NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:27.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Yang Tidak Dikatakan

Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Fahri beberapa detik. Lama. Seolah menimbang sesuatu. Lalu—

“Dari saat aku butuh orang yang bisa menggantikan aku.” Jawabannya singkat. Namun kali ini… bukan seperti biasanya.

Fahri tidak langsung membalas. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. Karena entah kenapa… kalimat itu tidak terdengar seperti penyerahan tugas. Tapi seperti… penyerahan sesuatu yang lebih besar.

Dan jujur, Fahri tidak merasa sedang dipercaya. Tapi… sedang dipersiapkan.

Fahri tidak bergerak. Namun kali ini… ia tidak melihat kakaknya sebagai atasan. Ia melihatnya seperti seseorang yang… sedang bersiap pergi.

“Kak…” Nada itu berubah. Lebih rendah. Lebih serius. “…sebenarnya Kakak mau ke mana?”

Kaisyaf tidak menjawab. Ia hanya kembali membuka map di depannya. Seolah pertanyaan itu… tidak perlu dijawab.

Dan justru karena itu, Fahri tahu. Ada sesuatu yang… sedang disembunyikan.

“Kak…” tatapannya menyempit, “…Kakak mulai gak yakin bisa pegang semuanya sendiri?”

Kali ini… Kaisyaf diam. Dan itu cukup.

Sesuatu di kepala Fahri… langsung tersambung.

Ia mengangguk kecil. Pelan. Seolah potongan-potongan yang selama ini terasa janggal… akhirnya menemukan tempatnya.

“Kak,”

Ia menunjuk map di atas meja.

“Kontrak. Negosiasi. Cabang. Sampai hal-hal yang biasanya Kakak pegang sendiri.”

Tatapannya kembali ke Kaisyaf. Lebih tajam sekarang.

“Kalau cuma urusan tender beberapa hari…” suaranya merendah, “…Kakak gak perlu sampai sejauh ini.”

Tidak ada jawaban.

Fahri menarik napas pendek. “Ini bukan soal pergi sebentar.”

Satu langkah ia maju.

“Ini kayak…” ia berhenti, memilih kata, “…Kakak lagi nyiapin sesuatu.”

Ruangan terasa lebih berat.

Tatapan Kaisyaf tidak bergeser sedikit pun.

“Bagus,” ucapnya akhirnya. Pendek. “Berarti kamu mulai ngerti.”

Fahri mengernyit. “Ngerti apa?”

“Bahwa kamu harus siap.”

Jawaban itu tidak menjelaskan apa-apa. Dan justru itu yang membuat Fahri makin tidak suka.

“Siap buat apa?”

“Ambil alih.”

Kata itu terlontar tanpa ragu.

Fahri tertawa pendek. Kering. “Ambil alih?” ulangnya. “Ini perusahaan Kakak.”

“Kalau tahu, bersiaplah.”

Kalimat itu jatuh datar.

Fahri terdiam sejenak. Lalu matanya kembali menelusuri wajah Kaisyaf. Lebih lama. Lebih dalam. Wajah itu… lebih tirus. Kulitnya lebih pucat.

Dan ada sesuatu di matanya yang tidak biasa. Bukan capek. Lebih dari itu.

“Kak…” suaranya turun sedikit. “Ini bukan cuma soal kerjaan, ‘kan?”

Kaisyaf tidak menjawab.

Fahri melangkah satu langkah lagi. “Jangan bilang ini cuma karena Kakak lagi sibuk.”

Kaisyaf tetap diam.

Rahang Fahri mengeras. “Kalau Kakak mau aku bantu, bilang yang jelas.” Nadanya mulai tegas. “Jangan setengah-setengah begini.”

Kaisyaf menatapnya. Dalam. Mengukur. Lalu bersandar sedikit di kursinya.

“Aku memang butuh kamu," jawabnya akhirnya.

“Buat nutupin apa?” tanya Fahri cepat.

Kaisyaf tidak tersenyum. Tidak juga marah. Ia hanya menjawab,

“Buat memastikan semuanya tetap jalan… tanpa bergantung sama aku.”

Kalimat itu terdengar rapi. Terlalu rapi.

Fahri menatapnya lama. “Dan itu harus dilakukan sekarang?” tanyanya.

“Iya.”

“Kenapa?”

Kaisyaf kembali diam.

Fahri tertawa kecil. Pahit.

“Dari dulu Kakak gak pernah kayak gini.” Ia menggeleng pelan. “Over detail. Over kontrol. Terus tiba-tiba… dilepas.”

Tatapannya menajam.

“Orang yang gak mau kehilangan kendali… gak berubah kayak gini tanpa alasan.”

Kaisyaf tidak membantah.Tapi juga tidak mengiyakan. Ia hanya mengambil map di meja. Membukanya lagi.

“Mulai minggu depan, kamu handle meeting dengan investor luar," katanya. Seolah pembicaraan tadi tidak penting.

Fahri tidak bergerak. “Jawab dulu, Kak.”

Tidak ada respon.

“Ini soal apa?”

Tetap tidak ada.

Fahri menatapnya beberapa detik lagi. Lalu—

“…ya sudah.”

Ia mengangguk pelan. Bukan tanda setuju. Tapi tanda… menyerah untuk sekarang.

“Tapi satu hal.”

Kaisyaf tidak mengangkat kepala.

“Kalau ini ada hubungannya sama hal yang lebih serius…” lanjut Fahri, suaranya rendah, “…aku bakal cari tahu sendiri.”

Kali ini, Kaisyaf berhenti membaca. Perlahan… ia mengangkat wajah. Tatapannya lurus ke Fahri.

“Tidak perlu.”

Nada itu tenang. Namun tegas. Dan… ada peringatan di dalamnya.

Fahri menahan tatapan itu. Beberapa detik. Lalu tersenyum tipis. Tidak benar-benar tersenyum.

“Kita lihat nanti.”

Ia berbalik. Melangkah ke pintu. Namun sebelum keluar—

“Kak.” Langkahnya berhenti. Tanpa menoleh. “Jangan sampai aku telat tahu.”

Kalimat itu pelan. Tapi berat. Pintu terbuka. Lalu tertutup.

Kaisyaf tetap duduk di sana. Tangannya masih di atas berkas. Namun kali ini… tidak bergerak. Napasnya tertahan sebentar. Lalu perlahan keluar.

“…anak itu mulai peka.”

Gumamnya sangat pelan. Tangannya mengepal sedikit.

“Harus lebih cepat.”

***

Setelah keluar dari ruang kerja Kaisyaf, Fahri tidak langsung pergi. Langkahnya justru berbalik.

“Pak Ridho.”

Nada suaranya rendah. Tapi jelas.

Ridho yang sedang berjalan membawa berkas berhenti.

“Iya, Pak Fahri?”

“Ikut aku sebentar.”

Fahri tidak menjelaskan. Ia langsung berjalan ke arah ruang kosong di ujung koridor.

Ridho sempat terdiam sepersekian detik… lalu mengikutinya.

Pintu ditutup.

Ruangan itu sepi.

Fahri berdiri membelakangi pintu. Tangannya dimasukkan ke saku. Namun rahangnya terlihat mengeras.

“Kita pernah bahas ini.”

Ridho tidak menjawab.

Fahri berbalik. Tatapannya lurus.

“Dan jawaban Anda waktu itu…” ia berhenti sejenak, “…tidak masuk akal.”

Ridho menarik napas pelan. “Pak—”

“Kali ini jangan muter-muter,” potong Fahri. Suaranya tetap rendah. Tapi lebih tajam. “Kakakku kenapa?”

Ia bertanya langsung. Tanpa lapisan.

Ridho menatapnya beberapa detik. Menimbang. Namun tetap diam.

Fahri tertawa kecil. Hambar.

“Semua ini…” ia menunjuk ke arah luar, ke ruang kerja Kaisyaf, “…bukan soal tender.”

Ridho tetap tidak menyela.

“Detail yang dia kasih ke aku…” lanjut Fahri, “itu bukan delegasi biasa.”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat.

“Itu kayak orang yang lagi siapin… pengganti.”

Kalimat itu menggantung. Dan untuk sesaat, Ridho tidak bisa langsung menepisnya.

“Pak Fahri…” akhirnya ia bicara. Suaranya tetap terjaga. Profesional. “Semua yang Bapak pikirkan… belum tentu benar.”

Fahri langsung menatapnya tajam. “Berarti ada yang benar.”

Ridho diam. Dan diam itu… justru menjawab.

Fahri menghembuskan napas kasar. Tangannya mengusap wajah sebentar.

“Dia sakit?” tanyanya lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih serius.

Beberapa detik tak ada jawaban.

Ridho akhirnya menegakkan badan. Tatapannya kembali rapi. Terkunci.

“Pak Kaisyaf akan mengatakan semuanya kepada Anda.”

Fahri tidak bergerak.

Ridho melanjutkan, “Di waktu yang tepat.”

Fahri menatapnya. Lama.

“Waktu yang tepat?” ulangnya pelan. “Atau… waktu di mana aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain?”

Kalimat itu tajam.

Ridho tidak menjawab. Namun kali ini, tatapannya sedikit goyah. Dan itu… cukup.

Fahri mengangguk kecil. Bukan karena puas. Tapi karena… sudah mendapat sesuatu. Meski bukan jawaban.

“Kalau dia pikir aku bakal diam…” gumamnya pelan, “…dia salah.”

Ia berbalik. Berjalan keluar.

Di depan pintu, ia berhenti. Tangannya sempat menyentuh gagang. Namun tidak langsung membuka.

“Kalau dia gak mau cerita,” lanjutnya pelan, lebih dingin sekarang, “…berarti ada sesuatu yang memang harus disembunyikan.”

Ia menunduk sedikit. Matanya menyempit.

“Dan aku akan cari tahu… sebelum semuanya terlambat.”

Pintu terbuka. Lalu tertutup.

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua kepercayaan diberikan untuk membangun, beberapa… diberikan untuk menggantikan."...

..."Ada orang yang mulai menjauh… bukan karena ingin pergi,...

...tapi karena tahu ia tidak akan bisa tinggal lebih lama."...

..."Yang paling menakutkan bukan perubahan itu sendiri,...

...tapi saat semuanya berubah… tanpa penjelasan."...

..."Kadang, seseorang tidak sedang menyerahkan tanggung jawab,...

...tapi sedang melepaskan dirinya dari semuanya."...

..."Saat seseorang mulai mempersiapkan penggantinya…...

...biasanya, ia sudah tahu waktunya tidak lama."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dek Sri
lanjut
abimasta
coba jujur dari awal kaisyaf tidak akan serumit itu
Puji Hastuti
Alhamdulillah ayah tahu juga😍
tse
semoga mereka mengetahui penyakitny lebih awal sehingga bisa mengobatinya
ataubpalingbtifak saat2 terakhir ia tidak sendiri tapi di kelilingi orang2 tercintanya... jangan sedih ah...
Yunita Sophi
sukurlah akhirnya ayah membuka sedikit rahasia Kaisyaf... ayo pak selidiki kasian anak istri nya tdk tau klo Kaisyaf sakit...
Anitha Ramto
nah kebenaran Kaisyaf yang sakit akan terungkap,jalannya dari Perawat yang mengatakan Critis

Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.

langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺
Wardi's
gk usah tlp ridho., yg ada d blokir aksesnya...
Wardi's
cek gps kaisyaf., pak husein pasti bkn org awam kan.., pst pengusaha jg khan? bs minta bantuan detektif jg.. ayo pak husein gaskeun sbelum terlambat...
Anitha Ramto
Reza terlalu percaya diri dan terobsesi oleh Ayza...
Hanima
Suami mu tidak mau di perhatikan Za, jadi bahagia lah dengan Alfian sajaaaa
septiana
lanjut kak Nana semangat 💪🥰
Wardi's
terbaik...
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Semoga Ridho datang menemui Ayza untuk menjelaskan kesehatan Kaysaf bahkan lebih bagus lagi Nara sebagai dokter yang menangani Kaysaf yang menemui Ayza & menjelaskan secara rinci tentang kesehatan
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
ah terserah lo dah... lebih sakit ditinggal pergi tanpa kejelasan....
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
kaysaf jodoh maut kan rahasia allah... kl emang ente pergi duluan seharusya biarkan istrimu menjalani peranya mendapatkan syurga telah mengurusmu ini namay tak percaya dong.... ah susah jelasin sma orang pikiranya sensitif
abimasta
reza mau jadi pebinor,merusak rumah tangga orang
Muhammad Fauzan
suka
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Gadis misterius
Seharsnya kaysaf klu bnr2 mencintai ayza biarkan diakhir hidupnya tetap dirawat ayza dan diwkt mau maninggal baru ngasih wasiat sruh menikah dngn fahri agar fahri menjaga ayza dan all supaya tdk ada yg mengangu apa lagi dr mantan yg tdk tau diri itu sungguh kasian ayza klu setiap hari hrus berusan dngn buaya buntung ...untungya ayahya reza peka klu reza orangnya licik dan pinter bersilat lidah
Syarifah: Setuju
total 1 replies
naifa Al Adlin
padahal itu dokter
naifa Al Adlin
tuh kan bener, kaisyaf sakit. dia g mau lihat ayza sedih. makanya dia berpura2 selingkuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!