Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29# Tidak mau dia tinggal di sini
Menjelang sore Aiden bersama keluarga kecilnya baru sampai di rumah, tadi mereka mampir untuk jajan di pinggir jalan. Tentu saja semua itu untuk Alvian yang mau jajan batagor dan cireng, Aiden tak habis pikir bagaimana putranya bisa mengenal makanan tersebut.
Belum juga mereka turun dari mobil, Karin harus menerima kenyataan yang ada di hadapannya. “Jailangkungmu sudah datang tuh, mas.” Karin kesal saat melihat mobil Nala sudah ada di halaman parkir rumahnya.
“Aku bicara dengan mama nanti,” jawab Aiden. “Paling kamu kalah lagi sama mama,” balas Karin, dia membuka pintu mobil dengan pelan karena Alvian masih tidur dalam pelukan mamanya.
Aiden buru-buru ikut turun, dia hendak mengambil alih putranya dari gendongan Karin. Namun istrinya tersebut melarang. “Mas bawa itu belanjaan saja! Nanti aku di kata istri manja, nyuruh suami gendong anak. Heran! Drama banget hidup mereka,” gerutu Karin, dia berjalan masuk ke dalam rumah.
Aiden justru tersenyum mendengar istrinya menggerutu, lebih baik mendengar Karin marah-marah dari pada diam. Wanita kalau sudah diam begitu mengerikan, tidak bisa di tebak apa yang di mau. Dia bukan cenayang yang bisa tahu isi pikiran istrinya, karena itu Aiden lebih lega ketika Karin ngomel dalam bentuk apapun.
Dia kemudian menyusul istrinya masuk ke dalam rumah.
“Aiden! Bisa-bisanya kamu meninggalkan Nala sendirian di restoran,” baru saja mereka bertiga masuk ke dalam rumah, bukan ketenangan yang Karin dapatkan. Melainkan tantrumnya mama mertuanya karena Aiden tadi minta Nala pulang sendiri.
“Hiks...” Alvian sedikit terusik dengan nada tinggi sang nenek.
Karin mengusap-usap punggung putranya agar kembali tenang.
“Tolong pelankan suara mama! Vian sedang tidur,” kesal Aiden pada mama Ayu.
Mama Ayu melihat kearah Karin yang tengah menenangkan putranya. “Sudah puas kelayapan seharian, haah? Suami pulang kerja harusnya kamu layani, Karin. Tapi kamu justru baru pulang bersamaan Aiden sampai rumah,”
“Hiks...eheks,” Alvian kembali mengeliat dan mulai merengek. “Ssst...Vian bobok lagi,” Karin kembali mengusap-usap punggung putranya.
“Aku keatas dulu, mas! Alvian harus bebas dari gangguan saat dia tidur,” pamit Karin diangguki Aiden.
Karin berlalu begitu saja meninggalkan mama Ayu, Nala dan Aiden yang masih ada di ruang tamu. Dia tidak perduli jika mertuanya makin tantrum padanya, karena Alvian lebih penting dari sekedar tantrumnya sang mertua. Karin masuk ke dalam dan naik ke lantai atas untuk menidurkan putranya.
Sementara itu Aiden masih tinggal di ruang tamu bersama mama Ayu dan Nala, perempuan itu berdiri di samping mama Ayu dengan wajah yang di buat memelas. Sedangkan mama Ayu masih mengoceh memarahi putranya karena meninggalkan Nala sendirian di restoran.
“Mama sudah bilang padamu, Aiden. Jemput Nala dan antar sampai rumah, ban mobilnya bocor. Ini malah kamu tinggal sendiri dan suruh naik taksi, kalau dia kenapa-napa bagaimana? Kamu bilang apa nanti pada tuan Robert,”
“Nala sudah dewasa, ma. Dia tidak akan kenapa-napa, buktinya sekarang dia ada di sini. Mobilnya juga sudah baik-baik saja, jadi mama tidak perlu berlebihan seperti itu.” Aiden berlalu meninggalkan mama Ayu dan Nala, mama Ayu bahkan sudah meneriaki putranya tersebut.
Tapi Aiden tidak perduli, dia lelah sekali dan ingin istirahat sejenak sebelum malam nanti menyempatkan bermain dengan putranya. Terlebih sang istri bilang kalau besok Alvian mulai masuk sekolah, malam nanti dia ingin tidur bertiga dengan anak dan istrinya.
Aiden masuk ke dalam kamarnya, begitu masuk dia sudah di suguhi pemandangan menghangatkan hati saat melihat anak dan istrinya tidur dengan lelap. Aiden bergegas ganti baju dan ikut naik keatas tempat tidur menyusul mereka, dia tidak perduli meskipun hari masih sore. Aiden memandangi wajah Alvian dan Karin, wajah-wajah yang membuatnya merasa tenang, dia kemudian meng3cup kening putranya dan bergantian meng3cup kening sang istri. Setelah itu dia ikut tertidur di samping sang istri hingga waktunya makan malam tiba barulah ketiganya bangun.
***
Tok...Tok
“Maaf pak, bu. Waktu magrib hampir habis, makan malam sebentar lagi juga siap. Jadi Nanik bangunkan,” ternyata Nanik yang mengetuk pintu kamar Karin.
“Iya mbak Nanik. Terimakasih,” jawab Karin dari dalam kamar.
“Sama-sama, bu.” Nanik lantas kembali ke bawah untuk melanjutkan pekerjaannya.
Karin hendak bangun, namun tubuhnya terjebak di tengah-tengah antara suami dan putranya. Kaki kanan putranya bahkan sudah ada di pinggangnya, sedangkan tangan Aiden melingkar di perut Karin.
Karin menghela napas, dengan hati-hati dia menurunkan kaki Alvian.
“Mama...” Karin langsung menepuk-nepuk paha Alvian agar kembali tidur, setelah itu dia membangunkan suaminya.
Karin menggoyangkan lengan Aiden yang melingkar di perutnya. “Bangun, mas! Magrib hampir habis,”
“Hmm,” bukannya melonggarkan tangannya, dia malah menarik tubuh Karin mendekat. Aiden bahkan meng3cup bahu istrinya tersebut, kesal sang suami tidak segera bangun, akhirnya Karin menggeplak Aiden.
Plak
“Bangun, mas! Vian belum mandi,”
Aiden mengerjap. “Jam berapa?”
“Jam enam sore,”
Aiden langsung bangun begitu mendengar sang istri bilang sudah jam enam sore, dia bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Begitu juga dengan Karin, tidak biasanya memang keduanya tidur di sore hari. Namun hari itu energi Karin dan Aiden seolah terkuras, selain itu Karin juga tidak ingin ada drama antara dirinya dan juga sang mertua. Jadi dia memilih menemani Alvian tidur, dan berakhir dirinya dan sang suami ikut tidur.
Aiden tiba-tiba memeluk Karin dari belakang, dia menyandarkan dagunya pada bahu sang istri.
“Maaf untuk hari ini, makan siang kita jadi kacau. Vian juga jadi rewel,” ucap Aiden pada sang istri.
Karin memutar tubuhnya menghadap Aiden. “Aku tidak masalah kamu dan Nala ada dalam satu pekerjaan yang sama, mas. Tapi aku tidak mau dia tinggal di sini,”
Aiden mengangguk. “Aku tahu, sayang. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana mama,”
“Mama Ayu tidak akan berubah, mas. Kecuali kamu tegas dalam bersikap,” sayangnya Karin agak ragu kalau Aiden bisa tegas pada mama Ayu, meskipun bisa di katakan mertua Karin tersebut pernah menelantarkan Aiden.
Aiden hanya bisa mengangguk, dia tidak menjanjikan apapun pada Karin. Hal itu karena Aiden tidak mungkin mengatakan pada istrinya kalau mama Ayu mengancam akan membuka tentang Alvian, dia tidak mau Karin makin sedih dan gelisah.
Aiden juga tidak mau Alvian nanti mengalami perundungan, bukan Alvian yang salah jika dia hadir ke dunia ini. Tapi mama dan papanya yang bersalah, mereka juga sudah menyadari kesalahan di masa lalu. Hanya saja ada orang-orang yang ternyata memanfaatkan kesalahan mereka, lebih menyakitkan lagi salah satu orang tersebut adalah mama kandung Aiden sendiri.
“Soal Nala kita bicarakan nanti setelah makan malam, mas. Bangunin dulu itu anak tampan, dia harus mandi. Aku siapkan air untuk mandi Vian dulu,” Karin melepaskan rangkulan Aiden dari pada dirinya.
Aiden membangunkan putranya, sementara Karin menyiapkan semua keperluan mandi dan baju putra tercintanya.
Mereka bertiga sudah selesai membersihkan diri, ketiganya turun ke lantai satu untuk makan malam. “Papa gendong Pian di bahu!” pinta Alvian pada sang papa.
“Siap pangeran,” Aiden mengangkat tubuh putranya dan menaruhnya di bahu. “Pangerannya papa dan mama terbang,” Aiden sedikit ke kanan dan ke kiri seolah membuat Alvian terbang.
Mereka bertiga menuju ruang makan, semua hidangan sudah ada di meja makan.
“Cumala ngapain di lumah Pian?” Alvian menunjuk Nala yang duduk di kursi tempat biasanya Karin duduk.
“Mulai malam ini aunty tinggal di sini sama Vian. Aunty kan calon mamanya Vi...”
“Ini meja makan, Nala! Sebaiknya kamu diam atau pergi dari sini,” potong Aiden sebelum Nala melanjutkan ucapannya, Aiden tidak jadi duduk di kursi kebesarannya saat melihat Nala duduk di kursi milik Karin.
Dia justru duduk di samping sang istri, Karin hanya diam. Modnya baru saja naik, tapi harus kembali hancur karena Nala. Namun Karin berusaha tetap bersikap tenang dan santai, dia tidak mau menunjukkan kalau dirinya mengalah begitu saja.
Sementara itu Nala tersenyum sinis. Lihat saja, Karin! Aku pasti kembali mendapatkan Aiden, dan kamu yang akan keluar dari rumah ini. Aku akan merebut suami dan anakmu.