Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Adek
"Eh, iya." Aida berusaha tersenyum walau terpaksa.
"Oh, ya sudah. Silakan kalau Ustadzah mau berangkat." Collins terpaksa melepasnya.
"Iya, maaf." Aida mengangguk pelan. Ia kemudian pergi dengan menggerakkan tongkatnya.
Collins memperhatikan tubuh wanita itu dari belakang seiring Aida pergi meninggalkan. Ia merutuki dirinya sendiri. 'Bagaimana sih caranya kenalan? Kok ... setiap kali rasanya susah banget,' keluhnya sambil menghela napas pelan.
****
Motor yang dikendarai Collins sampai di depan rumah yang dijadikan tempat kursus itu. Sudah ada beberapa motor yang juga parkir di situ dengan niat yang sama, datang menjemput. Sebelum ia sempat turun, seorang pria turun dari motor, mendatangi Collins. "Elu siape?"
"Apa?" Bola mata Collins melebar.
Seorang pria bertubuh sedikit gempal bertelak pinggang di depannya. "Ada hubungan apa lu jemput-jemput cewek gue!?"
"Ha?" Collins tak kunjung mengerti.
"Apa ... apa ... Gue nanya ma elu, bukannya dijawab, eh malah nanya balik. Lu punya kuping, kagak!? Lu kagak budeg 'kan, lu!?" ujar pria itu kesal.
'Cewek siapa sih? Apa dia salah orang?' Collins mengambil kunci motor dan turun. "Cewek siapa?"
"Alah ... pura-pura, lagi lu! Emang lu ke sini mau ngapain!?" Amarah pria itu mulai terlihat. Alisnya seketika meninggi.
"Aku mau ...."
Sebelum Collins sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah tas menyambar kepala pria berkulit sawo matang itu. "Aduh ...."
"Lu ngapain ganggu adek gua!" Kini Ipah berdiri dengan bertelak pinggang pada sang pria.
Pria itu memegang kepalanya yang sedikit pening kena tas Ipah. Matanya masih menyipit akibat pukullan tadi. "Ah ... Ipah. Lu gak bo'ong 'kan ama gua!? Ini bukan pacar lo yang baru 'kan, Pah!?" Ia masih mengusap kepala.
"Ngapain gue bo'ong?"
"Tapi ... bukannya adek lo udah ...."
"Ini sepupu gua! Kalo lu gak percaya, lu bisa tanya sama Babe, sono!" Ipah bicara sengit. Ia menunggu Collins naik motor, kemudian ia naik di belakang masih dengan raut kesal. "Ayuk!"
Pria itu tampak kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Collins menyalakan motornya dan mundur dari tempat itu. Ia membawa motor itu keluar dari halaman. "Itu pacarmu, Kak?"
Ipah memukkul punggung Collins dengan keras.
"Aduhh!"
"Panggil gue 'Mpok' bukan 'kakak'! Emang gue kayak 'kakak-kakak' yang ada di mol-mol!" Ipah memang sedikit barbar kalau bicara, tapi Collins memaklumi karena memang begitulah gaya bicara wanita ini pada hampir semua orang, kecuali orang tuanya.
"Iya, iya," jawab Collins dengan sabar.
"Dia suka ama gue tapi ama Babe gak bolehin pacaran. Dia disuruh cari kerja dulu, baru ngelamar."
"Lho, kenapa gak boleh pacaran?"
"Dosaa!" teriak Ipah di dekat telinga Collins. Tentu saja pria itu menutup telinganya yang berdengung dengan tangan sambil memicingkan mata. Ipah terlihat senang sambil tersenyum lebar karena berhasil mengerjai Collins.
"Mpok! Ah ...." Collins cemberut.
Ipah tertawa. "Lu juga jangan pacaran, ntar dipentung Babe ...."
Collins teringat pada Aida. 'Kenalan aja sulit, gimana mau pacaran, ah ....' Ia menghela napas panjang.
****
Ipah membuka pintu. Ada Collins tengah berdiri di sana. Pria itu nampak bingung memulai bicara.
"Apa?" Ipah menaikkan alisnya.
"Eh, pinjem Alquran, bisa gak?"
"Bentar." Wanita itu masuk dan tak lama muncul. Ia mengulurkan Alquran berukuran sebesar telapak tangan pada Collins. "Ini."
Pria itu mengambilnya. "Eh ... tadi aku denger kamu punya adek, ya?" Collins tiba-tiba teringat ucapan pacar Ipah.
"Apa?" Seketika sang wanita langsung merengut. Ia merebut Alquran yang berada di tangan Collins dan menutup pintu dengan membantingnya.
Collins tentu saja kaget karena bunyi pintu itu cukup keras dan tepat di depan wajahnya. 'Eh ... ya ampun, aku salah ngomong apa?' Ia mengelus dada. Ia hanya bingung mendengar cerita itu karena tak pernah melihat ada adik Ipah di dalam rumah itu. Kenapa ketika ia bertanya, Ipah malah marah-marah? Ada Apa ini sebenarnya?
Teringat babe yang duduk di beranda, Collins melangkah ke sana. Saat malam, suasana tenang. Ada beberapa orang berlalu lalang di depan rumah. Sesekali ada beberapa gerobak pedagang yang lewat memanggil pembeli.
"Be, boleh tanya, gak?"
Kedatangan Collins membuat pria paruh baya itu menoleh. "Ade ape?"
"Emang Ipah punya adek, Be? Kok gak pernah lihat?"
"Oh." Babe hanya menyatukan kedua tangan di atas pangkuan. Wajahnya terlihat tenang membuat Collins penasaran.
Pria muda itu menarik kursi di samping Babe. "Ada, Be?"
Babe menoleh ke arah Collins. Sejak kerja di toko, pria muda ini mulai banyak bicara walau masih tidak suka membicarakan dirinya. Sisi misterius itu dihormati Babe dengan tidak bertanya. "Babe emang punya anak laki dulu, yang badannya lemah. Die emang sering sakit-sakitan dan meninggal saat SMP." Terlihat matanya berkaca-kaca saat bercerita. "Lu ngingetin Babe sama nih anak. Mangkenye waktu lihat lu kebingungan gak punya tempat tinggal, Babe bawa lu pulang."
Collins terkejut mendengar penuturan pria itu. "Padahal 'kan bisa aja, Bara orang jahat yang menyamar."
Babe tertawa lepas sambil mengerjap-ngerjapkan mata untuk mengurangi air mata di sekitar bola matanya. Akhirnya ia mengusap sudut matanya itu pelan. "Babe cuma pakai feeling aja."
"Tapi kenapa Ipah marah waktu aku tanya ini?"
"Karena mereka cuma bedua. Ipah sayang banget sama adeknye." Babe merapikan duduknya. "Dari mana lu tau tentang adek Ipah?"
"Oh ... Itu." Collins terlihat ragu-ragu, menunduk dan melirik pria paruh baya berkulit kuning itu. "Pacar Ipah, Be."
"Ck, dia lagi," gumam Babe dengan raut wajah berubah seram. "Si Arman, 'kan?" tanyanya melirik Collins dari sudut matanya. "Lu ketemu die di mane?" Pandangannya terlihat dingin.
"Tempat kursus, Be."
"Ck!" Pria paruh baya itu mulai geram. Ia kembali melirik Collins. "Udah, lu anter jemput Mpok lu aja, dah! Jangan biarin Mpok lu pergi ama die, ngerti!?" Suaranya terdengar tegas.
"Memangnya kenapa, Be?"
"Ya kalo belum nikah, ya jangan bedua-duaanlah. Karena yang ketiganya adalah setan!" Babe mulai mengomel.
"Tapi anak muda 'kan biasanya begitu, Be. Ngak bakal ...."
"ELU JANGAN NGEBANTAH!!" bentak pria paruh baya itu, membuat Collins terkejut. "Di agama islam emang begitu peraturannye, dan elo kalo mau tinggal di marih juga harus ngikutin peraturan entuh, ngerti kagak lu?!"
Collins terdiam. Ia baru kali ini dimarahi pria yang rambutnya sedikit klimis dan berombak itu dengan dengan suara sedikit keras. "I-iya, Be," jawabnya sedikit gugup.
"Assalamualaikum!" Terdengar suara seorang pria di depan pagar.
Keduanya menoleh. "Entuh, ada tamu, Bara. Tolong bukain." Kini nada bicara Babe seketika berubah lunak.
Collins beranjak berdiri. Ia membuka pintu pagar dengan patuh. Biasanya karena Babe adalah ketua RT, ada saja warga yang datang mencari.
"Oh, Pak Endang. Silakan masuk, Pak," sahut Babe ramah, melihat siapa yang datang.
"Ini, Be. Mau ngurus surat-surat."
"Oh, ya. Mana?"
Collins segera masuk ke kamar.
****
Collins yang sedang mengendarai motor, tak sengaja melihat Aida keluar dari sekolah luar biasa sore itu dengan berjalan kaki. Ia coba menghampiri. "Ustadzah udah pulang?"
Langkah wanita itu terhenti bersama tongkatnya. "Oh, Abang eh ...." Aida terlihat ragu.
"Bara. Namaku Bara."
"Bang Bara," ucap sang wanita sambil mengangguk sopan.
'Akhirnya dia bisa menyebut namaku.' Collins begitu senang. "Mau pulang? Mau abang anter?"
Bersambung ....