"Gimana bisa coba gue masuk novel?! Emangnya masuk akal? Udah kayak di novel aja!"
tahap revisi🙏
jangan lupa masukan ke favorit ya( ◜‿◝ )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan [Last]
...Happy Reading 💚...
...Episode 08 ...
Oke, jangan tanya dulu sekarang. Aluna kini menatap kedua pria yang saling melayangkan tatapan tajam. Saat ini ia berada di ruang kesehatan. Luka di kakinya sudah di berikan penanganan dan diberi obat, walau rasa sakitnya masih ada namun tidak separah sebelumnya.
Masalahnya adalah kenapa mereka bertengkar?
Begini ceritanya, sesaat setelah Arthur membawa Aluna ke uks pria itu menyuruh temannya membawa jajanan yang adiknya maksud dan membayar. Kemudian di tengah perjalanan kakak beradik itu tidak sengaja berpapasan dengan Garvan.
Merekapun akhirnya bertengkar, anehnya Aluna tidak paham apa yang mereka ributkan. Hanya bisa menggelengkan kepala, Aluna memilih melahap satu persatu camilannya. Jangankan untuk melerai, untuk menggerakkan kakinya sedikit saja dia lelah. Manjanya tidak hilang meski di tubuh baru.
Tapi seru juga melihat pertengkaran sambil makan camilan.
"Ngapain lo di sini?"
"Pertanyaan yang tidak bermutu." Garvan membalas malas, sebaliknya dia menatap Aluna cemas. "Kamu baik baik aja?"
"Pergi sana! Aluna hanya butuh gue di sini." usir Arthur mendorong pria itu supaya menjauh.
Garvan mendecap tidak suka, "Aluna lebih butuh gue! Gue pacarnya."
"Gue kakaknya bodoh!"
Melihat kondisi yang semakin tidak kondusif karena tatapan permusuhan yang di lemparkan oleh keduanya, Aluna segera menengahi.
"Kak, udah. Mending kakak ke kelas, bel udah bunyi dari tadi. Biar Garvan yang temenin aku di sini," Ucapan menarik tatapan tajam dari Arthur. Jelas dia tidak terima, mana boleh Aluna berduaan dengan pemuda itu.
"Gak! Kenapa lo biarin dia disini?" renggutnya tak suka.
Aluna tersenyum masam dalam hati, sesungguhnya yang paling susah di bujuk itu Arthur daripada ayahnya.
"Kakak masa mau bolos? Papa bisa marah, nanti aku juga ikut di marahin." ujarnya coba membujuk lagi.
Garvan tersenyum puas akan kemenangannya, Arthur ia tatap dengan ledekan.
"Nanti pulangnya aku sama kakak deh. Gimana?" tawar Aluna.
"Deal!" Tanpa basa-basi Arthur menyetujuinya. Satu mobil dengan adiknya itu adalah suatu hal yang langka karena Aluna sangat menggilai Garvan sampai waktunya hanya akan di habiskan bersama pria itu.
Saat ada kesempatan yang baik, tentu Arthur tidak akan melewatkannya. Aluna puas saat Arthur benar benar pergi setelah mengusap kepalanya terlebih dahulu.
Giliran Garvan yang merenggut. "Kenapa bilang begitu? Kamu pulangnya mau sama dia?" tanyanya tak berbobot.
Aluna menghela napas.
"Terus lo mau pergi dari sini sekarang? Ya silahkan. Coba aja kalian gak berantem tadi, gue pusing tau dengernya."
Sebenarnya luka Aluna tidak terlalu parah, itupun sudah di obati sejak tadi. Semuanya hanya alasan untuk lari dari pelajaran. Karena ia sangat malas berhadapan dengan yang namanya belajar.
"Sudah ya gue mau tidur." Aluna menyimpan makanan yang tersisa sebelum merebahkan diri. Tak membutuhkan waktu lama dia terlelap meninggalkan Garvan yang memendam kesal dalam hatinya.
Pemuda duduk memandang pacarnya dengan lekat. Tidak tahu kenapa gadis itu terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Pancaran auranya berbeda dari terakhir kali ia memperhatikannya.
Garvan meraih jari jemari Aluna dan mengarahkannya pada pipinya.
"Kamu semakin menarik, Aluna."
...****...
Aluna nyaris berteriak kaget saat wajah Arthur tepat di depannya saat membuka mata. Belum lagi senyum lebar yang baru pertama kali ia lihat begitu menyeramkan.
"Astaga kak! Kenapa menungguku sambil begitu." Ia mendorong tubuh kakaknya kebelakang sementara Aluna ikut bangkit.
"Ayo pulang." ajak Arthur riang tak memperdulikannya.
"Tapi Garvan mana?" tanya Aluna tak menemukan keberadaan pacarnya itu.
Melihat jam yang menunjukkan pukul 3 sore, Aluna merutuki dirinya yang kebablasan tertidur.
"Dia sudah pulang. Kita juga harus pulang, ayo!"
Aluna patuh mengikuti langkah pemuda itu dari belakang, tangannya sibuk mengusap matanya yang sepet. Sungguh dia keenakan tidur di ruang kesehatan. Lain kali dia harus mencoba lagi, hihi.
"Kapan kakak ambil tas aku?" Mata Aluna menyadari tasnya yang tersampir di punggung lebar Arthur.
Tiba tiba langkah Arthur terhenti membuatnya ikut melakukan hal yang sama. Dia menoleh memutar tubuhnya setengah badan, wajahnya terlihat kesal.
"Kenapa kamu di belakang? Jalan di sini!" ujar Arthur menarik Aluna untuk jalan sejajar dengannya. Sang empu mencibir pelan, ia kira ada apa.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku kak." keluhnya setelah berjalan lagi beberapa langkah.
Akhirnya Arthur menyahut pendek, "Ini di ambil pria itu."
Lorong yang sepi menjadi semakin sunyi kala keduanya memilih diam. Aluna sebenarnya cukup canggung karena sebelumnya dia tidak memiliki saudara.
"Kak, aku lapar." Perutnya berbunyi, membuatnya ikut bersuara.
"Iya, kita makan dulu." Arthur menariknya menuju parkiran. Setelah memeriksa adiknya masuk ke mobil, Arthur menyusul dengan semangat. Makan malam berdua? Tentu dia ingin melakukannya.
Tak butuh waktu lama, Arthur menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Aluna menatap bengong, "Kak, kenapa ke sini?"
Arthur yang tidak mengerti, menatapnya bingung.
"Memangnya kenapa?"
Aluna berdecak namun menggeleng, "Tidak apa apa. Sudahlah," gumamnya keluar dari mobil dan masuk.
Arthur dengan sigap memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan yang ia ketahui sebagai makanan kesukaan adiknya. Dia ingin berperan sebagai kakak yang baik.
Sedangkan Aluna menatap sekeliling yang di penuhi oleh pasangan yang tampak mesra. Astaga matanya ternodai. Kenapa Arthur membawanya ketempat seperti ini?
"Kamu tidak suka?"
Tanpa sadar Aluna mengangguk, dia sampai tersentak. Matanya dengan canggung memandang Arthur yang terlihat lesu.
"Ah, aku suka kok. Kakak jangan sedih begitu dong." ucapnya menghibur.
"Maaf."
"Gak papa kak, bagaimana kalau setelah ini kita nonton?"
Semangat Arthur kembali, dia mengangguk setuju. Senang dalam hatinya tak bisa terucapkan kala adiknya sendiri yang menawarkan hal tersebut.
"Oke, kita langsung ke mall setelah ini. Kakak akan traktir kamu."
Mendengar kata traktir, Aluna membulat sempurna. Dia tersenyum lebar.
Belanja itu sudah menjadi keharusan untuknya. Dan sekarang sudah waktunya Aluna melakukan kembali aktivitasnya yang sempat tidak terlaksana beberapa hari.
Pelayan datang membawa makanan mereka. Segera Aluna menyantapnya karena ia sangat kelaparan.
"Kakak jangan nyesel mau traktir aku ya," Aluna harus mewanti-wanti terlebih dahulu, supaya Arthur tidak marah nantinya.
Karena ia akan menguras dompet pria itu.
Arthur tertawa kecil, "Kamu tenang saja. Uang kakakmu ini tidak akan habis sama sekali."
Ia menyombongkan diri agar terlihat baik di hadapannya adiknya. Dia tidak tahu saja rencana adiknya untuk menghabiskan uangnya itu.
...To be continued.....
Halo saya kembali setelah lama pergi:) Saya sibuk memperbaiki kekurangan saya di sini dan sekarang waktunya bertempur kembali.
Sampai jumpa lagi besok dengan Aluna👋
jdi ngebleng aku bacanya