Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?
Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.
Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?
Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.
‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
❤Luka hati hanya bisa disembuhkan oleh si Pemilik hati itu sendiri, maka jangan biarkan hati tersakiti.❤
Pagi sekali Aneesha sudah sibuk di taman kecil yang terletak di halaman depan rumahnya. Membersihkan daun-daun yang sudah kering, memotong tangkai yang layu, memindahkan tanaman yang potnya sudah retak, dan menata tanaman bunga yang tertanam langsung ditanah. Aneesha sangat mencintai tanaman hias. Bunga warna-warni dan bentuk daun yang unik membuat hatinya merasa tenang.
“Mau diapain, Kak?” Jenar mendekati Aneesha yang sedang berjongkok memindah tanaman hias dari pot yang sudah retak.
“Diganti potnya, dek. Sudah banyak pot yang retak.” Jawab Aneesha tanpa mengalihkan fokus dari pekerjaannya.
“Gak nyuruh pak Salim aja, sih, Kak?” Jenar ikut berjongkok disebelah Aneesha. Reflek tangannya mengikuti apa yang sedang dikerjakan kakaknya.
“Menyuruh sama mengerjakan sendiri itu hasilnya pasti beda, Dek. Puas kalau mengerjakan sendiri, dan yang pasti irit emosi.” jawab Aneesha sambil tersenyum nyengir kepada adiknya.
Jenar tahu apa yang dimaksud kakaknya. Pak Salim, sopir yang juga merangkap sebagai tukang kebun di rumah itu biasanya lambat kalau disuruh mengerjakan sesuatu. Makanya Aneesha lebih senang menata taman sendiri dari pada menyuruh pak Salim.
“Sudah selesai.” Aneesha menaruh pot tanaman terakhir di taman kecil itu, memastikan tertata sesuai keinginannya. Ada sebuah rak dari pralon yang dibuat khusus untuk menaruh pot-pot kecil itu agar terlihat indah.
“Makasih, ya, dek. Jadi cepat selesai kamu bantuin.” ucap Aneesha.
“Sama-sama, Kak. Sarapan, yuk, Kak! Bunda sama Ayah dah nungguin.” Kata jenar sambil menepuk-nepuk telapak tangannya yang kotor karena membantu kakaknya tadi.
“Cuci tangan dulu, sana! Kakak mau mandi.” Aneesha menyenggol bahu Jenar, kemudian mengemasi alat-alat yang tadi digunakan untuk menata taman.
Jenar mengangguk lalu mencuci tangan di kran air yang terdapat di dekat taman. Sedangkan Aneesha membawa semua peralatannya masuk ke dalam rumah.
Setelah membersihkan diri, Aneesha bergabung di ruang makan bersama seluruh anggota keluarga. Suasana di meja makan sedikit ramai. Sampai makanan di masing-masing piring mereka sudah habis, tidak ada satupun yang beranjak dari sana. Mereka masih asyik mengobrol santai, sesekali disertai canda tawa.
Jenar dan Lingga mendominasi obrolan, dengan riang mereka menceritakan pengalamannya di sekolah. Tentang guru, pelajaran dan teman-temannya. Kadang Aneesha menimpali cerita mereka berdua dengan cibiran. Riani dan Fares menjadi pendengar setia cerita anak-anaknya.
“Maaf Pak, Bu, ada tamu.” Siti, asisten rumah tangga Riani mengganggu keasyikan keluarga itu mengobrol.
“Oh, sudah datang rupanya.” Fares seperti sudah mengetahui siapa tamunya. Dia segera berdiri.
“Siapa, Yah?” tanya Aneesha melihat ayahnya yang akan berjalan meninggalkan meja makan.
“Semalam Ayah sudah bilang sama kamu, kan? Ayo!” Fares menepuk bahu Aneesha, memberi isyarat untuk mengikutinya.
Jenar dan Lingga saling berpandangan, kemudian ganti menatap Bundanya meminta jawaban. Riani hanya mengangkat bahu sambil membereskan bekas sarapan mereka
Aneesha mengikuti ayahnya ke ruang tamu, Dia sudah menebak siapa yang datang sepagi ini. Aneesha berjalan di belakang Fares, tangannya saling bertaut merasa gugup.
“Pagi sekali, Mas? Sudah kangen banget, ya?” Fares menyalami dua orang pria, yang satu paruh baya bahkan terlihat lebih tua darinya. Sedangkan yang satu masih terlihat muda dan gagah. Aneeshapun sama menyalami pria yang lebih muda dan mencium punggung tangan pria paruh baya.
“Kau benar, Res. Membaca pesanmu tadi pagi, membuatku tak sabar, segera datang kemari.” Pria paruh baya dengan rambut yang sudah putih semua menjawab ucapan fares sambil tersenyum dan membelai kepala Aneesha yang terbalut jilbab.
Fares tertawa menanggapi ucapan tamunya itu. Ya, benar. Yang datang adalah Reza mahardika, pengusaha sukses dari jakarta. Yang merupakan ayah kandung Aneesha.
“Apa kabar, Rey? Kapan pulang dari LA?” Fares menepuk bahu pria muda di depannya.
“Baik, Om. Sudah sejak dua bulan yang lalu Om.” jawab pria muda itu dengan sopan.
“Duduk, Mas Reza!” Fares mempersilakan tamunya duduk, lalu dirinya juga ikut duduk didepan tamunya.
Fares dan Reza mengobrol basa - basi, sedangkan Aneesha dan Reyfan hanya diam tidak mau terlibat pembicaraan kedua pria paruh baya itu. Obrolan mereka berhenti ketika Siti membawakan makanan ringan dan minuman untuk menemani mereka ngobrol.
Jenar dan Lingga yang penasaran mengintip dari balik tembok pemisah ruang tamu dan ruang keluarga. Mereka berdua saling berpandangan menguping pembicaraan dari ruang tamu.
“Mau apa dia datang?” Lingga berbisik kepada Jenar. Sedangkan Jenar hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaan adiknya.
“Kalian gak takut dijewer telinganya karena nguping?” Riani berbisik didekat telinga kedua anaknya. Sontak Lingga dan jenar menoleh ke belakang, tersenyum nyengir. Riani benar-benar menarik telinga kedua anaknya.
“Bunda gak suka, ya, kalian nguping pembicaraan orang tua.”
“Aaa ... ampun Bunda!” Teriak Lingga dan Jenar sambil memegang telinga tak ditarik oleh Riani.
Teriakan Lingga dan Jenar sampai ke telinga Fares, dia merasa tidak enak karena obrolannya terganggu.
“Itu suara Lingga dan Jenar, kan?” tanya Reza.
“Iya. Maaf, ya. Mereka selalu bikin gaduh. Eh, diminum tehnya.” Fares menggelengkan kepala merasa tidak enak.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Reza pada Aneesha setelah menyesap tehnya.
“Alhamdulillah baik.” jawab Aneesha singkat. Reza mengangguk maklum dengan sikapnya yang masih cuek.
“Bisa kita bicara berdua, Nak?” Reza menatap lembut Aneesha, sedangkan Aneesha menatap Fares, memita persetujuan. Fares mengangguk dan mengelus pundak anaknya.
“Kita bicara di galeri.” Aneesha berdiri, lalu melangkah. Reza mengikutinya dari belakang.
Aneesha membawa Reza ke sebuah ruangan yang penuh berisi foto-foto koleksi Fares. Ada beberapa lukisan Aneesha juga disana. Sebuah bangunan yang terpisah dari rumah utama meskipun letaknya berdekatan.
“Apa yang ingin Anda bicarakan?” Aneesha berdiri di tengah ruangan, melipat kedua tangannya di dada.
“Maafkan Papa, Sha. Papa benar-benar minta maaf, atas kesalahan masa lalu Papa padamu.”Reza mengatakan permintaan maafnya dengan tulus. Pria yang masih terlihat berwibawa di usia paruh baya itu menatap Aneesha lekat.
“Harusnya Anda meminta maaf pada Bunda, bukan padaku.” Aneesha berkata ketus, hatinya masih belum bisa diajak berdamai.
“Aneesha, Papa tidak akan mengatakan pembelaan apapun. Karena Papa memang salah, dan Kau pantas membenci Papa.” Reza melepas kacamata, mengusap wajahnya kasar.
“Bagaimanapun sikapmu pada Papa, Papa akan tetap menyayangimu, Nak. Kamu satu-satunya darah daging Papa.”
“Papa ingin menebus kesalahan Papa, meskipun Papa tahu kesalahan itu takkan pernah tertebus dengan apapun.” Reza menghela nafas berat.
“Beri Papa kesempatan sekali saja, Nak. Maafkan Papa. Biarkan Papa menebus kesalahan Papa padamu.” mata Reza sudah berkaca-kaca, segera Dia menghalau agar airmatanya tidak menetes.
Hening…
Aneesha terlarut dalam pikirannya sendiri. Menimbang jawaban apa yang akan diberikannya pada Reza. Jauh dilubuk hatinya sebenarnya Aneesha sangat menyayangi pria ini.
Walau bagaimanapun mereka telah melalui hari-hari penuh kegembiraan. Sejak Reza tahu bahwa Aneesha adalah anaknya, Dia sering datang menemui Aneesha. Mereka akan menghabiskan waktu seharian untuk bermain dan bercerita. Tak bisa dipungkiri oleh Aneesha, bahwa Dia merasakan Reza begitu menyayanginya.
“Beri aku waktu ...,” kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibir Aneesha. Memberi setitik kecil harapan untuk Reza. Setidaknya Reza masih bisa berharap putrinya itu bisa menerima kenyataan bahwa Reza adalah ayah kandungnya.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa, like, komen, vote kalau kalian punya kelebihan poin.
salam hangat
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊