Novel ini mengandung bawang🤧 siapkan tissu terlebih dahulu.
"Pernikahan kita terjadi karena kesalahan, jadi jangan berharap aku akan mencintaimu!" Dimas Fahrian.
"Aku memang bukan istri Dimas, tapi akulah yang selalu Dimas prioritaskan!" Sila Derkain.
"Akulah istri rasa simpanan." Renata Lusiana.
"Dan aku yang akan meratukan mu, Renata!" Reza Argantara.
Pernikahan yang terjadi karena kesalahan satu malam yang mengharuskan Dimas menikahi Renata tanpa rasa cinta, karena hati nya telah berpaut pada wanita lain.
Apakah Renata bisa mempertahankan rumah tangga nya bersama Dimas atau memilih pergi dan membangun hidup baru dengan orang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sendi andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 IRS
Dimas masih asik bersenda gurau bersama Sila, gadis itu benar-benar membuat Dimas lupa waktu hingga jam di dinding sudah menunjukan pukul tujuh malam.
"Kamu lucu banget sih, Dim." Puji Sila sambil menduselkan wajah nya di lengan kekar Dimas.
"Kamu juga." Balas Dimas sambil mengusap puncak kepala Sila lembut.
"Ohh iya, kamu temenan sama Rere udah lama?" Tanya Sila, dalam sekejap saja panggilan kedua nya jadi aku kamu, padahal awalnya Lo, gue.
"Sekitar empat tahunan lah." Jawab Dimas sambil mencomot kacang dari piring di atas meja. "Lama juga ya? Apa kalian bener-bener cuma temenan aja?" Tanya Sila lagi, dia menatap wajah Dimas dengan intens.
"Ya iya cuma temenan, emang nya kenapa?"
"Apa gak ada sedikit aja rasa suka kamu buat Rere?" Sila bertanya lebih banyak untuk mendapatkan informasi.
"Enggak, aku cuma nganggap Rere temen aku aja."
"Serius? Empat tahun lho Dim, kalian sama-sama terus, ya masa gak ada timbul rasa suka gitu?"
"Iya serius Sil, emang nya kenapa sih? Kok mendadak tanya-tanya gini." Tanya Dimas mulai merasa heran pada gadis di samping nya.
"Gapapa sih, aku bersyukur kalo emang kamu beneran gak ada rasa sama Rere, aku jadi lega manja-manjaan sama kamu kek gini, gak takut ada yang bakal marahin." Jawab Sila sambil tersenyum penuh kepalsuan, entah kenapa dia berbalik arah. Dari yang awalnya menempel pada Reza, kini sasaran nya malah pada Dimas.
"Rere gak seposesif itu kok, dia orang nya baik, pengertian, plus perhatian. Selama satu bulan di rumah sakit, dia kan yang gantian jagain aku sama Mami."
"Iya, aku minta maaf ya gak bisa ikut jagain kamu." Ucap Sila dengan nada manja.
"Gapapa kali, santai aja. Udah malem nih, aku pulang dulu ya?"
"Nginep aja disini, temenin aku ya?" Rengek Sila membuat Dimas terkekeh.
"Dihh, manja amat. Udah gede juga, biasa nya tidur sendiri kan?"
"Biasa nya ada Kakak aku, tapi sekarang dia lagi dinas ke luar negeri, jadi aku sendirian. Temenin dong ya, plis?" Bujuk Sila, tapi Dimas seperti nya mulai terpengaruh.
"Ak.." Belum selesai dia bicara, ponsel nya keburu berbunyi dengan nyaring, membuat pria itu langsung mengambil ponsel dari saku hoodie nya.
Terpampang jelas nama Rere disana, sontak saja membuat Sila cemberut karena merasa terganggu dengan panggilan dari Renata.
"Aku angkat dulu sebentar." Izin Dimas, Sila terpaksa mengangguk, meski dia sudah menunjukan ekspresi tak suka nya.
"Hallo Re, kenapa?"
"Lo dimana kampret? Nyokap Lu nanyain tuh, buruan balik. Baru aja sembuh udah main kabur-kaburan Lo, balik sebelum kena abret Mami." Ucap Renata, memang benar jika Dimas terlambat pulang pasti Mami Erika akan langsung menghubungi nya, menanyakan dimana atau kemana Dimas.
Namun, demi menyelamatkan nyawa Dimas, Renata sering berbohong dan mengatakan kalau Dimas sedang belajar di rumah nya, padahal pria itu sedang balapan liar bersama teman-teman nya.
"Sorry Re, gue masih di rumah Sila. Oke, gue balik sekarang."
"Ohh yaudah, buruan." Ucap Renata sedikit lesu, berbeda dengan tadi yang nampak sangat berapi-api.
Sambungan telepon pun terputus, Dimas mendekat ke arah Sila yang sudah menunjukan wajah asam nya.
"Aku pulang dulu ya Sil, Mami udah nanyain." Ucap Dimas sambil mengambil tas dan menggendong nya di punggung.
"Tega ya ninggalin aku sendirian?"
"Ya mau gimana lagi, kapan-kapan aja aku nginep disini ya." Ucap Dimas dengan senyum manis yang nampak tulus, membuat kekesalan Sila lirih seketika, itulah daya tarik Dimas. Senyum nya yang menawan membuat wanita bertekuk lutut, tak terkecuali Renata dan Sila seperti nya.
"Yaudah, besok jemput aku bisa?"
"Bisa dong, tunggu di bawah jam delapan pagi." Tentu saja mendengar jawaban Dimas, Sila langsung berbinar dan tersenyum penuh kepuasan. Setidaknya dia akan lebih gerak cepat untuk meluluhkan hati seorang Dimas.
"Oke, makasih ya."
"Ya, aku balik dulu." Pamit Dimas, lalu berbalik ke arah pintu, tapi Sila mencengkal tangan Dimas dan tanpa aba-aba langsung mencium bibir pria tampan itu. Bahkan melumaat nya dengan lembut, Dimas mematung. Memang ini bukan ciuman pertama, kedua atau bahkan seterusnya, dia sudah sering mencumbu wanita, tapi wanita yang memulai duluan? Ini memang pertama kali nya. Sejauh ini, dialah yang memulai ciuman.
Beberapa detik kemudian, Sila melepaskan bibir nya dari bibir Dimas, bahkan mengusap ujung bibir pria itu dengan ibu jari nya lalu tersenyum.
"Udah sana balik, katanya mau balik? Atau mau nginep aja?" Tanya Sila menggoda Dimas yang malah mematung, padahal tadi mau pulang katanya.
"Ehh iya, yaudah aku balik dulu. Selamat ketemu besok ya, Sil."
Sila menganggukan kepala nya, lalu melambaikan tangan hingga punggung pria itu tak terlihat lagi.
Dimas meraba bibirnya yang terasa basah, ciuman Sila terasa sangat membekas di bibirnya. Sungguh demi apapun ini pengalaman pertama nya di cium duluan oleh wanita, dan rasanya sungguh tak bisa di jabarkan dengan kata-kata.
Dia mesem-mesem, persis seperti Renata saat dia cium untuk pertama kali nya, ada rasa bahagia yang menjalari hatinya saat ini, rasanya ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di dada nya.
Bahkan sampai di rumah pun dia masih mesam mesem, membuat Mami Erika yang sedang menonton televisi pun di buat keheranan. Dahi nya mengernyit, entah apa yang terjadi pada putra nya itu, terlihat sedang bahagia dari binar wajah nya saja Mami Erika bisa menebak sudah terjadi sesuatu, tapi apa?
"Baru pulang anak nakal?" Sapa Mami Erika.
"Eeh Mami.." Balas Dimas sambil cengengesan, dia tak menyadari kalau Mami nya ada di sofa dan melihat tingkah laku nya dari awal masuk rumah hingga saat ini.
"Wajah mu kenapa?"
"Wajah ku? Ada apa dengan wajah ku, tampan ya? Iya Mi, aku tampan dari lahir." Celetuk Dimas dengan percaya diri nya.
"Senyam senyum gitu, kenapa? Kesambet setan kampus ya? Kalau gitu ayo di ruqyah." Mami Erika bersiap bangkit dan meletakan remot televisi di meja.
"Mami apa-apaan, anaknya baru balik masa di sangka kesambet sih?" Rengek Dimas.
"Ya gak biasanya kamu pulang langsung senyam senyum kek gitu, kan Mami khawatir liatnya."
"Aahh Mami, anaknya lagi seneng ini. Senyam-senyum itu bukan berarti kesambet juga kali, Mi." Ucap Dimas membuat Mami Erika terkekeh geli, memang iya yang di katakan putranya itu ada benar nya juga, tapi dia masih belum tahu apa yang membuat putra nya itu merasa senang.
"Jadi, seneng kenapa sampe buat putra ganteng Mami ini mesam mesem?"
"Ada deh, Mami kepo." Ledek Dimas membuat Mami nya itu kesal lalu menepuk kuat lengan sang putra.
"Assh Mami ini, selalu aja main pukul. Sakit tahu, Mi." Cerocos Dimas sambil meringis pelan karena pukulan Mami nya itu cukup menyakitkan.
"Pake rahasia-rahasia an segala sama Ibu sendiri."
"Ya kan Dimas udah gede Mi, harus punya privasi." Ujar Dimas.
"Iya Mami tahu kamu udah dewasa Nak, makanya cepetan punya pacar sana, katanya ganteng tapi jomblo mulu, apa udah gak laku ya?"
"Enak aja bilang Dimas gak laku, cewek yang pengen sama Dimas itu ngantri Mi. Cuma ya belum ada yang cocok aja," jawab Dimas, padahal memang sudah lama dia jomblo, tapi tak pernah kehabisan teman perempuan.
"Ya udah bawa kesini perempuan nya, siapa?"
"Ada deh, baru pedekate Mi. Nanti kalo udah resmi, Dimas bawa kesini deh."
"Yaudah, sekarang mandi terus makan ya. Mami udah masakin udang saos asam manis kesukaan kamu."
"Wihh makan enak hari ini, makasih Mami ku sayang." Ucap Dimas senang lalu mencuri ciuman di pipi kanan sang Mami. Begitulah Dimas, hanya usia nya saja yang dewasa tapi kelakuan nya persis anak kecil.
'Semoga saja Renata lah perempuan nya, Mami gak berharap banyak pada gadis lain selain dia, siapa lagi yang bisa menjaga mu lebih baik dari Renata.' Batin Mami Erika, dia selalu mendoakan kalau Renata adalah jodoh bagi putra nya. Putra semata wayang nya.
….
🌷🌷🌷🌷🌷