NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7—Rutinitas

Dimalam yang tenang, dengan suara burung hantu yang menjadi lantunan musik lembut. Sebuah gua tampak memancarkan cahaya redup dari dalamnya, cahaya itu terlihat berasal dari api kecil yang menyala tenang. Disana, seorang anak laki-laki duduk dibelakang ibunya seraya menggerakkan tangannya pelan. Ia mengambil sebuah kain bersih kemudian mencelupkannya kedalam tameng berisikan air, ia lalu mengusapkan pelan kain itu pada tubuh ibunya.

Raut wajahnya terlihat tenang, dengan sedikit kesabaran dalam setiap gerakkannya, karena ibunya terus memberontak dan menangis meminta di lepaskan. Namun tentu ia tak bisa melakukannya, sebab ibunya pasti akan menyakiti dirinya sendiri seperti sebelumnya.

Ia terus mengelus dengan pelan tubuh ibunya yang di penuhi oleh luka lebam dan cakaran yang ia lakukan sendiri. Setalah dirasa tubuh ibunya sudah bersih, ia kembali memakaikan pakaian sebelumnya tanpa ia ganti.

“Sebentar lagi ibu akan melahirkan, aku harus memberinya lebih banyak nutrisi dan obat-obatan.” Batinnya seraya bangkit dan segera merapikan tempat tidur sederhana di sudut gua. Alas itu tidak lebih dari beberapa batang kayu yang disusun rapat di atas tanah, ditutup dengan jerami kering, lalu dilapisi selembar kain tipis di atasnya. Ia menepuk-nepuk permukaannya, merapikan jerami yang menonjol agar terasa sedikit lebih nyaman. Gerakannya pelan dan teliti, seolah tempat tidur sederhana itu

adalah sesuatu yang berharga.

Di dekat tempat tidur itu juga terdapat dua kayu yang di tancapkan dengan kuat di kedua sisinya. Yang mana fungsi kayu itu tentu untuk menahan kedua tangan ibunya. Setelah semuanya rapi, ia membantu ibunya melepaskan ikatannya, tetapi belum sempat ia memasangkan kembali ikatan itu ibunya kembali memberontak. Ia menendang dan memukul Yuofan dan terus berusaha menarik tangannya dari genggaman Yuofan.

“Ibu, tenang. Ini hanya sementara,” ucap Yuofan seraya menahan dengan kuat tangan ibunya, yang dengan cepat ia ikatkan pada salah satu kayu disana. Begitupun dengan tangan satunya, ia mengikatkannya dengan kencang agar tidak bisa dilepas, tetapi juga tidak membuat ibunya terluka.

“Ibu istirahat dulu, ya.” ucapnya pelan seraya menarik kain penutup hingga menutupi tubuh wanita itu dengan rapi. Sesaat kemudian, Yuofan menunduk dan mencium kening ibunya dengan lembut, lalu ia duduk di sampingnya. Dengan suara pelan, ia mulai menyanyikan lagu pengantar tidur yang pernah sering ia dengar ketika masih kecil, lagu yang dulu dinyanyikan ibunya untuk menenangkannya setiap malam.

Kini ia lah yang menyanyikannya untuk membuat ibunya tenang.

Suara Yuofan tidak terlalu merdu, tetapi cukup lembut untuk mengisi kesunyian gua. Ia menyanyikannya perlahan, menjaga nadanya tetap tenang agar ibunya bisa terlelap dengan damai. Hingga setelah semua itu, ia pergi keluar dari gua dan membawa pedang hitam yang sempat ia simpan di sisi lain gua. Disana ia tidak langsung memanjat pohon tempat ia istirahat biasanya, karena ia menyadari bahwa tanganya tak akan mampu untuk mencengkram sela-sela pepohonan untuk memanjat.

Yuofan lalu duduk di bawah pohon dengan posisi menyender dan tubuh menghadap ke mulut gua, agar ia bisa tetap memperhatikan ibunya dari sana.

“Kau pasti masih kesal padaku?” Yuofan berkata pelan, tetapi pandangannya tidak beralih sedikitpun.

“Untuk apa bertanya jika kau sudah tahu jawabannya.” jawab Wuxu dengan ketus. Yuofan hanya terkekeh mendengarnya, ia sendiri tidak terlalu memperdulikan dan hanya ingin memanfaatkan Wuxu semaksimal mungkin.

“Ayolah, kau yang memulainya duluan. Mengapa malah kau yang marah pada ku? Aku hanya berusaha bertahan hidup, loh.” ucapnya seraya tersenyum mengejek.

“Ya, ya, ya. Begitupun dengan ku yang hanya ingin keluar!” ucap Wuxu membuat Yuofan menyipitkan matanya mendengar itu. “Huh? Ini kau sudah keluar? Apa masalah nya?” ucapnya membuat Wuxu berdecak kesal.

“Jika masalahnya adalah tubuh fisik, maka kau bisa tenang. Aku akan mencari cara untuk mu mendapatkan nya,” Yuofan berkata dengan tenang, tetapi Wuxu mendengarkannya penuh dengan rasa curiga.

“Namun sebelum itu, aku mau kau membantuku untuk menjadi lebih kuat. Karena jujur saja, aku juga tidak bisa mempercayai mu sepenuhnya, tetapi saat ini hanya kaulah peluang ku untuk memiliki kekuatan lebih.”

Wuxu menghela nafasnya. “Itu hal mudah untuk dilakukan, tetapi untuk mendapatkan tubuh fisik yang cocok tidaklah semudah itu.” Wuxu keluar dari dalam pedang menggunakan wujud yang lebih sederhana.

Ukuran tubuhnya saat ini tidak lebih besar dari sebuah apel, bahkan aura intimidasi sebelumnya sudah menghilang dari tubuhnya. Menyisakan tampilan kecil yang menggemaskan, membuat Yuofan menutup mulutnya menahan tawa.

“JIKA KAU TERTAWA, MAKA KESEPAKATAN INI GAGAL!” Wuxu melayang dengan cepat untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Yuofan dengan tatapan kesal. Sedangkan Yuofan mengangguk dengan cepat dan berusaha menelan humornya.

“Intinya, tubuh fisik yang bisa ku ambil harus memiliki esensi iblis didalamnya,” Wuxu melipat kedua tangannya didepan dada sembari menatap kearah Yuofan. “Dan aku rasa kau memiliki itu, walau aku tidak terlalu bisa merasakan nya.”

Yuofan mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Wuxu. “Tunggu, aku bukan iblis!” ucapnya menolak dikatakan sebagai ras iblis.

“Aku sendiri tidak paham, jika melihat ibu mu seharusnya kau memang bukan iblis.” ucap Wuxu seraya menoleh kearah dalam gua.

Hening sesaat, seolah mencari jawaban yang tak jelas arahnya. Hingga sebuah pikiran terlintas dari kedua sosok itu, membuat mereka tertegun dan saling tatap satu sama lain.

“Siapa ayahmu?”

“Apakah ayah ku?”

Keduanya berkata serempak.

Yuofan menepuk kedua tangannya, merasa sudah mendapatkan jawaban.

“Auch! Hati-hati sialan!” Wuxu merasakan rasa sakit di tangannya, begitupun dengan Yuofan yang lupa bahwa tangannya sedang terluka.

“Apa kau tidak pernah bertemu dengan ayah mu?” tanya Wuxu yang langsung jawab gelengan kepala oleh Yuofan.

“Entahlah, sedari kecil ibuku tidak pernah menceritakannya…” Yuofan melirik kearah ibunya.

Yuofan menceritakan bahwa dahulu ia sempat menanyakan tentang ayahnya kepada ibunya. Saat itu usianya lebih kecil dari saat ini, ia tidak terlalu ingat berapa usia pastinya. Kala itu ia hanya merasa heran mengapa keluarganya tidak sama seperti anak-anak lain yang ia lihat.

Namun pertanyaannya tidak dijawab. Ibunya hanya terdiam cukup lama, seolah tidak tahu harus berkata apa. Setelah itu, tanpa penjelasan apa pun, ia berbalik dan pergi meninggalkan Yuofan. Saat itu mereka sedang berada di luar rumah, di tengah keramaian sebuah kota yang asing bagi Yuofan. Ia yang ditinggalkan sendirian akhirnya berjalan tanpa arah, mencoba mencari ibunya di antara orang-orang yang berlalu lalang.

Namun ia tidak menemukannya kembali hari itu. Yuofan hanya mengingat bahwa ia sempat tersesat cukup lama di kota tersebut. Hingga beberapa hari kemudian ia akhirnya bisa kembali dan menemui ibunya yang bertingkah normal seolah Yuofan hanya bermain keluar. Bahkan sampai sekarang, ia tidak benar-benar ingat di mana tempat itu berada. Sejak saat itu ia tak berani lagi menanyakan terkait ayahnya, ia yakin bahwa kejadian itu adalah peringatan dari ibunya.

“Aish…” Wuxu menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Sudahlah, intinya kau memiliki darah iblis didalam tubuh mu. Untuk kejelasan yang pastinya bisa dicari nanti.” ujarnya yang di angguki oleh Yuofan.

“Aku akan melatih mu mulai besok, persiapkan dirimu.” Wuxu melayang terbang kembali kedalam pedang, sedangkan Yuofan menatap ibunya, kemudian terlelap dalam pikirannya sendiri.

1
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!