bagaimana jika kalian ada di posisi ku, dimana aku di jodoh kan oleh orang tua yang posesif dengan seorang lelaki yang pernah kalian liat tengah bercumbu dengan wanita lain, dan parahnya lagi dia adalah seorang psikopat
rumit amat hidup ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak akan membiarkan kamu menangis
Julian berjalan mendekati Kris dengan langkah yang mengerikan, membuat Kris sontak mundur dan terjatuh karena terbentur kasur.
Julian menarik kerah baju Kris, membuat Kris tertarik dan ikut berdiri, dengan tatapan tak percaya Kris kini menatap Julian.
"Lu bego atau apa sih? Udah gue kasih kesempatan hidup juga luh, masih aja lu sia siain, " ucap Julian penuh penekanan, sambil menatap kris dan tersenyum menyeringai.
Tak bisa berkata itulah yang di rasakan Kris kali ini, Julian melirik terlebih dahulu ke arah Diana, yang seperti nya Diana masih berada di tempat nya mematung, sambil menangis membuat amarah Julian semakin memuncak.
"Lu madep tembok!" suruh Julian pada Diana, Diana yang sadar akan ucapan Julian langsung berbalik menghadap tembok, tanpa pikir panjang lagi.
Dengan cepat Julian memalingkan pandangnya menjadi menatap kembali Kris, Julian mengambil pisau kecil yang tidak terlalu runcing, menurutnya kalau misalkan pisau itu tidak terlalu runcing dan tidak terlalu tajam.
Itu malah akan membuat nya semakin puas, karena korbannya akan lebih kesakitan, di banding menggunakan pisau yang tajam.
Dengan cepat ia langsung menusuk perut bawah Kris, lalu menariknya ke atas membuat Kris berteriak kesakitan, darah segar mulai keluar dari tubuh Kris berikut isi perut Kris pun ikut keluar.
Julian tersenyum tipis melihat Kris sudah tidak menghembuskan nyawa nya, namun baginya itu tetap saja kurang, kini ia memenggal kepala Kris, lalu membawa kepala nya saja ke dalam karung yang sudah ia sediakan di dalam tasnya.
Lalu setelah itu ia meninggalkan mayat Kris di Sana, dan ia juga membakar kasur yang ada di sana, lalu setelah itu ia berjalan menarik Diana keluar dari tempat sebelum apinya semakin membesar.
Dan semua yang berada di sana pun, sadar akan adanya kebakaran, mereka kini tengah berlarian ke sana ke mari mencari perlindungan.
Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Jangan nangis, berisik tau gak, " risih Julian, ia sangat membenci suara tangisan Diana.
Diana mencoba untuk tidak bersuara, namun ia tidak bisa menahan air matanya mengalir, ia sudah berusaha mengelap air matanya tetapi tidak bisa air matanya terus mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Jangan suaranya doang dong yang di berhentikan, air matanya juga, " kesal Julian yang melihat Diana masih menangis di sampingnya.
"Kalau aku bisa juga aku udah berhenti dari tadi," balas Diana dengan suara yang goyah dan serak.
"Udah lagian dia juga udah gak ada," ucap Julian santai tidak merasa bersalah sedikit pun karena sudah membunuh teman lamanya.
Tadi saking syok nya Diana sampai tidak tau yang di lakukan Julian pada Kris, Diana memang sempat mendengar teriak Kris, namun ia tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan, karena terlalu berisik juga tadi di dalam.
Diana menatap Julian penasaran, namun belum saja Diana mengucapkan apa yang akan dia tanyakan, Julian malah mendahuluinya.
"Lu gak usah tanya hal yang udah tau jawabannya, " kesal julian, sambil menjalankan mobilnya.
"Kamu bunuh dia?" Diana malah kekeh bertanya pada Julian.
"Aku udah bilang yah, jangan tanya gak yang kamu udah tau jawabannya, " ucap Julian kesal, sambil membawa mobil di atas kecepatan rata-rata.
"Kamu mau mati apa?" kesal Diana sambil menampilkan raut muka yang ketakutan, karena Julian membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Mau, jika matinya bareng kamu aku tidak papah" ucapnya sambil tersenyum miring.
"Kau memang gak waras yah, " bentak Diana sambil menutup matanya karena takut.
Kini Julian semakin mengembangkan senyumannya, melihat ekspresi Diana yang lucu menurut nya.
Mereka sudah sampai di depan rumah Diana, Diana yang tidak sadar kalau ia sudah sampai pun masih menutup matanya sambil bergetar ketakutan.
"Baby, bangun udah sampai, " Julian membangunkan Diana.
Diana membuka matanya perlahan, terlihat jelas kalau Diana kini tengah ketakutan.
Dengan cepat Diana turun dari mobilnya, di ikuti oleh julian yang juga ikut turun, Julian berjalan mendekati Diana.
"Jangan nangis lagi, karena jika ada orang yang membuat mu menangis makan aku akan membunuhnya, termasuk diriku sendiri," ucapnya pelan, namun entah kenapa kata-kata itu membuat Diana sedikit tenang dan percaya pada Julian.
Sebelum pergi Julian mencium kening Diana terlebih dahulu, lalu setelah itu ia berjalan menjauh dari Diana.
Diana tersenyum dengan perlakuan manis Julian padanya saat ini, Diana berjalan memasuki rumahnya, entah kenapa bayangan Julian selalu hadir dalam otaknya walaupun Diana sudah sering kali mengusir Julian di dalam otaknya.
"Kamu tuh tidak bisa lihat jam yah?" bentak Dea yang sudah berada di tangga rumah nya.
Kini mood Diana kembali hancur, Diana kembali cemberut dan menatap tajam ibunya.
"Kau tuli?" saut Dea kembali.
"Mungkin," ketus Diana sambil berjalan melewati ibunya.
"Kau ini kenapa sih? selalu begini, " tanya Dea.
Diana berbalik ke arah ibunya, "Kau tanya sendiri pada dirimu apa yang membuat ku menjadi seperti ini, " ucapnya sambil berbalik kembali dan menerus kan langkahnya.
Dea hanya bisa menggeleng kan kepala sambil mengelus dadanya beberapa kali, Dea tak tau harus berbuat apa untuk mengurus Diana yang sudah keras kepala dan tidak bisa di atur ini.
Sementara itu Julian kini tengah berjalan menuju kampusnya untuk mengambil mobil miliknya, setelah mengambil mobil ia langsung pergi ke sebuah rumah yang berada di hutan.
Ia turun dari mobilnya dengan membawa tas, ia berjalan masuk ke rumah itu saat ia masuk terdapat 3 ekor singa yang kelaparan, tiga ekor singa itu adalah peliharaan Julian.
Ia selalu memberi makan daging manusia yang ia bunuh, mereka juga berguna untuk menghapus bukti-bukti pembunuhannya.
Julian mengeluarkan kepala Kris dari tasnya dan melemparkan nya ke dalam kandang singa itu, dengan tersenyum menyeringai.
Kini ketiga singa itu tengah memperebutkan kepala Kris, Julian membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Karena saat ini baju dan kemeja ********** kotor terkena cipratan darah Kris, jadi mau tak mau Julian harus membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya Julian membaringkan badannya di kasur yang ada di hadapan kandang singa miliknya, sekarang kepala Kris sudah habis di makan singa-singa nya.
"Besok akan ku bawakan banyak makanan untuk kalian, jadi kalian sabar dulu saja," ucap Julian pada Singa-singa nya.