Novel ini adalah cerita tentang perjalanan si kembar Kean dan Lean dalam mencari partner terbaik mereka. Saudara kembar itu mempunyai prinsip jika sudah cinta dengan seorang wanita ingin langsung menikah bukan untuk pacaran.
"Kamu itu bagaikan alkohol yang bercampur dengan ganja, begitu memabukkan dan membuatku candu! Bagaikan langit yang sulit untuk kugapai." Adinda Larasati
"Kamu adalah gadis ceroboh yang bisa membuatku jatuh cinta padamu." Muhammad Keane Ar-rayyan
"Andai aku bisa mendapatkan cintamu, aku ingin segera menikah denganmu." Muhammad Leanne Ar-rayyan
"Dari awal aku tak pernah mencintaimu. Jadi jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu!" Leandra Monroe.
" Setelah mencintaimu, hidupku menjadi berubah penuh warna." Nala Avrelia Prayoga
Ikuti kisah mereka hanya di My Best Partner .
Follow ig author : Novi_Rahajeng08
Saran baca novel pendahulunya. Anak Genius: Papa Bucin Yang posesif
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke kediaman Fabio (Dinda)
Mendengar bahwa Kean hari ini tidak masuk kerja karena sakit, membuat Dinda sedikit terkejut.
Bukankah semalam masih baik-baik saja, kenapa hari ini sakit? batinnya yang kembali mengingat wajah Kean yang terlihat sehat.
"Din, Kamu ke rumahnya pak Kean mengantar dokumen-dokumen yang harus di tanda tangani, ya. Soalnya saya harus mengecek proyek di luar," ujar Aksa.
"Saya pak?" Dinda menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya kamu, siapa lagi?" ulang Aksa.
"Tapi saya gak__" Dinda tak melanjutkan ucapannya karena Aksa sudah terlebih dahulu pergi tanpa mendengarkan penjelasan Dinda terlebih dahulu.
Aksa memang sedang terburu-buru menuju tempat proyek perumahan pintar yang sedang di jalankan oleh PT Fabio Grup.
"Ish ... kenapa harus Gue yang di suruh ke sana sih! Kan Gue gak tahu alamat rumah pak Kean," gerutu Dinda sambil menghentakkan kakinya di lantai.
Dinda mencoba menenangkan dirinya, lalu pergi menuju ruangan Asisten Ken untuk menanyakan di mana rumah Kean.
Sesampainya di sana, untung Nino ada di meja kerjanya.
" Permisi pak Nino,"
Dinda menyapa dengan suara lembut dan sopan. Nino yang sibuk mengecek dokumen, mendongakkan kepalanya saat mendengar ada yang memanggilnya.
"Ada perlu apa?"
"Itu, Saya mau tanya alamat rumah pak Kean."
"Oh, sebentar."
Setelah itu, Nino menuliskan alamat lengkap kediaman fabio di sebuah kertas.
"Nanti bilang saja kalau kamu itu sekertarisnya dan mau bertemu dengan Kean," pungkasnya.
Nino berkata seperti itu krena penjagaan di rumah keluarga Fabio saat ini sangat ketat. Jadi tak sembarangan orang bisa datang dan masuk ke rumah itu.
"Baik pak, terima kasih." Dinda menundukkan kepala sebagai bentuk hormat dan terimakasih kepada Nino. Selepas itu, dia pergi seraya membaca nama alamat rumah Kean.
"Lumayan jauh juga rumahnya."
Dinda memasukkan alamat itu ke dalam tasnya, lalu berjalan menuju lift.
Cuaca hari ini sepertinya sedang tidak mendukung Dinda untuk naik motor ke sana. Langit mendung, hujan turun begitu deras di iringi dengan gemuruh suara petir.
Dinda menghela nafas panjang, terpaksa dia harus memesan taksi online untuk pergi ke sana. Tak lama kemudian, taksi online yang Dinda pesan sudah datang, membuat Dinda segera masuk ke dalam mobil.
"Sesuai aplikasi kan, Neng?"
"Iya, Pak."
Setelah itu, mobil yang di tumpangi Dinda melesat pergi meninggalkan area kantor PT Fabio grup.
***
Di dalam kamar, terlihat Kean tengah merasa bosan karena hanya bisa berbaring di atas kasur dengan selang infus yang terpasang di tangannya.
Dia ingin bekerja, tapi Lean menyita laptopnya. Jadi, hanya bisa main game dan menonton vidio, itu sudah membuat Kean merasa bosan. Dia tidak biasa bersantai seperti sekarang, maka dari itu Kean tak suka sakit.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk, Ma. Tidak di kunci," seru Kean dalam kamar.
Setelah itu, pintu terbuka memperlihatkan Dira yang tengah membawa sebuah nampan.
"Hai sayang," sapa Dira.
"Hai juga, Ma. Mama bawa apa?"
"Mama bawakan kamu buah, camilan, dan jus."
Dira meletakkan nampan yang Ia bawa di atas nakas dekat ranjang Kean. Sesudahnya, Dira mencoba mengecek suhu pada kening Kean.
"Alhamdulillah sudah tidak demam."
Kean tersenyum saat mendapatkan perhatian dari mamanya, bahkan dia rela tak pergi ke rumah sakit untuk menemui Brian.
"Kamu mau makan yang mana dulu?" tawarnya.
"Buah saja, tapi Kean maunya di suapin Mama."
Dira tersenyum saat melihat sifat manja Kean, dia memang terlihat dewasa dan dingin di luar, tapi sebenarnya dia juga punya sisi manja.
Dira duduk di sisi ranjang, dan dengan sabar menyuapi Kean buah yang sudah dia bawa.
" Apakah manis? "
Kean mengangguk. " Manis, apalagi di suapi oleh Mama."
Dira mengusap wajah Kean, Ia tak menyangka bahwa putranya ini ternyata juga manja. Sedangkan kean, menikmati sentuhan dari mamanya yang sangat dia rindukan.
"Kean bahagia sekali bisa merasakan perhatian mama lagi, seperti ini."
Saat mendengarkan ucapan Kean, tanpa sadar buliran bening menetes membasahi pipi Dira. Melihat hal itu, dengan lembut Kean mengusapnya.
"Mama kenapa menangis?"
"Maafkan Mama ya, karena tidak menemani kalian tumbuh. Sehingga membuat kalian tumbuh sendiri, tanpa kasih sayang seorang Ibu."
"Ma, mama gak usah berbicara seperti itu. Mama gak salah, dan jangan pernah menyalahkan diri Mama sendiri. Melihat Mama masih hidup, dan bisa kembali di tengah-tengah kita, itu sudah cukup."
Kean memeluk Dira agar Dira tak lagi menangis, kehilangan Dira memang membuat Kean berusaha menjadi dewasa lebih awal. Dia adalah seorang kakak yang harus bisa menjaga kedua adiknya, bisa membantu Ken dan tidak menyusahkannya.
***
Sesampainya di depan kediaman Fabio, Dinda di buat takjub dengan tingginya gerbang rumah itu.
"Sudah sampai Neng."
"Pak, Saya pinjam payungnya sebentar ya," izin Dinda karena dia tidak membawa payung.
"Silahkan Neng."
"Bapak tunggu di sini bentar ya, saya mau tanya dulu."
"Baik Neng.
Dinda turun dari mobil, dan kebetulan sudah ada seorang scurity yang datang.
" Mau cari siapa? "
" Saya sekretarisnya pak Kean, mau bertemu dengan beliau. "
Scurity itu memperhatikan penampilan Dinda dari atas sampai bawah, dari raut wajahnya dia terlihat seperti tak percaya dengan ucapan Dinda.
"Apa buktinya?"
Dinda memperlihatkan kartu karyawannya kepada scurity itu.
"Yasudah, masuk."
" Ada payung lagi gak? Soalnya ini payung milik sopir taksi," tanya Dinda.
Setelah itu, si scurity pergi untuk mengambilkan payung dan membuka gerbang. Dinda menerimanya dengan tersenyum ramah, lalu kembali ke dalam mobil untuk mengambil dokumen dan mengembalikan payung.
" Terimakasih, pak. "
" Sama-sama, Neng.
Sebelumnya Dinda sudah membayar pakai Go-pay terlebih dahulu.
Dinda memasuki pintu gerbang kediaman Fabio yang menjulang tinggi. Si scurity menggiring Dinda untuk naik golf cart.
" Naik ini, pak? "
" Iya, kalau nona jalan nanti capek."
Dinda menurut dan naik ke golf cart. Selama perjalanan menuju rumah utama, Dinda terus di buat kagum dengan keindahan dan kemegahan rumah ini.
Sumpah! Rumah orang tajir melintir emang beda ya, batinya dan celingukan melihat ke kiri kanan.
" Sudah sampai, Non," ujar sang scurity.
"Makasih ya pak,"
"Sama-sama."
Dinda turun dari golf cart dan memencet bel yang ada. Tak lama kemudian, terlihat seorang maid datang untuk membuka pintu.
"Mau cari siapa, Non?"
"Oh, saya asistennya pak Kean," jawab Dinda.
Dan lagi-lagi dinda merasa risih karena seakan di nilai. Apakah salah kalau aku mengatakan bahwa asistennya pak Kean? Kenapa mereka seperti menilaiku begini! Tanpa berpikir lama, Dinda segera memperlihatkan kartu karyawannya.
Setelah melihat kartu karyawan Dinda, sang maid segera membuka pintu dan mengantarkan dinda masuk ke dalam rumah.
Dinda selalu saja di buat terkejut dengan desain interior dari rumah ini. Gaya Amerikan Classic yang sangat mewah dan elegan.
Karena tidak fokus, tanpa sengaja Dinda tersandung dan hampir saja jatuh, tapi untungnya ada seorang pria tampan yang menolongnya.
Dinda di buat terhipnotis saat melihat senyum dari wajah tampan itu, sampai membuat degup jantung Dinda berdetak begitu cepat.
Tuhan ... Apakah aku bertemu dengan malaikat tampan? Gumamnya yang masih tak berkedip.
...****************...
Wah... Kira-kira siapa yang membuat Dinda terpesona ya?
Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan klik Favoritnya ya...
😊