Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
SELAMAT MEMBACA
Hari-hari yang Vika lalui kini semakin menyenangkan dan membuat nya lupa dengan rasa sukanya pada Ihsan.
Berat badannya pun kini mulai menyusut, entah karena begitu banyak kegiatan yang ia ikuti hingga membuatnya lupa untuk makan makanan kesukaan seperti Baso,Mie ayam serta kerupuk.
Dulu kalau setiap kali ia kesal atau sedih kerupuk dan Chiki lah yang jadi pelampiasan,bahkan tak jarang juga mama Iren sering memarahi nya karena kerupuk yang baru saja digoreng sudah habis di makan oleh nya.
Namun kini semua telah berbeda, Nenek Dilla saja suka heran melihat Vika yang jauh berbeda dengan saat pertama kali ia datang.
"Vikaaa...." teriak Nene Dilla dari kandang bebek yang baru saja ia masuki.
Dengan malas Vikapun menghampiri Neneknya yang kini sedang sibuk menghitung bebeknya.
"Apa sih Nek?"
"Vika baru aja mau mandi" ucap Vika dari depan pintu kandang bebek.
"Kenapa bebek nya tinggal segini?" tanya Nene sambil terus menghitung ulang bebeknya
"Segini berapa Nek?" Vika malah balik bertanya seolah-olah ia tak mengerti.
"Kenapa cuma tinggal 46, yang 4 lagi kemana?" tanya sang nenek sambil melihat kearah Vika seakan meminta penjelasan.
"Oh...itu kemarin yang dua ketinggalan Nek,Vika mau cari tapi gak tau ketinggalan dimana" ucap Vika jujur
"Astaga Vika,terus yang dua lagi mana?" tanya Nene lagi.
"Yang dua lagi tadi dipotong sama Ujang buat makan-makan di saung sama temen-temen"ucap Vika tanpa rasa bersalah.
"Astaga Vika, kalo kaya gini terus bisa abis bebek Nene"
"Gak apa-apa Nek,Kan Nene bisa minta beliin lagi sama Papa he..he" ucap Vika sambil tersenyum
Nene Dilla hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Vika.
Setelah meninggalkan Nene Dilla yang masih menggerutu dikandang bebeknya,Vika langsung masuk kedalam kamarnya lalu membersihkan diri.
Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya diatas kasur, ponselnya berdering dengan sedikit malas ia pun melihat siapa yang menelepon nya.
"Hai....Kaysa..." teriak Vika saat sambungan telepon terhubung.
"Astaga loe ya Vik bisa budek gw" ucap Vika dari seberang sana.
"Sory Kay,gw kangen sama loe, gimana kabarnya?" tanya Vika
Tanpa terasa setengah jam lamanya mereka berbincang-bincang lewat telepon hingga akhirnya pembicaraan mereka harus terputus karena sinyal WiFi Vika yang tiba-tiba saja hilang.
Keesokan harinya seperti biasa Vika harus mengangon bebeknya disawah yang berada tak jauh dari rumahnya.
"Vika.." panggil Ujang
Hemmm
"Gimana Nene kamu nanyain gak kemana bebeknya" tanya Ujang sambil memainkan kayu yang ia pegang.
"Iya nanyain"
"Terus kamu bilang apa?" cecar Ujang semakin penasaran.
"Ya bilang jujur aja kalau yang dua ilang terus yang dua lagi kamu potong"ucap Vika sambil.terus memainkan ponselnya.
"Astaga kenapa kamu jujur banget ngomongnya Vik, bisa marah tuh Nini Ama aku" ucap Ujang kesal.
"Gak akan marah Jang,kamu tenang aja aku udah bilang nanti aku ganti kalo papa dateng" ucap Vika dengan santainya.
"Aku malah jadi tambah gak enak Vika" ucap Ujang lagi sambil menatap Vika.
Vika yang tidak sadar jika Ujang sedang menatapnya nampak acuh saja.
"Vika ayo pulang, sebentar lagi kita latihan Voly"ajak Ujang yang langsung berdiri dan menarik tangan Vika.
Vika pun menurut saja saat Ujang menarik tangan nya untuk berdiri dan mereka pun menggiring bebek-bebek milik Nenek Dila untuk kembali kekandang.
Setelah memastikan semua bebeknya masuk kandang, Vika pun langsung membersihkan diri lalu memakai kaos olahraga untuk latihan Voly.
"Vika makan dulu baru pergi lagi" teriak Nene Dila yang melihat sekelebat Vika melintas keluar rumah.
"Nanti aja Nek abis main Voly" sahut Vika sambil menghampiri Ujang yang sudah menunggunya.
Mereka berdua pun menuju lapangan Voly yang tak jauh berada dari rumah Neneknya Vika.
Vika yang kini sudah bisa dan terbiasa main Voly nampak begitu lihai saat bermain hingga tak terasa hari sudah hampir gelap.
"Vika tar malem mau ikut gak,ada acara sama anak-anak di pos" ajak Eman salah satu pemuda yang nampak mulai mendekati Vika.
"Acara apa?" tanya Vika
"Cuma kumpulan aja biar makin akrab sesama pemuda pemudi kampung sini"
"Oh...nanti ya aku minta ijin dulu" jawab Vika
Setelah berpamitan mereka pun langsung membubarkan diri menuju rumah masing-masing.
"Si Eman ngajakin kamu kemana Vi" tanya Ujang saat dalam perjalanan pulang.
"Oh..itu katanya nanti malem ada acara di pos, mereka ngajakin aku"
"Oh..ya udah kalo kamu boleh nanti aku samper" ucap Ujang saat didepan pagar rumah Vika.
"Iya nanti aku telpon kalo boleh sama Nene"Vikapun langsung masuk kedalam rumah.
"Vika tadi Mama kamu nelpon, katanya kalo kamu libur disuruh pulang ke Bekasi"ucap Nene Dilla sambil duduk santai sambil melihat sinetron kesukaannya.
"Vika gak mau pulang Nek,liburan mau disini aja" jawab Vika sambil duduk disebelah Neneknya.
"Tapi kasihan Mama sama adik Kamu, mereka kangen katanya"
"Iya nanti Vika pikirin lagi deh Nek" ucap Vika dengan malas.
Sebenarnya Vika juga sangat ingin bertemu dengan keluarganya namun saat ini ia masih belum ingin melihat Ihsan, ia takut usahanya untuk melupakan Ihsan jadi sia-sia.
Karena terlalu lelah Vika pun tidur dengan sangat lelapnya hingga pagi pun tiba.
Sementara itu dikediaman Ihsan, Ia nampak sudah bersiap-siap untuk pergi keluar kota bersama teman-temannya.
Kali ini ia pergi tanpa Rany, hubungan Ihsan dan Rany pun kini mulai renggang.
Ihsan yang mulai bosan dengan sifat Rany yang selalu ingin ditemani kemanapun ia pergi dan selalu minta dibelikan berbagai barang yang lumayan mahal membuatnya sangat enggan jika Rany mengajak nya bertemu.
"Kamu mau kemana San?" tanya Mama Ihsan saat melihat putranya sudah rapi dengan tas ransel yang besar.
"Aku mau ikut teman Mah liburan,pusing aku kalo disini terus" ucap Ihsan.
"Ya udah kamu hati-hati dijalan" ucap Mama Ihsan saat melihat teman-teman Ihsan sudah datang menjemputnya.
Mobil yang mereka naiki pun mulai melaju perlahan meninggalkan rumah Ihsan.
"Kita mau kemana sih sebenarnya?" tanya Ihsan pada temannya yang duduk dibangku depan.
"Kita jalan-jalan ke kampung biar otak loe seger,jangan yang ada di otak loe cuma Rany terus" ucap teman Ihsan yang bernama Kevin.
"Sial loe,ini aja gw mau jauh dari dia,gw bosen sebentar-sebentar nelpon minta jemput,dikira dia supirnya kali" maki Ihsan yang langsung disambut tawa kencang dari ketiga temannya.
"Ya siapa tau tar di kampung loe kecantol sama cewe kampung yang gak matre" ucap Tio sambil tertawa.
"Yang puas loe semua ketawain gw" ucap Ihsan kesal.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam lebih akhirnya mereka pun tiba dirumah Tio.
Begitu tiba mereka langsung istirahat untuk melepaskan lelahnya.
Hallo semua udah up lagi ni.
Mohon dukungannya para Reader
caranya :
Like
Rate
Komennya Author tunggu.
Salam Manis
Amel/Author