Kimberly kembali ke negaranya bersama ke empat anak kembarnya untuk membawa anak sulungnya yang terpaksa dititipkan oleh seorang pria. Di mana pria tersebut adalah seorang CEO yang terkenal dengan kekejamannya dan super dingin.
Kimberly hamil di luar nikah karena melakukan hubungan satu malam dengan seorang pria. Di mana saat itu Kimberly di jebak oleh Ibu tirinya dan adik tirinya demi mendapatkan warisan yang ditinggalkan oleh Ibunya.
Selain ingin membawa putra sulungnya, Kimberly berniat membalaskan dendam terhadap Ibu tirinya dan juga adik tirinya dengan cara menikah dengan pria yang membuat dirinya hamil.
Akankah rencananya berjalan lancar? Apakah pernikahan Kimberly berakhir bahagia atau bercerai? Mengingat banyak orang yang ingin memisahkan hubungan mereka. Ikuti yuk novel terbaruku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Kamu Diam Saja?
Kimberly yang mendengar hal itu langsung kembali memegang ke dua pipi Diego agar menatap dirinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Diego dengan nada kesal.
"Lihat Aku! Bukannya kamu bilang matamu sudah sembuh? Sepertinya pernikahan kita membawa keberuntungan, bukan?" Tanya Kimberly mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum manis.
Sambil berbicara Kimberly memalingkan wajahnya sekilas ke arah Alexander lalu memberikan kode agar Alexander segera pergi. Alexander yang mengerti langsung berlari meninggalkan kamar Diego.
Sedangkan Diego yang masih penasaran memalingkan wajahnya ke arah ke dua putranya tanpa mempedulikan pertanyaan Kimberly. Namun dirinya sangat terkejut karena hanya ada satu anak yaitu Arnold.
"Kenapa sekarang hanya satu? Tadi jelas-jelas ada dua anak kecil di sini. Dia sangat mirip sekali dengan Arnold, siapa anak kecil itu?" Tanya Diego sambil menatap ke arah Kimberly untuk meminta penjelasan.
"Mana ada anak kembar? Matamu mungkin berhalusinasi. Kalau tidak percaya, coba tanya saja sama Arnold." Ucap Kimberly sambil menunjuk ke arah Arnold.
"Di kamar ini dari awal sampai akhir cuman hanya ada satu anak yaitu Arnold." Sambung Kimberly.
"Arnold, benarkah apa yang dikatakannya?" Tanya Diego.
Arnold langsung menatap ke arah Kimberly sedangkan Kimberly yang di tatap hanya mengatupkan ke dua tangannya sambil memasang wajah memelas dan menganggukan kepalanya berulang kali.
Arnold yang mengerti kode tersebut hanya menganggukkan kepalanya ke arah Diego. Hal itu membuat Kimberly menghembuskan nafasnya dengan lega.
Sedangkan Diego hanya terdiam dengan wajah sangat kecewa. Entah kenapa dirinya sangat berharap kalau dirinya bisa memiliki anak kembar.
Kimberly yang melihat hal itu merasa bersalah namun dirinya tidak memiliki pilihan lain. Kimberly kemudian mengambil kain berwarna hitam yang biasanya digunakan untuk menutup ke dua mata Diego dari atas meja dekat ranjangnya.
"Matamu baru saja sembuh jadi untuk sementara jangan terpapar cahaya yang terlalu terang." Ucap Kimberly sambil duduk di sisi ranjang.
Kimberly kemudian memakaikan kain penutup mata ke arah mata Diego. Setelah selesai memakaikan dan mengikatnya Kimberly berdiri namun Diego tiba-tiba menarik pinggangnya.
Hal itu tentu saja membuat Kimberly sangat terkejut bersamaan Kimberly duduk saling berdekatan bahkan wajah mereka nyaris bersentuhan. Kimberly menjauhkan wajahnya dan berusaha berdiri dengan tegak namun Diego memeluknya pinggangnya dengan erat.
Kimberly terpaksa duduk berdekatan dengan Diego sambil ke dua tangannya memegang ke dua bahu Diego agar dirinya tidak jatuh.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa begitu kamu datang mataku langsung bisa melihat?" Tanya Diego penasaran.
Karena selama ini dirinya berobat dengan memanggil dokter-dokter hebat namun tidak berhasil. Tapi sejak kedatangan Kimberly dirinya bisa melihat dan dirinya sangat bahagia sekaligus penasaran apa yang dilakukan Kimberly.
"Emmm .... (sambil berusaha melepaskan pelukan Diego lalu berdiri dengan tegak) ... Mungkin ketulusanku telah menggerakkan hati langit." Jawab Kimberly penasaran.
Diego yang ingin bertanya terpaksa tidak jadi karena seorang pelayan tiba-tiba datang dengan wajah kuatir.
"Nyonya Muda Diego, ada masalah. Nyonya Besar Kedua bilang kalau Nyonya Muda Diego memukul ke dua cucunya dan Nyonya Besar Kedua memintaku untuk memanggil Nyonya Muda Diego untuk turun." Ucap Pelayan.
"Baik." Jawab Kimberly dengan singkat.
Kemudian Kimberly menatap ke arah Diego lalu menatap ke arah Arnold sambil tersenyum.
"Arnold, ayo ikut Mommy." Ajak Kimberly.
"Baik, Mom." Jawab Arnold dengan patuh.
"Diego, Aku akan mengajak Arnold ke bawah." Pamit Kimberly.
"Oke." Jawab Diego dengan singkat.
Kemudian Kimberly pergi meninggalkan Diego sambil menggandeng tangan Arnold mengikuti langkah pelayan tersebut ke arah lift.
Sedangkan di tempat yang sama namun berbeda ruangan di mana dua wanita paruh baya dan dua anak kecil sedang duduk di kursi sofa. Dimana salah satu wanita paruh baya tiba-tiba berdiri sambil marah-marah.
"Nona Baskoro si alan! Turun kamu sekarang!" Teriak seorang wanita paruh baya.
"Baru saja masuk Keluarga Roberto, kamu sudah berani memukul ke dua cucuku! Kamu sudah sangat keterlaluan!" Teriak wanita paruh baya itu lagi.
"Adik Ipar, sudahlah jangan berteriak-teriak di rumahku. Masalah ini belum jelas jadi Adik Ipar jangan berteriak-teriak dulu." Ucap Kakak Iparnya.
"Kakak Ipar, kedua cucuku ini yang bilang sendiri jadi mana mungkin berbohong. Dasar wanita ja lang, hari ini Aku harus memberinya pelajaran." Ucap wanita paruh baya tersebut dengan nada setengah oktaf.
"Berisik sekali. Guguk liar siapa yang menggonggong bikin Aku sakit telinga." Ucap Kimberly tiba-tiba sambil berjalan ke arah mereka.
"Dasar perempuan ja lang! Siapa yang kamu sebut guguk liar? Kamu ini siapa? Berani-beraninya menindas cucuku!" Teriak wanita paruh baya tersebut.
"Kapan Aku menindas cucumu?" Tanya Kimberly.
"Kalian berdua dan katakan. Apa benar wanita itu yang memukul kalian? Katakan yang sebenarnya biar Oma yang akan membela kalian." Ucap wanita paruh baya tersebut.
"Memang Dia orangnya." Ucap ke dua anak nakal tersebut dengan serempak sambil menunjuk ke arah Kimberly.
"Kakak Ipar, sudah dengar sendirikan? Dia yang memulai duluan . Baru saja masuk keluarga kita tapi Dia sudah berani bertindak seperti ini. Nanti bisa-bisa Dia menindas Kakak ipar juga." Ucap wanita paruh baya tersebut sambil menatap ke arah adik ipar yang bernama Mommy Roberto sekaligus Ibu kandung Diego.
"Menantuku, coba kamu jelaskan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Tanya Mommy Roberto dengan nada lembut.
"Mom, Aku bisa menjelaskan apa yang telah terjadi. Tante Karmila menuduhku telah menindas ke dua cucunya sekaligus ponakanku. Tapi Tante Karmila tidak bertanya terlebih dahulu penyebabnya. Mereka berdua yang terlebih dahulu menindas Arnold jadi Aku hanya membantu mendidik anak-anak. Apakah Aku salah?" Tanya Kimberly balik bertanya sambil menatap Tante Karmila dengan tatapan tajam.
"Omong kosong! Mereka kan bersaudara jadi mana mungkin kedua cucuku menindas Arnold?" Tanya Tante Karmila dengan nada setengah oktaf.
"Benar sekali. Kami tidak pernah menindas Kakak sepupu." Ucap kedua anak nakal tersebut dengan serempak.
"Dia yang memukul kami terlebih dahulu dan ada empat anak lain juga yang ikut menindas kami." Ucap anak pertama.
"Apa? Di rumah ini ada empat anak lain?" Tanya Mommy Roberto dengan wajah terkejut.
("Waduh apa yang harus Aku katakan? Aku tidak mungkin mengatakan kalau mereka berempat adalah adiknya Arnold sekaligus cucumu." Ucap Kimberly sambil berpikir mencari jawaban).
"Kimberly, kenapa kamu diam saja? Apakah benar yang dikatakan ke dua cucuku ini?" Tanya Mommy Roberto sambil menatap ke arah Kimberly.
Pasalnya Arnold dan ke dua cucunya dari adik iparnya berada di lapangan yang masih dalam kawasan perumahan milik Keluarga Roberto. Jadi mana mungkin ada anak orang lain yang berani masuk ke dalam lapangan tersebut.