NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Beban Tak Kasat Mata dan Aura Sang Algojo

Langkah sepatu bot Ajil bergema pelan di atas lantai pualam Guild Valeria yang masih dipenuhi sisa-sisa ketegangan. Ratusan pasang mata petualang masih mengawasi punggungnya yang terbalut setelan Malam Abadi, namun tak satu pun yang berani bersuara. Udara di dalam guild terasa lebih berat dari biasanya.

Ajil berhenti tepat di depan Papan Misi raksasa. Papan itu terbuat dari batang kayu Pohon Besi Kuno yang usianya ratusan tahun, membentang selebar sepuluh meter dan setinggi tiga meter. Permukaannya dipenuhi ratusan perkamen berbau lilin lebah dan tinta cumi-cumi raksasa, ditusuk dengan paku perak.

Sistem di mata Ajil langsung bekerja, menerjemahkan huruf-huruf rune Ridokan menjadi bahasa yang ia pahami dalam sekejap. Papan itu dibagi menjadi beberapa zona warna. Zona hijau untuk Kelas F hingga D (misi mencari herbal berbisa, mengawal karavan gandum, atau membasmi hama tikus batu). Zona kuning untuk Kelas C dan B (membasmi sarang Goblin, berburu monster tingkat menengah). Dan zona merah di bagian paling atas untuk Kelas A hingga S (menaklukkan naga, mengeksekusi jenderal pemberontak, atau menjelajah dungeon kuno).

Ajil tidak tertarik pada misi mengumpulkan tanaman. Ia butuh membunuh untuk meningkatkan level pedangnya dan mencari informasi. Matanya yang dingin mengamati zona kuning. Tatapannya tertuju pada sebuah perkamen dengan cap tengkorak merah.

[SISTEM: Menganalisis Misi...]

[Target: Membasmi Kawanan Orc Besi (Level 30-45)]

[Lokasi: Ngarai Putus Asa, 10 Kilometer ke arah Barat kota.]

[Tingkat Kesulitan: Kelas B]

[Hadiah: 50 Keping Perak, 100 Poin Guild]

Ajil mengangkat tangan kirinya, hendak mencabut paku perak yang menancap pada perkamen tersebut.

Namun, sebelum jarinya menyentuh perkamen, sebuah tangan besar berlapis gauntlet (sarung tangan baja) berwarna merah menyala yang memancarkan hawa panas, tiba-tiba menampar perkamen itu hingga rata dengan papan, menahan tangan Ajil.

"Hei, Pemula. Aku tidak tahu trik murahan apa yang kau pakai untuk meledakkan kristal tadi, tapi hukum Guild tetaplah hukum. Seekor tikus Kelas F tidak diizinkan menyentuh misi Kelas B."

Suara bariton yang berat dan arogan itu terdengar dari arah kanannya. Ajil menolehkan kepalanya dengan gerakan lambat dan kaku.

Di sisinya, berdiri dua orang pria yang memancarkan aura mana yang cukup kuat untuk membuat petualang biasa menyingkir.

Pria pertama, yang menahan tangannya, bertubuh sangat kekar layaknya seekor beruang. Ia mengenakan zirah baja berat (Heavy Plate Armor) berwarna merah tua yang dihiasi ukiran api menyala. Di punggungnya, melintang sebuah pedang raksasa (Broadsword) selebar telapak tangan orang dewasa. Pedang itu tidak memiliki sarung, dan bilahnya yang berwarna jingga terus-menerus memancarkan gelombang panas yang mendidihkan udara di sekitarnya.

Pria kedua berdiri bersandar dengan angkuh pada sebuah pilar kayu di dekat mereka. Ia memiliki postur yang lebih ramping dan elegan. Zirahnya terbuat dari sisik naga air berwarna biru perak, memancarkan hawa dingin yang menggigit. Di tangan kanannya, ia memutar-mutar sebuah tombak perak yang ujungnya terbuat dari kristal es abadi. Setiap kali tombak itu berputar, butiran-butiran salju kecil berjatuhan ke lantai.

[SISTEM: Menganalisis Entitas...]

[Nama: Rino]

[Ras: Manusia]

[Level: 110]

[Kelas: A+ (Tank Pedang Api)]

[Nama: Richard]

[Ras: Manusia]

[Level: 105]

[Kelas: A (Tombak Es Penusuk)]

"Rino benar," ucap Richard dengan nada meremehkan, mata birunya menatap Ajil dari atas ke bawah. "Kau mungkin memiliki tubuh yang kebal sihir, atau jaketmu itu adalah artefak pelindung. Itulah yang membuat kristal tadi kelebihan beban. Tapi bertarung melawan monster bukanlah soal pertahanan semata. Kau akan mati konyol di Ngarai Putus Asa, dan kami tidak ingin mencium bau mayat Kelas F yang membusuk saat kami sedang berpatroli nanti."

Rino tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggelegar. "Lagipula, lihatlah wajahmu itu, Kawan! Wajahmu terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan seluruh hartanya di meja judi, atau ditinggal mati anjing kesayangannya. Orang dengan mental lemah dan wajah sedih sepertimu tidak pantas memegang pedang. Pulanglah, minum susu hangat, dan biarkan pria sejati yang mengurus monster-monster itu!"

Di lantai tiga, Erina yang tengah menyimak pembicaraan itu mendecakkan lidahnya. "Dua idiot yang terlalu membanggakan kelas mereka," batin sang High Elf. "Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang membangunkan monster yang sebenarnya."

Ajil terdiam. Ia menatap wajah Rino yang tertawa lebar, lalu menatap Richard yang tersenyum sinis. Kata-kata 'ditinggal mati' yang diucapkan Rino, meski hanya sebuah kiasan kasar, kembali menggores luka yang menganga di dada Ajil.

Ami... Arzan... Dara... Bayangan senyum istrinya yang hancur di atas aspal jalan raya berkelebat di pelupuk matanya. Kehilangan itu nyata. Rasa sakit itu nyata. Dan para badut sirkus berbalut zirah di depannya ini menganggap kesedihan adalah sebuah lelucon.

"Singkirkan tanganmu," desis Ajil. Suaranya tidak keras, namun frekuensinya terasa begitu rendah, seolah menggetarkan molekul udara di sekitar mereka.

Rino menghentikan tawanya. Alisnya bertaut. Harga dirinya sebagai petualang Kelas A+ merasa tertantang oleh gertakan seorang Kelas F. Ia justru mencengkeram bahu Ajil dengan gauntlet apinya yang panas. Panas yang seharusnya bisa melelehkan kulit manusia biasa itu sama sekali tidak menembus setelan Malam Abadi milik Ajil.

"Oh? Berani juga kau, Pemula yang depresi," geram Rino, mendekatkan wajahnya. "Dan jika aku tidak mau? Apa yang akan kau lakukan? Menggonggong?"

Richard melangkah maju, memutar tombak esnya dan menancapkan ujungnya ke lantai kayu hingga membeku. Ia memblokir jalan Ajil dari sisi kiri. "Kami sedang mengajarimu tata krama Guild, Gelandangan. Berlututlah dan minta maaf atas kelancanganmu menatap kami seperti itu, maka kami akan melepaskanmu dengan tulang rusuk yang masih utuh."

[SISTEM: Peringatan Bahaya. Niat bermusuhan terdeteksi dari Entitas 'Rino' dan 'Richard'. Memulai kalkulasi pertahanan diri otomatis...]

Ajil menutup layarnya dengan satu kedipan mata. Ia tidak butuh kalkulasi sistem.

Ia mendongak, menatap lurus ke dalam mata Rino, lalu beralih ke Richard. Tatapan Ajil benar-benar kosong, tidak ada kilatan marah, tidak ada rasa takut, hanya sebuah kehampaan yang tak berujung.

"Kalian membanggakan sebilah logam dan kepingan kelas guild sebagai beban kehidupan," ucap Ajil dengan suara yang teramat datar dan dingin, menggema dengan nada keputusasaan yang absolut. "Tapi kalian tidak tahu seberapa beratnya menanggung dunia yang telah mati di pundakmu."

Deg.

Jantung Rino dan Richard tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih lambat. Sebuah insting primitif di dalam DNA manusia mereka menjeritkan alarm bahaya tingkat tertinggi.

Detik berikutnya, dunia seakan runtuh.

Ajil tidak mengeluarkan petir ungunya yang merusak. Sebaliknya, dari pori-pori Setelan Malam Abadi-nya, meledaklah sebuah aura magis yang wujudnya menyerupai kabut berwarna hijau pekat. Aura itu tidak menyambar, melainkan menekan.

WUSSSHHH!

Gravitasi di sekitar Ajil dalam radius lima meter meningkat hingga ratusan kali lipat dalam hitungan milidetik. Lantai pualam tebal di bawah kaki mereka retak dengan suara mengerikan, melesak ke dalam membentuk sebuah kawah dangkal.

"Ugh—!"

Mata Rino terbelalak ngeri. Pedang besar api di punggungnya, yang biasanya ia ayunkan seringan ranting, tiba-tiba terasa seperti terbuat dari inti bumi. Ia mencoba menahan tekanan itu dengan kaki kekarnya, namun urat-urat di lehernya menonjol hampir pecah. Zirah merahnya berderit keras seolah akan hancur ke dalam.

Bruk!!

Kedua lutut Rino menghantam lantai pualam hingga hancur berkeping-keping. Pria raksasa itu dipaksa berlutut, kedua tangannya menahan beban di atas lantai yang retak. Napasnya tersengal-sengal, darah segar merembes dari hidungnya akibat tekanan gravitasi yang menghancurkan pembuluh darah halusnya.

Di sebelahnya, kondisi Richard tidak lebih baik. Tombak es elegan yang ia banggakan terlepas dari genggamannya, jatuh berdebum di lantai dan tak bisa ia angkat lagi. Tubuh ramping Richard ambruk seketika. Ia jatuh berlutut, wajahnya nyaris mencium sepatu bot Ajil, keringat dingin mengucur deras membasahi rambutnya. Ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk sekadar menjerit karena udara di paru-parunya dipaksa keluar oleh tekanan aura hijau tersebut.

Ratusan petualang di Guild yang melihat kejadian itu membeku di tempat. Mulut mereka ternganga. Dua petualang legendaris dari Valeria, Kelas A+, dibuat berlutut mencium lantai tanpa pria berjaket hitam itu mengangkat satu jari pun!

Aura hijau pekat itu terus berpusar di sekitar tubuh Ajil, membuat ujung trench coat-nya berkibar lambat dengan sangat epik, melawan hukum fisika. Wajah Ajil tetap datar, menatap kedua pria arogan yang kini tak berdaya di kakinya bagai cacing yang diinjak.

[SISTEM: Target berhasil dilumpuhkan oleh Tekanan Gravitasi Jiwa. HP Rino menurun 15%. HP Richard menurun 20%. Tidak ada perlawanan yang memungkinkan.]

Ajil perlahan mengangkat tangan kirinya, dengan mudah mencabut perkamen misi Kelas B dari papan yang paku peraknya kini telah bengkok karena gravitasinya sendiri.

Ia memutar tubuhnya, menunduk menatap Rino yang sedang menatapnya balik dengan sorot mata penuh teror absolut. Kesombongan pria kekar itu telah hancur lebur tanpa sisa.

"Berat, bukan?" bisik Ajil pelan. "Itu baru sepersekian dari apa yang kurasakan setiap hari."

Dengan langkah yang tenang dan tanpa suara, Ajil menarik kembali aura hijau pekatnya. Seketika, gravitasi kembali normal. Udara bergegas mengisi ruang hampa, menciptakan suara letupan angin.

Rino dan Richard langsung tersungkur jatuh ke lantai, terbatuk-batuk hebat memuntahkan air liur dan menghirup udara dengan rakus layaknya orang yang baru saja ditarik dari dasar lautan. Seluruh otot mereka kejang-kejang.

Tanpa mempedulikan mereka, Ajil berjalan lurus menuju meja resepsionis darurat yang baru saja disiapkan oleh para staf. Ia meletakkan perkamen misi itu di atas meja.

"Aku ambil misi ini," ucap Ajil pada staf pria yang wajahnya seputih kapas.

Di lantai atas, Erina menekan dadanya. Napas sang High Elf itu ikut memburu. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena takut, melainkan karena sebuah kekaguman yang nyaris gila.

"Dia mendominasi dua ksatria Kelas A tanpa menyentuh mereka... Hanya dengan manifestasi kesedihannya," mata Erina berbinar dengan cahaya yang tak pernah ada sebelumnya. "Ajil... Ya, namanya Ajil. Dewa kematian yang menyamar menjadi manusia. Aku tidak akan melepaskan pandanganku darimu sedetik pun."

Dengan perkamen misi yang kini resmi terdaftar atas namanya, Ajil melangkah keluar dari pintu ganda Guild Valeria. Panasnya matahari Ridokan kembali menyapanya, namun tidak sedikit pun mampu mencairkan es di hatinya. Pijakan pertamanya di dunia ini telah ia torehkan dengan dominasi mutlak.

Ngarai Putus Asa menunggunya, dan sang algojo membutuhkan darah para monster untuk membungkam rindu di kepalanya.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!