NovelToon NovelToon
Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:20.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: _Ecyy_

Berjuang mendapat hati sang suami, meski terluka fisik dan batin. Dia tetap bertahan ... dalam kesakitan yang di rasakan dalam pernikahannya. Dia selalu yakin dengan rencana besar Allah yang di berikan padanya suatu hari kelak.

Ketabahan dan kesabarannya tidak usah di ragukan lagi dari sosok Famira Az-zahra wanita shalihah yang sangat tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang di berikan Allah kepadanya dalam pernikahannya.

Bagaimana akhir pernikahan yang tidak didasari cinta?


SELAMAT MEMBACA!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Ecyy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Pukul 20.30, Vina datang ke rumah Bara. Bara menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

"Sayang, aku boleh nginap di sini 'kan?" tanya Vina manja.

"Tentu boleh, tapi kedua orang tua kamu pasti marah bila mengetahui ini," sahut Bara mengelus rambut Vina.

"Tenang aja, ayah dan bunda lagi urus bisnis keluar kota. Jadi aku bebas keluar dari rumah, dan bertemu dengan kamu."

"Iya udah, nanti kamu bisa tidur di kamar aku. Aku akan tidur di sofa."

"Makasih, Sayang."

Suasana di rumah Bara cukup ramai pada malam itu, karena kehadiran Vina. Gelak tawa Vina dan Bara dari ruang keluarga, terdengar oleh Famira.

Famira menatap langit malam dari jendela kamarnya. Sedih, dan hatinya terlalu sakit menjalankan semua ini.

"Ya Allah aku hanya bisa bersabar dengan semua ini," gumam Famira sedih.

Embusan angin malam meniup wajah Famira yang sedang sedih, Famira hanya bisa mengadu semua masalah yang dihadapinya kepada Sang Pencipta.

Suara hentakkan kaki seseorang masuk ke dalam kamar, sehingga membuyarkan lamunan Famira.

"Famira kamu tidur bersama Bibi Ina atau dikamar lain malam ini!"

"Kenapa harus tidur di kamar luar, Mas?" tanya Famira, dia masih tidak tahu bahwa Vina akan menginap dengan Bara.

"Vina akan nginap, dan akan tidur di kamar ini."

"Hm. Baiklah," ucap Famira pasrah dengan semua ini. Dia tidak ingin berdebat terus menerus dengan Bara.

Bara sedikit heran. "Kamu tidak marah kalau Vina nginap di sini?" tanya Bara serius.

"Buat apa aku marah Mas, Mas juga tidak akan peduli. Aku juga sadar, dan tau diri Mas. Mas sendiri yang bilang kan, bahwa aku bukan siapa-siapa Mas," jawab Famira memalingkan wajahnya, karena air matanya ingin keluar dengan derasnya.

Hati Bara, bagikan tertusuk pisau mendengar perkataan Famira. Ada sedikit rasa bersalah dan penyesalan di lubuk hati Bara yang sangat dalam.

"Sayang, aku sudah ngantuk nih," ucap Vina yang baru masuk.

"Sekarang tidurlah di sini," sahut Bara.

"Ih! Ada pembantu juga di sini," sindir Vina.

Famira tersenyum menanggapinya. "Maaf aku keluar dulu."

"Kasihan ya dirimu," ejek Vina kepada Famira.

Hati istri mana, yang tidak sakit melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain di hadapannya.

"Bibi buka pintunya," ucap Famira mengetuk pintu kamar bibi Ina. Ia lebih memilih tidur dengan Bibi Ina.

"Bentar Non Famira," sahut Bibi Ina kemudian membuka pintu kamarnya.

Famira langsung memeluk tubuh Bibi Ina, dan tangisan Famira tumpah di kamar itu.

"Non kenapa nangis, ayo kita duduk dulu."

"Bibi, Famira tidak kuat lagi," isak Famira.

"Bibi tahu pasti karena Tuan Bara."

"Kenapa hati Famira sakit sekali melihat Mas Bara dengan Vina? Padahal Famira mencoba menghilangkan rasa cemburu ini. Famira sadar, Bi."

Famira masih menangis di pelukan Bibi Ina, untung masih ada Bibi Ina yang mengerti dan peduli terhadap Famira di rumah itu.

Famira sudah bertekad mulai besok ia akan mulai bekerja kembali. Famira akan mengumpulkan uang, untuk melunasi hutang-hutangnya kepada Bara. Bila nanti hutangnya sudah lunas, Famira pasrah. Bara akan mengakhiri atau mempertahankan pernikahan mereka.

•••

Famira terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan shalat subuh, saat hendak berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Matanya terfokus kepada sosok Bara yang terlelap dalam tidurnya di sofa. Famira menghampirinya, dan menyelimuti tubuh Bara dengan lembut. Famira ingin membangunkan suaminya untuk melaksanakan shalat subuh. Tapi Famira mengurungkan niatnya, karena dia tahu Bara pasti akan marah padanya apabila ia membangunkannya.

Selesai shalat subuh Famira ikut membantu bibi Ina untuk mempersiapkan sarapan.

"Bibi masak apa?" tanya Famira yang baru masuk ke dapur.

"Bibi mau buat sop, Non."

"Famira bantu ya."

"Nggak usah Non, ini sudah menjadi tugas Bibi."

"Tidak apa-apa Bi, Famira sudah biasa di rumah bantu Ummi kalau masak."

"Iya sudah kalau itu kemauan Non," sahut bibi Ina senyum.

"Jadi mau bekerja hari ini, Non?"

"Insyaallah Bi, do'akan saja ya."

"Bibi selalu mendukung Non. Non harus semangat!"

"Hem iya, Bi."

Tidak butuh waktu lama bibi Ina dan Famira menyiapkan makanan dan menghidangkan masakan itu di meja makan.

"Selesai kita sarapan kita jalan-jalan ya Sayang," ucap Vina untuk membuat Famira cemburu.

"Iya, kamu makan yang banyak."

"Eh ... kamu nggak usah makan di sini," usir Vina kepada Famira yang hendak duduk di meja makan.

"Kamu makan saja di dapur sana ...," tegas Bara kembali. Dan Famira hanya sabar menanggapinya.

***

"Mas," panggil Famira kepada Bara yang sedang membuat teh hangat untuk Vina.

"Apa?" jawab Bara malas.

"Aku izin untuk pergi kerja."

"Untuk apa kamu kerja?" tanya Bara dengan nada ketus.

"Aku akan melunasi hutang kepada, Mas."

"Oh, jadi kamu ingin cerai dariku!"

"Semua keputusan ada di tangan Mas, aku hanya ingin melunasi hutangku."

"Kamu menantangku?" tanya Bara dan langsung menampar pipi Famira.

Air mata Famira lolos begitu saja.

"Pergi saja bekerja sesukamu, tapi perlu kamu ingat aku hanya akan memberi kamu waktu satu bulan saja. Kalau kamu tidak dapat melunasi hutang kamu dalam waktu itu, jangan mimpi bisa keluar dari rumah ini," tegas Bara.

"InsyaaAllah Mas aku siap," jawab Famira yakin.

"Dasar istri tidak tau di untung," ucap Bara mendorong tubuh Famira dan pergi begitu saja.

"Famira kamu kuat dan bisa," batin Famira menyemangati dirinya sendiri.

Famira akan bergegas pergi ke toko tempat ia bekerja dulu, Famira berharap bosnya akan menerima ia kembali.

"Bibi ... Famira pergi bekerja dulu, assalamu'alaikum," pamit Famira lalu menyalami tangan bibi Ina.

"Semoga Allah mempermudah urusan, Non."

"Aamiin. Makasih, Bi."

Setelah kepergian Famira, Bara menyuruh anak buahnya untuk tetap mengawasi Famira kemanapun dia pergi.

"Famira akan bekerja, awasi dia. Mengerti!" tegas Bara.

"Siap, Bos," sahut anak buah Bara serempak.

Famira melangkah kakinya menelusuri trotoar jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil sport mewah berhenti di samping Famira.

"Ayo naik," tawar Erwin dari pintu mobilnya.

"Terima kasih Er, aku bisa naik angkot nanti."

"Kamu mau ke mana pagi-pagi?"

"Aku mau pergi bekerja, Er."

"Wah, baguslah keputusan yang bijak. Padahal, aku ingin sekali membantu kamu. Tetapi kamu tidak mau."

"Kamu memang lelaki baik, Er. Terima kasih aku hanya ingin berusaha sendiri."

Erwin tersenyum bahagia, karena baru kali ini Famira memujinya.

"Ini, pasti kamu haus," ucap Erwin menyodorkan minuman.

"Iya sudah aku jalan duluan, semangat terus Famira ... assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam," sahut Famira.

Erwin segera mengakhiri perbincangan dengan Famira karena ia sadar ada dua orang yang sedang mengintainya dari kejauhan. Erwin tahu pasti itu anak buah Bara, dia hanya takut Bara akan menyiksa Famira.

"Suami tidak punya hati," gumam Erwin sambil melaju mobilnya.

1
Dedeh Rokayah
Luar biasa
Dedeh Rokayah
Lumayan
pena_sf:)
si iblis akting
pena_sf:)
ah si bara setan
pena_sf:)
psikopat kali
pena_sf:)
perlu di matiin laki2 kayak begini
pena_sf:)
laki - laki gila
Alam Pratama
sedih bnget ceritanya smpai mewek AQ...😭😭
Olly O Krisen
👌😍
Lala 89: simpan dulu ah nanti kesini mampir lagi buat baca kaya nya seru
total 1 replies
Kak Jum
hari tu bilang cerai
Yulihar Bayanti
ok
Dewi Sri
knp Rendi hrs meninggal sih thor jd gk seru dech
Umriyah Purnawati Sholikhah
kaos navy wrn hitam..?maksudnya
juni
👍👍
juni
👍👍
juni
👍👍👍
juni
bara cepet sekali berubah🤔
Raynafsir Nafsir
Famisa cekalkan hati mu jadi lah wanita yang tegas dan pemberani. jangan jadikan diri kamu sebagai wanita penurut.
Mut Mainna
kalau aku pux laki kaya bara aku isi dalam karung terus aku buwang kelautan
Siti Mujimah
aq klik koq gk ad kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!