"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."
Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.
Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Doa Nenek Aminah dan Janji di Pinggir Rel
Sore itu, di antara debu jalanan dan tawa anak-anak pinggiran rel, Dean merasa dunianya seolah jungkir balik. Ia menatap Karline yang sedang sibuk merapikan sisa nasi kotak, wajah gadis itu tampak bersinar tertimpa cahaya senja. Ada rasa kagum yang membuncah di dada Dean, rasa yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa suka biasa.
Dean melangkah mendekat, lalu dengan gerakan perlahan, ia menarik ujung kaos Karline, memberi kode agar gadis itu mengikutinya menjauh sejenak dari kerumunan warga. Karline mengernyitkan dahi, namun ia menurut dan berjalan mengekor di belakang Dean menuju area yang lebih sunyi di bawah pohon tua yang meranggas.
"Ada apa, Dean?" tanya Karline sambil menyeka keringat tipis di dahinya.
Dean berbalik, menatap Karline dalam-dalam. Matanya tidak lagi menyiratkan keangkuhan. Kali ini, tatapannya lembut dan penuh kejujuran.
"Karline... soal syarat ini," suara Dean terdengar rendah. "Jujur, aku sangat senang dan terharu. Aku belum pernah merasa sekagum ini pada seseorang, terutama kamu. Aku menyukaimu dan aku ingin kamu.."
Belum sempat Dean meneruskan kalimatnya, langkah kaki yang terseret-seret mendekat. Nenek Aminah datang membawa sebuah botol kaca kecil dan bungkusan daun pisang.
"Tunggu dulu, Ndok, Le," panggil Nenek Aminah dengan senyum tulus.
Dean dan Karline spontan menoleh. Di pikiran tua Nenek Aminah, melihat pemuda tampan menemani Karline ke tempat kumuh seperti ini hanya berarti satu hal, mereka adalah pasangan suami istri.
"Ini, Ndok Karline. Nenek punya jamu khusus," ucap Nenek Aminah. "Kalau mau janinnya sehat dan kuat nanti, minum jamu ini ya, Ndok. Ini resep turun-temurun, supaya anak kalian nanti jadi anak yang berbakti seperti bapak ibunya."
Deg.
Jantung Karline seolah berhenti berdetak. Ia membeku di tempatnya. Namun, Nenek Aminah justru melangkah lebih dekat. Dengan gerakan natural, nenek itu meraih tangan besar Dean dan menuntunnya, mengusapkan telapak tangan Dean pelan ke atas perut rata Karline yang tertutup kaos pink.
"Dijaga ya, Le, istrinya. Jangan sampai kecapekan. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia, langgeng sampai maut memisahkan," ucap Nenek Aminah sambil menepuk-nepuk punggung tangan Dean yang masih menempel di perut Karline.
Setelah memberikan "restu" yang salah sasaran itu, Nenek Aminah tersenyum lebar dan langsung berjalan menjauh, kembali ke gubuknya sebelum Karline sempat membela diri.
Suasana di bawah pohon itu mendadak menjadi sangat canggung. Tangan Dean masih mematung di sana, seolah-olah kulit tangannya yang bersentuhan dengan kain di perut Karline memiliki daya magnet yang kuat. Karline merasa wajahnya panas membara. Ia segera menepis tangan Dean dengan gerakan kikuk.
"Dean! Ini... ini harus diluruskan! Nenek Aminah salah paham besar!" seru Karline panik. "Aku harus ke sana dan bilang kalau kita bukan... kita nggak..."
Saat Karline hendak berlari mengejar Nenek Aminah, Dean dengan cepat menghalangi jalannya. Ia merentangkan tangan, menahan langkah Karline dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Jangan, Karline. Biarkan saja," ucap Dean tenang.
"Mana bisa dibiarkan! Dia pikir aku hamil! Dia pikir kita sudah menikah!" protes Karline dengan wajah yang sudah merah padam.
Dean menatap Karline dengan binar jenaka sekaligus penuh harap. "Lagian itu doa kebaikan, kan? Kenapa harus ditolak? Nenek itu mendoakan kita bahagia, mendoakan kita punya keturunan yang baik. Biarkan saja, anggap itu doa untuk masa depan kita."
Padahal, dalam hati Dean, itu hanyalah akal-akalannya saja agar ia bisa menikmati momen manis ini. Ia sangat menyukai perasaan saat tangannya berada di sana tadi, seolah ia memang memiliki hak untuk melindungi Karline selamanya.
Karline menatap Dean dengan curiga, namun melihat wajah Dean yang tampak begitu damai meskipun ada sedikit nada menggoda ia akhirnya menghela napas pasrah.
"Terserah kamu lah, Dean. Dasar aneh," gerutu Karline pelan sambil memalingkan wajah, menyembunyikan senyum yang hampir terbit.
Karline akhirnya mengangguk kecil dan melanjutkan kegiatannya. Dean berdiri di belakangnya, tersenyum bahagia dalam hati. Diam-diam, Dean menutup matanya sejenak dan melangitkan doa yang sama dengan doa Nenek Aminah tadi.