NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:966.4k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak kekesalan Alina

Saat sosok cinta datang menyapa. Terkadang hati belum sepenuhnya menyadari. Begitu sosok itu pergi, mulailah hati menjerit meminta kembali.

❣️❣️❣️

Pagi datang menyapa jutaan manusia. Suara Azan Subuh saling bersautan dari masjid ke masjid. Adnan, lelaki itu dengan langkah cepat bergegas pergi ke rumah Allah. Rendy, Papa-nya masih sedikit lemas untuk pergi bersama. Jadi, ia hanya sendiri berjalan menuju Masjid yang tak jauh di komplek perumahan elit tersebut.

Tidak ada kata canggung ataupun perbedaan yang mencolok. Selayaknya seorang pemuda, ia tetap rendah hati dan menghormati yang lebih tua. Bercampur dengan yang lain menjalankan kewajiban sebagai muslim.

Salat selesai, Adnan bergegas pulang. Hari ini, rencananya ia akan membuka lowongan sekertaris. Dan interview akan diselenggarakan besoknya lagi. Sesampainya di rumah, ia tidak lupa melihat kondisi Papa-nya. Sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu dan Rendy terdengar mengizinkan anak semata wayangnya masuk.

Adnan mendekat, duduk di ujung kasur. Rendy bangkit dan duduk dengan menyandarkan punggung di sandaran ranjang.

"Bagaimana kondisi Papa sekarang?" Kekhawatiran tampak jelas di raut wajah pemuda itu. Ia pun selalu merasa gelisah saat orang tuanya tersebut jatuh sakit.

"Alhamdulillah, Papa udah membaik," jawab Rendy.

"Syukurlah."

"Kamu dari masjid, Nak?"

"Iya, Pa."

Bahagia, kini perasaan itu menyelimuti sanubari Rendy. Ia tak salah memilih istri. Didikan Lisa terbukti saat ini. Adnan tumbuh menjadi anak yang tak pernah lupa akan kewajibannya pada Sang Maha Kuasa. Di samping itu, ia juga patut berbangga. Anaknya tidak pernah bermain wanita.

Cukup lama mereka berbicang dan banyak topik yang dibahas. Hingga, Rendy masuk ke alur kehidupan pribadi Adnan. Ia menanyakan, apa anak lelakinya belum berniat menikah? Jawaban Adnan cukup bijak.

"In Syaa Allah, kalau Allah datangkan jodoh secepatnya. Aku pasti menikah, Pa," jawabnya.

"Pernikahan bukan sebuah permainan. Kita harus merancangnya sebelum memutuskan masuk ke ruang lingkup tersebut. Impianku, menikah itu hanya sekali. Tentu, dengan orang yang Allah kehendaki. Tapi, siapapun dan bagaimanapun ia. Aku 'kan tetap menerimanya dengan ikhlas. Aku yakin Allah punya rencana indah di dalamnya," tambah Adnan.

Rendy mengusap lembut kepala Adnan. Berharap, perbuatannya dulu terhadap Lisa tidak pernah terulang oleh anak lelakinya. Sungguh, sesak dadanya. Saat memori otak memutar kenangan menyakitkan untuk istrinya itu.

"Nak, jadilah suami yang selalu siap siaga. Menjadi imam yang baik dan terus membimbing istrimu kelak. Jangan pernah bermain tangan, ingat itu! Sekesal apa pun, tahan dirimu untuk melakukan kekerasaan dalam rumah tangga. Jika istrimu salah, tegur dengan baik-baik. Jika kamu yang salah, beranilah meminta maaf terlebih dahulu," pesan Rendy.

Adnan mengangguk. Ia paham akan hal itu. Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi. Adnan pamit untuk mempersiapkan diri pergi ke kantor. Rendy mengerti, ia kembali mengingatkan Adnan untuk kedua kalinya.

Seusai itu, Adnan keluar dan melangkah cepat menuju kamar. Dengan lihai ia mengganti pakaian koko dengan setelan jas seperti biasa. Adnan menatap cermin, melihat pantulan dirinya yang tampak tampan dan gagah.

Tepat pukul 07.00 WIB, ia segera ke lantai bawah. Ibunya menyambut hangat dengan sepiring nasi goreng ati ampela. Makanan favorit sejak sekolah dasar. Satu yang harus Lisa perhatikan. Semenjak lulus kuliah, anak lelakinya itu tak bisa lagi memakan masakan pedas.

Ada satu kejadian, di mana Adnan mengalami sakit perut yang parah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Penyebabnya terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas. Sejak saat itu, Adnan bermusuhan dengan sayuran bernama cabe.

"Enak, Bunda," ujar Adnan begitu sampai di meja makan, berdoa dan memasukkan satu suap ke mulut.

"Makan yang banyak, Nak," ujar Lisa yang duduk berhadapan dengannya.

Hening. Tak ada percakapan sampai keduanya selesai makan. Lisa hanya menemani, ia sejujurnya tak berselera. Sarapan selesai. Adnan pamit ke kantor. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih untuk sarapan pagi ini.

"Aku pamit ke kantor, Bun. As-salamu'alaikum." Adnan meraih tangan Lisa dan mencium telapak tangannya.

"Wa'alaikum salam," jawab Lisa.

Adnan menyambar kunci mobil yang tadi ia simpan di meja. Lalu, bergegas keluar menuju garasi. Mobil Adnan melesat pergi dari rumah orang tuanya dan meramaikan jalanan ibu kota pagi ini.

Macet, selalu itu yang terjadi. Keadaan ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuk penduduk kota ini. Dengan sabar, ia melewati proses menyebalkan bagi setiap pekerja yang berpacu dengan waktu.

Jarum arloji menunjukkan pukul 08.00 WIB saat Adnan baru sampai di gedung perusahaannya. Ia memarkirkan mobil di parkiran bawah. Dengan langkah teratur ia masuk lewat pintu utama. Setiap karyawan yang berjumpa dengannya langsung membungkukkan sedikit badan mereka dan mengucapkan selamat pagi. Adnan membalasnya sembari menebar senyuman.

Para wanita terpesona. Mereka bahkan berkhayal bisa berjalan beriringan dengan atasannya tersebut. Mungkin hanya wanita beruntunglah yang bisa menduduki posisi itu.

Lift khusus, sebenarnya Ardan tak menyukai itu. Di sana ia hanya sendiri, akan tetapi ini adalah ide Riki dan Riko. Mereka mengatakan, bahwa Adnan tetaplah harus menjaga wibawanya. Terdengar aneh. Apa harus sampai berpisah lif juga?

Lantai 8, di sanalah ruangan kerja Adnan. Dekorasi yang unik dipadukan dengan jendela kecil agar bisa melihat keluar, membuat Adnan betah berlama-lama di sana. Hanya saja, meja sekertaris yang ada tepat di depan pintu ruangannya kosong tak terisi. Ia seperti sesosok Anak yang tak punya seorang Ibu, hampa.

Sesuai rencana, hari ini Riko menyebarkan lowongan pekerjaan sebagai sekertaris lewat web asli perusahaan Wijaya Land yang bisa diakses oleh siapapun. Web ini, berisi tentang iklan berbagai property yang tersedia di perusahaan tersebut. Hanya cukup lima menit, kabar gembira itu bisa diketahui publik. Adnan cukup menunggu acara interview besok.

❣️❣️❣️

Di lain tempat, Alina baru saja kehilangan pekerjaannya di toko kue. Alasannya, karena toko tersebut mengalami kebangkrutan. Membuat kue, itu adalah hal yang paling menyenangkan untuk Alina. Ia bahkan bermimpi memiliki toko kue sendiri.

Mimpi tinggallah mimpi, saat ini kenyataan pahit tengah menyambutnya. Ke mana ia harus mencari pekerjaan? Uang di rekeningnya tak begitu banyak. Itu pun, ia kumpulkan dengan susah payah.

Di sebuah cafe, Alina kini berada. Tiba-tiba dua gadis berjilbab datang dan duduk di kursi yang berjarak dua meja dengannya. Melihat untaian kain yang menutupi rambut kedua gadis itu mengingatkannya pada perkataan Adnan. Benar, ia ternyata seorang yang ingkar janji.

Bahunya bergetar menahan tangis. Memohon ampun pada sang Khalik atas kekhilapannya. Tak berapa lama, kedua gadis itu pergi. Dan Alina pun menyusul keluar cafe. Dengan lesu ia berniat pulang. Tak ada lagi tempat tujuan ataupun kegiatan lainnya.

Dengan mengendarai motor, ia melesat di jalanan menuju rumah. Sesampainya di rumah, satu mobil yang asing terparkir rapih. Tanpa rasa curiga, Alina melangkah masuk ke dalam.

"Itu anak saya," ujar Bu Sinta begitu melihat kedatangan Alina.

Tiga pasang mata menatap ke arah Alina. Gadis itu mengerutkan kening. Siapakah orang yang duduk di berhadapan dengan Papa dan Ibu gilanya?

"Alina, sini," panggil Pak Willy.

Merasa tak enak dilihat tamu. Meski malas Alina menurut dan duduk di samping Papanya

"Perkenalkan ini Bagas, calon suamimu." Ucapan itu terlontar bebas dari mulut Pak Willy.

Mata Alina membulat sempurna. Lelaki yang bernama Bagas itu hampir seusia Kakak tirinya. Kulitnya putih, akan tetapi memiliki wajah yang sangar.

"Kami memutuskan kamu menikah dengan Bagas, satu minggu lagi," tambah Bu Sinta.

Alina bangkit, menatap satu per satu orang yang berada di sana. Rasa kesal, sesak, muak tak bisa di tahan. Tangannya bahkan mengepal pertanda emosi menguasai diri.

"Calon suami! Alina menolak hal konyol ini!" tegas Alina.

Bagas tak terima, ia bangkit dan menunjuk Alina. "Saya merasa terhina. Kamu pikir, saya sudi menikahi gadis yang tak suci sepertimu. Cih, kalau bukan karena tawaran menggiurkan dari orang tuamu. Saya pun enggan menerima ini."

Bagas beralih pandangan pada Pak Willy. "Maaf, Pak. Sepertinya saya tidak bisa meneruskan ini. Harga diri saya diinjak oleh anak Bapak. Kalau begitu, saya permisi."

Bagas keluar membawa dendam pada Alina. Sementara Pak Willy dan Bu Sinta mulai geram dengan sikap anak gadisnya. Satu tamparan mendarat di pipi kanan gadis itu. Sosok Papa yang seharusnya menjadi penyelamat, justru tak Alina rasakan.

"Kamu pikir, akan ada lelaki yang menerimamu dengan kondisi cacat begini?" tanya Pak Willy.

"Rio sudah menceritakan semua kelakukan bejatmu. Fotomu yang telanjang dan sedang tidur dengan seorang lelaki menjadi bukti, kalau kamu melakukan perbuatan tak senonoh itu. Di mana harga dirimu sebagai wanita? Memberikan kehormatan begitu saja!" sambung Pak Willy

Alina tercengang. Lelaki bejat itu bahkan merekayasa kejadian yang sebenarnya. Muak, ingin rasanya ia memberikan pelajaran pada kakak tiri sialan itu.

"Papa lebih percaya sama lelaki bejat itu?" Alina mengajukan pertanyaan.

"Tutup mulutmu! Bagaimanapun, dia itu kakakmu!" bentak Pak Willy.

Hancur, tak ada lagi rasa hormat Alina untuk papanya. Napasnya memburu menahan luapan emosi. Tatapannya tajam ke arah lelaki paruh baya yang satu darah dengannya.

"Alina bakal buktiin ke Papa, kalau masih ada lelaki baik yang bisa nerima Alina. Bukan lelaki bayaran yang tak punya harga diri seperti pemuda tadi," ujar Alina.

Alina menghela napas sekejap. Lalu, bersiap berujar kembali. "Dan ... perlu Papa ketahui. Orang yang Papa sebut Kakak Alina-lah, pelaku yang sebenarnya merusak kehormatan anakmu ini dengan paksa!"

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Jangan lupa kasih aku apa?

💐Klik tombol like💐

📝Tulis komentarmu📝

🌾Vote aku seikhlasnya🌾

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!