Terlahir menjadi anak yang terbuang tak membuatnya berkecil hati. Semangat yang dimilikinya kembali berkobar kala melihat banyaknya orang yang menyayanginya.
Namun dunianya berubah kala dirinya memutuskan untuk menikah. Meski harus merasakan kepahitan akan cinta pertamanya. Denisa tetap bisa bertahan meski pada akhirnya dia memilih mematikan hatinya demi membuang rasa sakitnya.
~Kau tak pernah tahu perihnya luka yang tak nampak namun terasa sangat menyayat jiwa. Jika luka gores itu akan hilang dengan sendirinya namun tidak dengan luka hati, sampai kapanpun dia akan tetap kekal abadi.... Denisa
~ Kuakui aku bodoh. Seharusnya aku menggunakan akal dan hatiku bukan menggunakan emosiku... Raka.
Bagaimana kisah mereka mengarungi biduk rumah tangga dengan bayang bayang cinta lain yang masih melekat di hati Raka.
Mampukah Denisa kembali merasakan cinta dalam hatinya yang telah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Jerit Hati Denisa
Denisa bukannya tak tahu dengan apa yang terjadi. Akan tetapi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Raka jika dirinya tak boleh terlalu jauh bermain hati. Denisa hanya berharap semua bisa segera berlalu dan dirinya bisa kembali bebas menjalani harinya.
Setelah kepergian sang suami seperti biasa. Kini giliran Denisa bersiap untuk berangkat bekerja. Pundi-pundi tabungannya pun kian bertambah dengan seiringnya waktu. Dia yang memang suka hidup berhemat tentu saja mahir mengolah keuangan nya.
Berbekal kemampuannya selama ini yang membantu bu Rahma mengurus keuangan panti membuatnya terbiasa.
Akan tetapi belakangan ini sikap Raka sedikit berbeda. Lelaki itu sudah mau berbicara dengannya meski hanya sepatah dua patah kata. Meski sepele namun nyatanya hal itu sudah membahagiakan bagi Denisa. Tak banyak inginnya, hanya ingin dianggap ada sebagai seorang istri atau jika tidak sebagai seorang kenalan.
Menu sarapan pagi ini sudah terhidang diatas meja. Setelah meletakkan dua gelas air putih Denisa segera bergegas ke kamarnya yang tak jauh dari sana. Sementara itu nampak Raka menuruni tangga dari kamarnya di lantai 2. Lelaki tampan tersebut menggulung lengan kemejanya hingga ke siku menambah kesan seksi terlihat disana.
Senyum tipis nampak terukir di bibirnya. Nasi goreng dengan telur dadar adalah kesukaannya akhir akhir ini. Entah kenapa namun menurutnya nasi goreng buatan Denisa sangat lezat. Meski telah duduk di meja makan, Raka belum menyentuh sarapannya sedikitpun.
"Maaf, mas.. lama ya."
Denisa bergerak cepat, meraih piring dihadapan sang suami dan segera mengisinya dengan nasi goreng juga potongan telur. Raka yang diam diam menatap penampilan sang istri tersenyum tipis, sangat tipis hingga Denisa tak menyadari itu.
Dua piring nasi goreng tersaji dan siap disantap oleh keduanya. Raka sesekali melirik kearah sang istri yang nampak menikmati sarapannya. Dari pakaian serta cara berdandan gadis itu diperhatikan dengan seksama dan tak ada yang luput dari pandangan Raka.
Rambut yang sedikit bergelombang, dagu lancip dengan lesung pipi di bagian kiri serta belahan dagu juga bibir mungilnya mampu membuat seorang Raka hilang fokus hingga pandangannya tak pernah lepas dari sana.
Bibirnya mendengus kesal kala ponselnya berdering dan dari nada deringnya dia bisa menebak siapa orang yang telah menganggu konsentrasinya beberapa menit lalu.
"Ya." Jawab nya sedikit malas.
Tak seperti biasanya, Raka yang selalu nampak antusias dan menggebu-gebu kala mendapatkan panggilan dari Laras menjadi sedikit ogah ogahan. Hal itu telah terjadi sejak sebulan lalu, lebih tepatnya setelah lelaki tampan yang gigih akan cinta butanya meski tak pernah mendapat restu dari sang mama itu sering mendapat kiriman berupa paket.
Paket yang pada awalnya membuatnya kesal karena menyangka semua itu adalah ulah sang mama dan kedua adik kembarnya namun ternyata dugaannya salah besar. Keluarganya tersebut masih tenang tanpa pernah mengusik kehidupannya. Seperti yang pernah dia minta pada sang mama ketika dirinya pada akhirnya menyetujui perjodohannya dengan Denisa kala itu. Dan Bu Yenni benar-benar menepati janjinya.
Raka bukan lelaki yang benar-benar bodoh. Meski tentang Laras dan ibunya dia banyak menutup mata selama ini. Gadis itu yang mengenalkannya pada cinta untuk pertama kali. Dari Laras lah dirinya bisa merasakan namanya jatuh cinta dan rindu menjadi satu. Meski fakta menampar kenyataan kala dirinya mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh sang ayah bersama ibu dari gadis yang namanya masih tertulis dengan tinta tebal dalam hatinya hingga kini. Ya, hingga kini cintanya pada Laras belum terkikis meski rasanya sudah sedikit berkurang kadarnya dibanding dulu atau beberapa bulan lalu.
Semua paket yang diterimanya tentu saja langsung dia selidiki kebenarannya. Dan jawaban akurat dari orang yang selama ini dipercaya bekerja untuknya itupun kembali menggoyahkan keteguhannya. Kenyataan bahwa ada banyak kebohongan dan kebohongan yang lain membuat Raka sedikit menjauh guna bisa menenangkan hatinya yang perlahan kembali hancur seperti saat mengetahui scandal sang ayah.
Kala itu Raka tetap bertahan karena yakin akan cintanya dan dia juga percaya dengan apa yang disampaikan oleh Laras dan ibunya jika sebenarnya mereka tak mengetahui jika selama ini pria yang menjalin hubungan dengannya itu sudah beristri dan lebih parah dari itu, pria itu ternyata adalah ayah dari kekasih sang anak. Pengakuan sang ayah yang mengatakan khilaf dan tak ingin lari dari tanggungjawab juga membuatnya egois untuk tetap mempertahankan Laras disisinya meski dirinya tahu bahwa keputusannya itu telah melukai hati mama kandungnya sendiri.
"Sayang, kamu sudah berangkat ke kantor?" suara manja Laras seperti biasa terdengar. Namun kali ini terasa sedikit hambar seolah tak lagi terdengar merdu di telinganya.
Suara itu jelas saja terdengar pula oleh Denisa yang duduk dihadapan sang suami dengan nasi goreng yang hanya tinggal tiga suap lagi masuk ke dalam mulutnya akan tetapi tiba-tiba perutnya terasa sangat kenyang hingga Denisa memilih berdiri dan menyudahi sarapannya.
Gadis itu berlalu tanpa kata dengan membawa piring dan gelas bekasnya ke arah dapur dan mencucinya disana. Rasa sesak itu kian dia rasakan. Hatinya tetap merasakan sakit meski apa yang dialaminya saat ini telah dia ketahui bahkan sebelum pernikahan di gelar.
Denisa hanya tak ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia tak ingin menyiksa hatinya yang sedang merasa bahagia, Denisa hanya ingin menyimpan kenangan manis bersama sang suami sebisa dan sebanyak yang dia terima sebelum waktu perpisahan itu tiba.
Setelah mencuci dan mengeringkan tangannya Denisa kembali berlalu ke arah kamarnya untuk mengambil tas kecil yang selalu dibawanya saat bekerja.
Kembali mematut dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilan sudah rapih apa belum. Meski merasa tak pernah cantik seperti kebanyakan gadis gadis lain diluaran sana namun Denisa selalu berusaha tampil sopan, apalagi pekerjaannya adalah selalu berhubungan dengan banyak orang.
Denisa yang keluar dari kamarnya dikejutkan dengan kehadiran Raka yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Lo, mas sudah sarapannya?" Tanyanya hanya sekedar menetralkan debaran jantungnya ketika tanpa sengaja tatapan mata keduanya saling bertemu dan Denisa dengan cepat menundukkan wajahnya dalam dalam.
"Hem, nanti tak perlu menungguku makan malam. Aku akan makan malam di luar dan mungkin akan pulang larut."
"I.. iya." Jawabnya pelan. Hatinya yang berusaha dia tekan tetap terasa sakit. Denisa yakin jika suami tampannya itu akan bertemu dengan kekasih hatinya.
Raka menjulurkan tangannya, suatu hal yang sebulan ini rutin dia lakukan. Mengabulkan keinginan Denisa untuk menjadi seorang istri meski hanya mencium tangannya ketika berangkat atau pulang bekerja.
"Hati hati mas dijalan, jangan terlalu ngebut dan jangan lupakan makan siang." ucapnya dengan senyum manis menutup luka hatinya yang sebenarnya tengah menganga semakin lebar.
Seperti bisa, lelaki itu tak menjawab. Raka melangkah meninggalkan apartemen tanpa menengok lagi. Sementara Denisa masih menatap getir punggung sang suami yang perlahan menghilang di balik pintu.
*
*
*
"Jika aku boleh memilih, aku tak ingin merasakan jatuh cinta seperti ini. Meski tak salah jika mencintai suami sendiri namun aku tetap berada diposisi yang salah karena mencintai orang yang memang sejak awal tak pernah menganggapku ada."
tpi rayyan udah sama jennie kan thor di kota B..
selamat ya ren
jangan menunda momongan lah.. biar kan berjalan sesuai kehendak yg kuasa.. kalian cukup ngadon aja 🤭
mau liat live streaming ini 🤣🤣
gass yok
ibu telat 🤭🤭
akhirnya rencana berjalan lancar.
selamat untuk rena dan radit