Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Irine berpamitan pulang pada Arini dan Sastra.
"Ma, Irine pamit pulang ya. Udah sore takut bunda cariin Irine," pamit Irine pada Arini.
Yuan sudah menunggu di pintu gerbang dengan dirinya yang masih duduk di motor dengan helm yang masih dipakai.
Irine yang menelfon Yuan seperti janjinya pada Yuan ketika sudah selesai.
Arini mengangguk.
"Iya, kamu hati-hati ya dijalan. Kapan-kapan main lagi kesini."
Irine mengangguk dan tersenyum.
"Pasti, Ma."
Kini ia menoleh ke Sastra.
"Gue pamit ya, Sastra."
"Hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Irine pun pergi meninggalkan rumah itu.
"Tra, dia gadis yang cantik dan baik ya? Kamu suka gak sama dia?" tanya Arini.
"Apaan sih, Bun. Dia itu cuma temen Sastra."
"Lho, apa salahnya kamu suka sama cewek sebaik Irine?"
Sastra terdiam namun bibirnya melengkung ke atas.
[[]]
Yuan sudah tiba dirumah Irine. Irine pun turun dari motor Yuan.
"Makasih, Yuan." Irine tersenyum senang, "Bener kan, gue tepatin janji gue buat nelpon lo kalau gue udah selesai?"
"Janji yang utama tapi belom," sindir Yuan.
"Maaf," Irine menunduk, "Gue gak bisa kalau tepatin janji itu."
Yuan mengeratkan rahangnya. Meskipun itu tidak akan terlihat oleh Irine.
"Kenapa?"
Irine menoleh pada Yuan.
"Gue gak bisa biarin dia sendirian, Yuan."
"Dia gak sendirian, Irine! Dia punya banyak teman. Dan teman dia bukan cuma lo satu-satunya!" Bentak Yuan membuat Irine mengernyit.
"Yuan, lo kenapa sih? Kenapa lo marah?"
Yuan mengalihkan pandangannya dan menyalakan mesin motornya.
"Gue pamit."
Yuan pergi begitu saja dengan Irine yang benar-benar bingung dengan sikapnya.
"Yuan, lo itu kenapa?"
[[]]
Semuanya tampak biasa-biasa saja, dirinya dengan Sastra pun baik-baik saja. Namun, tidak dengan dirinya dan Yuan. Yuan berjalan terus ketika berpapasan dengannya. Meskipun Irine sudah menyapanya, Yuan mengacuhkannya saja.
Kini, Irine hanya bisa menatap Yuan yang melamun ketika bersama teman-temannya disudut kantin.
"Lo marahan ya sama Yuan?" tanya Vinkan pada Irine. Pasalnya, Irine selalu menatap Yuan saja dari tadi.
Irine menunduk.
"Gue gak tau. Dia tiba-tiba ngejauhin gue."
"Kemarin lo ngomong apa sama dia? Sampai dia ngejauhin lo?" Tanya Secil.
"Gue cuma bilang kalau gue gak bisa nepatin janji gue sama dia."
"Janji? Janji apa?" tanya Vinkan.
Irine pun menjelaskan semuanya pada Vinkan dan Secil. Setelah cerita, mereka berdua kesal pada Irine.
"Lo kenapa gak tepatin aja sih? Lo kan juga baru kenal Sastra baru-baru ini? Sedangkan lo sama Yuan udah kenal lama. Lo mau gara-gara kayak gini aja persahabatan kalian hancur?" Itu komentar pertama dari Vinkan ketika Irine selesai bercerita.
"Vinkan bener, Rin. Pantesan Yuan jauhin lo. Soalnya dia nganggap kalau lo lebih pilih Sastra dibanding dia yang statusnya sebagai sahabat lo, sementara Sastra hanya baru lo kenal baru-baru ini," ucap Secil.
Irine menatap kedua temannya.
"Kalian gak tahu apapun. Awalnya, gue juga mau jauhin Sastra. Tapi gue berubah pikiran karena satu alasan."
"Terserah lo deh, Rin. Kita udah kasih saran aja ke lo."
"Jangan nyesel kalau Yuan bener-bener jauhin lo, Rin."
Irine benar-benar bingung. Kenapa situasinya menjadi rumit begini? Irine hanya tidak ingin jika Sastra kesepian nantinya.
Gak papa, Rin. Cepat atau lambat, Yuan pasti ngerti.
[[]]
Setelah bel pulang, Irine langsung pergi ke parkiran. Tapi ketika ia sampai disana, ia melihat jika Yuan pergi bersama Ersa?
Irine berhenti melangkah. Dan menatap kepergian Yuan bersama Ersa. Mereka melewati Irine begitu saja. Entah kenapa, hatinya terasa sakit melihat mereka berdua.
"Ah, mungkin Yuan bener-bener minta butuh waktu. Kali ini gue pulangnya naik bis aja." Irine berjalan berlawanan arah.
Tanpa Irine tahu, jika Yuan melihat Irine dibalik kaca spionnya.
Irine pun menuju ke halte dan bertemu Sastra disana.
"Hay, Rin," Sapa Sastra terlebih dahulu. Irine tersenyum dan duduk disebelahnya sambil menunggu bis.
"Hay juga."
"Kok tumben lo naik bis? Yuan kemana?" Tanya Sastra.
"Gak kemana-mana. Lagian gue juga lagi pengen naik bis."
Sastra tersenyum.
"Kalian lagi gak bertengkar, 'kan?"
Irine langsung menggeleng.
"Ah, nggak kok. Kita baik-baik aja."
"Syukur deh. Gue takut kalau Yuan marah sama lo karena selalu pergi sama gue."
Irine menggeleng. "Dia gak marah sama siapapun kok."
Bis yang mereka tunggu sudah datang. Mereka pun masuk kedalam bis itu. Ternyata, hanya tersisa satu kursi penumpang saja.
"Lo aja yang duduk. Biar gue yang berdiri."
"Eh, tapi kan lo duluan yang nungguin bisnya. Berarti ini kursi buat lo dong."
"Udah gak papa. Lo aja yang duduk. Emangnya kaki lo kuat berdiri sampe rumah?"
Irine menggeleng sambil tersenyum.
"Beneran gue yang duduk?" Sastra mengangguk.
"Iya, udah cepet duduk. Busnya mau jalan."
Irine mengangguk dan ia pun duduk dengan Sastra yang berdiri disebelahnya.
Tanpa mereka berdua sadari, ada motor yang mengikuti bus tersebut. Dan mengepalkan tangannya ketika melihat mereka yang terlihat dekat.
[[]]
Yuan pulang kerumah dengan emosi yang menggebu-gebu. Bahkan ia menutup pintu saking kencangnya hingga membuat Rena keluar.
"Yuan, pelan-pelan dong nutup pintunya." Yuan tidak mendengarkan ucapan ibunya. Yuan terus pergi ke kamarnya.
"Yuan! Yuan!"
Yuan terduduk di kasurnya. Ternyata, menjauhi Irine bukan sebuah solusi yang tepat. Karena justru akan membuatnya kehilangan Irine.
Drrt drrt
From. Irine
Yuan, gue udah sampe rumah naik bus. Lo gak usah khawatir gue pulang naik apa.
Yuan mengambil ponsel disampingnya. Ia membuka pesan dari Irine.
Jika dalam keadaan seperti ini, Yuan kadang tidak bisa mengendalikan emosinya. Tapi, Irine sudah mengerti Yuan dengan baik.
Yuan mengusap wajahnya.
"Kenapa gue kayak gini? Apa yang terjadi sama gue?"
Disisi lain, Irine menatap layar ponselnya yang sudah menghitam setelah mengirimkan pesan untuk Yuan. Ia tahu Yuan tidak akan tega menyuruhnya pulang sendirian. Mungkin Yuan sedang kesal karena dirinya.
"Semoga besok baik-baik aja."
[[]]
Irine berangkat sekolah dengan seorang diri. Karena Yuan tidak menjemputnya pagi ini. Awalnya, Jessy meminta Mang Didi untuk menghantarkannya ke sekolah. Tapi Irine menolak dengan mengatakan jika dia ingin naik bis saja.
Irine baru saja tiba disekolahannya itu. Dan tak lama kemudian, mobil Yuan baru saja datang. Kaca mobil terbuka dan menampilkan wajah Yuan namun Yuan tidak melihat keberadaannya, atau mungkin memang pura-pura tidak melihatnya?
"Irine!"
Irine menoleh ketika Vinkan dan Secil menghampiri dirinya.
"Lo ngapain berdiri disitu aja? Dipintu gerbang lagi."
"Lo gak bareng Yuan berangkatnya?" Tanya Vinkan.
Irine menggeleng. "Enggak. Gue naik bus tadi."
Vinkan menghela nafas.
"Masih mau tetep sama keputusan lo? Kalau kayak gini terus, lambat laun hubungan lo sama Yuan bakalan hancur."
"Udahlah, nanti Yuan juga bakalan ngerti sendiri. Lagipula, gue kan udah lama selalu bareng sama dia. Sekali-kali lah kita gak bareng."
"Hay, Irine."
Sastra datang menyapa Irine.
"Irine doang nih yang disapa? Kita berdua enggak lo sapa?" goda Secil pada Sastra.
Sastra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gue belom tahu nama kalian berdua. Jadi gue cuma nyapa Irine."
"Gue Secil, kalau cewek galak satu ini namanya Vinkan," ucap Secil sambil melirik ke Vinkan. Vinkan melotot tak suka pada Secil yang mengatainya galak.
"Galak apaan sih? Lo nya aja yang terlalu lebay."
"Tuh kan galak. Gitu aja langsung marah."
Sastra tersenyum.
"Udah, gitu aja kok kalian berantem? Ayo, masuk. Bel sebentar lagi bunyi," lerai Irine.
"Yaudah, kalau gitu duluan kekelas ya," pamit Sastra. Irine dan Secil mengangguk.
Sastra pun pergi.
"Rin, Sastra manis juga ya ternyata? Pantesan aja lo suka."
Irine langsung melotot. "Siapa yang suka sama dia sih?"
"Berarti kalau gitu lo sukanya sama Yuan?"
"Ih, ya gak juga lah!"
"Cieee, Irine bingung sama perasaannya sendiri. Bingung antara Yuan sama Sastra," ledek Secil yang sudah ngacir lebih duluan.
Irine pun mengejar Secil yang sangat nyebelin itu. Sementara Vinkan hanya menggeleng saja melihat keduanya.
Tanpa sengaja, ia melihat Yuan yang berdiri tak jauh sedang melihat Irine.
"Irine, Lo bener-bener **** karena gak sadar akan satu hal."
To Be Continued
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung