Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Bayangan di Pinggir Arus
Dingin yang luar biasa menghantam seluruh pori-pori kulit Aruna saat tubuhnya tenggelam ke dalam sungai yang mengamuk. Suara teriakan Arvand dan ledakan di atas sana seketika senyap, digantikan oleh gemuruh air yang memutar tubuhnya seperti daun kering. Paru-parunya terasa meledak, rasa sakit dari luka panah di punggungnya semakin menjadi-jadi saat terkena air sungai yang dingin dan deras.
Aku akan mati... lagi, pikir Aruna di tengah kesadarannya yang kian menipis.
Namun, di tengah kegelapan air, sebuah cahaya biru redup muncul di depan matanya.
Protokol Darurat Aktif.
Oksigen Cadangan: 3 Menit.
Status: Mencari titik pendaratan aman.
Aruna merasa pakaiannya yang berat tersangkut sesuatu. Sebuah akar pohon yang menjulur ke sungai menahan laju tubuhnya. Dengan sisa tenaga yang hampir mustahil, ia mencengkeram akar itu, menarik kepalanya keluar ke permukaan. Ia terbatuk hebat, mengeluarkan air sungai yang terasa amis dan anyir.
Pandangannya kabur, tapi ia melihat siluet seseorang berdiri di tepian sungai yang dangkal, hanya beberapa meter darinya. Orang itu memegang sebuah lampion bambu yang cahayanya bergoyang-goyang ditiup angin malam.
"Jadi, kau memilih untuk melompat?" Suara itu rendah dan sangat tenang, kontras dengan gemuruh air di sekitarnya.
Aruna mencoba bicara, tapi hanya erangan kecil yang keluar. Tangannya terlepas dari akar pohon karena licin oleh darah. Sebelum ia kembali hanyut, sebuah tangan yang kuat mencengkeram kerah bajunya dan menariknya ke daratan dengan satu sentakan bertenaga.
Aruna terkapar di atas pasir sungai yang kasar. Ia mendongak dan melihat Pangeran Kaelan berdiri di sana, menatapnya tanpa ekspresi. Jubah birunya sudah basah kuyup, tapi ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja melompati jurang.
"Pangeran..." Aruna terbatuk lagi, darah segar menetes dari bibirnya. "Kenapa... kamu di sini?"
Kaelan berjongkok di sampingnya, meletakkan lampion di atas batu. "Arvand mengira kau hanyut terbawa arus jauh ke hilir. Dia sedang mengamuk di atas sana, membantai sisa-sisa pasukan Selina. Dia tidak tahu ada jalur pintas di balik air terjun ini."
"Bantu aku... berdiri," pinta Aruna.
"Untuk apa? Kembali ke atas? Kau hanya akan menghambatnya," Kaelan meraih lengan Aruna yang terluka. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dan menyiramkannya ke luka panah Aruna.
"Argh! Sakit!" Aruna memekik, tubuhnya melengkung menahan perih yang seperti dibakar.
"Ini untuk mematikan racun lili hitam yang tersisa. Jika tidak, kau akan lumpuh sebelum matahari terbit," Kaelan menatap Aruna dalam-dalam. "Katakan padaku, Aruna. Kenapa kau begitu terobsesi melindungi anak yang bahkan bukan darah dagingmu? Ratri yang asli tidak akan pernah melakukan ini."
Aruna menatap mata Kaelan yang tajam. Ia merasa rahasianya terancam, tapi ia terlalu lemah untuk berbohong dengan rumit. "Karena aku tahu rasanya tidak diinginkan. Dan Arel... dia hanya anak kecil yang terjepit di antara ambisi orang dewasa."
Kaelan terdiam sejenak. Ia menyandarkan tubuh Aruna ke sebuah batang pohon besar. "Kau benar-benar wanita yang aneh. Dan keanehanmu ini mulai menarik perhatian orang-orang yang berbahaya, bukan cuma Selina."
"Apa maksudmu?"
"Selina hanya bidak kecil. Kau pikir siapa yang memberikan teknologi panah pembelok itu padanya? Itu adalah senjata rahasia dari Kerajaan Utara," Kaelan berdiri, mematikan cahaya lampionnya. "Sekarang, diamlah. Ada seseorang yang datang."
Aruna menahan napas. Dari balik rimbunnya semak-semak, terdengar langkah kaki yang berat dan terburu-buru. Bau keringat dan besi tercium kuat. Arvand muncul dari kegelapan, wajahnya penuh coretan abu dan darah. Matanya liar, mencari-cari di sepanjang pinggiran sungai.
"Ratri!" teriak Arvand. Suaranya pecah, ada keputusasaan yang tidak pernah Aruna duga sebelumnya.
Aruna ingin menjawab, tapi Kaelan tiba-tiba menutup mulut Aruna dengan tangannya. "Jangan dulu," bisik Kaelan tepat di telinga Aruna. "Biarkan dia merasa kehilanganmu sebentar lagi. Aku ingin melihat sejauh mana jenderal ini akan bertindak untukmu."
"Kau gila," desis Aruna di balik jemari Kaelan.
Arvand jatuh berlutut di pinggir sungai, tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi. Ia memukul tanah dengan kepalan tangannya hingga berdarah. Di belakangnya, Arel berlari mendekat, wajah bocah itu sembab karena tangis.
"Ayah... Ibu mana? Ibu tidak mungkin hilang, kan?" Arel menarik-narik jubah Arvand.
Arvand tidak menjawab. Ia hanya memeluk Arel erat-erat. Untuk pertama kalinya, sang jenderal yang tidak terkalahkan itu meneteskan air mata di depan putranya. "Maafkan ayah, Arel. Ayah gagal menjaganya."
Melihat pemandangan itu, hati Aruna serasa diremas. Ia melepaskan tangan Kaelan dengan paksa. "Cukup main-mainnya, Kaelan."
Aruna mencoba merangkak keluar dari kegelapan bayangan pohon. "Aku... aku di sini..."
Arvand tersentak. Ia menoleh ke arah suara itu. Dalam satu gerakan cepat, ia sudah berada di depan Aruna, mengangkat tubuh wanita itu dan memeluknya begitu erat hingga Aruna sulit bernapas.
"Kau masih hidup... Demi dewa, kau masih hidup," gumam Arvand berulang kali di ceruk leher Aruna.
Arel ikut menubruk mereka berdua, menangis keras di pelukan Aruna. "Ibu jangan pergi lagi! Aku janji tidak akan nakal!"
Aruna mengusap kepala Arel dengan tangannya yang gemetar. "Iya, Sayang. Ibu tidak akan pergi."
Kaelan melangkah keluar dari kegelapan, wajahnya kembali dingin seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku menemukannya tersangkut di akar pohon tadi, Jenderal. Kau beruntung arus sungai kali ini sedang berbaik hati."
Arvand menatap Kaelan dengan tatapan penuh curiga dan terima kasih yang campur aduk. "Aku berutang nyawa padamu, Pangeran. Tapi kenapa kau bisa ada di sini secepat ini?"
"Hutan ini adalah tempat bermainku sejak kecil, Arvand. Aku tahu setiap lekukannya," jawab Kaelan santai. "Sekarang, sebaiknya kita segera pergi. Pasukan bantuan Barka mungkin sudah dekat."
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak rahasia yang ditunjukkan Kaelan. Arvand menggendong Aruna di punggungnya, sementara Arel berjalan di samping mereka sambil memegang ujung baju Arvand. Di tengah perjalanan, Aruna menyadari sesuatu. Ia meraba pinggangnya. Kotak perak pemberian Master Daryan tadi masih ada, terselip di balik ikat pinggangnya yang robek.
Ia membukanya sedikit dengan gerakan sembunyi-sembunyi. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil dan gulungan kertas kulit yang sangat tua.
Sistem Karma Ibu Mendeteksi Objek Baru.
Nama Objek: Kunci Rahasia Ruang Bawah Tanah Lady Ratri.
Peringatan: Membuka rahasia ini dapat mengubah seluruh plot dunia ini.
Aruna menelan ludah. Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh pemilik tubuh ini sebelumnya? Apakah Ratri yang asli memang sejahat itu, atau ada alasan lain di balik kekejamannya?
Tiba-tiba, langkah Arvand terhenti. Ia meletakkan Aruna di bawah pohon dan menghunus pedangnya kembali. Dari arah depan, puluhan obor mulai terlihat mendekat. Tapi kali ini, mereka bukan prajurit bayaran. Mereka mengenakan seragam resmi istana, namun ada lambang burung gagak hitam di bahu mereka. Lambang pasukan rahasia Kaisar.
"Jenderal Arvand," suara seorang pria tua terdengar dari barisan terdepan. "Atas perintah Kaisar, Anda ditahan atas tuduhan bekerja sama dengan pemberontak Barka dan melakukan pembantaian di kuil suci."
Arvand tertawa sinis. "Pembantaian? Aku melindungi keluargaku dari pembunuh!"
"Buktinya sudah ada, Jenderal. Lady Selina ditemukan tewas dengan tanda-tanda penyiksaan, dan kau ditemukan bersama Pangeran Kaelan yang seharusnya berada di pengasingan," pria itu menunjuk ke arah Kaelan.
Aruna menatap Kaelan. Pengasingan? Jadi dia selama ini menyelinap keluar?
"Bawa mereka semua! Jika melawan, bunuh di tempat!" perintah pria tua itu.
Arvand menatap Aruna dan Arel. Ia tahu, dalam kondisi luka-luka, melawan pasukan segar ini adalah bunuh diri. Namun, menyerah berarti masuk ke dalam jebakan politik yang lebih mematikan.
Di saat genting itu, Kaelan mendekat ke telinga Aruna. "Aruna, kunci di tanganmu itu... itu bukan kunci ruangan. Itu kunci gudang senjata rahasia di bawah istana. Jika kau ingin menyelamatkan suamimu, kau harus memberikan kunci itu padaku sekarang."
Aruna menatap kunci di tangannya, lalu menatap Arvand yang siap bertaruh nyawa sekali lagi. Ia dihadapkan pada pilihan sulit... mempercayai pangeran misterius yang tahu rahasianya, atau membiarkan suaminya hancur di tangan fitnah istana.
"Pilih cepat, Aruna. Anak panah mereka sudah dibidik," bisik Kaelan lagi.
Baru saja Aruna ingin bicara, sebuah anak panah melesat dan menancap tepat di depan kaki Arel.
Apakah Aruna akan menyerahkan kunci rahasia itu kepada Kaelan demi keselamatan keluarganya? Ataukah ia akan menggunakan kunci itu sendiri untuk mengungkap siapa sebenarnya dalang di balik semua kekacauan ini?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.