Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33# Hari pertama Alvian sekolah
Pagi itu Aiden memilih untuk membawa istri dan anaknya sarapan pagi di luar, dia tidak mau mengambil resiko ada drama pagi yang membuat mod sang istri jungkir balik terlebih hari itu adalah hari milik putranya.
Karin tentu menyambut dengan suka cita ide suaminya tersebut, beruntung saat mereka turun ke lantai bawah baik Nala maupun mama Ayu belum ada di meja makan. Jadi mereka bergegas keluar rumah setelah Karin bilang pada mbak Nanik kalau mereka sarapan di luar.
Aiden membawa mereka ke sebuah cafe dua puluh empat jam yang tersedia menu untuk sarapan. Alvian terlihat gembira, dia menggandeng tangan kedua orang tuanya sambil menggoyangkan tangan ke depan dan ke belakang.
“Adek senang?” tanya Karin diangguki Alvian.
“Cetiap hali cepelti ini Pian ndak nolak lho ini, mama. Celalu beltiga ndak ada Cumala lampil,” jawaban Alvian membuat Karin menatap sendu putranya.
Aiden menoleh pada Karin yang sedang menatap sendu putra mereka, rasa bersalah muncul di benak Aiden.
“Boleh, tapi tidak setiap hari. Papa usahakan,” sahut Aiden yang lansung mendapatkan tatapan tidak percaya dari Karin dan Alvian, Aiden langsung mengerutkan dahi. “Beneran. Papa usahakan nanti,” lanjutnya meyakinkan anak dan istrinya.
“Aku tidak ikutan kalau Vian tantrum karena mas ingkar janji,”
“Papa ndak kacih Pian halapan palcu, kan? Pian ini bukan onty Yaya yang mudah di bujuk pake ec klim,” celetuknya yang ingat kalau Alya selalu luluh saat di bujuk Rayen dengan es krim.
Aiden mengangguk, dia kemudian membawa anak dan istrinya masuk ke dalam cafe. Karin dan Alvian duduk di kursi yang mereka pilih, sementara Aiden memesankan keduanya sarapan dan juga bekal untuk snack putranya.
Aiden menyusul keduanya setelah memesan yang mereka inginkan.
“Hari ini kamu yang jemput Vian tidak apa kan, sayang? Aku ada meeting dan sepertinya sampai setelah jam makan siang,”
Karin mengangguk. “Tidak apa-apa, mas. Sekalian aku mampir ke rumah mama, dia kangen sama Vian. Sudah lama juga kita tidak ke sana,”
“Oke. Salam sama mama dan papa,”
Mereka kemudian berhenti ngobrol karena sarapan yang mereka pesan sudah datang. Aiden memesan nasi goreng spesial dan omlet untuk sarapan pagi mereka, dia juga memesan roti bakar coklat keju kacang favorit putranya untuk bekal camilan ke sekolah. Dia juga memesankan americano untuk dirinya juga sang istri dan susu coklat untuk Alvian.
“Adek di suapi papa dulu, ya! Mama potongin roti buat bekal adek,” Alvian mengangguk.
Bocah tiga tahun itu menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung di kursi. “Di cini cenang di cana cenang, di cuapi papa cenang cekali. Hatiku belbunga-bunga,” ocehnya membuat gelak tawa bahkan beberapa pengunjung ikut tertawa melihat tingkah Alvian.
Aiden terharu mendengar ocehan putranya, dia mengusap kepala Alvian. Papa akan lakukan apapun agar senyum bahagia selalu ada untukmu, nak. Papa dan mama akan mengusahakan yang terbaik untuk Alvian.
Selesai sarapan mereka langsung bergegas menuju sekolah Alvian, bocah tampan itu terlihat antusias saat melihat anak-anak seusianya berjalan masuk ke dalam sekolah bersama dengan papa dan mama mereka.
“Kakak Aletha cekolah di cini juga ya, mama?”
“Kakak Aretha kan usianya lebih besar dari adek, jadi sekolahnya tidak di sini. Tapi sekolahnya kakak Aretha ada di depan sana!” sekolah Aretha memang beda dari sekolah Alvian, namun sekolah mereka masih satu yayasan.
Alvian mengangguk-angguk, entah bocah itu paham atau tidak hanya dia yang tahu. Untuk hari pertama mereka mengantar Alvian sampai di depan kelas, Aiden dan Karin juga menunggu sampai sesi perkenalan. Mereka menunggui di luar kelas, melihat putra mereka dari jendela luar kelas.
Tiba-tiba Karin mengusap kedua sudut matanya yang mulai berair, Aiden memeluk sang istri dari samping. “Terimakasih sudah membesarkan putra kita dengan sangat baik,” dia mengecup puncak kepala Karin yang tertutup hijab warna pastel. "Kamu adalah mama terhebat,"
Karin mengeratkan pelukannya pada Aiden. “Dia cepat sekali besar, mas. Rasanya baru kemarin dia bisa jalan, sekarang sudah masuk sekolah. Rumah jadi sepi,”
“Lagi ngode atau bagaimana ini, hmm?” Aiden menaik turunkan alisnya.
“Kode apa?” Karin belum peka dengan maksud suaminya. “Buat adik untuk Vian,” bisiknya di telinga Karin. “Mas!” kedua pipi Karin bahkan sudah merona, hal tersebut membuat Aiden terkekeh.
***
Setelah mengantar Alvian, Karin pulang di jemput supir pribadi mereka. Sedangkan Aiden langsung menuju kantor, hari itu jadwalnya memang lumayan padat. Dia harus menghadiri meeting berbeda di hari yang sama, Aiden mulai memikirkan ucapan istrinya semalam. Karin memberikan saran padanya tentang merger antara Aikav dengan Setyadarma, tentu hal tersebut harus dia bicarakan dengan papa Harun.
“Om Harun sudah sampai, San?”
“Baru lima menit lalu sampai, pak. Masih ngobrol dengan pak Rega via telepon,” Sandi menyerahkan beberapa berkas untuk Aiden periksa.
Aiden mengangguk. “Terimakasih, San. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu,”
“Baik, pak. Saya kemari lagi kalau meeting sudah siap,” Sandi pamit keluar dari ruangan Aiden.
Aiden kemudian memeriksa beberapa berkas sebelum meeting di mulai, dia harus fokus karena hari ini dia punya dua agenda meeting yang berbeda. Tiga puluh menit berikutnya Sandi kembali ke ruangan Aiden, selain mengambil berkas dia juga memberitahu kalau meeting akan segera di mulai. Aiden beranjak dari singgasananya, sebelum ke luar dari ruangan dia sempat menoleh pada figura kecil yang ada diatas meja.
“Papa kerja dulu, sayang. Semua demi mama dan Vian,” monolognya mengusap figura tersebut, Sandi tersenyum melihat apa yang di lakukan atasannya tersebut. Berada di samping Aiden sebagai asisten selama empat tahun membuat Sandi mengenal betul sosok sang Atasan.
Mereka bergegas menuju ruang meeting, semua divisi sudah ada di sana termasuk papa Harun. Aiden langsung menghampiri pemilik Setyadarma tersebut, dia menyapa partner kerja sekaligus pamannya.
“Om dan tante kapan pulang?” Aiden menyapa papa Harun, dia merangkul paruh baya tersebut. Papa Harun membalas pelukan Aiden, dia menepuk-nepuk punggung keponakannya tersebut. “Semalam, nak. Alvian dan Karin sehat?”
Aiden mengangguk. “Alhamdulillah, om. Hari ini Vian mulai sekolah,”
Keduanya kembali duduk dan fokus untuk mulai meeting pagi itu, di sana juga ada Nala yang baru saja datang. Dia terus menatap Aiden yang sedang melakukan presentasi program kerjanya di podium. Hal tersebut tidak luput dari perhatian papa Harun, hingga dia mengkode Sandi untuk mendekat.
“Iya, tuan Harun. Ada apa?” lirih sandi sedikit membungkuk di samping papa Harun yang duduk.
“Sepertinya Nala terus menatap Aiden. Apa yang tidak aku tahu, San?” lirih papa Harun bertanya pada Sandi.
“Nona Nala mantan tunangan pak Aiden, tuan. Saya dengar saat ini dia tinggal di rumah pak Aiden atas keinginan bu Ayu,”
“Apa?” terkejut papa Harun mendengar ucapan Sandi, dia menggeleng tidak percaya dengan apa yang di lakukan mantan adik iparnya tersebut.
Dia harus bicara dengan Aiden setelah meeting selesai, bagaimanapun papa Harun sudah menganggap Aiden putranya sendiri. Dia tidak ingin rumah tangga sang keponakan harus berakhir seperti kedua orang tua Aiden, terlebih saat papa Harun ingat Alvian cucunya. Bocah tiga tahun yang begitu menggemaskan dan cerdas itu tidak akan dia biarkan rumahnya hancur berkeping-keping.