NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:348.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Di dalam pesawat, suasana terasa tenang.

Deru mesin mengalun konstan, para penumpang mulai sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang tertidur, ada yang membaca, ada pula yang sekadar memejamkan mata.

Hanan duduk di samping jendela. Sejak naik pesawat hingga hampir dua puluh menit mengudara, ia lebih banyak diam. Pandangannya tertuju keluar, namun pikirannya melayang entah ke mana.

Anisa melirik anak sulungnya itu beberapa kali, lalu tersenyum tipis.

“Hanan,” panggilnya pelan. “Bagaimana Kayla? Dia cantik ya?”

Hanan tersentak. Wajahnya langsung menoleh, sedikit kaget.

“Astaghfirullah, Umi,” tegurnya cepat. “Kenapa bicara begitu?”

Anisa terkekeh kecil, menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Nggak apa-apa. Umi cuma kagum aja sama dia.”

Hanan menghela napas panjang. Ia kembali memalingkan wajah ke arah jendela.

“Dia baik,” lanjut Anisa, nadanya lembut. “Anaknya juga sopan.”

Hanan terdiam beberapa detik, lalu tanpa sadar celetuk, “Tapi bajunya selalu kekurangan bahan, Umi.”

Begitu kalimat itu keluar, ia sendiri langsung mengernyit. Seolah baru sadar apa yang barusan ia ucapkan. Sementara itu, senyum di wajah Anisa justru semakin merekah.

“Manusia itu berproses, Nak,” ucap Anisa bijak. “Buktinya tadi kamu lihat sendiri, bajunya sudah mulai nambah bahannya.”

Hanan mendesah pelan. “Umi… kenapa sih malah jadi bahas yang nggak penting?”

Anisa menatap putranya dengan sorot mata penuh arti. “Bagi Umi, itu penting.”

Hanan kembali diam. Jantungnya berdegup pelan, tidak nyaman—bukan karena pembicaraan itu, tapi karena ia menyadari satu hal yang tak bisa ia sangkal lagi.

Ia memperhatikan.

Ia peduli.

Dan itu… membuatnya resah.

Pesawat terus melaju membelah langit. Sementara di dalam dada Hanan, ada kegelisahan baru yang pelan-pelan tumbuh sesuatu yang tak pernah ia rencanakan, dan tak pernah ia minta.

“Oh iya,” suara Anisa terdengar ringan, namun sorot matanya penuh selidik. “Gimana ta’aruf kamu?”

Hanan yang sejak tadi bersandar di kursi langsung menarik napas panjang. Tangannya terlipat di dada, matanya terpejam sesaat seolah sedang menata kesabaran.

“Hanan sudah menolaknya, Umi,” jawabnya akhirnya.

“Malam itu?” tanya umi Anisa, “Malam saat kamu bertemu Kayla?”

Hanan membuka mata dan langsung menatap ibunya. “Umi,” katanya tegas namun tetap sopan, “kenapa harus membahas nama itu terus sih?”

Alih-alih berhenti, Anisa justru semakin tak kuasa menahan tawanya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, bahunya naik turun menahan tawa agar tidak terlalu mencolok di dalam kabin pesawat.

Hanan menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Entah sejak kapan, ibunya menjadi sangat jahil. Dan entah sejak kapan pula, satu nama itu mampu membuatnya seterlihat ini.

Anisa melirik Hanan dari sudut mata.

‘MasyaAllah… sejak kapan anakku bisa semalu ini hanya dengan membahas gadis?’ Dalam hatinya, ia tersenyum haru.

**

Malam itu, Kayla merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang terasa membosankan. Lampu temaram tak mampu mengusir rasa suntuk yang menggerogoti dadanya sejak ia pulang dari kampung.

Sepuluh hari. Sepuluh hari penuh ia hidup di bawah pengawasan eyangnya yang super ketat, tanpa suara mesin, tanpa bau bensin, tanpa adrenalin.

Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan grup chat yang selalu jadi pelarian—

GAS (Genk Anak Somplak).

Kayla langsung mengetik.

Kayla: posisi!

Tak butuh waktu lama, balasan masuk satu per satu.

Adelia: Lagi di rumah Ditha, gue

Zayn: dikamar.

Zayn: Lo udah balik Kay?

Sudut bibir Kayla terangkat. Ia mengetik cepat.

Kayla: udah, 10 menit lagi, kumpul tempat biasa.

Setelah mengirim pesan itu, Kayla langsung bangkit. Gerakannya cekatan, seperti seseorang yang sudah hafal rutinitas malamnya.

Ia membuka lemari, memilih celana panjang hitam yang pas membungkus kaki jenjangnya, lalu kaos tipis ketat berwarna abu gelap. Rambutnya ombre ungu yang jadi ciri khas, ia gerai begitu saja, membingkai wajah tajam dengan sorot mata berani.

Di depan cermin, Kayla menatap bayangannya sendiri. Ada sesuatu yang berkilat di matanya. Bukan sekadar kenakalan melainkan candu akan kecepatan.

‘Nih gue cantik begini, bisa bisanya dia gak mau ngelihat. Ckcck rugi banget gak sih?’’ gumam Kayla terkekeh sendiri.

Beberapa menit kemudian, suara mesin mobilnya meraung di halaman. Kayla menginjak gas dalam-dalam, melaju membelah malam tanpa ragu. Jalanan sepi jadi saksi bagaimana mobilnya melesat liar, seolah batas kecepatan hanyalah angka yang tak berarti.

Tujuannya satu. Arena balap liar.

Lampu-lampu motor dan mobil berjajar, musik berdentum dari speaker entah milik siapa, asap rokok bercampur bau bensin memenuhi udara. Sorak sorai terdengar di mana-mana. Dunia yang selalu Kayla rindukan.

Begitu mobilnya berhenti, Ditha langsung menghampiri dengan wajah sebal.

“Anjirr, ke mana aja lo ngilang lama banget!” serunya.

Kayla turun dari mobil sambil mendecih. “Dipingit gue sama eyang!” keluhnya dramatis.

Adelia dan Zayn yang baru datang ikut tertawa. “Hahahaha, kasihan amat hidup lo, Kay.”

Kayla memutar mata. “Lo enak, bebas. Gue? Sepuluh hari di kampung, sumpah kayak tahanan rumah.”

Ia lalu menoleh ke Zayn. “Oh ya, Zayn. Cariin Bang Ronald dong. Gue mau main malem ini!”

Zayn mendengus. “Anjirr, baru dateng langsung main lo!”

“Bosen banget gue sumpah,” Kayla menghela napas kasar. “Sepuluh hari gue di kampung. Gue gak bisa ke mana-mana. Sekalinya keluar, malah gue kena rampok, nyasar pula!’’

‘’Lo nyasar kemana?”’ tanya Adel dan Ditha bersamaan.

‘’Nyasar pokoknya, udah buruan Zayn!’’

“Oke, oke,” sahut Zayn sambil mengangkat tangan menyerah. “Gue cari.”

Zayn berjalan menjauh, menyusuri kerumunan. Sementara itu, beberapa pasang mata mulai melirik Kayla. Bukan hal baru. Nama Kayla sudah cukup dikenal di arena ini.

Perempuan dengan rambut ungu, nyali setara pembalap profesional, dan rekor kemenangan yang bikin banyak cowok panas dingin.

Tak lama kemudian, Ronald muncul bersama Zayn. Pria bertubuh kekar itu menyeringai saat melihat Kayla.

“Balik juga akhirnya, Ratu Malam,” godanya.

Kayla tersenyum miring. “Masih ada slot?”

Ronald menepuk papan daftar peserta. “Selalu ada kalau buat lo.”

Sorakan langsung menggema saat nama Kayla diumumkan. Ia melangkah menuju mobilnya, memasang helm, jantungnya berdetak cepat bukan karena gugup, tapi karena rindu.

Mesin dinyalakan. Lampu start menyala.

Detik-detik terasa melambat.

Saat lampu hijau menyala, Kayla menginjak gas tanpa ampun.

Mobilnya melesat, meninggalkan suara jeritan mesin dan sorak penonton. Angin menerpa rambutnya, jalanan gelap seakan menyatu dengan tubuhnya. Di momen itu, Kayla tahu satu hal,

Tempatnya memang bukan di rumah, bukan di kampung.

Melainkan di sini.

‘Ini baru namanya hidup!’’

1
Susilawati
terserah kamu ajalah Fatima yg penting kamu bahagia 🤭
Susilawati
kayaknya bakalan ada anggota keluarga baru nih 🤭
Susilawati
ayolah Kayla, mana Kayla yg dulu yg penuh dgn percaya dirinya, percayalah sama suami kamu Kayla agar hati mu bisa tenang
Susilawati
jawabannya sederhana kok, krn Allah tahu yg terbaik buat hamba nya, dia kirim Hanan utk Kayla agar gadis itu bisa kembali ke jalan Tuhan nya, sementara Hanum dia seorang ustadzah yg paham soal agama, jadi dia tdk perlu Hanan utk membimbing dan mengajarinya.
Susilawati
masyaallah Kayla, terharu banget dengar Kayla mau belajar agama
Susilawati
memang pas kalo Kayla tinggal di pondok aja, selain dia bisa belajar lagi tentang agama, yg terpenting jauh dari ayahnya yg jahat.
Susilawati
ayo lawan Kay, bapak mu itu sekali kali harus di lawan jgn diam terus
Susilawati
dasar si Damar bego, kesel banget aku, bikin kacau suasana aja
Susilawati
akhirnya beneran lepas perawan si Kay 🤭🤭🤭
Susilawati
benar kata mas Hanan mu Kay, terima aja kalo ada yg kasih, mau kamu pakai atau tidak itu terserah kamu.
Budhe Satryo
Dr novel ini belajar bnyak dan betapa Allah maha besar kalu mau menegur hambanya
Budhe Satryo
.Ama yg buka pikiran arfin ternyata
Susilawati
dasar trio somplak, fikiran nya udah pada absurd 😄😄😄
Budhe Satryo
la hantu semua yg JD teman fatim 😭😭😭
Eka ELissa
Mak....
kmna nie fatim jalan di dunia lain kah... entahlah hy emak yg tau
Ainal Fitri
ya Allah selamatkan Fatimah dan Arash dr kejadian yg pernah menimpa Arash saat d Surabaya.
alam ghaib itu memang ad jd Qt sebagaim makhluk ciptaan Allah juga harus selalu meminta perlindungan kpda Allah. sering seri g berdoa.
Yuliana Purnomo
mantab,, Abah semoga belum terlambat
Susilawati
oh yaa teman2 Kayla tahu nggak ya kejadian yg menimpa Kayla
Ratna Komala
semoga segera dipulangkan Fatimah dan arash dgn selamat...mudah"an ke DPN nya TDK ada LG gangguan dan masalah yg timbul lg
Susilawati
maharnya cukup Hanan mencintai Kayla dgn tulus, menerima segala kekurangan Kayla, setia dan bikin Kayla bahagia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!