NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:958.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Komalasari

Kisah ini merupakan spin off dari novel berjudul : Pesona Tuan De Luca. Disarankan untuk membacanya juga, ya.

Love is blind. 𝚀uote yang cocok untuk menggambarkan hidup Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di Benua Eropa. Dia jatuh cinta pada wanita bersuami, yaitu Florecita Mia.

Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu. Adriano memilih menghilang dan menutup masa lalu.

Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan Mia yang telah menjanda. Wanita yang dulu pernah mencelakai, kali ini meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Whisper of The Wind

Beberapa saat telah berlalu. Mia yang tadi sempat tak sadarkan diri, kini telah membuka mata dengan perlahan. Dia menatap langit-langit ruangan yang terlihat asing bagi dirinya. Untuk sejenak, wanita cantik itu terdiam dan mengumpulkan segenap tenaga.

Saat itu, tubuhnya terasa lemas seakan tak bertulang. Dia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi beberapa saat, sebelum dirinya bisa berada di tempat asing tersebut. “Di mana ini?” gumam Mia dengan suaranya yang agak parau, seraya bangkit dan duduk. Mia kemudian mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Dia lalu menarik selimut tebal yang menutupi tubuh hingga sebatas leher. Menggenggam erat pinggirannya.

Pertanyaan tadi segera terjawab, dengan hadirnya sosok seorang pria yang membuat sepasang mata cokelat Mia seketika terbelalak dengan sempurna. Pria tampan bertubuh tegap yang tengah tersenyum padanya. Sebuah senyuman yang beberapa tahun lalu sudah sangat akrab dan sering dia lihat.

“A-Adriano? Ka-kau di sini? Ka-kau benar-benar masih hidup?” Mia tergagap tak percaya, ketika pria berparas rupawan dengan raut wajah yang seksi dan menawan itu mendekat kepadanya.

Adriano duduk di tepian tempat tidur. Iris mata biru milik pria itu terlihat begitu tenang. Dia kembali tersenyum dengan sikapnya yang selalu terlihat kalem. “Ya, Mia. Ini aku. Adriano D’Angelo,” jawab pria berpostur 187 cm itu tanpa mengalihkan pandangannya. “Tuhan rupanya masih sangat menyayangiku, sehingga Dia tidak dengan begitu mudahnya membiarkanku mati di telan ombak,” ujar Adriano masih dengan raut dan nada bicara yang tenang. Dia mulai mengungkit peristiwa tragis yang menimpanya beberapa tahun silam di Pulau Elba.

Mendengar hal itu, Mia tidak menjawab. Wanita berambut cokelat tersebut tentu saja tak ingin mengingat kembali kisah kelam tersebut. Sesuatu yang sudah lama dia kubur dan lupakan dengan susah payah. “Aku ... aku harus pergi dari sini!” ucap Mia seraya menyibakkan selimut. Dia bermaksud untuk turun.

Akan tetapi, dengan segera Adriano mencegahnya. Pria itu menahan tubuh Mia, sehingga wanita tersebut kembali duduk seperti tadi. Namun, sekali lagi Mia memaksa untuk turun dari tempat tidur dengan mendorong tubuh Adriano hingga sedikit bergeser. Dia memanfaatkan celah kecil itu untuk segera berlari menuju pintu.

“Kau mau ke mana, Mia?” Adriano berdiri, kemudian melangkah ke arah Mia yang tengah berusaha memutar gagang pintu. Tanpa dia ketahui bahwa Adriano telah mengunci pintu kamar itu. “Kau butuh ini untuk bisa keluar." Adriano menunjukkan kunci yang baru dia keluarkan dari saku celana panjangnya.

“Berikan padaku!” pinta Mia. Dia bermaksud untuk meraih dan merebut kunci tadi.

Akan tetapi, dengan sigap Adriano menyembunyikan kunci kecil tadi dalam genggaman tangannya.

“Ambilah jika kau bisa,” tantang pria itu dengan tenang, dan seakan ingin mengajak Mia bermain-main.

“Jangan bermain-main denganku, jika kau tak ingin ….” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Dia bergerak mundur karena Adriano melangkah maju dan semakin mendekat. Mia terus mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Akhirnya, dia pun tak dapat ke mana-mana lagi.

“Apa, Mia? Tidak ada siapa pun di sini selain kita berdua. Kau dan aku di dalam kamar yang sama dengan pintu yang terkunci, dan akulah yang memegang kuncinya." Sorot mata Adriano tampak liar saat itu. Membuat Mia terlihat gelisah.

“Kupastikan kau tak akan berani melakukan apapun!” tegas Mia. Sepasang matanya menatap tajam Adriano. Diam-diam, mata wanita itu mencari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai alat untuk membela diri.

Tatapan Mia pun tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di atas laci samping tempat tidur. Mia bergerak cepat dan mendorong tubuh tegap Adriano, yang hanya berjarak sekitar dua langkah darinya. Gesit, tangan berjemari lentik itu meraih benda yang merupakan sebuah pistol milik Adriano. Mia pun mengarahkan senjata api tersebut kepada pria yang masih terlihat tenang, menanggapi apa yang dilakukannya.

Adriano tampak tidak merasa risau sama sekali. Raut wajahnya masih terlihat berseri. Dia asyik memainkan kunci kamar pada jari telunjuknya. Sesaat kemudian, pria itu kembali memasukan kunci tadi ke dalam saku celana.

“Kau ingin menembakku lagi, Mia? Silakan. Ayo lakukanlah,” tantang Adriano. “Jika kau menembakku lagi sekarang, maka siapa yang akan membantumu menyingkirkan jasadku? Matteo-mu tidak ada di sini." Adriano terdiam sejenak. "Itu juga yang ingin kutanyakan padamu. Di mana dia? Di mana suami tercintamu itu?” Adriano kembali berjalan mendekat kepada Mia.

Sementara, Mia masih terus mengarahkan pistol kepada pria yang sejak tadi tidak terlihat takut sama sekali. “Jangan mendekat atau aku akan benar-benar menembakmu!” tegas Mia dengan tangan yang gemetaran saat memegang senjata api tadi

“Lakukan!” tantang Adriano lagi. Dengan tangan kanan yang tersembunyi di dalam saku celana.

Melihat sikap Adriano yang tak gentar dengan ancaman darinya, Mia segera memikirkan cara lain. Dia menarik pistol yang tertuju kepada Adriano, kemudian mengarahkan moncong senjata itu ke kepalanya sendiri. “Kau tidak takut jika aku menembakmu? Baiklah. Kalau begitu, aku akan menembak diri sendiri!” ancam Mia. Dia sudah bersiap menarik pelatuk senjata api yang dipegangnya.

Hal itu, berhasil membuat Adriano bereaksi. Sikap dan raut wajah tenangnya sirna seketika, berganti rona cemas. Dia tahu jika Mia bisa saja nekat dan tak berpikir panjang. “Tidak, Mia! Jangan lakukan hal itu,” cegah Adriano. “Baiklah. Katakan apa yang kau inginkan,” bujuk pria itu lagi.

Mia tak segera menjawab. Bahasa tubuhnya memperlihatkan bahwa wanita dengan dress hitam tersebut sedang merasa gelisah.

Adriano merasa khawatir. Dia tak ingin jika gangguan kecemasan yang Mia derita kambuh lagi seperti tempo hari, saat berada di mansionnya beberapa tahun lalu atau seperti tadi ketika di dekat pantai. Pria itu pun sigap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Adriano merogoh ke dalam saku celananya. Dia mengambil kunci pintu kamar. “Kau ingin ini, Mia? Ambilah.” Adriano mengulurkan tangannya. Dia menyodorkan kunci itu.

Sedangkan, Mia masih terdiam menatap Adriano dengan tajam. Sementara, moncong pistol masih menempel di dekat pelipisnya. Mata cokelat Mia kini beralih pada kunci yang Adriano sodorkan ke arahnya. Dalam hati wanita itu, dia ingin segera mengambil kunci yang Adriano sodorkan. Namun, wanita cantik tersebut masih mempertimbangkan kemungkinan lain. “Jangan bermain-main denganku, Adriano!” sergah Mia.

“Ambilah.” Adriano masih menyodorkan kunci itu kepada Mia. Dia mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa dirinya tidak sedang bermain-main. Hal itu membuat pertahanan Mia menjadi sedikit goyah. Dia lalu mengulurkan tangannya hendak meraih kunci tadi.

Akan tetapi, secepat kilat tangan Adriano menarik tangan Mia yang terulur tadi, lalu memelintirnya ke belakang. Sedangkan, tangan kiri Adriano meraih pistol yang masih berada dalam genggaman Mia. Dia merebut pistol itu dengan banyak perhitungan, agar jangan sampai Mia menarik pelatuknya tanpa sengaja. Bagaimanapun juga, Adriano harus memastikan keamanan dan keselamatan dari wanita yang sangat dicintainya.

Tanpa ada perlawanan yang terlalu berarti dari Mia, Adriano berhasil merebut pistol tersebut dan melemparkan senjata api itu ke tempat yang kira-kira tidak dapat dijangkau oleh Mia. Dia juga terus mengunci tubuh wanita bertubuh kurus itu sehingga tak bisa bergerak dari dalam cengkeramannya, meskipun sesekali Mia melakukan perlawanan. Namun, tenaga Adriano terlalu kuat untuk dia tandingi. “Kau tidak bisa melakukan apapun sekarang, Mia. Aku akan melepaskanmu, hanya jika kau memintanya,” ucap Adriano dengan setengah berbisik.

Untuk sejenak, Adriano merasa begitu terbuai, ketika menghirup aroma rambut Mia yang wangi. Pria itu memejamkan mata. Adriano pun menempelkan hidungnya pada rambut belakang Mia yang saat itu tak lagi memberontak, atau berusaha melepaskan diri darinya.

Sementara Mia masih dengan napasnya yang terengah-engah. Dia terlihat begitu lelah. “Bunuh saja aku sekarang juga. Bunuh aku! Dengan begitu, aku bisa kembali bersamanya,” ucap Mia dengan sangat pelan dan lirih. Suaranya hanya terdengar seperti sebuah hembusan angin semata bagi Adriano.

1
Dea Abdullah
harudang /Facepalm/
Dea Abdullah
nyesek smpe sini knp two hrs mati
Dea Abdullah
uku padamu author suka bnget/Kiss/
mery harwati
Aq jadi ketagihan setelah perjalanan dari Eidenburgh, kemudian ke Casa de Luca, lalu ke Monaco & sekarang aq akan coba berlayar ke Rusia dengan Carlo, tapi aq akan mampir sebentar di Arsenio 😍💪
mery harwati: Siap paduka🫅 titahmu akan kami laksanakan 🫡🤩😉
total 2 replies
mery harwati
Anak Adriano bener² cerewet seperti Daniela, tante tertuanya 😃
mery harwati
Ada typo kah di episod ini? Soal umur Adriana, ada yang menyatakan tujuh belas tahun, kemudian di paragrap bawah menyatakan lima belas tahun? 🙄
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙰𝚊𝚖𝚒𝚗, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑
total 3 replies
mery harwati
Aq malah penasaran sama bapaknya Karl Mikhailov alias Carlo, karena jaman Adriano yang dibunuh olehnya adalah Alex kemudian Sergei Redimir, mereka berdua kakak adik & berasal dari Rusia, ooohhh baca ajalah ceritanya & nikmati roller costernya disini 😃😘
mery harwati
Ow Coco, jangan ganggu mereka berdua, diam kau Coco sang mantan casanova 😃
mery harwati
Jangan bilang ada hubungannya dengan Sergei Redimir di masa lalu itu Karl Mikolaiv 🫣🙄
mery harwati
Adriana sepertinya mewarisi sifat dari Valeri bibi angkatnya 😃
mery harwati
Ow Damiano, kau benar² membuat air mataku menetes karena kematianmu, tidak²...bukan kau yang membuat aq sedih Damiano, tapi authorlah yang membuat alur cerita novel ini menjadi roller coaster bagi readersnya😘 selamat thor kau berhasil memporakporandakan imajinasi readers dengan karyamu ini ❤️🥰💪
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙼𝚘𝚑𝚘𝚗 𝚍𝚘𝚊 𝚗𝚢𝚊, 𝙺𝚊𝚔
total 3 replies
yuiwnye
adriano sdg mempersiapkan Carlo jd pendamping miabella
mery harwati
Oh Tuhan, jangan bilang Roberto de Lucca punya anak lain selain Matteo? Seperti kisah Valentino & Carlo, yang ternyata kembar, apakah Damiano tak tau rahasia Roberto saat masih muda? 🫣🙄
Elmida Alano: betul
total 1 replies
mery harwati
Mereka berdua akan bertarung & akan kah mereka berhenti bertarung karena wanita yang mereka sayangi tak mau mereka saling bunuh ? Penasaran akhir dari pertarungan Juan Pablo & Adriano🙄
Elmida Alano: ya tapi tidak sampai mati
total 1 replies
mery harwati
Apa rasa bersalah Juan Pablo setelah membunub Matteo & keluar dari Killer X yang menyebabkan Juan menyimpan lukisan Mia? Tapi belum sempat Juan masuk ke kehidupan Mia, keduluan sama Adriano? Ow semakin rumit klo ada rasa cinta didalam intrik² mafia 🫣
mery harwati
Adriano, bagaimana kabarmu bila tau Juan Pablo adalah anak dari Elang Rimba? Bahkan Juan sudah memerawani Giana adik tirimu? Akankah kau tetep membunuh Juan Pablo demi Mia karena kematian Matteo? Atw kah membiarkan Juan Pablo tetep hidup & jadi adik ipar mu Adriano? Ow pilihan yang sangat sulit 🙄👏
mery harwati: Siap 🫡 sehat selalu Thor & lancar rejeki juga 🤲❤️
total 2 replies
mery harwati
Otak encer Adriano akhirnya digunakan pada Juan Pablo & membunuh Lionel sang pembunuh Matteo tanpa harus mengorbankan nyawa dirinya sendiri atw orang² yang dekat dengan Adriano, setelah kejadian Menara Hitam yang mengakibatkan nyawa Coco hampir melayang 👏 tapi kabarnya bila Adriano tau bahwa Juan Pablo menyimpan rasa pada Giana adik tirinya Adriano 🙄
mery harwati
🤣🤣 memang harus ada wanita lain sebagai pembanding Francy, agar Francy tak merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh Coco, akhirnya setelah kehadiran Monicqe barulah berasa kesalahan Francy yang mengabaikan Coco selama 5 tahun, 💪 Francy bila kau ingin Coco jadi milikmu seutuhnya & selamanya, berjuanglah dari awal lagi Francy 💪
mery harwati
Aq kok ngerasa, anak perempuan kecil yang ngasih bekal makanannya pada Adriano itu adalah Mia disaat dia abis ditinggal mati ibu kandungnya, alias sebelum pindah ke Venice & ketemu dengan ibu tirinya, klo memang bener seperti itu kisahnya, brati sebenernya Adriano yang lebih dulu ketemu Mia saat usia mereka masih kanak & remaja
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝚂𝚒𝚒𝚙, 𝙺𝚊𝚔. 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝
total 1 replies
yuiwnye
Juan 🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!