NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Liana mendengus, mencoba menyembunyikan semburat merah yang kembali muncul di pipinya.

Ia memutar bola matanya malas, berpura-pura sibuk memotong daging di piringnya yang sejak tadi hanya diacak-acak.

"Tukang gombal! Pasti ceweknya banyak, kan? Model-model di kantor Bapak itu pasti sudah habis dirayu semua," ucap Liana dengan nada menyelidik yang ketus.

Adrian meletakkan gelas kristalnya pelan, lalu menyandarkan punggung ke kursi beludru.

Tatapannya berubah menjadi lebih intens, meski bibirnya masih menyunggingkan senyum jahil yang mematikan.

"Cewek banyak? Kamu salah besar, Liana. Aku ini pria yang sangat pemilih," ujar Adrian tenang.

Ia memajukan tubuhnya ke arah meja, memperpendek jarak di antara mereka.

"Saat ini aku belum punya kekasih. Dan siapa tahu... mungkin saja kamu nanti yang akan jadi kekasihku."

Adrian mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang sangat percaya diri, membuat Liana nyaris tersedak air putih yang baru saja ia teguk.

"Ishhh! Amit-amit jabang bayi!" seru Liana sambil mengetuk-ngetukkan buku jarinya ke meja kayu, lalu ke keningnya sendiri—sebuah tradisi lama untuk menolak bala.

"Jangan mimpi, Pak! Saya ini penjual daster pasar, bukan model kelas atas yang biasa Bapak kencani. Lagipula, tipe saya itu yang sederhana, bukan yang suka tebar pesona begini!"

Adrian tertawa lagi, namun kali ini tawanya terdengar lebih renyah.

"Jangan terlalu benci, Liana. Kata orang, benci dan cinta itu bedanya setipis benang daster jualanmu. Kita lihat saja nanti dalam tiga bulan ini."

Liana memilih untuk tidak membalas lagi. Ia sibuk mengunyah makanannya dengan cepat, ingin segera menyelesaikan makan malam yang penuh "serangan" mental ini.

Di dalam hatinya, Liana terus merapalkan doa agar benteng pertahanannya tidak runtuh oleh pesona pria yang baru saja membohonginya soal status hubungannya itu.

Liana tidak tahu, di sebuah koper mahal di sudut ruangan, terdapat bingkai foto kecil milik Arum yang sengaja disembunyikan Adrian sebelum ia masuk tadi.

Liana menyambar tas kecilnya dan melesat menuju kamar tamu yang telah disiapkan.

Di ambang pintu, ia berbalik sejenak, menunjuk Adrian dengan jari telunjuknya yang mungil namun penuh ketegasan.

"Hei, Tuan Buaya Darat! Lekas istirahat dan jangan berani-berani masuk ke kamarku, ya! Awas kalau sampai berani mengintip!" seru Liana dengan nada mengancam yang justru terdengar menggemaskan di telinga Adrian.

Brak!

Pintu kamar tertutup rapat, menyisakan suara kunci yang diputar dua kali dari dalam.

Adrian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menyentuh pipinya yang tadi dicubit Liana.

Senyumnya belum hilang, namun perlahan raut wajahnya berubah menjadi serius saat ia menatap sekeliling ruang tengahnya yang megah.

Begitu yakin Liana sudah aman di dalam dunianya sendiri, Adrian bergerak sigap.

Ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun yang bisa merusak rencana "pendekatan" ini.

Ia melangkah menuju kamar utamanya, membuka lemari besar, dan menarik keluar sebuah koper kulit berlogo merk ternama.

Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia menyambar bingkai foto Arum yang ada di atas nakas—foto Arum yang sedang berpose elegan di depan Menara Eiffel—dan memasukkannya ke dasar koper.

Satu per satu, barang-barang yang bisa memicu kecurigaan Liana ia kumpulkan.

Parfum wanita yang aromanya terlalu kuat, beberapa helai pakaian Arum yang tertinggal di gantungan, hingga majalah mode yang sampulnya menampilkan wajah sang kekasih.

Semuanya ia tumpuk dan ia sembunyikan di dalam gudang kecil di sudut apartemen yang terkunci rapat.

"Maaf, Arum. Untuk tiga bulan ini, tempat ini harus terlihat seperti sarang bujangan yang kesepian," gumam Adrian sambil mengunci pintu gudang.

Ia menyeka keringat tipis di dahinya. Adrian tahu ia sedang bermain api.

Di satu sisi ada Arum yang menunggunya di Paris, dan di sisi lain ada Liana yang baru saja mulai membuka pintu hatinya di kamar sebelah.

Keesokan paginya, suasana di apartemen mewah itu masih terasa canggung.

Liana terbangun dengan perasaan asing, menyadari plafon kamar yang ia tatap bukanlah plafon triplek rumahnya yang bocor.

Ia segera bersiap, mengenakan kaos longgar dan celana training andalannya untuk latihan.

Adrian sudah menunggunya di ruang tengah, tampak segar dengan kemeja kasual yang digulung hingga siku.

"Sudah siap, Penari Pasar?" godanya pelan.

Liana hanya mendengus, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang kembali berpacu mengingat kejadian semalam.

Perjalanan menuju studio latihan terasa singkat berkat mobil mewah Adrian yang melesat membelah kemacetan kota. Namun, begitu pintu lift studio terbuka di lantai lima, napas Liana seolah berhenti.

Di hadapannya membentang sebuah ruangan aula raksasa dengan dinding kaca setinggi plafon.

Tapi bukan kemewahan studio yang membuatnya syok, melainkan kerumunan orang yang ada di dalamnya.

Puluhan kru film sibuk lalu lalang dengan kamera besar, peralatan lighting, kabel-kabel yang menjuntai, dan monitor canggih. Di sudut lain, sebuah orkestra kecil sedang menyetem alat musik mereka.

"Pak Adrian," bisik Liana, mencengkeram lengan kemeja Adrian dengan panik.

"Ini, terlalu banyak orang. Bapak bilang ini hanya proyek biasa!"

Adrian tersenyum tipis, menepuk tangan Liana yang gemetar di lengannya.

"Ini proyek biasa bagiku, Liana. Tapi bagi dunia, ini adalah mahakarya kembalinya sang legenda. Tenanglah, mereka semua di sini untuk membantumu."

Begitu Adrian melangkah masuk, keheningan menyergap ruangan.

Semua mata tertuju pada sosok tinggi di samping sang produser ternama.

Di tengah ruangan, sekelompok penari

profesional wanita—dengan tubuh semampai, berkaki jenjang, dan mengenakan pakaian latihan ketat yang memperlihatkan otot-otot perut mereka—berhenti berlatih.

Mereka menatap Liana dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Tatapan mereka tidak ramah. Ada keraguan, keheranan, dan sedikit rasa iri yang tak berusaha disembunyikan.

"Itu, penari utamanya?" bisik seorang penari berambut pirang dengan nada meremehkan yang cukup keras untuk didengar.

"Serius? Dia hanya wanita biasa. Tubuhnya agak gemuk untuk ukuran penari profesional," sahut penari lain sambil memutar bola mata malas.

"Apa Pak Adrian sudah kehilangan seleranya?"

Kasak-kusuk menyebar cepat di antara kru dan penari lainnya.

Liana menunduk dalam-dalam, merasa tubuhnya tiba-tiba menjadi beban yang sangat berat.

Rasa percaya diri yang ia bangun di pasar runtuh seketika di hadapan standar kecantikan dunia hiburan yang kejam.

Adrian merasakan perubahan aura di sampingnya. Rahangnya mengeras.

Ia melangkah maju ke tengah ruangan, suaranya menggelegar memecah keraguan di udara.

"Diam!" seru Adrian tegas. Ketegangan langsung menyelimuti studio.

Adrian menatap tajam ke arah kelompok penari profesional tadi.

"Kalian meragukan pilihanku? Kalian pikir menari hanya soal ukuran pinggang dan kaki yang jenjang?"

Ia menunjuk penari berambut pirang yang tadi berbisik paling keras.

"Kamu! Maju ke tengah. Tunjukkan pada kami tarian kontemporer terbaikmu. Sekarang!"

Penari itu tersentak, wajahnya memucat, namun ia tidak berani membantah sang produser.

Ia melangkah ke tengah dengan ragu. Musik orkestra mulai dimainkan pelan.

Penari itu mulai menggerakkan tubuhnya. Gerakannya teknis, sempurna, sesuai hitungan, dan sangat lentur. Namun, gerakannya terasa kosong.

Tidak ada jiwa di sana, hanya deretan teknik yang dihafal mati. Kru film menonton dengan wajah datar.

Setelah satu menit, Adrian mengangkat tangannya.

"Cukup."

Penari itu berhenti, napasnya memburu, menatap Adrian dengan harap-harap cemas.

"Teknikmu bagus, tapi kamu menari seperti robot," ucap Adrian dingin.

Kemudian ia berbalik menatap Liana yang masih bersembunyi di belakang kerumunan kru.

"Liana," panggil Adrian, suaranya melunak drastis.

Ia mengulurkan tangannya, sebuah isyarat undangan yang sangat hormat di depan semua orang.

"Maju ke tengah. Tunjukkan pada mereka, apa artinya menari dengan jiwa."

Liana menatap tangan Adrian yang terulur. Ia ketakutan setengah mati, namun ia juga teringat janjinya pada Mama, dan rasa sakit hati karena diremehkan.

Ia menarik napas panjang, mengusap telapak tangannya yang basah ke celana training-nya, dan melangkah maju.

Di tengah studio yang megah, di hadapan puluhan mata yang meragu, Liana berdiri tegak.

Ia menutup matanya, mengabaikan semua orang, dan mencoba membayangkan lorong pasar yang dingin di tengah malam.

Musik orkestra kembali bermain, kali ini dengan tempo yang lebih lambat dan melankolis. Liana mulai menggerakkan tubuhnya.

Gerakan pertamanya sederhana, namun penuh berat beban kehidupan.

Ia tidak melompat tinggi atau melakukan split sempurna seperti penari sebelumnya.

Tapi setiap lekukan tubuhnya, setiap ayunan tangannya, menceritakan sebuah kisah. Kisah tentang duka kehilangan ayah, tentang kerasnya hidup di pasar, dan tentang kegembiraan murni yang ia rasakan saat menari sendirian di toko.

Napas kru film seolah tertahan. Kamera-kamera diam, monitor memperlihatkan aura yang tak masuk akal terpancar dari tubuh Liana.

Tidak ada lagi yang peduli dengan ukuran tubuhnya, karena yang mereka lihat adalah sebuah keindahan murni yang melampaui fisik.

Liana menari dengan keringat bercucuran, matanya masih terpejam, benar-benar larut dalam dunianya sendiri.

Saat ia mengakhiri tariannya dengan posisi berlutut dan tangan terangkat ke langit, suasana studio hening total.

Satu detik. Dua detik.

Plak. Plak. Plak.

Satu kru film mulai bertepuk tangan. Disusul yang lain.

Dalam sekejap, seluruh studio bergemuruh oleh tepuk tangan riuh dan sorakan kagum.

Penari-penari profesional yang tadi meremehkan, kini terdiam membeku dengan wajah merah padam karena malu sekaligus takjub.

Adrian berdiri di sudut ruangan, senyum tipis kemenangan menghiasi wajahnya.

Matanya tak lepas dari Liana yang sedang mengatur napas di tengah aula.

Ia tahu, dalam waktu tiga bulan, dunia akan bertekuk lutut di hadapan Penari Pasarnya ini.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!