Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Perintah Sang Master
Pilar cahaya bintang yang memancar dari dasar Lembah Kabut Jatuh menerangi langit pagi, menandakan bahwa segel ruang dari Reruntuhan Kuno Bintang telah sepenuhnya terbuka.
Fluktuasi energi kuno yang pekat membuat puluhan ribu kultivator di sekitar lembah menelan ludah karena serakah. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah maju. Semua mata dengan gugup melirik ke arah langit, tepatnya ke arah Kereta Singa Emas yang melayang di atas mereka.
Di atas singgasana kereta, Lin Chen menyesap tehnya yang sudah mulai dingin. Ia menatap ketiga muridnya yang telah berdiri di tepi kereta, bersiap untuk turun.
"Ye Fan, Su Yue, Lin Tian," panggil Lin Chen santai.
"Hadir, Guru!" jawab ketiganya serempak.
"Kalian bertiga adalah perwakilan pertama Sekte Puncak Awan yang melangkah ke dunia luar. Ingat prinsip sekte kita: Kita tidak mencari masalah, tapi jika ada yang menghalangi jalan kita..."
Lin Chen meletakkan cangkir tehnya, matanya menyipit memancarkan kilatan arogan. "...jangan tinggalkan satu pun akar untuk tumbuh. Selain itu, mengenai harta karun di dalam sana, Guru punya satu aturan sederhana."
"Mohon petunjuk Guru!"
"Jika kalian melihat sesuatu yang berkilau, itu milik Sekte Puncak Awan. Jika kalian melihat rumput spiritual, itu milik Sekte Puncak Awan. Bahkan jika kalian melihat batu yang bentuknya bagus, itu juga milik Sekte Puncak Awan. Paham?"
Di bawah sana, para Tuan Istana dan Master Sekte yang mendengar ucapan itu nyaris memuntahkan darah karena marah. Itu bukan eksplorasi! Itu perampokan terang-terangan! Namun, ditekan oleh dua monster singa raksasa, mereka hanya bisa menangis dalam hati.
"Murid paham! Kami akan mengosongkan tempat itu untuk Guru!"
Ketiga murid itu tersenyum buas. Tanpa ragu, mereka melompat dari kereta emas, melesat menembus udara, dan menjadi tiga orang pertama yang melompat masuk ke dalam pusaran cahaya bintang.
Melihat murid-murid Sekte Puncak Awan telah masuk, barulah Tuan Istana Matahari Ungu memberi isyarat keras kepada murid-murid elitnya. "Cepat masuk! Hindari konfrontasi langsung dengan ketiga monster itu, cari warisan kuno dan segera keluar!"
Ribuan jenius muda dari berbagai sekte pun berhamburan masuk seperti kawanan semut yang berebut gula.
Di Dalam Reruntuhan Kuno Bintang...
Pemandangan di dalam reruntuhan sama sekali berbeda dengan dunia luar. Ini adalah sebuah dimensi saku. Langit di atas mereka berwarna hitam pekat dan dipenuhi oleh rasi bintang yang bersinar terang, sementara daratannya terdiri dari pecahan-pecahan pulau batu yang melayang di udara, dihubungkan oleh jembatan cahaya.
Begitu Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian mendarat di salah satu pulau batu raksasa, bahaya langsung menyapa.
BZZZZZ!
Suara dengungan yang memekakkan telinga terdengar dari celah-celah batu. Dalam hitungan detik, puluhan ribu serangga seukuran kepalan tangan orang dewasa yang cangkangnya memancarkan cahaya ungu bermunculan, mengepung mereka dari segala arah.
"Kumbang Pemakan Bintang!" seru salah satu murid Istana Matahari Ungu yang baru saja mendarat di belakang mereka. Wajahnya pucat pasi. "Serangga ini kebal terhadap energi elemen dan cangkangnya sekeras baja! Mundur!"
Beberapa kultivator yang terlambat mundur langsung diterkam oleh kawanan serangga itu. Dalam tiga tarikan napas, mereka hanya menyisakan kerangka putih bersih!
Melihat lautan kumbang ungu yang menerjang ke arah mereka, Ye Fan bersiap mencabut pedangnya, namun Lin Tian menahannya.
"Kakak Ye, serangga-serangga kecil ini terlalu tersebar untuk tebasanmu. Biarkan Adik Su yang membereskan sampah ini."
Su Yue mengangguk pelan. Gadis buta itu melangkah maju. Matanya yang tertutup kain menghadap lurus ke arah lautan serangga yang beringas.
"Formasi Seratus Bintang..."
Sring! Sring! Sring!
Seratus Pedang Dedalu Perak meledak dari cincin penyimpanannya. Tapi kali ini, Su Yue tidak menggunakan formasi menusuk. Ia menyatukan energi Qi Pembangunan Yayasan-nya ke dalam setiap bilah, membuat pedang-pedang tipis itu memanjang dan saling terhubung oleh benang-benang Niat Pedang.
"...Jaring Penggiling Surga."
Seratus pedang itu berputar dengan kecepatan cahaya, membentuk sebuah tornado perak raksasa yang bergerak menyapu seluruh pulau batu. Di mana pun tornado pedang itu lewat, Kumbang Pemakan Bintang yang diklaim 'sekeras baja' itu teriris menjadi debu berkilau.
Hanya butuh waktu lima belas detik. Lautan serangga yang membuat panik ribuan jenius sekte lain kini lenyap tanpa sisa, menyisakan jalan setapak yang bersih dan aman.
Rombongan jenius di belakang mereka menelan ludah dengan susah payah. Apakah ini kekuatan seorang ahli Pembangunan Yayasan?! Dia bahkan tidak mengeluarkan keringat!
"Ayo pergi. Guru sedang menunggu hasil jarahan kita," ucap Lin Tian santai sambil berjalan memimpin.
Ketiga monster muda itu melaju melintasi pulau-pulau melayang dengan kecepatan penuh. Setiap jebakan ilusi dihancurkan oleh Ye Fan, setiap monster bayangan dipotong oleh Su Yue, dan setiap penghalang formasi diserap energinya oleh Lin Tian. Mereka bertiga benar-benar seperti mesin perusak tanah suci.
Kurang dari setengah jam, mereka berhasil mencapai pusat dimensi saku ini: Kuil Puncak Bintang.
Kuil itu terbuat dari marmer hitam yang dihiasi ukiran naga kosmik. Di tengah aula utama kuil, terdapat sebuah altar batu yang melayang. Di atas altar tersebut, mengambang sebuah bola kristal seukuran kepala manusia yang memancarkan cahaya galaksi yang sangat pekat.
Napas Ye Fan tercekat saat ia merasakan energi di dalam bola kristal tersebut. "Itu... Hati Bintang Kuno! Benda suci yang bisa mempercepat pemadatan Inti Emas (Golden Core)!"
Tepat saat Lin Tian hendak melangkah maju untuk mengambilnya, tawa dingin bergema dari pintu masuk aula.
"Hahaha! Benar-benar kerja keras yang luar biasa, murid-murid Sekte Puncak Awan! Terima kasih telah membukakan jalan untuk kami!"
Ye Fan menoleh dengan alis berkerut. Sekitar lima puluh orang pemuda elit dari Istana Matahari Ungu melangkah masuk, dipimpin oleh seorang pemuda bermata elang. Ia adalah Adik Seperguruan Chu Tiankuo, bernama Chu Yun.
Chu Yun tidak memiliki kultivasi setinggi kakaknya, hanya berada di tahap Puncak Kondensasi Qi. Namun, di tangannya, ia memegang sebuah gulungan perkamen emas yang memancarkan aura mengerikan.
"Kalian pikir Istana Matahari Ungu tidak memiliki persiapan?" Chu Yun tersenyum licik, menatap Hati Bintang Kuno dengan serakah. "Kakakku mungkin sombong dan ceroboh sehingga terkena serangan mendadakmu di luar. Tapi di dalam sini, kaulah yang akan mati!"
Chu Yun membuka gulungan emas tersebut. Seketika, aura dari seorang ahli Pembentukan Inti (Core Formation) meledak dari dalam perkamen, mengunci ruang di sekitar Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian!
"Ini adalah Jimat Titah Leluhur! Berisi satu pukulan mematikan dengan kekuatan penuh dari Leluhur Istana kami!" raung Chu Yun dengan gila. "Tidak peduli seberapa genius kalian di tahap Pembangunan Yayasan, kalian akan mati menjadi debu di bawah kekuatan Inti Emas! MATI KAU!"
Sebuah telapak tangan raksasa berwarna ungu transparan meletus dari gulungan tersebut. Telapak tangan itu membawa hukum penghancuran mutlak, turun dari atap kuil, berniat meremukkan ketiga murid Sekte Puncak Awan beserta altar batu di belakang mereka.
Su Yue dan Ye Fan merasakan dada mereka sesak. Perbedaan ranah besar antara Pembangunan Yayasan dan Inti Emas bagaikan langit dan jurang.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Lin Tian justru tertawa.
"Kekuatan Inti Emas? Apa kau bercanda?"
Lin Tian melangkah ke depan, melindungi kakak dan adiknya. Matanya yang hitam pekat menatap telapak tangan ungu raksasa itu bukan dengan ketakutan, melainkan dengan rasa lapar yang ekstrem.
"Pukulan ini, bahkan tidak memiliki sepersepuluh dari tekanan aura Guruku saat beliau sedang menguap!"
Lin Tian melebarkan kedua tangannya. Sutra Iblis Penelan Surga dioperasikan hingga ke batas maksimal.
"Fisik Penelan Surga... Buka!"
Sebuah lubang hitam raksasa muncul tepat di atas kepala Lin Tian. Berbeda dengan saat ia melawan Master Sekte Api Biru, kali ini lubang hitam itu memancarkan aura iblis yang jauh lebih purba dan buas.
BUMMMMM!
Telapak tangan ungu berkekuatan Inti Emas itu menghantam lubang hitam. Angin badai menyapu seluruh kuil, menerbangkan pilar-pilar batu. Chu Yun dan murid-murid Istana tertawa gila, yakin bahwa Lin Tian akan meledak karena mencoba menahan serangan tersebut.
Namun, tawa mereka tercekik sedetik kemudian.
Telapak tangan raksasa itu tidak menghancurkan Lin Tian. Ia justru tenggelam... perlahan-lahan tersedot ke dalam lubang hitam itu, bagaikan lumpur yang ditelan oleh pusaran samudra.
"Urp!" Lin Tian bersendawa pelan, mengeluarkan sedikit asap ungu dari mulutnya. Kultivasinya kembali melonjak, memadat di tahap Lapis ke-3 Pembangunan Yayasan dengan sangat kokoh.
"R-Rasa jimatnya lumayan," ucap Lin Tian sambil tersenyum menyeringai ke arah Chu Yun yang kini telah jatuh terduduk di lantai dengan rahang ternganga. "Sekarang, giliranku mengembalikan sisa energi yang tak bisa kucerna."
Lin Tian mengayunkan beliung hitamnya. Sebuah gelombang kejut berbentuk bulan sabit yang dipenuhi energi pemusnahan ungu (gabungan dari serangan jimat dan energi Devouring) melesat ke arah rombongan Istana Matahari Ungu.
"T-TIDAAAK—!"
BLAAAAR!
Pintu masuk kuil langsung hancur lebur. Lima puluh jenius Istana Matahari Ungu lenyap dari muka bumi, terhapus menjadi ketiadaan tanpa sempat meninggalkan jeritan.
Hanya keheningan mutlak yang tersisa di Kuil Puncak Bintang.
Lin Tian membersihkan beliungnya dengan santai. Ye Fan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, lalu melangkah menuju altar untuk mengambil Hati Bintang Kuno dan puluhan gulungan warisan sekte masa lalu ke dalam cincin penyimpanannya. Su Yue menggunakan pedangnya untuk membongkar ubin-ubin marmer berharga dari dinding kuil.
Benar-benar mewujudkan perintah Guru mereka: Kosongkan semuanya.
Di Luar Reruntuhan (Lembah Kabut Jatuh)...
Tuan Istana Matahari Ungu sedang tersenyum ramah (dan sedikit menjilat) sambil mencoba membuka obrolan dengan Lin Chen yang masih bersantai di kereta singanya.
"Ah, Master Sekte Lin," ucap Tuan Istana, mencoba terdengar berwibawa. "Reruntuhan Bintang ini sangat berbahaya. Meskipun murid Anda jenius, terkadang kecelakaan bisa—"
Kata-katanya terputus oleh suara dentuman keras dari pusaran cahaya di dasar lembah.
WUSSH!
Pusaran cahaya bintang itu mendadak redup, lalu hancur berantakan. Tiga sosok muda yang berpakaian putih bersulam awan perak melayang keluar dengan elegan. Di belakang mereka, dimensi Reruntuhan Kuno itu perlahan-lahan runtuh karena inti energinya (Hati Bintang) telah dicabut.
Puluhan ribu orang menatap dengan bingung.
"Loh? Kenapa reruntuhannya ditutup?! Di mana murid-murid kita?!" teriak para Tetua sekte Bintang 2 dengan panik.
"Di mana Chu Yun?! Di mana para elit Istana kita?!" Tuan Istana Matahari Ungu memucat, firasat buruk mencekik tenggorokannya.
Ketiga murid itu tidak mempedulikan teriakan lautan manusia di bawah. Mereka terbang langsung ke atas Kereta Singa Emas dan berlutut di hadapan Lin Chen.
Ye Fan menyerahkan sebuah cincin penyimpanan yang memancarkan pendaran cahaya kosmik.
"Melapor pada Guru! Seluruh inti reruntuhan, termasuk Hati Bintang Kuno dan warisan berharganya telah kami amankan! Kami juga telah 'membersihkan' beberapa serangga yang mencoba mencurinya dari kami."
Lin Chen tersenyum lebar. Ia bahkan tidak perlu bertanya siapa 'serangga' yang dimaksud.
Di saat yang bersamaan, rentetan melodi surgawi dari Sistem meledak di benaknya tanpa henti.
[Ding!]
[Murid Tuan Rumah berhasil menjarah Reruntuhan Kuno Bintang!]
[Murid Tuan Rumah berhasil memusnahkan generasi muda Istana Matahari Ungu (Sekte Bintang 3)!]
[Reputasi Sekte Puncak Awan melonjak menembus langit!]
[Poin Reputasi +25.000!]
[Selamat! Tuan Rumah berhasil memicu Misi Tersembunyi: 'Dominasi Mutlak Wilayah Selatan'!]
Lin Chen menatap lautan manusia yang kini memandang sektanya dengan tatapan syok, ketakutan, dan keputusasaan.
"Kerja bagus, anak-anak," ucap Lin Chen sambil berdiri perlahan. Ia merentangkan tangannya, dan fluktuasi Inti Emas-nya menyapu lembah layaknya kedatangan tuhan.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi Istana Matahari Ungu. Wilayah Selatan... memiliki penguasa baru."