NovelToon NovelToon
Jodoh Di Pulau Terpencil!

Jodoh Di Pulau Terpencil!

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:204.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: YatoNime Crack

Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.

Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 — Jejak Mamalia

Hutan lebat, rumput dan pepohonan hijau, jalan setapak yang lama tidak dilalui oleh manusia. Dedaunan kering berserakan seakan tidak pernah dibersihkan selama puluhan tahun.

Ren dan Zain dengan hati-hati melangkah, barangkali terdapat ular atau semacamnya bersembunyi di dedaunan kering. Pada situasi ini, menghindari cidera adalah hal yang sama pentingnya dengan makanan dan air.

"Nampaknya tempat ini hampir tidak pernah dilalui oleh siapapun ya."

Zain menyapu dedaunan di jalannya menggunakan besi panjang yang dia bawa. Dia tentunya memiliki harapan bahwa terdapat orang lain selain mereka di sini, tetapi nampaknya Ren telah mengasumsikan bahwa tidak ada penghuni di tempat ini.

Meskipun belum 100% dipastikan bahwa pulau ini tidak berpenghuni, mereka perlu menjelajahi keseluruhan pulau untuk mencari tahu. Kemungkinan jika memang ada orang, pastinya tidak akan ada lebih dari sepuluh orang.

"Ya, namun patut disyukuri bahwa kita bisa selamat dari bencana kapal itu."

Satu dari satu juta kemungkinan, terdampar di pulau dan bukan di tengah laut adalah keberuntungan sekali seumur hidup— tidak, masih tetap hidup tanpa terluka pada bencana itu sudah termasuk keberuntungan yang sangat hebat.

"Ya. Aku penasaran dengan satu hal, tujuan apa yang membawamu untuk menaiki kapal itu, Ren?"

Mereka sama sekali belum bertukar kisah dan tujuan mereka sebelum terdampar di tempat ini. Lagipula tidak satupun dari mereka yang menyinggungnya, sehingga tidak ada inisiatif menceritakannya.

"Yea, bukan sesuatu yang penting. Aku seharusnya pergi ke Harvard University untuk berkuliah di sana."

"Harvard? Maksudmu universitas di US yang terkenal itu?"

"Ya, aku kebetulan mendapatkan beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan di sana. Kamu sendiri bagaimana?"

Mendapatkan beasiswa penuh ke Harvard adalah sesuatu yang akan tampak mustahil bagi sebagian orang. Bahkan Ren tidak yakin akan mendapatkannya, karena dari seratus pendaftar, hanya satu orang yang berkesempatan mendapatkannya.

Seringkali Ren berpikir keberuntungannya benar-benar besar, bahkan bisa selamat dari bencana kapal tenggelam sudah keberuntungan yang melampaui manusia miliki. Dia tahu bahwa keberuntungannya memang tidak masuk akal, bahkan tidak sekalipun dia kalah dalam adu batu, gunting, kertas.

"Aku? Kalau aku pergi ke USA untuk bergabung dengan universitas yang memiliki reputasi baik dalam bola basket, dengan harapan bisa bermain di NBA."

Mimpinya tentu tinggi, mungkin sulit dicapai jika orang lain menilainya, tetapi Zain tidak sedikitpun berpikir dirinya akan gagal. Bahkan jika memang harus gagal, setidaknya dia sudah mencobanya dan puas setelah mendapatkan hasilnya setelah mencoba.

"Itu mimpi yang hebat. Jika begitu, kamu akan meneruskan karier sebagai atlet basket, ya? Setelah keluar hidup-hidup dari pulau ini, aku harap mimpimu itu terwujud, sehingga aku bisa membanggakan dirimu kepada banyak orang."

Pertemuan mereka mungkin akan singkat, namun lebih berarti ketimbang orang yang bertahun-tahun telah mengenalnya.

Sama halnya ketika seseorang mendaki gunung, sifat manusia yang sebenarnya akan terungkap. Apakah mereka tipe orang yang egois, penyabar, sombong, semuanya akan terungkap. Situasi mereka saat ini tidak berbeda jauh mendaki gunung.

Ren mengetahui bahwa Zain bukan tipe orang yang mudah marah, begitu juga sebaliknya. Zain tahu bahwa Ren orang baik yang tidak menyembunyikan niat jahat dan mau mengulurkan tangannya kepada siapapun itu.

"Ya, suatu saat aku akan menemanimu. Tidak peduli apakah terwujud atau tidak, aku berjanji akan tetap menjaga pertemanan kita."

Mereka saling mengulurkan tinju, sebagai bentuk janji untuk menjaga hubungan pertemanan tidak akan terputus, meskipun mereka akan terpisahkan oleh jalan berbeda yang mereka tempuh.

Ren dan Zain menjelajahi hutan dan mendaki tebing yang dilihat Ren saat memetik Blueberry bersama Mirai. Butuh perjuangan untuk mencapai puncak, namun tidak terduga mereka sampai lebih cepat dari yang diperkirakan.

"Wah, ini jauh lebih tinggi dari perkiraan, anginnya juga terasa sejuk di sini, meskipun mataharinya panas."

Zain merentangkan tangannya dengan bangga dan menarik nafas dalam-dalam melalui paru-parunya. Dia dengan segera berteriak, "My trip, my adventure!"

Ren memandang sekitar dengan sedikit kecewa. Awalnya dia berharap menemukan sesuatu, contohnya sebuah rumah yang dapat terlihat dari puncak ini, tetapi tidak ada satupun hal yang bisa dia lihat.

Pada akhirnya, Ren memutuskan untuk mencaritahu ukuran dan bentuk pulau tempatnya terdampar.

"Sepertinya pulau ini berbentuk lingkaran, ukurannya mungkin cukup kecil jika dari peta. Sial, aku tetap tidak bisa memastikan di mana ini berada. Sama sekali tidak ada apapun selain lautan, sejauh mata memandang."

Dia berharap ada pulau terdekat yang bisa dijadikan patokan keberadaan mereka. Bahkan Ren berpikir untuk pindah pulau jika tidak ada sumber air yang bisa mereka temukan di pulau ini, tetapi sayangnya pilihan itu telah tertutup.

"Hmm, Ren, apakah kamu tahu apa itu?" Zain mendadak memanggil, dia menunjuk ke suatu tempat yang tidak diperhatikan Ren.

"Ada apa..., itu, nampaknya tidak salah lagi, buah yang tumbuh dari pohon!"

"Tidak-tidak, mengapa kamu mengatakan peribahasa semacam itu?"

"Ini bukan peribahasa, Zain, aku bersungguh-sungguh ada buah di pohon yang kamu tunjuk itu!"

Ren tidak tahu pasti buah apa itu, jaraknya cukup jauh untuk dipastikan, tetapi patut disyukuri mereka mendapat hasil dari mendaki tebing tinggi.

Zain sesaat tercerahkan, matanya berbinar dengan wajah bersemangat. Dia merasa seperti menemukan harta karun hebat di pulau tak berpenghuni ini.

"Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu, ayo kita ke sana dan memeriksanya!"

Zain dengan tergesa-gesa bersiap untuk turun dan mengemas barang bawaannya. Ren terhenti, sebuah tempat tertentu menarik perhatiannya.

"Sepertinya ada sesuatu di sana, namun tidak begitu jelas dengan banyaknya pohon yang menutupi...," gumam Ren selagi menyipitkan matanya.

"Ada apa Ren?" tanya Zain. Dia bingung dan tidak tahu ke mana Ren memperhatikan, namun tampaknya itu bukan hal sepele karena sampai menarik minat Ren begitu kuat.

"Tidak, bukan apa-apa. Kita bisa memeriksanya nanti, sekarang mari kita pergi mengambil buah-buahan itu."

Ren telah memastikan letak pohon itu yang berada di utara dan tanpa perlu menunggu lagi, bergegas secepatnya sebelum senja adalah yang terbaik.

Mereka bergegas pergi menuju tempat buah itu berada, lebih tepatnya ke utara pulau. Cukup melelahkan untuk naik dan turun, lalu pergi ke tempat yang cukup jauh. Tidak hanya tenaga yang terkuras, persediaan air mereka juga perlahan terkuras.

Tepat tengah hari, mereka sampai pada tujuan mereka. Nafas sedikit terengah-engah, mereka tidak beristirahat dalam perjalanan, lagipula tidak ada diantara mereka merasa perlu beristirahat.

"Ini..., pohon apel, kan?" seru Zain dengan senyuman lebar di bibirnya dan mengatur nafasnya.

Ren menyeka keringat di dahi. Rasa syukur menyelimuti tubuhnya, karena menemukan pohon dengan banyak apel. Apel seharusnya memiliki banyak kandungan air di dalamnya, hal itu menjadi salah satu yang patut di syukuri.

"Ya, tidak salah lagi. Mari ambil beberapa untuk semua orang nanti, sekelas kita menghilangkan rasa penat ini," saran Ren yang mengitari pohon apel.

Dia berniat bersandar di bawahnya. Seperti Isaac Newton yang menemukan teorinya ketika rehat di bawahnya, Ren menemukan sesuatu yang mungkin sama bermanfaatnya untuk mereka sekarang ini.

Dia menemukan beberapa goresan di pohon apel dan kotoran hitam bundar. Ren segera mengambil kotoran itu dan mendapati aromanya tidak memiliki bau busuk, mungkin lebih mirip aroma teh hitam.

Mungkinkah ini kelinci ataupun tupai?! Tidak, tetapi...,

Berdebat dengan pikirannya, secara mengejutkan matanya melihat petunjuk lain. Sebuah jejak yang tertinggal di tanah!

Itu bukanlah milik kelinci ataupun tupai, tetapi hewan yang jauh lebih mengejutkan lagi.

"Sepertinya aku akan memanjatnya dan mengambil beberapa untuk kita dahulu." gumam Zain, menatap pepohonan dan mengukur seberapa tinggi.

"Tidak, sebaiknya kita melakukannya nanti," Ren menghentikan Zain yang ingin menaiki pohonnya. "Ada hal mendesak yang jauh lebih berharga dari apel."

Melihat senyuman senang Ren, Zain sama sekali tidak memahaminya. Jauh lebih berharga dari apel? Apakah mungkin sumber mata air? Tetapi dia tidak mendengar percikan apapun.

Tidak perduli berapa kali dia mencoba mencari jawabannya, dia tidak tahu. Lagipula dia tidak berada di bidang tersebut.

Jika diibaratkan, hal itu seperti engkau mempelajari pelajaran Sejarah untuk tes yang akan datang, namun ternyata tesnya bukanlah sejarah, melainkan Bahasa Mandarin.

"Apa maksudmu lebih berharga?" Zain menggaruk kepala dan memasang wajah bermasalah.

"Kotoran ini, jejak ini, dan tanda di pohon, tidak mungkin aku salah. Jika berhasil menangkapnya, kita akan pesta Barbeque!"

Zain ternganga. Barbeque umumnya terdiri dari sayuran dan daging yang dibakar. Ren menunjuk kotoran dan jejak kaki, sangat mustahil sayuran bisa melakukannya. Maka artinya, hanyalah satu!

"Benar!" tegas Ren seakan tahu pikiran Zain. "Ini adalah hewan, yang berarti daging! Kita akan mencoba menangkap kijang!"

1
Sasuke
bagus 👍
Kazuma
meskipun baca berkali-kali, ngkk ngebosenin
calliga: Permisi kak, boleh bantu mampir dan beri masukan untuk novel baruku "Entomonarch", terima kasih kak dan mohon maaf mengganggu 🙏🏻
total 2 replies
Aiss Sulastri
Luar biasa
Yatooo: terima kasih atas penilaiannya! Mohon dimaafkan bila mana novel ini masih memiliki banyak kekurangan dan beberapa chapter dengan typoo
total 1 replies
Nur Linda
bagus
Wirda Lubis
lanjut
Rahmad Fauzi
kok ren lebih sering sama theresia sih ketimbang laura, kan lebih bagusan sama laura
Rahmad Fauzi
memang nya itu berguna buat orang lain ya?
Mhd Sayubi Efendi
naif
Trisara Wati
clarisa...msh sombong aja bisa nafas sampai esok aja syukur eee berlagak jafi diktator di t4 yg salah
Asu Kabeh
lanjut thorr.....
Xeviorynz
AKHIRNYA ... ENDING YANG SANGAT BAGUS
Yatooo: suatu kebanggaan untuk saya jika tulisan ini membuat kalian senang
total 1 replies
Xeviorynz
Thor kamuuuu ahhhhrhrrhggff
shamy kurniawan
🙏
Lee
seharusnya ana dan Clarissa ga usah di kasih.
Muhamad Hasbi
Novel YANG LUAR BIASA, dari sekian banyak novel yg saya baca di Novel Toon,, novel ini yg TERBAIK👍👍
Yatooo: tqq broo!
total 1 replies
Muhamad Hasbi
Semangat Thor,,luar biasa, masih sebagai siswa SMK aja, udah bisa menulis novel yg bagus seperti ini,, apalagi kalo makin di asah,,super buat author 👍👍👍
Yatooo: tqq broo!
total 1 replies
Karebet
👍👍👍👍
Karebet
👍👍👍
Karebet
👍👍👍👍
Karebet
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!