Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi—32
Setelah kondisi mereda dan pelukan bertiga yang mengharukan itu terlepas, Samuel dan Ody bergegas menyajikan teh hangat untuk mencairkan suasana. Ruang tamu klasik itu kini terasa jauh lebih hidup. Pak Adinata duduk merapat, merangkul pundak Jessica seolah enggan kehilangan sedetik pun, sementara Aletha duduk di sisi lain bundanya, masih menggenggam jemari kurus yang sangat ia rindukan.
Danny kembali mengambil posisi berdiri di dekat jendela besar, melipat tangannya di depan dada. Aura hangatnya saat menenangkan Aletha tadi perlahan berganti menjadi seseorang penuh perhitungan.
"Karena suasana udah mulai tenang," Danny membuka suara, memecah keheningan yang nyaman itu dengan nada baritonnya yang tegas. "Kita harus realistis soal langkah selanjutnya. Hilangnya Tante Jessica dari fasilitas Elysium Project pasti udah disadari sama pusat komando mereka di Eropa. Dalam hitungan jam, nama Jessica Kusuma Adinata bakal dicari-cari di seluruh perbatasan internasional."
Pak Adinata mendongak, guratan kecemasan kembali membayangi wajahnya. Pria paruh baya itu tahu betul seberapa kotor dan kuatnya mantan rekan bisnisnya yang bermain di balik konspirasi ini. "Danny benar, Sayang. Mereka gak bakal lepasin kamu gitu aja setelah semua data penelitian yang kamu pegang selama dua tahun ini."
Jessica menghela napas panjang, bersandar pada bahu suaminya. "Mereka punya sistem pelacak yang ketat, Pah. Semua ilmuwan di sana diawasi 24 jam. Begitu alarm pelarian bunyi, mereka punya protokol khusus buat memburu subjek yang keluar."
"Mereka boleh punya protokol, tapi mereka lupa kalau sekarang lawan mereka adalah Dirgantara Group," sahut Danny, sebuah seringai tipis yang menawan sekaligus mengintimidasi muncul di wajah tegasnya. Ia melirik Samuel yang langsung sigap membuka laptop terenkripsinya.
"Tuan Danny benar," Samuel menimpali dari balik meja. "Sistem kamuflase Ody semalam berhasil memanipulasi CCTV, jadi mereka butuh waktu minimal 12 jam untuk menyadari kalau Nyonya Jessica benar-benar kabur, bukan sedang berada di ruang isolasi laboratorium. Tapi untuk jangka panjang, kita butuh perlindungan hukum dan status sosial yang mutlak agar mereka tidak bisa menyentuh Nyonya Jessica secara terang-terangan."
Danny melangkah mendekati sofa, tatapan mata elangnya mengunci manik maroon Aletha yang juga sedang menatapnya tajam.
"Satu-satunya cara buat bikin Tante Jessica aman di bawah radar hukum internasional tanpa memicu kecurigaan publik adalah dengan mempercepat semua rencana kita," kata Danny tegas. Pria jangkung itu menjeda kalimatnya, menatap Pak Adinata dan Jessica bergantian. "Kita harus majuin jadwal pernikahan gue sama Aletha."
Aletha tersentak kecil, menaikkan sebelah alisnya kaku. "Maksud lo, dimajuin dari tiga bulan yang kita umumin ke media semalam?"
"Iya," jawab Danny tanpa ragu. "Semalam di depan ribuan media Jakarta, gue udah deklarasi kalau Adinata Energy dan Dirgantara Group adalah satu keluarga. Kalau pernikahan kita digelar dalam waktu dekat—katakanlah dua minggu lagi secara privat di London atau Swiss—kita punya alasan hukum yang sah untuk memindahkan seluruh hak perlindungan dan kewarganegaraan Tante Jessica di bawah paspor diplomatik korporasi Dirgantara Group. Dengan begitu, organisasi hitam itu gak bakal bisa menyentuh Tante Jessica tanpa memicu perang terbuka dengan aset global gue."
Pak Adinata terdiam sejenak, menimbang strategi calon menantunya dengan otak bisnisnya yang cerdas. Detik berikutnya, ia mengangguk setuju. "Papa setuju dengan Danny, Tha. Ini langkah paling taktis. Begitu kamu resmi jadi istri Danny, posisi keluarga kita bakal terlalu besar untuk dihancurkan lewat jalur bawah tanah. Dan pernikahan megah di Jakarta kemarin sudah jadi landasan yang bagus buat media."
Jessica menatap putrinya dengan pandangan lembut penuh tanya, lalu beralih menatap Danny. "Aletha... Danny... apa kalian beneran siap kalau pernikahan ini dipercepat? Ibu gak mau kalau keselamatan Ibu malah membebani masa depan dan hubungan kalian."
Mendengar kekhawatiran ibunya, Aletha langsung mengulas senyuman tipisnya yang penuh percaya diri—mode Ratu Kampus yang manipulatif sekaligus tangguh kini kembali seratus persen. Ia melirik Danny yang sedang menantang pandangannya dari atas.
"Udahlah, Bun, jangan khawatir. Jalanin aja dulu," sahut Aletha santai, nadanya terdengar tenang namun sarat akan keyakinan mutlak yang membuat Danny kembali terkekeh rendah. Aletha mendongak menatap Danny. "Gue gak keberatan dipercepat, Dan. Lagian, makin cepat kita nikah, makin cepat kita bisa lacak siapa dalang utama di balik mantan rekan bisnis Papa yang udah berani bikin Mama menderita dua tahun ini."
Danny memasukkan tangannya ke dalam saku celana, menatap Aletha dengan kilat protektif yang semakin pekat. "Bagus. Kalau gitu, Samuel, urus semua dokumen pernikahan privat di KBRI London minggu depan. Ody, perketat pengamanan mansion ini 24 jam, pasang sistem pengacau sinyal militer dalam radius dua kilometer agar posisi Tante Jessica gak bisa dilacak oleh radar luar."
"Siap, Tuan," jawab Ody dan Samuel serentak dengan sikap tegap.
"Sementara untuk lo, Aletha..." Danny kembali mengunci pandangannya pada gadis berambut maroon itu, seringai tipisnya terlihat sangat menawan di bawah temaram lampu ruangan. "Besok kita harus mulai fitting ulang beberapa baju pengantin yang sempat tertunda di Jakarta. Jadwal kita bakal padat, jadi gue harap lo gak pingsan lagi kayak semalam."
Aletha mendengus geli, memutar bola matanya malas namun ada binar kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan di sana. "Gue gak bakal pingsan lagi. Lo mending siapin aja stamina lo, karena hidup sama gue setelah pernikahan ini... bakal jauh lebih menantang daripada semua urusan bisnis Dirgantara Group."
Di dalam mansion rahasia di pinggiran London itu, pembicaraan tentang pernikahan kontrak yang awalnya penuh dengan kepalsuan kini telah berkembang menjadi sebuah pakta pertahanan keluarga yang sesungguhnya. Di bawah tatapan haru kedua orang tuanya, Aletha dan Danny pelan-pelan mulai mengikis sisa-sisa batasan di antara mereka, siap melangkah bersama menuju altar pernikahan demi memenangkan permainan catur paling berbahaya di hidup mereka.