"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Namun sedetik setelah kalimat itu keluar dari bibirnya, Meli menggeleng kuat. "Tidak. Itu gila." Ia bahkan bisa merasakan hawa yang dingin. Cuaca malam ini terlalu menusuk, dan ia tahu benar betapa tak aman gang itu. Jika hujan turun, bayi-bayi ini bisa menggigil bahkan membeku, atau mungkin.....
"Sudahlah... ikut aku saja ke kosan. Memang sempit, memang seadanya... tapi setidaknya kalian nggak kedinginan." katanya lagi, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Ia terus berjalan, menelusuri jalan kecil yang biasa ia lewati sepulang kuliah. Sambil berjalan, pikirannya tak berhenti berputar.
"Besok gimana? Terus, kalau nggak ada yang ngakuin, kalian harus tinggal sama siapa? Aku? Aku bahkan belum bisa mengurus diri sendiri..."
Namun, di balik semua kegelisahan itu, ada sesuatu yang membuatnya tetap melangkah. Mungkin itu naluri. Mungkin itu kasih sayang. Atau mungkin... sebuah rasa tanggung jawab yang tiba-tiba tumbuh tanpa ia sadari.
Tanpa sadar, ia sudah tiba di depan pintu pagar kosannya. Jam menunjukkan hampir tengah malam. Ia menahan napas, mengintip sekeliling. Sunyi. Lampu-lampu kamar sudah mati, suasana sudah sangat sepi.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, ia mengendap-endap masuk. Berusaha agar tak ada yang mendengar suara derit pintu pagar atau dengusan nafas gugupnya. Ia tahu betul kalau penghuni kos lainnya tahu ia membawa dua bayi malam-malam begini, pasti akan ada masalah besar.
Beruntung, semuanya berjalan lancar. Tak ada satu pun penghuni yang keluar kamar. Meli bisa bernapas lega saat akhirnya berhasil membuka pintu kamarnya dan mengunci kembali dari dalam.
Ia meletakkan kardus itu perlahan di lantai, lalu terduduk di sisi tempat tidurnya yang sempit. Kamar mungilnya kini terasa jauh lebih kecil, namun juga lebih hangat.
Dua bayi itu mulai menggeliat, salah satunya mengeluarkan bunyi lirih tanda akan menangis. Meli buru-buru mendekat, menepuk pelan dada si bayi sambil berbisik
"Tenang ya, sekarang kalian aman. Aku... aku nggak tahu bisa jadi ibu atau bukan, tapi untuk malam ini... biar aku yang jaga kalian."
Ia menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia tak tahu akan seperti apa hari esok. Tapi yang pasti, malam ini dua bayi itu punya tempat berlindung—sementara.
Setelah memindahkan kedua bayi itu ke atas kasur tipisnya dengan hati-hati, Meli kembali memeriksa kardus yang tadi mereka tinggali. Ia menyingkapkan kain yang membungkus bagian dalamnya, berharap menemukan secarik kertas, nama, atau apapun yang bisa menjadi petunjuk tentang siapa orang tua dua malaikat kecil ini. Namun, satu-satunya yang ia temukan hanyalah sebuah kotak susu bayi dan dua buah dot yang dibungkus plastik bening seadanya.
"Cuma ini...?" gumam Meli pelan, napasnya mengembus panjang. Tak ada nama, tak ada alamat, tak ada tanda apa pun. Hanya dua benda yang seolah berkata bahwa bayi-bayi ini memang sengaja ditinggalkan untuk hidup, tapi bukan untuk kembali dijemput.
Hari itu sudah terlalu melelahkan untuk dilanjutkan dengan kesedihan baru. Dengan mata yang nyaris tak mampu terbuka, ia berbaring di sisi kasur, menatap langit-langit kamarnya yang sempit.
"Besok saja... besok aku pikirin semuanya," bisiknya, lalu memejamkan mata dengan dua bayi mungil yang kini tertidur di sisi nya, membawa pikiran baru dalam hidupnya yang bahkan belum stabil.
Pagi pun datang, tapi tidak seperti biasanya.
Jika biasanya Meli akan bangun pagi, bersiap ke kampus, dan mengejar jadwal kuliah, kali ini rutinitasnya berubah total. Tangisan bayi membangunkannya sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia terlonjak kaget, langsung duduk di kasur, dan mendapati dua bayi itu menangis bersahut-sahutan.
"Eh, eh, jangan nangis... pelan-pelan... kenapa sih?" katanya panik.