NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meja Makan

Setelah drama lempar keripik dan perdebatan "Pelit vs Hemat" berakhir, suasana di unit apartemen itu perlahan kembali tenang. Langga melangkah menuju sofa ruang tamu yang luas, mendudukkan tubuhnya dengan helaan napas panjang. Ia membuka laptop, menaruhnya di pangkuan, dan dalam sekejap, jemarinya sudah menari lincah di atas keyboard.

Wajahnya berubah total. Aura santai saat di supermarket tadi menguap, digantikan oleh tatapan fokus yang tajam dan rahang yang mengeras. Aura CEO dingin yang ditakuti ribuan karyawan kembali muncul, menyelimuti dirinya seolah-olah ia sedang berada di ruang rapat dewan direksi, bukan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, di dapur yang hanya berjarak beberapa meter, Zea sibuk dengan dunianya sendiri. Suara minyak yang mendesis saat mendoan dimasukkan ke wajan terdengar beradu dengan denting spatula. Aroma rempah tongseng yang gurih dan wangi bawang goreng mulai memenuhi setiap sudut ruangan, mengusir bau dingin dari perabotan mewah yang jarang disentuh itu.

Empat puluh menit berlalu. Zea keluar dari area dapur sambil mengelap tangannya pada celemek yang masih terikat di pinggang. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan ada butiran keringat kecil di pelipisnya karena hawa panas kompor.

“Pak Langga,” panggil Zea pelan.

Langga tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada grafik penjualan di layar laptop. “Hm?”

“Makanannya sudah jadi. Silakan ke meja makan selagi masih hangat,” ujar Zea.

Langga berhenti mengetik. Ia menyimpan file pekerjaannya, menutup laptop dengan gerakan elegan, lalu bangkit berdiri. Ia berjalan menuju meja makan marmer hitam di sudut ruangan. Langkahnya sempat terhenti sesaat saat matanya menangkap pemandangan di atas meja.

Biasanya, meja itu hanya berisi laptop, tumpukan berkas, atau paling mentok adalah kotak makanan dari restoran berbintang yang dipesan Rian. Namun malam ini, meja itu tampak sangat berbeda. Sudah tersaji beberapa hidangan sederhana namun terlihat sangat menggugah selera. Uap tipis masih mengepul dari mangkuk besar di tengah meja.

Ada Tongseng Ayam dengan kuah kental kekuningan, sepiring Mendoan hangat yang lebar dan penuh daun bawang, sambal terasi segar, dan satu teko besar jus jeruk dingin dengan bulir-bulir es yang mencair di pinggirannya.

Zea berdiri canggung di samping meja, memilin ujung celemeknya. “Maaf ya, Pak… saya cuma bisa masak makanan sederhana begini. Saya takut tidak sesuai dengan lidah Bapak yang terbiasa makan di restoran mewah.”

Langga tidak menjawab. Ia menarik kursi kayu jati itu, lalu duduk. Matanya menatap lekat ke arah tongseng di depannya. Ia diam cukup lama, membuat suasana mendadak terasa mencekam bagi Zea.

“Maaf juga kalau waktunya agak lama,” lanjut Zea mulai panik karena keheningan Langga. “Tapi saya sudah secepat mungkin kok, takut Bapak keburu lapar, jadi saya masaknya agak buru-buru. Bapak tidak suka, ya? Atau aromanya terlalu tajam?”

Langga masih bergeming. Keheningan itu berlangsung hampir satu menit sampai Zea nyaris menyerah dan hendak membereskan makanan itu.

"Pak Langga? Anda baik-baik saja?”

Pria itu akhirnya membuka mulut. Wajahnya tetap datar, namun matanya menatap piring kosong di hadapannya. “Nasi.”

Zea berkedip bingung. “Nasi?”

Langga mendongak, menatap Zea dengan tatapan menuntut yang biasa. “Ambilkan saya nasi. Bagaimana saya mau makan semua lauk ini kalau tidak ada nasi di piring saya?”

Zea mendadak kaku, lalu menepuk jidatnya sendiri. “O-Oh iya! Maaf! Saya lupa saking groginya!”

Ia buru-buru mengambilkan nasi hangat dari rice cooker, menaruhnya ke piring Langga dengan porsi yang pas. Setelah itu, ia menuangkan jus jeruk ke gelas Langga. Sambil melakukan itu, Zea menggerutu pelan dengan volume suara yang sangat rendah.

“Dasar manja… ambil nasi saja harus di ambilin…”

Namun, pendengaran Langga ternyata jauh lebih tajam dari yang Zea duga. “Apa tadi kamu bilang?”

Zea langsung membeku, tangannya yang memegang teko jus berhenti di udara. “Hah? Bilang apa?”

“Kamu bilang saya manja?” tanya Langga, menyipitkan mata.

“Tidak ada kok! Saya cuma bilang… nasinya… nasinya manja! Eh, maksudnya pulen!” kilah Zea dengan wajah kaku.

“Yakin?”

“Sangat yakin, Pak CEO!”

Langga menatap Zea beberapa detik seolah ingin menguliti kebohongannya, tapi ia memutuskan untuk tidak memperpanjang. Ia mulai mengambil sendok, menyendok sedikit kuah tongseng, lalu memasukkannya ke mulut bersama nasi.

Gerakan Langga berhenti seketika. Ia mengunyah dengan sangat lambat. Zea menahan napas, tangannya saling meremas di balik punggung. Gimana? Kurang garam? Terlalu pedas? batinnya cemas.

Langga tidak berkomentar. Ia justru mengambil suapan kedua. Lalu ketiga. Lalu keempat. Ia bahkan mengambil sepotong mendoan besar dan mencocolnya ke sambal dengan lahap. Zea semakin bingung. Pria ini makan seperti orang yang tidak makan selama tiga hari, tapi tidak mengeluarkan suara pujian sedikit pun.

“Pak? Rasanya gimana? Bisa dimakan tidak?” tanya Zea akhirnya tak tahan.

Langga menelan suapannya, lalu menatap Zea. “Duduk.”

Zea berkedip. “Hah? Kenapa? Saya salah apa lagi?”

“Duduk,” ulang Langga, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Kamu tidak makan? Ini sudah hampir tengah malam.”

“Saya tidak usah, Pak. Saya masih kenyang. Nanti saya makan di rumah saja,” tolak Zea halus.

Langga meletakkan sendoknya, menatap Zea dengan pandangan mengintimidasi. “Jangan bohong. Saya tahu kamu belum makan sejak sore. Perutmu bahkan tadi sempat bunyi saat kita di supermarket.”

Wajah Zea memerah karena malu. “Itu… itu suara troli, Pak!”

“Duduk dan makan bersama saya. Kalau cuma berdua begini, tidak usah terlalu formal pakai acara berdiri di samping meja seperti pelayan kerajaan. Saya risih,” ujar Langga datar.

Akhirnya, Zea duduk perlahan di kursi seberang Langga. Ia mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri dengan porsi kecil. Suasana makan itu terasa sangat canggung bagi Zea. Ia terbiasa makan di dapur atau di lantai, bukan di meja marmer mewah dengan pria yang biasanya membentaknya di kantor.

Mereka makan dalam diam selama beberapa menit. Namun, anehnya, diam yang kali ini tidak terasa dingin atau mencekam. Ada rasa hangat yang menjalar dari makanan itu ke seluruh ruangan.

Zea memberanikan diri bertanya lagi, rasa penasarannya menang. “Jadi… rasanya gimana? Bapak belum jawab.”

Langga tetap fokus pada piringnya. Setelah suapan terakhir, ia mengelap mulutnya dengan tisu. “...Enak.”

Zea membeku. Matanya mengerjap. “Hah? Barusan Bapak bilang apa?”

Langga menatap Zea, sedikit jengkel karena harus mengulang kalimat yang menurutnya memalukan. “Saya bilang enak. Perlu saya pakai pengeras suara supaya kamu dengar?”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Zea perlahan "berbunga". Senyum lebarnya tidak bisa ditahan. “Serius? Benaran enak?”

“Saya tidak suka berbohong soal makanan. Kalau tidak enak, sudah saya buang ke tempat sampah sejak suapan pertama,” jawab Langga dingin, meski sebenarnya ia ingin menambah porsi lagi.

Senyum Zea semakin lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Wah, berarti saya jago dong? Ternyata lidah Bapak cocok juga sama masakan kampung.”

“Lumayanlah,” sahut Langga gengsi.

“LUMAYAN?! Tadi bilangnya enak!” protes Zea.

“Kalau tidak mau dipuji ya sudah. Saya tarik lagi kata 'enak' tadi,” ancam Langga.

“Eh eh eh, jangan! Mau! Lanjut puji saya! Bilang kalau saya calon koki masa depan!” seru Zea riang.

Langga menatapnya datar. “Kamu cerewet sekali.”

“Itu bukan pujian, Pak!”

“Tapi masakmu memang enak,” tambah Langga pelan, hampir seperti bisikan.

Zea tersenyum puas, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan perasaan lega. “Memang. Saya dari kecil diajarin Ayah masak. Beliau itu koki paling hebat di mata saya.”

Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Zea rencanakan. Dan seketika, raut wajah cerianya berubah menjadi sedikit sendu. Matanya menatap kosong ke arah piring. Langga menyadari perubahan atmosfer itu. Ia meletakkan gelas jus jeruknya.

“Ayahmu?” tanya Langga singkat.

Zea mengangguk pelan, jemarinya memainkan pinggiran piring. “Dulu… kalau Ibu sedang sibuk kerja atau sakit, Ayah yang masak buat kami. Beliau bilang, kalau seseorang bisa memasak untuk orang yang dia sayang, berarti dia punya hati yang hangat.”

Zea tersenyum kecil, namun matanya tampak berkaca-kaca. “Beliau bilang rasa masakan itu adalah cara paling jujur untuk menunjukkan kasih sayang.”

Langga terdiam. Ia menatap gadis di depannya yang tampak begitu rapuh namun kuat di saat yang sama. Untuk sesaat, dadanya terasa aneh sesak namun hangat. Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya: Seseorang memasak untuk orang yang dia sayang.

Dan malam ini, Zea sedang memasak untuknya di apartemen yang biasanya sedingin es ini.

Langga segera berdehem keras, berusaha membuang pikiran melantur itu dari kepalanya. Ia kembali memasang wajah dinginnya. “Jangan salah paham,” katanya ketus. “Kamu masak di sini karena kontrak kerja. Bukan karena kasih sayang atau hal-hal melankolis lainnya. Jangan bawa-bawa teori ayahmu ke sini.”

Wajah Zea langsung berubah 180 derajat. Rasa sendunya hilang, digantikan oleh kekesalan. “Pede banget sih jadi orang! Siapa juga yang sayang sama Bapak! Saya masak hanya untuk memenuhi isi kontrak dan sehabis itu saya tidak perlu lihat muka Bapak lagi!”

“Banyak orang yang ingin saya sayangi, Zea. Kamu harus antre kalau mau,” jawab Langga tenang dengan narsisme tingkat tinggi.

“...”

“...”

“Narsis banget ya ternyata. Saya baru tahu CEO punya tingkat percaya diri yang mendekati gangguan jiwa,” gumam Zea tajam.

Langga tidak marah. Ia justru tertawa kecil. Tawa yang kali ini terdengar lebih tulus di telinga Zea.

Malam itu, di lantai atas gedung apartemen yang menjulang tinggi, untuk pertama kalinya mereka makan bersama bukan sebagai pelaku dan korban kecelakaan. Bukan sebagai majikan yang angkuh dan bawahan yang tertindas. Tapi seperti dua orang biasa yang perlahan mulai menemukan titik tengah di antara semua perbedaan mereka.

Sambil memperhatikan Zea yang mulai membereskan piring dengan bibir yang masih mengomel, Langga menyadari satu hal: malam ini, apartemennya tidak lagi terasa sedingin biasanya.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!