Naima jatuh cinta kepada Vino, mereka tidak mengetahui bahwa mereka memiliki ayah yang sama. Naima lahir karna kekhilafan seorang tuan besar 19 tahun silam. sejak lahir Naima hanya tau bahwa ayahnya sudah meninggal.
Naima memiliki 2 sahabat bernama Ana dan Alan, namun sayangnya Ana harus pindah ke belanda mengikuti orang tuanya yang di pindah tugaskan. Alan menjadi satu-satunya sahabat yang selalu ada buat Naima.
peristiwa 19 tahun itu terungkap ketika Vino dan Naima mempertemukan kedua orang tua mereka.
Untuk memisahkan Vino dengan Naima, Lastri menikahkan Naima dengan Alan. Akankah Alan mampu mempertahankan pernikahannya yang tercipta tanpa cinta?
bagaimana kisahnya?
let's chek it out..! jangan lupa tinggalkan like and vote untuk karya pertamaku.. kritik dan saran dari kalian sangat penting untuk selalu memperbaiki karya ini.
selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati ayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 jauhi Naima
Setelah Ana pergi ke belanda, Alan lebih sering menyendiri di kampus. Ia tau sekarang Naima sahabat satu-satunya yang ia miliki lebih sering menghabiskan waktunya dengan pekerjaan dan juga Vino. Alan tersenyum miris, hatinya perih, betapa kini dia sudah tidak punya sahabat lagi untuk di ajak diskusi atau sekedar melepas penat.
Tatkala pikirannya sedang melayang-layang, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang.
"Lan bisa bicara sebentar"
ternyata Vino yang datang dan langsung duduk di sebelah Alan
"Ada apa Vin? katakanlah!" jawab Alan
"Begini? apakah kau dan Naima hanya pure bersahabat? maksudku apakah kau tidak pernah jatuh cinta kepada Naima?" Vino bertanya penuh penasaran terhadap peraan Alan ke Naima
"Untuk apa kau bertanya begitu, kau takut jika aku merebut Naima darimu?" Alan menjawab sembari tersenyum
"Nggak! aku cuma berfikir saja, apakah mungkin seorang laki-laki dan perempuan bisa bersahabat begitu lama, tanpa menimbulkan benih-benih cinta" Vino mencoba mengungkapkan pikirannya.
"Aku bahkan telah jatuh cinta pada Naima sejak pertama melihatnya" ucap Alan dalam hati
"Entahlah! Aku tidak pernah tau bagaimana perasaan Naima terhadapku? Alan menjawab dengan mata yang menerawang.
"Kau sendiri? bagaimana perasaanmu ke Naima"
"Kau tenang saja Vin, aku dan Naima berteman sudah sejak lama, kalau kami harus jatuh cinta kenapa tidak dari dulun iya kan?"
"Kau benar juga sih. Tapi... Aku ada satu permintaan padamu Lan, tolong kau jaga jarak dengan Naima. Aku jatuh cinta padanya sejak dia masuk ke sini, aku ingin memilikinya Lan, aku benar-benar mencintainya" permintaan Vino sangat mengejutkan bagi Alan
"Kenapa kau memintaku menjauh dari Naima?"
"Aku cuma khawatir kalau Naima bimbang, makanya sampai sekarang dia belum menerima cintaku. Nungkin dia memikirkan perasaanmu Lan"
"Apakah kau akan menjamin kebahagiannya jika aku menjauhinya? apa kau sanggup berjanji untuk tidak menyakitinya?" Alan menatap Vino dalam-dalam
"Apapun akan aku lakukan untuk membahagiakan Naima Lan"
"Baiklah kal..."
"Hey kalian disini"
Ucapan Alan terpotong dengan kedatangan Naima.
"Jalian lagi ngomongin apa sih serius amat" Naima duduk di antara Vino dan Alan
"Gak ada yang penting kok, "
"Lan kita jalan bareng yuk! "Naima mengajak Alan
"Kemana?" Alan bertanya
" tau nih Vino ngajak aku nonton, ikut yuk!, boleh kan Bin Alan ikut kita?" Naima melirik Vino
"Aku sih terserah Alan saja" kata Vino
"Aku ga ikut deh Nai, kalian saja! Aku ada acara soalnya, aku duluan ya"
Alan langsung bangkit dan pergi sementara Naima bingung akan sikap Alan yang selalu menghindar saat ia sedang bersama Vino...
"Yaahh Alan. Padahal udah lama gak jalan bareng dia" Naima bergumam
"Udah ayo jalan" Vino bangkit dan menarik tangan Naima.
***
Vino dan Naima antre membeli popcorn, mereka memilih menonton film horor, Naima hanya ikut saja ajakan Vino.
Dengan membawa popcorn dan sebotol minum mereka masuk ke gedung bioskop.
"Vin ini serius nonton film horor?"
"Tadi di tanya mau nonton apa, jawabnya terserah mulu. Yaudah aku pilih horor" jawab Vino
Film pun di putar, adegan yang menguji adrenalin tersaji di depan layar lebar. Saat ada adegan yang menyeramkan sontak Naima berteriak menyembunyikan wajahnya di dada Vino. Vino hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya.
"Nggak apa-apa Nai, itu cuma film. Kalau kau tidak kuat kita keluar aja, nggak usah sampe selesai filmnya, gimana?"
Naima mengangkat wajahnya yang remang-remang menatap Vino
"Nggak apa-apa kok, aku cuma kaget aja"
Akhirnya vino menarik tangan Naima dan melingkarkan di pinggangnya, Vino hanya tersenyum melihat gelagat Naima yang ketakutan.
bersambung...