Anastasya yang biasa di panggil Ana, meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Ibu Kota Jakarta.
Ana bukan hanya gadis desa biasa. Dia gadis yang pintar dan cerdas. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa membiayai pendidikan Ana hingga lulus nanti.
Apakah nasib Ana akan selalu beruntung saat berada di Ibu Kota, apakah sebaliknya?
Yuk baca kisah lengkapnya hanya di Pesona Gadis Desa😊
Follow ig: mayarentika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 PGD
''Kamu tinggal di rumahku aja An,'' ucap Lufi menawari.
''Nggak ah Fi. Aku tinggal di sini aja, bolehkan?'' tanya Lufi kepada teman-temannya.
''Jangann!!'' ucap mereka ber empat. Siapa lagi kalau bukan Kevin, Indra, Nino dan Lukman.
''Kenapa?'' tanya Ana terdengar lesu. Empat sekawan itu pun merasa tak enak hati kepada Ana. Namun mau bagaimana lagi, Ana tak boleh tinggal di basecamp tersebut, yang ada nanti akan menimbulkan masalah baru.
''Em itu An----''
''Udah ngak papa. Kalau aku nggak boleh tinggal di sini aku cari kos atau kontrakan aja,'' ucap Ana.
''Sebenarnya begini An. Orang tua kita sering datang kesini kalau kita jarang pulang. Jadi kalau kamu mau tinggal di sini bisa bahaya,'' ucap Lukman dengan santai. Namun berbeda dengan Kevin, ia merasa tak enak dengan Ana.
''Udahlah An kamu tinggal sama aku aja,'' ucap Lufi.
''Nggak deh Fi,'' ucap Ana tertunduk. Bagaimana mau tinggal di rumah Lufi kalau kakak Lufi seperti singa kelaparan yang ingin memakan musuhnya.
''Kamu takut sama Kak Leon ya?'' tebak Lufi. Ana hanya mengangguk membenarkan ucapan Lufi.
''Tenang, kak Leon saat ini perjalanan bisnis ke LN. Dia bakal lama di sana. Mungkin selama 5 tahunan, karna perusahaan di LN sedang membutuhkan Kakak,'' ucap Lufi. Namun Ana masih ragu untuk ikut ke rumah Lufi.
''Aku setuju dengan ide Lufi. Lebih baik kamu tinggal sama Lufi aja,'' ucap Indra.
''Iya, di sana lebih aman An,'' ucap Nino.
Ana menghembuskan nafasnya kasar. Jika tidak ikut Lufi ingin kemana ia pergi. Uang sepeserpun ia tak punya.
''Baiklah. Tapi aku besok udah boleh kan masuk kerja?'' Ana menatap Kevin.
''Iya boleh. Besok aku jemput kamu di rumah Lufi,'' ucap Kevin.
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah mereka masing-masing. Lufi mengajak Ana ke rumahnya.
''Fi aku beneran nggak enak sama kamu,'' ucap Ana.
''An kita itu sahabat. Jangan seperti orang lain gini dong,'' ucap Lufi sambil fokus menyetir.
''Fi, gimana kalau kakak kamu tiba-tiba pulang. Aku beneran takut Fi,'' ucap Ana memegang tangan kiri Lufi yang sedang menyetir.
''An, santai aja. Kakak nggak bakalan pulang kalau belum 5 tahun di sana. Percaya deh sama aku,'' ucap Lufi meyakinkan Ana.
Mereka pun sampai di rumah berlantai dua milik Lufi. Lufi segera mengantar Ana ke kamar tamu yang ada di rumah tersebut.
''Kamu tidur di sini An. Sekarang kamu istirahat, pasti kamu lelah. Nanti setelah istirahat kita cari makan di luar,'' ucap Lufi.
''Fi apa nggak ada kamar yang lebih kecil lagi. Aku nggak nyaman kalau tidur di kamar sebesar ini,'' ucap Ana.
''Udahlah nggak papa, kamu tidur aja di sini. Kamar yang lebih kecil banyak, tapi di belakang khusus asisten rumah tangga di sini,'' ucap Lufi.
''Aku tidur di sana aja Fi. Aku benar-benar nggak pantas tidur di sini,'' ucap Ana.
''Sttt, jangan ngomong seperti itu An. Aku menganggap kamu udah jadi keluargaku sendiri. Jadi cepatlah istirahat,'' ucap Lufi.
Ana hanya pasrah, ia segera memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari besar yang ada di dalam kamar tersebut. Ana segera mandi dan istirahat.
*
Di lain tempat, lebih tepatnya di rumah Paman Agus.
''Kenapa kamu biarkan Ana pergi dari sini Nin. Apa kamu tidak punya rasa kemanusiaan sedikit saja!'' ucap Doni memarahi Nindy yang membiarkan Ana pergi dari rumah itu.
''Dia yang ingin pergi kenapa aku yang harus mencegah?'' ucap Nindy tanpa berdosa sedikit pun.
''Aku curiga, bukan Ana yang ingin pergi tapi kamu yang mengusirnya iya kan?'' ucap Doni penuh selidik.
''Kamu juga menuduhku yang tidak-tidak Mas. Kemarin Ana menuduhku mengambil uangnya sekarang kamu menuduhku mengusirnya. Kalian memang sehati,'' ucap Nindy tersenyum sinis kepada Doni.
Doni baru saja sampai di rumah. Niat hati ingin mengajak Ana nanti malam makan di luar, namun Doni tidak mendapati Ana, barang-barang Ana pun sudah tak ada.
''Aku akan adukan perbuatan kamu kepada Bapak. Dan aku janji akan membawa Ana kembali ke rumah ini lagi,'' ucap Doni menatap tajam Nindy.
Doni pun pergi dari hadapan Nindy. Nindy tak ambil pusing, ia kembali ke kamarnya mengambil jaket lalu mengendarai motor maticnya keluar entah kemana.
''Kenapa Ibu bisa punya anak modelan Nindy. Aku benar-benar tak habis fikir,'' ucap Doni yang mendengar suara motor adiknya pergi dari halaman rumah.
Doni mencoba menghubungi Ana, namun Ana tak menjawab telepon Doni.
''Kamu di mana sih An. Angkat dong telponnya,'' Doni merasa khawatir dengan Ana. Doni mencoba beberapa kali menghubungi Ana namun lagi-lagi tak di angkat oleh Ana.
''Jangan buat Mas khawatir An,'' Doni pun mengambil tas selempang dan jaketnya lalu menaiki motornya. Doni akan mencari Ana sampai ia bertemu dengan Ana lagi.
Sementara Ana baru bangun dari tidurnya. Ia lalu mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar. Setelah Sholat Ana membuka ponselnya. Dan betapa terkejutnya banyak panggilan dari Doni.
''Aku harus mengabari Mas Doni kalau aku baik-baik saja. Pasti mereka khawatir denganku,'' ucap Ana.
Ia mengirim pesan kepada Doni.
''Mas, jangan khawatirkan Ana. Ana sekarang tinggal di rumah teman Ana. Sampaikan maaf Ana kepada Paman dan Bibi,'' isi pesan Ana.
Doni yang sedang berhenti di sebuah taman mendengar suara notif pada ponselnya. Ia segera mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.
Setelah mendapat pesan dari Ana, Doni merasa lega.
Tut tut tut.
Doni menelpon Ana.
''Halo asalamualaikum Mas,'' ucap Ana.
''Walaikum salam An, kamu dimana? Mas kesana ya, Mas khawatir sama kamu,'' ucap Doni yang memang terdengar khawatir.
''Mas Doni nggak usah khawatir, Ana baik-baik saja Mas. Sekarang Ana ada di rumah teman Ana,'' ucap Ana.
''Mas jemput kesana ya?'' ucap Doni.
''Jangan Mas. Mas Doni nggak usah repot-repot jemput Ana. Ana nyaman Mas tinggal di sini. Sampaikan maafku untuk Bibi dan Paman ya Mas. Sampai jumpa di kampus Mas. Assalamualikum,'' ucap Ana langsung mematikan sambungan telepon.
''Walaikum salam,'' ucap Doni lirih. Berpisah sehari membuat Doni sudah rindu kepada Ana. Biasanya mereka berangkat ke kampus bersama namun sekarang untuk bertemu dengan Ana pun susah. Doni juga tak tau di mana alamat rumah teman Ana. Jika Doni tau pasti Doni sudah menjemput Ana ke sana.
*
*
Jangan lupa like, coment, vote dan beri hadiah sebanyak-banyaknya kawan.
Happy reading.
See you next episode😚😚😚
I lope you sekebon😁😁