Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.
Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.
Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?
Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akal Bulus
Setelah berganti pakaian, Wina berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju dapur. Ia pun mengambil dua buah gelas bening dan berleher. Lalu ia mengambil sebotol minuman soda dari dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas yang berada diatas meja.
Setelah menuangkan minuman soda ke dalam dua buah gelas, tangan kanan Wina tiba-tiba masuk kedalam saku bajunya. Begitu berhasil mengambil benda yang berada didalam saku, tangan kanan Wina kembali dikeluarkan. Terlihat didalam genggaman jari-jarinya, sebuah plastik bening berisi bubuk berwarna putih.
Tanpa membuang waktu lagi, Wina bergegas menuangkan bubuk berwarna putih yang berada didalam plastik yang dipegangnya. Bubuk itu ia tuangkan ke dalam salah satu gelas berisi minuman soda, yang berada disebelah kanan. Setelah menuangkan seluruh bubuk didalam plastik, sambil tersenyum lebar Wina mengaduk minuman soda yang berada disebelah kanan.
Setelah menaruh kedua gelas diatas nampan, Wina membawanya menuju ruang tamu, dimana Guntur sudah sejak tadi menunggunya.
"Maaf, nunggu lama ya Gun?" Tanya Wina begitu sampai dihadapan Guntur yang sedang duduk diatas sofa.
"Nggak apa-apa kok, Win! Ngomong-ngomong kapan kedua orang tuamu sampai sini? Apa Kamu sudah menelponnya?" Tanya Guntur. Lalu ia menghisap rokok yang berada di tangan kanannya.
"Tadi Aku nelpon Ibuku. Katanya sudah Garut! Kira-kira sejam lagi sampai rumah. Kalau Kamu harus nunggu sejam lagi, Kamu nggak keberatan kan, Guntur?" Tanya balik Wina sambil menaruh dua buah gelas diatas meja.
"Ya kalau sejam nggak apa-apa! Tapi kalau sampai pagi Aku nggak pulang, kasihan istriku tidur sendirian!" Balasnya.
"Maafin Aku ya Guntur! Gara-gara Aku, Kamu harus ninggalin istrimu sendirian di rumah!" Ucap Wina yang telah duduk diatas sofa, disebelah kiri Guntur.
"Nggak usah dipikirin! Ibumu sama Ibuku kan sudah berteman lama. Jadi sudah sepantasnya Aku membantumu!" Balas Guntur. Lalu rokok ditangannya kembali dihisapnya kuat-kuat.
"Ternyata Kamu orangnya sangat baik, Guntur. Beruntung Sovia bisa memiliki suami yang hampir sempurna sepertimu!" Puji Wina.
"Nggak juga Wina! Aku masih banyak kekurangannya! Justru Aku yang sangat beruntung bisa memiliki istri shalihah secantik dan seanggun Sovia. Perempuan desa namun cantiknya alami! Wajahnya nggak kalah sama artis-artis ibukota! Aduh, bicara tentang istriku, Aku jadi nggak sabar untuk bertemu dengannya! Rasanya tiap hari Aku seperti menikmati malam pertama." Puji Guntur sambil membayangkan wajah istri yang dicintainya. Mendengar ucapan Guntur yang memuji Sovia setinggi langit, darah Wina hampir mendidih. Namun ia berusaha untuk bersikap tenang.
"Sovia memang wanita yang cantik dan shalihah, Guntur! Nggak salah almarhum Bapakmu kesengsem padanya! Makanya Sovia dijadikan menantunya." Ucapnya sambil tersenyum manis.
"Iya Win, tapi sayang hanya beberapa jam setelah Kami menikah, Allah mengambil nyawa Bapak." Balasnya sambil kembali mengenang almarhum bapaknya.
"Semua sudah kehendakNya, Guntur! Yang lalu biarlah berlalu! Sekarang tinggal Kamu dan Sovia menghadapi masa depan dengan penuh kebahagiaan. Aku ikut senang melihat Kamu dan Sovia. Kalian benar-benar pasangan yang serasi! Aku doakan semoga Kalian menjadi pasangan suami istri sampai Kakek Nenek!" Puji dan doa Wina.
"Aamiin. Makasih ya Win, atas doanya!" Ucapnya.
"Iya! Oh ya, sampai lupa! Diminum dulu minumannya, Gun!" Pintanya.
"Iya." Balasnya. Guntur pun tanpa curiga dan tanpa ragu-ragu, ia mengambil gelas berisi minuman soda yang berada diatas meja dihadapannya. Setelah melihat Guntur telah mengambil gelas, Wina pun ikut mengambil gelas berisi minuman soda dihadapannya dan meminumnya dengan perlahan.
Sambil meminum air soda ditangannya, kedua mata Wina melirik kearah Guntur yang duduk dihadapannya. Anak sulung Pak Vendy dan Bu Hamidah itu, melihat Guntur meminum soda sampai tidak ada yang tersisa.
"Aku langsung habisin minumannya, Wina! Soalnya haus. Tadi sudah berkelahi melawan lelaki laknat itu!" Ucapnya sambil menaruh gelas kosong diatas meja.
"Mau nambah lagi, Guntur? Biar Aku ambilkan lagi!" Tanya Wina sambil menaruh gelas berisi air soda yang masih terlihat setengah gelas.
"Nggak usah, Wina! Entar perutku kembung!" Balas Guntur sambil merem melek.
"Kalau Kamu haus, bilang aja ya Gun! Nggak usah malu-malu! Anggap aja ini rumah Kamu sendiri!" Pinta Wina menyeringai lebar.
"Aduh, tiba-tiba kok Aku ngantuk berat begini!" Seru Guntur sambil mencoba membuka kedua matanya yang terasa sangat berat.
"Kalau Kamu ngantuk, tidur aja dulu di sofa! Nanti kalau Bapak Ibuku sudah pulang, Kamu Aku bangunin!" Pinta Wina dengan wajah bahagia. Sementara itu, tidak terdengar lagi suara yang keluar dari mulut Guntur. Bahkan sebelum Wina selesai berbicara, Guntur sudah tertidur diatas sofa dengan duduk dan bersandar pada bagian sandaran sofa. Kedua matanya terlihat terpejam. Sedangkan tubuhnya diam tanpa bergerak sedikitpun.
Melihat Guntur sudah berhasil terpengaruhi oleh obat tidur yang dimasukkan ke dalam minumannya, Wina pun bergegas mengambil handphone didalam saku celananya. Begitu handphone sudah berada ditangannya, lalu Wina langsung menelpon seseorang.
"Hallo, cepat kembali kesini!" Seru Wina ketika panggilan teleponnya telah terhubung.
"Siap Bos!" Balasnya. Mendengar jawaban seorang laki-laki dari dalam telpon. Wina pun langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Tokkk...tokkk...tokkk...
"Siapa?" Tanya Wina setelah menunggu beberapa menit dan mendengar suara ketukan pintu.
"Ini Aku, Bos!" Balas seorang laki-laki di balik pintu.
"Masuk!" Perintahnya. Mendengar perintah Wina, laki-laki yang berdiri di depan pintu depan rumah, bergegas membuka pintu yang tidak terkunci.
Begitu pintu itu terbuka, terlihat seorang laki-laki berambut gondrong yang bukan lain adalah laki-laki suruhan Wina untuk berpura-pura memperkosa dirinya.
"Gimana Bos, semua beres kan?" Tanya lelaki itu.
"Beres dong! Sekarang Kamu angkat dia kedalam kamar sebelah!" Perintah Wina.
"Baik Bos!" Jawabnya. Lelaki berkulit sawo matang itu pun langsung berjalan menghampiri tubuh Guntur yang sedang tidur dengan nyenyak. Tanpa kesulitan, lelaki bertubuh besar itu mengangkat tubuh Guntur dan memanggulnya diatas bahu kanannya. Lalu ia membawa tubuh Guntur kedalam kamar tidur yang berada disamping ruang tamu. Seperti yang diperintahkan oleh Wina.
Begitu sampai didalam kamar, lelaki itu langsung menurunkan tubuh Guntur dan membaringkannya di atas ranjang yang berselimut sprei berwarna biru muda. Setelah memandangi tubuh Guntur sambil menyunggingkan senyum, lelaki itu kembali berjalan menuju ruang tamu.
"Semua tugas sudah beres Bos!" Ucapnya begitu sampai didepan Wina.
"Sebentar, Aku ambil uangnya!" Balas Wina.
"Oke!" Balasnya. Lalu Wina berjalan dengan cepat menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah mengambil sesuatu dari dalam kamarnya, Wina kembali berjalan dengan cepat menuju ruang tamu.
Tanpa basa-basi, Wina memberikan benda yang berada di dalam genggaman tangan kanannya, kepada lelaki dihadapannya.
"Seno, itu bayaranmu untuk tugasmu kali ini! Jumlahnya sesuai kesepakatan Kita tadi siang! Kalau nggak percaya, Kamu bisa hitung dulu!" Kata Wina. Mendengar ucapan Wina, lelaki bernama Seno itu membuka salah satu ujung benda yang ternyata adalah amplop coklat. Begitu bagian atas amplop itu dibukanya, kedua mata Seno tampak melotot kearah dalam amplop. Ia tersenyum lebar ketika ia melihat amplop itu berisi uang ratusan ribu yang berjumlah cukup banyak.
"Nggak perlu dihitung Bos! Aku percaya! Bos Wina ini nggak pernah mengingkari janjinya!" Puji Seno.
"Sekarang lebih baik Kamu tinggalkan rumah ini! Sebelum Guntur bangun dari tidurnya!" Pintanya.
"Siap Bos! Lain kali kalau ada tugas lagi, kabarin Aku ya Bos!" Ucapnya.
"Iya!" Balasnya.
"Selamat bersenang-senang Bos!" Ucap Seno menyeringai. Ia pun bergegas keluar dari dalam rumah Wina. Begitu Seno sudah pergi meninggalkan rumahnya menggunakan motor miliknya, Wina bergegas menutup pintu depan rumahnya. Sambil mengulum senyum lebar, Wina berjalan dengan cepat menuju kamar tamu yang berada disebelah ruang tamu, dimana Guntur telah terbaring tak berdaya.