Disarannkan sebelum baca cerita ini baca dulu karya saya Gadis Miskin Kesayangan CEO ya, agar tidak gagal fokus, disana cerita Tania dan Dokter Anton bermula.....#
Anton adalah seorang Dokter Umum yang melanjutkan studinya untuk meraih gelar sebagai Dokter spesialis kejiwaan, dalam tugasnya Dokter Anton bertemu dengan seorang pasien yang bernama Dinda yang sedang mengalami depresi berat atas meninggalnya kekasih yang ia cintai dalam kecelakaan.
Lambat laut kedekatan mereka membuat Dinda menemukan kekasihnya dalam diri Dokter Anton. Tapi saat ini Anton belum bisa membuka hatinya untuk siapa pun, dihatinya masih ada Tania yang susah sekali ia lupakan.
Berjalannya Waktu Tania tiba-tiba datang setelah Anton sudah sedikit melupakannya dan ingin melanjutkan hidupnya siapakah nanti yang akan mengejar cinta Anton?? Apakah Tania atau Dinda??
Karya ini hanya sekedar hayalan Author ya 🤭 semoga kalian suka ceritanya...!!
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indaria_ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Demam Tinggi
Di bawah terik matahari yang mulai panas Dinda dan Anton masih berada di sana, mereka masih sama-sama terdiam menata suasana hati mereka yang tidak mulai stabil.
"Dok, maaf ada pasien baru yang harus segera di tangani!" Ucap Mei yang entah dari mana tiba-tiba sudah berada di dekat mereka. Dinda yang terdiam mulai melirik Mei disana.
"Baik, saya akan segera kesana. Dinda kembalilah ke ruang perawatanmu, minum obatnya dan istirahat yang cukup!" Ucap Anton yang segera pergi meninggalkan Dinda disana.
Dinda mulai menatap kepergian Anton bersama Asistennya Mei, dia mulai merasakan tiba-tiba hatinya kembali ada yang hilang, rumit perasaan apa yang kini ada di dalam hati Dinda. Melihat kepergian Dokter Anton saja hatinya tiba-tibah perih.
"Hai, apa kamu sedang jatuh cinta ha!" Ucap seorang pasien disana yang tiba-tiba tertawa dan berlalu dari samping Dinda.
Kini perasaan Dinda mulai bingung, "Ada apa dengan sikapku sampai orang gangguan jiwa saja bisa membaca fikiranku" gumamnya disana. Dia pun segera meninggalkan tempat itu dan segera pergi menuju ke ruangan yang ia tempati.
Sesampainya di kamarnya, Dinda mulai terdiam lagi dia merasa hidupnya hampa, dia tidak memegang ponsel sama sekali akses apa saja pun tidak ia miliki. Kini dia mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur disana, kini ingatannya mulai teringat pada sosok Andreas.
"Pagi sayang." Ucap Andreas yang datang dengan membawa sekotak makanan di tangannya."
"Pagi, kamu sudah datang? Apa yang kamu bawa?" Ucap Dinda sambil menatap sesuatu di tangan Andreas.
"Aku bawakan kamu makanan kesukaanmu!"
"Benarkah apa itu donat?"
"Kamu benar, dan kamu tahu ini pertama kalinya aku membuatnya dengan tanganku sendiri."
"Benarkah? Aku sudah tidak sabar ingin merasakan donat buatannmu!" Ucap Dinda yang antusias dan segera mengambil kotak itu dari tangan Andreas.
Disana Dinda segera membuka kotak itu, dan Taraaaaa.......! Didalamnya ada berbagai warna dan rasa yang berbeda-beda.
"Sayang beneran ini kamu yang membuatnya?"
"Apa kamu meragukan aku!" Ucap Andreas yang sedikit kesal.
"Aku percaya, tapi sejak kapan kamu suka bikin kueh?"
"Sejak aku tahu kalau kamu suka donat, aku belajar dari chef-chef terbaik, aku ingin membuat donat ini spesial untuk mu. Cobalah!!"
Dengan cepat Dinda langsung mengambil satu dari beberapa donat itu, dia sudah tidak tahan untuk segera mencicipinya.
"Em...rasanya enak sekali sayang, terimaksih karena kamu sudah mau berkorban untukku."
"Tidak usah berterimakasih, ini semua karena aku lakukan karna aku sayang sama kamu."
Disana Dinda mulai menangis setelah teringat tentang kejadian yang baru saja singgah di fikirannya, "Dre aku merindukanmu??" Ucapnya lirih.
"Kenapa aku sampai seperti ini, aku belum bisa melupakan dirimu, aku belum bisa merelakanmu pergi, maafkan aku!" Disana tumbuh Dinda tiba-tiba menggigil, dia merasakan hal aneh terjadi pada tubuhnya.
Sementara itu, jam waktu minum obat Dinda sudah tiba, seorang perawat yang datang untuk membawakan obat untuk Dinda segera masuk keruangan Dinda berada.
"Dinda, kamu kenapa?" Ucap perawat itu sambil meletakan obat-obatan yang dibawanya di atas meja. Disana Dinda tak menjawab pertanyaan darinya. Perawat itu pun sedikit curiga. Dia pun mulai mendekati Dinda.
"Din, badan kamu panas sekali!" Perawat itu berucap sambil menempelkan telapak tangannya ke kening dan tangan Dinda.
"Aku panggilkan Dokter ya!" Ucapnya sambil bergegas keluar dari kamar Dinda dan segera menuju ke meja kerjanya, dia segera memencet nomor telepon di mejanya yang ia tujukan pada ruang kerja Dokter Anton.
"Ya Halo Mei disini ada yang bisa saya bantu?" Ucap Mei sambil memegang gagang telepon disana.
"Ya halo, saya petugas jaga di ruang VIP satu, saya ingin melaporkan bahwa pasien atas nama Dinda Prameswati sedang mengalami demam tinggi!" Ucap perawat disana sambil nafasnya sedikit tersengal.
"Baiklah, saya akan memberitahukan pada Dokter Anton!" Ucap Mei yang segera mematikan panggilan telepon disana.
Anton yang masih sibuk di depan layar monitornya segera menoleh ke arah Mei tanda meminta penjelasan, siapa yang baru saja telepon.
"Dok, ada laporan dari ruang VIP satu atas nama Dinda Prameswati dia sedang mengalami demam tinggi Dok!"
"Demam!! Bukankah tadi Dinda baik-baik saja!" ucap Anton disana.
"Saya kurang tahu Dok!"
"Ya sudah kita segera kesana, kita lihat keadaanya!" Anton pun segera berdiri dari tempat duduknya, dan tak lupa dia mengambil alat yang setiap hari ia kalungkan di lehernya.
Dokter Anton berjalan dengan di ikuti Mei di belakangnya, dia berjalan dengan sedikit terburu-buru, dia tidak mau ada kesalahan sedikitpun pada pasien yang di tanganinya.
Sesampainya di depan ruangan Dinda, seorang perawat sudah menunggu di depan pintu dia menyambut kedatangan Dokternya disana.
"Bagaimana keadaan pasien?" Tanya Anton pada perawat itu.
''Masih menggigil Dok! Silahkan anda lihat sendiri keadaanya!"
Anton pun segera masuk kedalam dengan di ikuti Mei dan perawat jaga disana. Dia melihat Dinda sedang menggigil dengan melilitkan badannya di sebuah selimut tebal.
"Dinda boleh saya memeriksamu!" Ucap Anton yang langsung mendekati Dinda disana. Dinda pun segera menoleh kearah Dokter Anton berada.
"Andreas kamu sudah datang!" Aku sangat merindukanmu!" Ucap Dinda yang langsung terbangun dari tidurnya dan segera memeluk Dokter Anton disana.
"Din, maaf ini saya Dokter Anton!" Ucap Anton yang sedikit berusaha melepaskan pelukan Dinda yang begitu erat.
"Andreas kenapa kamu sekarang seperti ini, kamu sudah tidak sayang aku lagi?" Ucap Dinda yang sedikit manja.
Sebagai laki-laki normal, sebenarnya hati Anton sudah sedikit bergetar, ditambah pelukan Dinda yang sangat menempel di Dadanya, membuat jantungnya sedikit keras memompa, dan ditambah wajah Dinda yang begitu cantik dengan rambutnya yang terurai sampai bisa membuat Anton merinding disana.
"Suster Mei dan kamu, ngapain kalian disini aku sedang bertemu dengan Andreas kenapa kalian mengikutinya disini, saya Minta kalian keluar!" Ucap Dinda yang masih erat memeluk Anton.
Anton disana segera mengibaskan tangannya tanda menyuruh mereka pergi, biar dia bisa menangani halusinasi Dinda. Akhirnya Mei dan juga perawat disana segera pergi meninggalkan Dokter Anton dan Dinda berdua. Dinda masih erat memeluk Anton, walau pun Anton berusaha menyingkirkan tangan Dinda tapi Dinda terus menepisnya.
"Din, ingat Andreas sudah tidak ada ya...Ini aku Dokter Anton. Kamu harus segera bangkit, aku yakin kamu kuat kamu wanita hebat, maka ikhlaskan Andreas biarkan dia tenang disana. Kamu tahu kamu cantik, kamu pintar!" Ucap Anton sambil sedikit membelai rambut panjang Dinda.
Disana Dinda mulai mendengarkan ucapan Dokter Anton di depannya, dia mulai sedikit demi sedikit sadar bahwa yang ia peluk sekarang adalah Dokter Anton bukan Andreas.
Disana Dinda segera melepas pelukannya setelah dia benar-benar sadar, dia tidak tahu kenapa dia bisa melakukan hal yang memalukan ini.
"Maaf!" Hanya itu yang keluar dari mulut Dinda.
Bersambung.....