Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Bagas Mencari Perhatian
Diandra terlelap lagi di dalam kamarnya,tanpa dia sadari Bagas sudah berada disisinya ikut berbaring. Diandra terbangun karena merasa sedang ada yang meraba raba pipinya.
Diandra membuka matanya dan terkejut,tanpa disadari Diandra menampik tangan Bagas dari pipinya.
"Heiii kenapa sayang? Ini aku suamimu" seru Bagas yang juga terkejut dengan perlakuan Diandra.
Diandra bangun dari tidurnya dan duduk bersandar ke tepi ranjang.
"Maaf mas,aku gak sadar kalau ada kamu" jawab Diandra sedikit gugup. Entah kenapa Diandra bersikap seperti ini,seperti merasa Bagas bukan suaminya saja.
Bagas tersenyum dan ikut duduk bersandar disisian ranjang mereka.
"Kamu ini aneh,sama suami sendiri kok bisa kaget begitu?" ujar Bagas sambil terkekeh pelan.
Diandra menatap Bagas dan mulai merasa kesal,kenapa Bagas bertingkah seperti tidak punya salah. Pandai sekali dia menutupi kebohongannya. Tapi entahlah apakah dia sedang berbohong atau Diandra hanya berpikir negatif saja pada Bagas karena bukti yang dia lihat bersama Nina malam itu juga belum kuat. Mereka masih bisa berkelit seandainya diberi pertanyaan ada hubungan apa diantara Bagas dan sinta.
Bagas balas menatap Diandra dan wajahnya mulai berubah karena sadar Diandra seperti berbeda.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Bagas kemudian
"Gak apa apa" jawab Diandra pelan.
"Nanti kita jalan yuk" ajak Bagas tiba tiba
Diandra tidak menjawab ajakan Bagas,dia masih terdiam dan masih berpikir keras tentang sikap Bagas hari ini.
"Aku kangen jalan jalan sama kamu" Bagas melanjutkan kalimatnya. Diandra hanya menatap Bagas tidak berniat menimpali ucapan Bagas.
"Yuk siap siap sayang,kita jalan sekarang aja"ajak Bagas lagi dan segera turun dari ranjang bergegas mandi.
"Mau ke mana mas?" tanya diandra akhirnya.
"Ke Mall"
"Semalam aku juga sudah ke Mall dengan Nina" jawab Diandra sedikit kecewa karena Bagas hanya membawanya jalan ke Mall.
"Oh yaa,," seru Bagas sambil berbalik ke arah Diandra dan tidak jadi ke kamar mandi.
"Iya"
"Kata kamu,kamu bantu pekerjaan Nina,tapi malah ke Mall" tanya Bagas sedikit bingung.
"Iya,,kerjaan Nina juga bisa dikerjakan di mana aja"
"Dan kata Nina semalam dia melihat Sinta,tapi aneh kenapa saat dipanggil oleh Nina Sinta malah pergi aja " jelas Diandra tiba tiba seperti tidak bisa menahan emosinya mengingat kejadian semalam.
"Oh ya,Sinta sahabat kalian itu?" tanya Bagas.
"Iya siapa lagi" jawab Diandra.
"Sinta sudah jarang sekali berkumpul dengan kami,alasannya selalu sibuk" Diandra melanjutkan ceritanya.
Bagas hanya diam tampak masih menunggu kelanjutan obrolan Diandra.
"Menanyakan kabar kami pun sudah gak pernah lagi"
"Yaaa mungkin beneran dia sibuk" Bagas mencoba mengimbangi obrolan Diandara.
"Ya mungkin aja" ucap Diandra.
"Ya sudah aku mandi,terserah aja nanti kamu mau ke mana aku ikut apa mau kamu" kata Bagas kemudian sambil berlalu meninggalkan Diandra.
Diandra terus menatap punggung Bagas yang mulai menghilang dari pandangannya.
Diandra menghela nafas dan menghembuskannya kasar,kemudian turun dari atas kasur dan merapikannya.
Sebenarnya Diandra malas untuk pergi tapi ya sudahlah dia turuti apa mau Bagas. Setelah Bagas selsai mandi giliran Diandra juga segera mandi dan setelah selesai bersiap siap berpakaian rapi juga sedikit memoles wajahnya.
"Sudah siap?" tanya Bagas dari balik pintu kamar.
"Iya sudah" jawab Diandra sambil meraih tas mungil dari lemari kaca dan keluar kamar.
Bagas menutup pintu kamar,Diandra berjalan keluar rumah sambil menunggu Bagas yang sibuk mengunci seluruh pintu rumah.
Kemudian mereka berdua sudah sama sama berada diatas motor cross Bagas,memakai helm dan siap meluncur.
Diandra tampak asing berada diboncengan karena sudah lama dia tidak pernah merasakan lagi hal hal seperti ini bersama Bagas. Untuk memeluk pinggang Bagas pun Diandra enggan.
Tiba tiba Bagas meraih tangan Diandra satu persatu untuk dia lingkarkan dipinggangnya.
"Pegangan kenapa?" seru Bagas sedikit bersuara keras karena bising oleh kendaraan lain dan juga knalpot motornya sendiri.
Diandra diam tapi memilih menuruti permintaan Bagas.
Diperjalanan hanya hening karena Diandra malas untuk bercerita pada Bagas,yang ada dikepalanya hanya rasa kesal dan marah pada Bagas. Entah kenapa juga Bagas hari ini bisa bersikap manis,tapi Diandra yakin Bagas sedang berhati hati.