NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Bab 8

Bumi masih menodongkan belati yang tadi direbutnya dari Anya. Ujungnya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena seluruh tubuhnya seperti dipenuhi suara gaduh yang tidak terlihat. Napasnya pendek-pendek. Di hadapannya, Shopia berdiri tegak, seperti patung yang tahu dirinya tak bisa dihancurkan.

Ruangan itu sempit, berdinding batu dengan cahaya redup dari obor di sudut-sudutnya. Bayangan mereka menari liar di dinding, seolah ikut menonton duel yang tidak seimbang ini.

Shopia melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sampai akhirnya ujung belati itu benar-benar menyentuh dadanya.

“Ayo,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan yang memancing badai. “Bunuh aku.”

Bumi memejamkan mata. Dalam gelap itu, wajah ayahnya muncul. Lalu ibunya. Lalu rumah kecil di tahun 2026, suara televisi, bau nasi hangat, dan semua hal yang dulu terasa biasa, kini mendadak seperti surga yang terlarang.

Dengan teriakan tertahan, ia menebaskan belati itu.

Clang!

Suara logam bertemu sesuatu yang jauh lebih keras. Bukan daging. Bukan tulang. Seperti menghantam baja tersembunyi.

Bumi membuka mata. Belatinya hanya menggores permukaan pakaian Shopia, tanpa meninggalkan luka sedikit pun.

Shopia tertawa.

Tawanya tidak keras, tapi dingin. Dingin seperti lantai batu yang merambat naik ke tulang belakang.

Bumi mundur setengah langkah, lalu dengan sisa tenaga yang ia punya, menusukkan belati itu ke perut Shopia.

Clang!

Belati itu terpental. Tangannya bergetar hebat, dan sebelum ia sempat menyeimbangkan diri, tubuhnya jatuh terduduk. Belati itu meluncur menjauh, berputar di lantai sebelum berhenti.

Sunyi sejenak.

Shopia menghela napas panjang, seperti baru saja menyelesaikan sesuatu yang membosankan.

“Ajudan.”

Pintu terbuka.

Dua orang masuk dengan langkah cepat, lalu berhenti begitu melihat pemandangan di dalam ruangan. Bumi yang jatuh, belati di lantai, dan Shopia yang berdiri tanpa luka.

“Ikat dia.”

Perintah itu jatuh seperti palu.

Dua ajudan itu langsung bergerak. Bumi mencoba bangkit, tapi tangannya ditarik, dipelintir ke belakang. Tali kasar melilit pergelangannya.

“Jangan! Tolong!” suaranya pecah.

Tidak ada yang menjawab.

Shopia mendekat, berjongkok di depan Bumi. Tangannya dingin saat menyentuh pipi Bumi, mengangkat wajahnya sedikit.

“Siapa yang mau dengar kamu?” katanya lirih. “Di sini, suara kamu cuma angin.”

Bumi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti pasir.

“Tolong… jangan bunuh aku…”

Shopia tersenyum tipis.

“Aku tidak akan membunuhmu.” Ia berdiri lagi. “Setidaknya… belum.”

Harapan kecil muncul, rapuh seperti kaca tipis.

“Apa yang kamu mau? Aku kasih… apa saja…”

Shopia menoleh ke pintu.

“Anya!”

Langkah kaki terdengar. Anya masuk, matanya langsung tertuju pada belati yang tergeletak, lalu ke Bumi.

“Kamu mengambil milikku?” suaranya tajam.

Bumi tidak sempat menjawab. Ia masih berusaha melepaskan diri dari ikatan, tapi semakin ia melawan, semakin tali itu terasa menekan kulitnya.

Shopia memberi isyarat singkat pada Anya, lalu berbalik, berjalan menjauh beberapa langkah, seolah semua ini hanyalah urusan kecil.

Bumi merasakan jantungnya berdetak liar. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.

Apa ini mimpi?

Kalau ini mimpi… kenapa rasanya begitu nyata?

Kalau dia berhenti melawan… kalau dia menyerah… apakah semua ini akan berakhir?

Pikirannya berlari ke satu kemungkinan yang menakutkan sekaligus menggoda: mati di sini mungkin berarti bangun di 2026.

Perlahan, tubuhnya melemah. Ia berhenti meronta. Nafasnya menjadi lebih tenang, tapi bukan karena damai, melainkan karena putus asa yang sudah mencapai dasar.

Tiba-tiba—

Sreet!

Sebuah anak panah melesat, menembus udara seperti kilat yang punya tujuan.

Anya tersentak, mundur. Ajudan di belakang Bumi juga kaget, pegangan mereka sedikit longgar.

“Sekarang!” teriak suara dari ambang pintu.

Pam!

Bumi tidak berpikir dua kali. Ia menghentakkan tubuhnya, menarik tangannya sekuat mungkin. Tali itu belum sepenuhnya lepas, tapi cukup longgar.

Ia meraih belati di lantai dan mengayunkannya ke arah Anya.

Goresan tipis melintas di wajah Anya.

“Aaa!” teriaknya, memegang pipinya.

Kekacauan pecah.

Anak panah kedua melesat, membuat para ajudan mundur refleks.

“Ayo lari!” teriak Pam, meski serak dan lemah.

Bumi bangkit dan berlari. Dunia terasa seperti lorong sempit yang hanya punya satu arah: keluar.

Mereka berlari melewati koridor gelap. Obor-obor di dinding seperti mata yang mengawasi. Langkah kaki di belakang mereka mulai bertambah.

“Kalian mau lari ke mana?” suara Shopia terdengar, tenang, bahkan santai. “Seluruh bangunan ini sudah mengepung kalian.”

Bumi tidak menoleh.

Pam tersandung.

Tanpa berpikir, Bumi mengangkatnya ke punggung.

“Kita sembunyi di mana?” napasnya terengah.

“Keluar… ke gua…” suara Pam melemah.

“Gua?”

“Tempat kamu… menyiapkan bahan pesawat…”

Ingatan itu muncul cepat. Bau logam panas. Suara denting. Cahaya merah dari lava.

“Oh.”

Mereka berbelok, masuk ke ruangan gelap, keluar lagi, naik tangga sempit, turun ke lorong lain. Seperti tikus yang mencoba menghindari perangkap.

Akhirnya, mereka masuk ke toilet tua. Bau lembap dan karat memenuhi udara.

Bumi mendorong pintu, lalu menahannya dengan batu besar.

Gedoran langsung terdengar dari luar.

Pam menunjuk ke atas.

Ventilasi.

“Aku saja,” kata Bumi.

Ia naik ke atas kloset, membuka penutup ventilasi yang berdebu. Suara logam berderit pelan. Ia merangkak masuk, lalu menarik Pam.

Gedoran semakin keras.

“Tunggu mereka di pintu keluar!” suara Anya terdengar dari luar.

Bumi dan Pam merangkak dalam gelap sempit. Debu masuk ke hidung, membuat napas terasa berat.

“Kita bakal ketangkep…” gumam Bumi.

“Kita langsung ke gua…” jawab Pam.

“Masih kuat?”

“Iya…”

Bumi berhenti sebentar.

“Naik ke punggungku.”

Pam tidak membantah. Mereka bergerak lagi, lebih lambat, tapi lebih pasti.

“Kenapa kamu percaya aku?” tanya Pam.

“Karena aku mau pulang,” jawab Bumi. “Ke 2026.”

“Padahal aku nggak tahu caranya.”

“Aku juga nggak tahu.”

Mereka tertawa kecil. Aneh, di tengah kejaran maut, masih ada ruang untuk kejujuran.

“Di gua itu ada apa?” tanya Bumi.

“Lava.”

Bumi tersenyum tipis meski keringat menetes ke matanya.

“Oh… ide bagus.”

“Cuma itu satu-satunya cara…”

Mereka terus merangkak, sampai akhirnya cahaya samar terlihat dari ujung ventilasi.

“Itu… jalan ke gua…”

Bumi mendekat, lalu berhenti.

Lubangnya langsung menganga ke bawah.

Gelap. Dalam.

“Kalau kita lompat…” Bumi menelan ludah. “Belum ditangkap, bisa mati duluan.”

“Kalau kamu takut, aku duluan,” kata Pam.

Ia mulai turun.

“Eh! Tunggu!” Bumi menahannya. “Kamu… udah… tua—”

Pam tertawa.

“Baru kali ini aku dibilang begitu.”

Bumi menghela napas.

“Oke. Aku duluan.”

Ia menarik napas panjang, lalu melompat.

Tubuhnya jatuh bebas, sekitar lima meter. Air panas menyambutnya dengan percikan menyakitkan.

“Gila… panas…” desisnya sambil buru-buru keluar dari kolam.

Ia melihat sekeliling.

Kawah besar.

Di bawah sana, jauh, terlihat Shopia, Anya, dan para pasukan seperti bayangan kecil yang menunggu.

“Pam!” teriaknya.

Sesaat kemudian, tubuh Pam jatuh dari atas. Bumi bersiap, menangkapnya saat ia keluar dari kolam.

Pam terbatuk, megap-megap, lalu lemas.

“Kamu nggak apa-apa?” Bumi memeluknya.

“Jadi… kamu pilih mati di kawah?” suara Shopia menggema dari kejauhan.

Bumi menatap ke arah suara itu.

“Ya!” teriaknya, setengah nekat, setengah putus asa.

“Kalau begitu,” jawab Shopia, “aku tidak akan menghentikanmu.”

Angin panas berhembus. Bau belerang menusuk.

Bumi menunduk, melihat Pam yang tak sadarkan diri di pelukannya.

Di belakang Shopia, jauh… ada lava. Mengalir pelan seperti sungai api.

Seratus meter.

Terlalu jauh.

Di depan mereka, jurang.

Di bawah, musuh.

Di sekitar, panas yang bisa membunuh perlahan.

Bumi menutup mata sejenak.

Ini bukan pilihan antara hidup dan mati.

Ini pilihan… cara mati.

Atau mungkin… satu peluang kecil untuk membalik semuanya.

Dan di tengah kawah itu, dengan dunia yang terasa seperti akan runtuh, Bumi menggenggam belati lebih erat.

Seolah benda kecil itu masih menyimpan kemungkinan.

Sekecil apa pun.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!