Demi membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya, Alea terpaksa harus meminjam uang kepada sang Bos, demi melunasi hutang-hutang keluarganya kepada kakek Will.
Bahkan, Alea juga sampai rela memotong urat malunya, demi meminta sang bos, untuk menjadi kekasih bohongannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, apa yang Alea rencanakan semuanya gagal. Dan malah berujung pada pernikahan serius dengan sang bos-nya.
Padahal, bos-nya adalah orang yang paling dihindari Alea sejak SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar?
Alea pun menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa begitu bodoh, berbicara di saat yang tidak tepat.
"Tapi Pak Rey saya serius. Pak Rey mau gak jadi pacar saya?" tanya Alea sekali lagi, yang sepertinya bisa dengan mudahnya ia berbicara seperti itu.
Namun tidak dengan Rey, yang semakin berdebar ketika Alea kembali mengucapkan kata-kata itu, keringat dingin bahkan sudah menyerangnya.
"Apa-apaan ini, bisa-bisanya dia nembak aku dengan cara seperti ini. Bahkan dari raut wajahnya saja aku tidak percaya kalau dia benar-benar serius," batin Rey sambil menatap Alea penuh curiga, dan dengan jantung yang terus memompa begitu cepat.
"Tidak mau, memang apa untungnya kalau kamu jadi pacar saya?' tanya Rey, tahan harga.
"Tentu Anda akan beruntung, saya akan menjadi pacar yang perhatian, penyayang dan bisa membuat Anda senang," ujar Alea seolah semakin tidak tahu diri mempromosikan dirinya, yang bahkan belum pernah berpacaran sama sekali.
Rey pun terlihat melipat kedua bibirnya, ia begitu ingin tertawa namun sebisa mungkin menahannya, dan akhirnya Rey pun membuang wajahnya ke sembarang arah, demi tak melihat ekspresi menggemaskan yang ditunjukkan Alea.
"Tidak, saya tidak mau," jawab Rey tanpa melihat ke arah Alea.
"Yakin nih gak mau sama saya?" tanya Alea seolah menggoda. Rey semakin tak bisa menahan senyumannya, namun ia masih bisa mempertahankan raut wajah dinginnya itu agar tidak berubah sama sekali.
Alea pun mendengus pelan ketika ia tak mendapat respons dari bosnya itu.
"Ya Tuhan aku harus bagaimana lagi, bahkan aku sudah kehilangan urat maluku di depan makhluk tak berperasaan seperti dia ini," gumam Alea dalam hati, menatap sendu ke arah Rey yang masih tak menghiraukannya.
"Apa alasanmu menembakku?" tanya Rey tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka yang sudah terjadi beberapa menit lalu.
"Hah? sa-saya—" Alea menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. "Sebenarnya...."
Alea pun menjelaskan alasan ia tiba-tiba mengajak Rey untuk berpacaran. Ia mengatakannya dengan jujur, bahwa semua itu ia lakukan karena ia akan dijodohkan oleh papanya.
Rey pun sedikit tercengang saat mendengar penjelasa Alea, bahwa dirinya akan dijodohkan dengan lelaki lain oleh papanya. Alea juga memberitahukan alasan perjodohannya, dan cara agar perjodohannya itu bisa batal yaitu harus mencari calon suami yang mampu membantunya melunasi hutang keluarganya yang tidaklah sedikit.
"Maafkan saya Pak Rey, sebenarnya saya meminta Anda hanya untuk jadi pacar bohongan saya saja, nah niatnya nanti saya mau meminta pinjaman uang kepada Pak Rey, untuk melunasi hutang-hutang keluarga saya," tutur Alea begitu jujur.
"Untung saja aku tak mempercayainya tadi, kalau tidak, bisa-bisa aku kehilangan harga diriku kalau menganggpnya serius, gara-gara ucapan sembrono wanita ini hatiku bakalan demam nih," batin Rey selagi mendengarkan curhatan Alea.
"Tapi tidak apa-apa, lagi pula saya tahu, Anda juga pasti sudah mempunyai pacar," lirih Alea, yang seakan kecewa.
"Tahu dari mana saya mempunyai pacar?" tanya Rey, mengerutkan dahinya.
"Hanya menebak saja sih. Tapi kalau Anda tidak mempunyai pacar, berarti gosip itu ...."
"Apa! Kau mempercayai gosip diluarkan sana hah?" Rey memelototkan kedua matanya, membuat Alea sedikit takut melihatnya.
"Hehe, enggak Pak. Saya percaya kok, orang seperti Pak Rey tidak mungkin seperti itu," ujar Alea mencari aman, daripada membuat bosnya marah.
Setelah selesai acara makan malam, Rey mengajak Alea untuk mampir dulu ke sebuah toko bunga. Ia pun memesan satu buket bunga besar yang tidaklah murah.
"Beli bunga buat siapa Pak Rey?" tanya Alea yang setia mengekori bosnya itu di belakang.
"Buat tukang parkir," jawab Rey dengan ketus, sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada kasir toko.
"Yang benar saja, masa tukang parkir di beri bunga," ucap Alea.
"Diamlah! Ini pegang!" Rey menyodorkan buket bunga yang sudah terikat rapi dan indah itu kepada Alea. Kemudian mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Dan Alea menyimpan buket bunga itu di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan dari keduanya. Hanya terdengar alunan musik dari radio mobil yang sejak tadi di putar oleh Rey.
Alunan musik dari Band Ungu yang berjudul Saat Bahagia ft Andien. Ikut mengiringi suasana di dalam mobil yang terasa absurd, apalagi ketika mendengar dengan baik lirik lagunya.
🎶Saat bahagiaku
Duduk berdua denganmu
Hanyalah bersamamu
Hmm ...🎶
"Kenapa harus lagu ini yang diputar radio jelek ini," gumam Rey, yang berusaha acuh, seolah tak meresapi lirik lagu itu.
🎶*Mungkin aku terlanjur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Kuingin engkau selalu
'Tuk jadi milikku
Kuingin engkau mampu
Kuingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku
Hingga ujung waktuku
Selalu*🎶
Dan jlep, Rey langsung mematikan radio mobilnya itu. Membuat Alea yang tengah menikmati alunan musik tadi, menoleh dengan heran ke arah Rey.
"Kenapa di matikan?" tanya Alea.
"Sudah mau sampai," jawab Rey kemudian segera memarkirkan mobilnya. Karena tanpa disadari kini mereka sudah sampai, tepat di depan halaman rumah Alea.
"Oh iya, sudah sampai ternyata." Alea pun segera turun dari mobil. Dan pergi begitu saja.
"Aih... wanita ini," gumam Rey, saat melihat kepergian Alea.
Rey pun segera keluar dari mobilnya mengejar Alea yang sudah sampai di teras rumahnya.
"Lea tunggu!" Rey menghampiri Alea sambil membawa buket bunga yang sempat tertinggal di dalam mobilnya itu. Alea pun menoleh.
"Kenapa dibawa kemari bunganya?" tanya Alea heran.
"Sempit kalau kau menaruhnya di mobilku. Bawa saja ke rumahmu," ujar Rey, sambil menyodorkan buket bunga itu. Alea menerimanya sambil mengerutkan kedua alisnya.
Tiba-tiba suara seorang lelaki terdengar jelas memanggil nama Alea, siapa lagi kalau bukan papanya.
“Alea!”
"Papa." Alea seketika menoleh ke arah pintu rumahnya, yang sudah terbuka lebar dan mendapati Papanya yang tengah berdiri di ambang pintu, sambil melirik ke arah Rey dengan tatapan sulit dijelaskan.
Alea seketika menyembunyikan buket bunga itu di balik punggungnya, namun hal itu tentu sia-sia karena Papanya sudah melihatnya.
"Bunga dari siapa?" tanya Papa Deri seolah penuh intograsi.
Alea pun melirikkan matanya ke arah Rey. Rey yang mendapat lirikkan dari Alea dan tatapan tajam dari calon mertuanya, eh maksudnya Papanya Alea. Ia segera tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Malam Om." Rey menyapa.
"Siapa dia?" tanya Deri kepada Alea.
"Di-dia ---"
"Saya Reyhan, pacarnya Alea Om," ucap Rey begitu saja, sontak membuat Alea melebarkan kedua matanya, dan terkesiap mendengarnya.
"Pacar?" tanya Deri mengernyit heran, seolah tak percaya.
"Iya Om," jawab Rey. Ia pun sebenarnya tak tahu, kenapa tiba-tiba ingin sekali mengaku jadi pacarnya Alea. Meskipun ini adalah bohongan tapi tidak dengan hatinya yang berharap lain.
"Yakin kamu pacaran dengan anak saya?" tanya Deri meyakinkan. Rey pun menganggukkan kepalanya.
"Sejak kapan Alea bisa mendapatkan pacar? Eh maksudnya sejak kapan kalian pacaran?"
"Bar---"
"Sejak tiga bulan yang lalu," jawab Alea cepat, seketika berpindah, berdiri tepat di samping Rey.
"Jangan teralu jujur," bisik Alea tidak jelas, namun masih dapat dimengerti oleh Rey.
"Iya baru tiga bulan Om." Deri sejenak mengangkat kedua alisnya, menatap secara bergantian Alea dan Reyhan yang tengah berdiri di hadapannya.
Akhirnya Deri pun mengajak Rey untuk masuk ke dalam rumah. Perasaan canggung dan jantung yang berdebar pun kini di rasakan oleh Rey dan Alea. Terlebih saat Papa Deri menanyai Rey dengan begitu banyaknya pertanyaan. Sambil mengobrol tegang. Yang di pertanyakan Deri adalah seputar Alea, dan bagaimana mereka bisa sampai pacaran. Akhirnya Alea pun terpaksa harus mengarang sebuah cerita cinta, yang sebenarnya itu hanyalah fiktif, bukan asli.
"Papa, ini kan uda malam. Kasihan pacarku kalau pulangnya kemalaman, besok kan dia harus kerja. Iya kan sayang?" tanya Alea kepada Rey. sontak membuat Rey ingin tertawa ketika melihat kemampuan akting Alea yang cukup luar biasa, namun sebisa mungkin ia menahan tawanya itu.
"I-iya," jawab Rey gugup, sambil melipat kedua bibirnya menahan rasa tawa yang menggelitik di pikirannya.
Akhirnya Papa Deri pun melepaskan Rey dari ke-tidak nyamanan suasana ini. Dan Rey pun berpamitan untuk pulang. Alea dan Deri juga mengantarkan Rey sampai teras rumah.
Setelah itu Alea dan Deri pun masuk kembali ke dalam rumah. Sebelum Alea meninggalkan ruang tamu. Papanya kembali menghalangi langkahnya. Dan kembali menghujani Alea dengan banyak pertanyaan termasuk pertanyaan 'Apakah Rey akan membantu keluarga meraka untuk melunasi hutang kepada Tuan William dan membatalkan perjodohan Alea?'
Alea bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia pun mengiyakan pertanyaan Papanya itu, biar cepat. Agar Papanya gak banyak bertanya lagi. Dan Alea pun bergegas pergi ke kamarnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meregangkan punggungnya yang terasa kaku.
"Aneh, kenapa Pak Rey tiba-tiba mengaku jadi pacarku ya?" gumam Alea sambil menatap langit-langit kamarnya.
Tiba-tiba getar ponsel yang ada di saku celananya terasa menggetarkan kulit pahanya. Alea pun segera menarik ponsel yang terselip di saku depan celanya jeansnya itu.
Dilihatnya satu notifikasi pesan dari Rey.
[Ingatlah semua itu tidak gratis. Apa yang aku lakukan tadi kau harus membayarnya.] - Rey.
"Apa aku bilang! Lelaki ini pasti saja memanfaatkan keadaan dalam kesusahan seperti ini. Argh... kenapa tidak langsung membunuhku saja!" Alea mengacak rambutnya seakan frustrasi.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa kasih like dan votenya ya teman-teman. Komen juga dong, biar lapak author gak sepi kayak kuburan. Komen apa kek, mau nyemangatin, mau kasih saran, mau cuma O aja ya kan, juga boleh haha.
See you on the next chapter.
ha ha ha
ha ha ha