mengangguk, lalu kembali mengambil berkasnya.

Sementara itu, Regina berjalan keluar dari ruangan dengan langkah anggun, pikirannya sudah dipenuhi dengan rencana untuk menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.

***

Sementara itu, di rumah, suasana yang sangat berbeda terasa di rumah besar milik Cameron. Tidak ada suara rapat ataupun tekanan.

Yang ada hanyalah keheningan hangat yang perlahan mulai terasa hidup. Di dalam kamar, Giana duduk di tepi tempat tidur dengan Cayden dalam pelukannya. Bayi kecil itu baru saja selesai menyusu, wajahnya tampak puas dan tenang.

Giana tersenyum. Ia menggendong Cayden dengan lebih dekat, mengayun pelan, seolah menikmati setiap detik yang ia miliki.

“Cayden sudah kenyang, ya?” bisiknya lembut.

Cayden menggeliat kecil, seolah merespons. Hal itu membuat Giana tertawa pelan.

Tanpa sadar, ia mencium pipi kecil itu, lalu memeluknya dengan penuh kasih. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Seolah bayi itu benar-benar miliknya.

“Kau sudah seperti keajaiban yang datang ke dalam hidupku, Sayang.” Ia berkata dengan gemas sambil mencium pipi Cayden lagi.

Giana tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu tumbuh. Namun setiap kali ia bersama Cayden, rasa sakit di dalam dirinya perlahan mereda. Rasa sakit kehilangan itu tidak hilang sepenuhnya. Tetapi cukup untuk membuatnya bisa bernapas lebih lega.

“Waktunya makan siang.”

Giana menoleh saat mendengar suara Bibi Sarah yang memasuki kamar sambil membawa troli berisi makan siang untuk Giana.

“Tidak perlu repot seperti ini, Bibi. Aku akan turun untuk makan saat Cayden tidur siang,” katanya tak enak hati. Padahal posisinya sama dengan para pelayan di rumah ini, tetapi ia benar-benar diistimewakan sekali.

Salah seorang pelayan yang ikut bersama dengan Sarah untuk membersihkan kamar menatap Giana dengak sinis. Semenjak kedatangannya, pelayan itu sama sekali tidak menyukainya.

“Entah apa istimewanya dia, padahal peran kita sama, tapi perlakuan terhadapnya begitu istimewa,” katanya menggumam seraya membawa vacum cleaner ke dalam kamar Giana.

Sarah yang mendengar hal itu pun menegurnya. “Sofia! Jaga bicaramu. Ada apa denganmu ini? Ingat tugasmu dengan baik dan lakukan dengan benar jika tidak ingin dimarahi Tuan lagi.”

Giana mengelus pelan tangan Sarah. “Bibi, sudah, lupakan saja. Lihatlah, Cayden jadi ketakutan,” katanya seraya memeluk Cayden yang terkejut.

Sarah pun langsung menyadari bahwa ia sudah sedikit membentak tadi. “Astaga, Bibi lupa kalau bayi tidak boleh mendengar teriakan. Maafkan Bibi Sarah, Cayden,” katanya pelan merasa bersalah lalu mengusap kepala Cayden pelan.

“Tidak apa-apa, Bibi. Cayden baik-baik saja,” balas Giana dengan suara yang dibuat-buat seolah-olah Cayden yang menjawabnya.

Keduanya lalu tersenyum tipis sementara Sofia tampak sinis melihatnya. Rasa tidak sukanya kepada Giana membuatnya tak suka juga dengan kehadiran Cayden

1
awesome moment
thx, kak. sdh mengembalikan giana dan cay ke panti. buat agak lamaan di panti jg g p2. biar regina dan bianca tau smuanya dlu. biar cameron terbuka dlu. biar bianca nyesel dlu..biar...cay gemoy dlu😄😄😄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!